Salam sanak sadonyo ; 
Yml pak Suhaemi, Sanak dan adik-adik ; Riri chaidir, Andi, Dian, Rina, Ibed, 
Firtonius dan para pembaca semuanya. Semoga berkenan membaca kisah ini dan 
selamat menimati
 
 
 
Serie “ Aa nan takana “ - Jumping on the Sky to the sea…… serrruu…..
Oleh 3vyniz
 
Bukan bermaksud bernarsis narsis, bila berkisah tentang pengalamanku ini. Akan 
tetapi sebenarnya terkandung  keinginan menyampaikan suatu cerita factual yang 
berdasarkan olahan dari memori yang tersimpan didalam benak ini. Apalagi bila 
kejadian itu benar-benar membekas di kepala kita. Mengkisahkan sesuatu, 
bertujuan sebagai jembatan menuju masa lalu.  Bukan hanya terfokus kepada obyek 
cerita, namun ada penggalan penggalan yang terkadang akupun merenung bahwa aku 
ini pernah menjadi murid kehidupan dan berguru kepada pengalaman. Ya… kita 
harus menjadi murid kehidupan. Bila diuraikan akan terlalu panjang kisahnya dan 
yang penting bagi Anda, Anda ingin mengetahui .. apa sih… Jumping on the sky to 
the sea..….???
 
Begini ceritanya :
Alkisah, sesampainya aku dan abangku di desa terpencil di Pomalaa Sultra itu, 
ternyata perhatian Kakak-kakakku tertuju pada  seorang anak perempuan yang 
bernama “ Evy”. Apanya yang membuat perhatian mereka begitu tertuju pada diriku 
seorang – aku tidak tahu. Yang jelas setelah sebulan lamannya kami disana, 
Kakak iparku berkata dan membujuk diriku : “ Evy .. lanjutkan sekolahmu disini 
saja. PT ANTAM akan mendirikan Sekolah Menengah Pertama dan saya ditunjuk oleh 
Perusahaan  untuk membangun, mengembangkan sekolah itu dengan seluruh fasilitas 
ditanggung Perusahaan termasuk perlengkapan murid-murid ditanggung Perusahaan.. 
dst. 
 
Bukan perkara gampang untuk membujuk seorang anak perempuan baru tamat SD itu, 
untuk berpisah dengan kedua orang tuanya. Tidak mempan satu hari dilanjutkan 
hari hari berikut. Akhirnya datanglah surat sang Bunda yang berkata : “ 
bersekolah lah disana ……..Nak.. Temani Uniang Mas….. Kasihan dia sedang 
mengandung dan sebentar lagi dia akan melahirkan. Pasti Evy akan punya adik 
kecil. Disaat itu, kakak perempuanku memang  sedang hamil tua. Ia telah lama 
menunggu kehamilannya dan sudah 8 tahun ditunggu-tunggunya.  
 
Berbagai macam negosiasi dilakukan. Diantara persyaratan yang kuberikan kepada 
kakakku adalah, agar aku diberikan sebuah “ Sepeda Mini”.  Kebetulan pada saat 
itu – di Jakarta – waktu itu baru muncul sebuah sepeda cantik mungil yang 
dikenal dengan nama “ Sepeda Mini”.  Pastilah anak baru gede seusiaku (ABG) 
sangat mengidolakan benda ini. 
Disini dapat aku gambarkan pada anak muda, saat itu -  Indonesia  serasa damai. 
Mulailah masuk barang barang impor. Stabilitas politik, ekomomi, dan keamanan 
mulai berjalan baik. Ini adalah awal dari masa Orde Baru……..???!!! (aku ndak 
akan lanjutkan cerita politik disini ya…)
 
Hanya sebuah sepeda mini. …???  Aku bisa membayangkan sekarang, suasana hati 
Kakak iparku waktu itu. Pasti ia berkata  dalam hati : “ Duh .. evy, polos 
benar kamu ini. Hanya sebuah sepeda mini yang kamu minta. Ndak masalah… Yang 
penting kamu mau ikut menemani isteriku (sedang hamil tua) disini. 
Walau memperoleh Sepeda bergengsi itu, sesudah itu barulah aku merasakan bahwa 
hadiah sepeda - sebenarnya tak sebanding nilainya dengan kerinduan seorang anak 
terhadap ibunya. Bagiku saat itu, mungkin sang ibu pun akan terasa berat 
berpisah dengan anaknya……………….
 
Alhasil, akhirnya aku merantau dan menetap didesa terpencil itu – suatu desa 
yang dirancang dan difasilitasi oleh Perusahaan sebagai sebuah menara gading 
dipinggir teluk Bone Sulawesi. Selama tiga tahun di Pomalaa, apa yang menjadi 
angan-angan untuk meraup permen di  pesawat udara, sebagaimana yang kuceritakan 
sebelumnya tidak menjadi perhatian lagi, walaupun aku bolak balik naik pesawat 
komersial jika kembali ke Jakarta – Sulawesi. Bagiku dibawah asuhan seorang 
kakak inilah bermulanya perjalanan hidup manusia yang berawal dari satu langkah 
itu. Ternyata kehidupan itu merupakan upaya bagaimana menemukan dirimu serta 
bagaimana menciptakan dirimu sendiri. 
 
Diantara perjalanan bolak balik Jakara – Sulawesi, pada suatu ketika, kami naik 
Merpati Ailines dari Bandara Kemayoran dengan  tujuan kota Makassar.  Pada jam 
05.00, pesawat sudah take off. Setelah Pramugari secara khusus dengan bahasa 
verbal dan tubuhnya begitu lincah dan   terlatih memperagakan cara pemasangan 
pelampung dan tindakan apa yang dilakukan jika pesawat dalam keadaan darurat, 
tak lama kemudian beredarlah sang pramugari dengan permen, snack, dll. 
 
Ketika empat puluh lima menit kemudian, terdengar olehku letusan kecil seperti 
bunyi suara ban sepeda meletus. Suasana hening. Entah apa jenis pesawat yang 
kunaiki itu, yang jelas, semula ada dua deru mesin secara teratur mengiringi 
perjalanan itu, ternyata yang terdengar hanya satu saja. Setelah itu terdengar 
suara halus pramugari, yang meminta semua awak pesawat menuju cockpit. 
Tidak ada perasaan takut didalam diri, dibanding saat  pertama kami naik 
pesawat Cesna dulu. 
 
Akhirnya dengan suara lembut, seorang Pramugari mengumumkan kepada para 
penumpang : 
“ Kami atas nama Pilot A, dan copilot B – ( maaf ya aku ndak tau namanya) ,  
menyatakan bahwa “ berhubungan ada gangguang teknis pada mesin sebelah kiri – 
kanan  pesawat, (istilah teknis...)maka pesawat Merpati Airline dengan Nomor 
penerbangan sekian,  terpaksa kembali mendarat ke Bandara Kemayoran. Suasana 
pesawat hening entah apa yang dirasakan penumpang kala itu.
 
Setelah mendarat kembali di Bandara Kemayoran kala itu, para penumpang Merpati 
itu, oleh crew Airlines -dipersilahkan menunggu pemberangkatan kembali. Namun 
tidak bagi pada rombongan kami. Kakakku memilih menunda keberangkatan dan 
berencana menyewa pesawat Cesna dari Jakarta – Surabaya – Makassar – Pomalaa. 
“ Wah .. aku serasa jadi jutawan lagi nih.. meniru ucapan abangku dulu.
Lama perjalanan Jakarta – Surabaya adalah empat jam. Bangga deh…rasanya.... 
bagaimana seorang jutawan yang memilik pesawat pribadi – kita tidak bersentuhan 
dengan penumpang lain. Padahal sesungguhnya kala itu - aku bukanlah anak apa - 
apa dan aku bukan anak siapa siapa.. 
 
Dipesawat itu, jumlah penumpang hanya 5 orang, yaitu : kakakku suami isteri dan 
bayinya, aku dan seorang calon karyawan PT ANTAM yang akan ditempatkan disana. 
Jangan Anda mengira bahwa Kakakku berlagak sebagai jutawan atau aji mumpung 
memanfaatkan fasilitas Perusahaan – walaupun ia memiliki hak untuk itu, akan 
tetapi adalah semata-mata membawa gaji ribuan karyawan berikut beberapa barang 
logistik . Ingat .. 36 tahun yang lalu, kondisi perbankan tidak secepat dan 
secanggih sekarang. Waktu itu, Uang masih dibawa secara manual dari Kantor 
Pusat – ke Unit pertambangan nikel itu.
 
Dalam perhitungan biaya pokok produksi (BPP) yang kita kenal, tentulah biaya 
transportasi semisal charter pesawat adalah komponen biaya overhead Perusahaan 
itu. Bagi para manajemen/staf transportasi menuju daerah terpencil ini hanyalah 
- kalau tidak naik kapal tanker dari Pelabuhan Makassar – kalau ndak ya pesawat 
Cesna itu. Kapal tanker itu – bukan pula merapat didermaga, namun berada 
ditengah lautan, sehingga kami para penumpang harus menaiki sekoci lebih dahulu 
untuk naik dan turun kapal. 
 
Hemmm…serasa sebagai anak jutawan, tentulah aku menyempatkan membaca majalah 
Tempo, Selecta, Varia, Times. Itulah bacaan orang dewasa yang harus aku baca 
untuk meghilangkan rasa jenuh selama perjalanan itu. Mengenai hidangan,  tetap 
tidak ada,  apalagi pelayan udara yang cantik. Cukuplah minuman dan kue yang 
dibawa kakakku dari rumah.  Ada lagu berirama lautan teduh -  latin atau lagu 
barat lainnya  yang diputar sang Pilot. Ya.. pokoknya lagu jadul lah… Pilotnya 
ramah dan sering bercakap cakap dengan Kakakku. 
 
Ketinggian Pesawat rendah saja. Suasana diluar jendela pemandangan standar alam 
pulau Jawa; gunung,  sawah dan sungai. Tidak terlihat awan yang 
bergumpal-gumpal, walaupun sesekali pesawat menerobos awan yang menggumpal 
tipis. Empat jam kemudian peawat mendarat di Bandara Juanda Surabaya. Kami 
istirahat di Bandara ini sambil  Pesawat mengisi bahan bakar, selama  1 jam. 
Setelah itu, pesawat melanjutkan penerbangan ke Makassar yang memilik jarak 
tempuh selama 2 jam.  
 
 Sesampai di Makassar ini dan istirahat selama 1 jam, mulailah sang Pilot 
bertingkah. 
“ Pak Ruswir … kita menginap di Makassar ini saja Pak. Besok pagi kita 
melanjutkan perjalanan. 
“ Oh tidak bisa… Hari ini saya harus sampai di Pomalaa.  Disini kakak iparku 
ini  tidak mau di atur begitu saja oleh sang Pilot. 
Kakak saya berkata : “ Dalam kontrak perjalanan antara Perusahaan dengan 
perusahaan penerbangan  Anda disepakati satu hari sampai ke tempat tujuan. 
Kalau tidak buat apa saya menyewa pesawat Anda ini. 
Yang diingat kakakku – bahwa saat ini ia tengah membawa uang jutaan rupiah, 
gaji para karyawan ANTAM – Pomalaa.
 
“ Ingat Bapak…, kata Pilot itu tidak mau kalah. “ Tanggung jawab atas 
keselamatan penumpang ada di tangan saya. Saya mendengar ada angin… bla….bla… 
menuju … bla… bla…  (bla..bla = saya tidak tau apa yang disebutnya), sedang 
bergerak dari lintang sekian menuju lintang sekian. 
Walaupun kakak saya sudah diingatkan dengan teori cuaca dan angin oleh sang 
Pilot, Kakak saya itu tetap tidak bergeming. Kakak saya ini tetap diam – 
menunjukkan bahwa ia tidak percaya dengan Pilot itu.
 
Akhirnya sang Pilot mengalah : “Seandainya Bapak tetap ingin sampai ke tempat 
tujuan saya tidak keberatan, mari kita coba. Jika ada alasan keselamatan yang 
berbahaya mari kita turun dan kembali ke Bandara “. Akhirnya pada siang hari 
itu perjalanan tetap dilanjutkan. 
 
Pada jam 14.00, mesin pesawat Cesna itu mulai dihidupkan. Kami menunggu dengan 
sabar selama setengah jam. Kemudian berjalan sangat perlahan menuju landasan 
pacu. Pesawat mengambil ancang-ancang dan berjalan pelan kemudian kencang – 
lebih kecang dan akhirnya pesawat kami terbang bagai layang-layang. Rasanya 
belum mencapai kecepatan tertentu, seperti yang kami alami dalam perjalan 
Jakarta – Surabaya – Makassar, tiba – tiba mesinnya berhentiii……!!!!!!  Dag… 
dig … dug…. Berdebar jantungku. Nicky – keponakanku satu-satunya mulai 
rewel…??  Hugh… hugh…. Suara tangisnya. Kami panic. Benarkah mesin pesawat ini 
mati…????
Antara marah… dan pucat pasi kepada Pilot itu, Kakakku bertanya : Ada apa… 
Dik……???
“ Yo.. ndak tau tho.. pak..!!!  ( Oohh .. de e ne .. wong Jowo tho… begitu 
kataku sekarang). 
Manurut pengamatanku, dalam keadaan demikian kok tidak ada … tango… tango… 
yanki.. yanki.. alpha …betha.. Yang ada hanyalah suara desis, seperti…. Kalau 
Anda mendengar  mesin pompa air… yang sekali kali terdengar suara berdesis 
…Nah… begitulah bunyi suaranya…..!!!
 
“ Pak.. sepertinya kita memang harus kembali ke darat …, demikian katanya. “ 
Bukan karena gangguan cuaca yang menghalangi perjalanan kita. Ada gangguan 
teknis….!!
 
“ Ya … sudah kita balik…., hanya itu satu kalimat - ucapan Kakakku kepada sang 
Pilot. 
 
Berapa menitkah mesin pesawat Cesna itu mati… ??? Pokoknya cukup untuk membuat 
shockterapy bagi seorang pilot yang nakal kepada penumpang yang tidak memahami 
seluk beluk penerbangan. ...(bersambung)
-------------------------------------
 
Nanti  kita lanjutkan caritonyo yo sanak. Mari kita kerja walaupun sekarang " I 
dont like monday..
 
Wassalam, 


  3vy Nizhamul 

http://hyvny.wordpress.com
http://bundokanduang.wordpress.com



 






      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke