Cerita Manis Itu Kini Berubah Duka 

Jatuhnya Harga sawit  

 

KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTI / Kompas Images <http://www.kompasimages.com/>  
Anjloknya harga sawit sampai Rp 300 per kilogram dari harga sebelumnya
mencapai Rp 2.000 per kg telah membuat petani, terutama petani swadaya
(yang tidak memiliki kerja sama dengan perkebunan besar BUMN maupun
swasta), babak belur. 

Jumat, 17 Oktober 2008 | 03:00 WIB 

Oleh : Syahnan Rangkuti 

Bahori (23) masih bisa tersenyum. Walau senyum itu kecut. Sesekali ia
juga tertawa, tetapi ketawa itu pun sumbang. Ketika dijumpai di areal
kebun kelapa sawit miliknya, ia baru saja menjual hasil panen tandan
buah segar sawit sebanyak 1 ton. 

Selasa, menjelang senja, ia sendiri saja di tengah kebunnya seluas 2
hektar di Desa Sialang Jaya, Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu,
Riau-sekitar 200 kilometer dari Pekanbaru. 

Dengan harga tandan buah segar (TBS) sekarang ini yang hanya Rp 300 per
kilogram, ayah seorang bayi itu tentunya mendapat penghasilan Rp
300.000. Tetapi, tunggu dulu. Hitungan matematis itu belum putus. Bahori
harus mengeluarkan uang Rp 50.000 untuk upah melangsir (membawa TBS dari
kebunnya ke pinggir jalan besar dengan menggunakan kendaraan
berpenggerak empat roda). Dia juga harus mengeluarkan uang Rp 300.000
untuk membayar upah tiga pekerja harian masing-masing Rp 100.000 untuk
memanen selama dua hari. "Saya nombok Rp 50.000. Namun, apa boleh buat.
Saya memilih untuk tetap memanen karena kata orang, kalau tidak dipanen,
nanti pohon sawit rusak dan tidak mau berbuah lagi," kata Bahori. 

Untuk menutup utang, Bahori kembali ke profesi lama, yaitu menjadi buruh
di kebun orang lain. Sepanjang Selasa itu dia bekerja di kebun orang.
Upahnya Rp 60.000 sehari. Alhasil, setelah membayar utang Rp 50.000,
penghasilan bersihnya hari itu hanya Rp 10.000. 

Syaifudin yang memiliki kebun seluas 5 hektar juga senasib dengan
Bahori. Hari itu ia mempekerjakan enam orang untuk panen sebanyak 2 ton.
Padahal, masih ada 2 ton lagi TBS siap panen. 

"Biarlah 2 ton lagi itu tetap dipohonnya sampai panen dua minggu lagi.
Mana tau harga bisa membaik. Kalau pohonnya mau rusak, biarlah. Asal
jangan seluruhnya," kata Syaifudin. 

Syaifudin mengatakan, ia mendapat uang Rp 600.000 dari panen sebanyak 2
ton. Namun uang itu langsung dipotong Rp 240.000 untuk upah empat buruh
angkut TBS ke tempat penumpukan dan Rp 140.000 lagi untuk upah dua
pendodos (pemetik buah dari pohon). Pendapatannya masih berkurang lagi
karena harus membayar upah melangsir dengan mobil Rp 100.000. Artinya,
penghasilan bersih hari itu sebesar Rp 120.000 untuk hasil panen
sebanyak 2 ton. 

"Sebelum harga anjlok, biasanya saya mendapat uang minimal Rp 4 juta
dari sekali panen. Dalam satu bulan panen dua kali atau Rp 8 juta
sebulan. Sekarang ini hitung saja pendapatan saya," kata Syaifudin. 

Tentang upah melangsir yang mahal lebih disebabkan buruknya kondisi
jalan ke perkebunan petani. 

Tidak mengherankan bila biaya untuk mengangkut satu ton TBS dari kebun
ke pinggir jalan yang berjarak sekitar 1 kilometer, petani harus
membayar Rp 50.000 atau Rp 50 per kilogram. 

Di sebuah desa eks transmigrasi, biaya transportasi bahkan mencapai Rp
200 per kilogram atau Rp 200.000 per ton. Hal itu disebabkan jalan
hancur dan jaraknya lebih dari 5 kilometer. 

Namun tidak semua jalan ke perkebunan petani di Rokan Hulu, begitu
buruk. Di sebuah tempat tidak jauh dari kota Pasirpengarayan, ibu kota
Kabupaten Rokan Hulu, jalan menuju perkebunan seorang kuat di Rokan Hulu
ternyata diaspal hotmiks dengan lebar 12 meter. 

Cerita manis pemilik kebun sawit di Riau tersebut saat ini sudah berubah
menjadi cerita duka. Harga TBS Rp 300 per kilogram, menurut Ardiman
Daulay, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Cabang
Rokan Hulu, sama seperti kondisi 12 tahun lalu saat menjelang krisis
moneter melanda Indonesia tahun 1997. "Dulu sebelum krismon, harga sawit
memang Rp 300 per kilogram, tetapi harga-harga barang masih jauh lebih
murah dibandingkan sekarang. Waktu itu harga beras masih ada yang Rp
1.000 per kilogram. Pada saat krismon dahulu, petani kami justru
menikmati hasil karena harga sawit naik menjadi Rp 800 sampai Rp 1.000
per kilogram. Sekarang ini petani sawit yang mengalami krisis," kata
Daulay yang memiliki 2.500 anggota dengan lahan 118.000 hektar. 

Menurut Daulay, bukan hanya petani yang mengalami krisis. Pedagang
pengumpul mengalami nasib sama. Kusno, seorang tauke sawit (sebutan
untuk pedagang pengumpul), sudah meminta keringanan kepada Bank BRI
setempat untuk menunda pembayaran cicilan utangnya. 

Sebelum harga anjlok, Kusno meminjamkan uang kepada petani, nilainya Rp
200 juta. Ini biasa dilakukan toke sawit agar petani mau menjual buah
kepada mereka. Seluruh uang berasal dari pinjaman di Bank BRI. Sekarang
ini seluruh piutang Kusno tidak dapat ditagih, karena petani peminjam
tidak mampu membayar. "Kalau BRI tidak bersedia menunda cicilan, rumah
Kusno akan segera disita bank," ujar Daulay. 

Menurut Daulay, petani dari Desa Tandun sampai mencoba bunuh diri,
meminum obat serangga, karena dililit utang Rp 200 juta di bank dan
tidak dapat membayar. Untungnya, niat bunuh diri cepat ketahuan
keluarganya dan si petani dapat diselamatkan. 

Krisis sawit seperti musim kemarau yang merontokkan segala sesuatu.
Empat hari lalu, empat sepeda motor ditarik dealer karena petani
menunggak cicilan. Lalu, dua pabrik kelapa sawit di Rokan Hulu, yaitu di
Desa I, Ujung Batu, dan Petapahan, terpaksa pula ditutup karena cadangan
CPO pabrik belum terjual. 

Krisis keuangan global kali ini, eksesnya ternyata menjalar tanpa ampun
kepada petani kecil. Sayangnya, 80 persen dari 2.500 anggota Apkasindo
Rokan Hulu merupakan petani kecil dengan lahan rata-rata 2 hektar. 

"Yang kami harapkan, pemerintah mau minta perbankan menunda pembayaran
cicilan petani. Kalau tidak, akan lebih banyak petani sawit yang stres
atau gila," kata Daulay. 

  

* * * * * 

"Menemukan sesuatu yang baru bisa dilakukan dengan 

melihat objek yang sama seperti orang lain, 

tetapi menggunakan pola pikir yang berbeda." 

[ Nobel Laureate, Albert Szent-Gyorgys ] 

* * * * * 

  

Menuju Indonesia sejahtera, maju dan bermartabat! 

  

Best Regards, 

Retno Kintoko 

  

The Flag <http://www.kariza.biz/>  

Air minum COLDA - Higienis n Fresh
<http://www.soneta.org/COLDA/Air_Minum_Sehat_COLDA.htm>  ! 

ERDBEBEN Alarm <http://www.soneta.org/ERDBEBEN_Alarm/ERDBEBEN_Alarm.htm>


 <http://www.soneta.org/indonesiaCLR_cg30.gif> 

SONETA INDONESIA <www.soneta.org>

Retno Kintoko Hp. 0818-942644

Aminta Plaza Lt. 10

Jl. TB. Simatupang Kav. 10, Jakarta Selatan

Ph. 62 21-7511402-3 

 

 

 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Z Chaniago
Sent: Friday, October 31, 2008 11:05 AM
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: 3.000 Buruh Karet Sumbar Nganggur - Boleh jadi
kita belum siap jadi orang kaya?

 

Assalamu'alaikum Ww

 

..wow....iduik bak cando roda padati.... kadang di ateh kadang
dibawah.....

dan Tak mengherankan, Rasulullah SAW mengingatkan, "Ambillah kesempatan
lima sebelum lima: mudamu sebelum tua,sehatmu sebelum sakit, kayamu
sebelum melarat, hidupmu sebelum mati, dan senggangmu sebelum sibuk"
(HR. Al Hakim dan Al Baihaqi).

Wassalam


~--~---


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke