Opini/Artikel lah agak lamo dari Harian Singgalang http://www.hariansinggalang.co.id Senin, 20 Oktober 2008, bagus juo untuak di baco2, apalagi melanjutkan masalah seri adat, fungsi niniak mamak dan ABSSBK.
Salam. ============= Oleh Upik Kamalia (Guru SMA PP M.Natsir Alahan Panjang dan Tentor Nurul Fikri Cabang Padang) AKHIR-akhir ini banyak sekali sorotan yang ditujukan kepada orang Minang, ranah Minang dan Sumatra Barat khususnya. Sorotan tersebut terutama tertuju pada semakin merosotnya moral generasi muda Minang dari hari ke hari. Buntutnya keabsahan dan kebenaran sebutan Adat Bersendi Syara' Syara' Bersendi Kitabul lah pun mulai digugat orang. Dimanakah gerangan falsafah itu sekarang? Apakah keberadaan nya saat ini sekadar pengisi literatur sejarah Minangkabau? Kemerosotan moral generasi muda kita terlihat dengan sema-kin maraknya prostitusi, judi dan zina. Sikap generasi muda yang tidak lagi mengacuhkan rasa malu ketika berpakaian seronok di keramaian atau ketika berdua-duaan di tempat sepi. Tidak terbatas di kota besar, hal demi-kian dengan mudah dapat kita temukan dipelosok desa ter-pencil. Permisifme, barangkali inilah kata yang dapat mewakili muara dari terjadinya berbagai kemero sotan moral itu. Secara sederhana kata itu dapat diartikan mem-bolehkan, membiarkan atau tidak melarang. Ketika hal tersebut telah menjadi kebiasaan ia men-jadi bagian dari budaya, budaya permisifme yang berarti budaya yang serba membolehkan atau membiarkan. Budaya inilah yang sekarang sedang menggejala dalam masya rakat kita. Bermula dari keluarga yang membiarkan anak-anaknya, yang cendrung menyerahkan semua urusan pada sang anak, yang tidak mau repot mengurusi mau kemana anak, mau berteman dengan siapa. Gejala itu kemudian berkembang di tengah masyarakat ditunjukkan dengan saling tidak perduli. Sedikit sekali anggota masyarakat yang mau menegur seorang anak yang merokok bila yang merokok itu bukan anak nya. Jarang masyarakat sekarang yang mempersoalkan remaja yang duduk berdua-duaan di tengah malam sekalipun. Yang terdengar hanyalah bisik-bisik ketidaksukaan. De-ngan perkataan lain masyarakat kita telah kehilangan kontrol sosialnya. Semuanya menjadi serba boleh. Pada akhirnya pandangan terhadap sesuatu yang selama ini dianggap tabupun berubah. Dulu tabu sekarang boleh. Lebih aneh lagi, bila dulu seseorang yang mengingatkan dianggap orang baik maka seka rang mereka yang coba mengingatkan yang tabu-tabu itu justu dianggap aneh, sok tahu dan ikut campur urusan orang. Norma dan nilai-nilai dalam masyarakat telah berubah. Perta-nyaanya sekarang apakah sum-ber utama penyebab perubahan tersebut? Berkembangnya buda ya permisifine di tengah-tengah masyarakat kita sesungguhnya memperlihatkan ketidakmam puan kita memfilter budaya asing yang masuk. Berkaca pada sejarah, jelas bisa dikatakan bahwa permisifine bukanlah budaya kita. Masya rakat kita adalah masyarakat yang memiliki kontrol sosial yang tinggi. Memegang teguh norma-norma agama dalam kehidupan nya sehari-hari. Jika budaya permisifine ini terus berkembang maka jati diri kita sebagai bangsa beradat akan hilang. Dan ini merupakan suatu kehilangan yang besar. Melihat pola kehidupan gene-rasi muda saat ini kekhawatiran tersebut sepertinya tidak berle-bihan. Kecendrungan ke arah itu telah terlihat nyata. Globalisasi sebenarnya hanya media yang menyampaikan berkembangnya budaya permisifine di masya rakat kita. Hal utama menjadi penyebab mudahnya budaya itu berkem bang adalah adanya semacam ketakutan-ketakutan dalam ma-syarakat kita. Ketakuatan itu diantaranya menghadapi kemis kinan. Masyarakat kita takut miskin sehingga tidak berani menolak, menegur atau mengingatkan seseorang terlebih orang tersebut berkedudukan lebih tinggi dari dirinya. Masyarakat cendrung diam atau bersikap pura-pura tidak tahu. Mereka takut bila bersuara maka pada masa mendatang urusan mereka menjadi tidak lancar dan akan merugikan diri dan kelompoknya. Maka jika ada yang korupsi atau meminta bagian secara langsung setelah urusan selesai diam-diam sajalah, anggap hal itu sebagai ucapan terima kasih. Ketakutan akan hilangnya kekuasaan dan jabatan juga menjangkiti masyarakat kita. Menegur atau memperingatkan seseorang dianggap sebagai hal yang akan mengurangi penghor matan dan dukungan. Sebaliknya sikap membolehkan atau mem biarkan terhadap suatu pelang garan yang dilakukan anggota masyarakat dilihat sebagai lang-kah strategis untuk menarik dukungan. Pandangan seperti inilah yang menyebabkan mereka yang ber kuasa tidak berani mengingatkan dan menghukum pelanggar nor ma. Alasan lain yang dipakai biasanya adalah takut terlibat masalah jika melarang sesuatu perbuatan pelanggaran. Masyarakat kita saat ini tidak berani bertindak terhadap se-suatu yang ganjil karena mereka tidak mau terbawa masalah. Akibatnya muncul sikap tidak perduli, cuek dan semau gue dari orang yang melanggar norma tadi. Takut terlibat masalah juga berarti tidak mau repot mengu rusi orang lain. Berkembang suatu pandangan dalam masyarakat kita bahwa manusia modern adalah yang tidak mengurusi orang lain, orang yang demokratis adalah yang memberikan kebebasan pada orang lain untuk melakukan apapun yang dia mau. Disebut orang tua modern oleh anak-anak muda sekarang bila membebaskan dan mendu kung apa-apa yang ingin mereka lakukan, meski bertentangan dengan nilai dan norma. Sebalik nya mereka yang mengingatkan, menegur dianggap manusia kolot dari zaman batu. Jika ditelusuri lebih jauh, semua ketakutan itu segaris dengan semakin jauhnya masya rakat kita dari nilai-nilai agama. Kalaupun sekolah-sekolah agama terus menghasilkan orang-orang yang hafal Alquran, yang mampu mengkaji kitab dan ayat-ayat Allah namun itu semua sebatas pengetahuan saja umumnya. Tidak sedikit yang melakukan pelangggaran norma adalah lulu-san sekolah agama atau ustazd yang kian kemari memberikan ceramah. Banyak kita jumpai ulama yang anaknya tidak menutup aurat padahal ayahnya menyuruh orang memakai jilbab. Guru agama yang berkelahi dengan pimpinannya, padahal ia lah yang semestinya mencegah hal itu. Atau seorang garim masjid yang telibat judi dan perselingkuhan. Semua itu adalah bukti-bukti ajaran agama hanya dipahami sebagai ilmu pengetahuan saja. Simbol saja. Dengan kata lain kita semakin sekuler. Berangkat dari persoalan tersebut maka tidak ada jalan lain untuk memperbaiki keadaan selain memperkuat kontrol sosial. Kita harus menyatukan suara untuk menyatakan baik dan buruk sesuatu. Jangan sampai ada ketimpangan ketika satu kelom pok menyatakan ini jelek, kelom-pok lain mendiamkannya saja. Jika ini terjadi, maka kita tunggu kehancuran yang lebih parah akan menimpa negeri kita.n*** --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
