Salam sanak sapalanta hanya sebuah puisi yang dapat kupersembahkan mengartikan betapa akan semakin kering kerontangnya adat dan budaya dimasa akan datang. Yang muda semakin bersuara moderat. Yang tua semakin tak kuat mengendalikan arus zaman. Kreativitas semakin meningkat sehingga semakin mudah mengumbar aurat... Puisi Ranah Minangku oleh : 3vyniz. dedaunan dipohon budaya ranah minangku berguguran berkerut – mengeriput membuat kesedihannya buminya semakin memamah kekecewaan ranting-ranting – mulai kering kerontang disaat kemarau melanda adat dan budayanya..
Kecintaan atas dirinya semakin hampa Daun yang berguguran itu semakin terbiasa hingga akhirnya menjadi pohon pohon tua Karena tak ada lagi yang memupuknya Ketika pohon pohon adat dan budaya itu tumbuh rindang Ada akar yang membuatnya kokoh Ada ranting dan daun yang membuatnya rindang Disanalah makhluk berkumpul dan bernaung Akan tetapi … Bila sang mentari terlalu bersinar terang Sinarnya dapat menyilaukan setiap insan Maka…Pohon adat dan budaya pun tak sanggup melindunginya Karena ia pu didera oleh kekeringan… Wassalam, 3vy Nizhamul http://hyvny.wordpress.com http://bundokanduang.wordpress.com --- On Wed, 11/12/08, Riri Chaidir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Riri Chaidir <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: MANA KONTROL DARI NINIAK MAMAK DAN ALIM ULAMA MINANG ???? To: [email protected] Date: Wednesday, November 12, 2008, 1:03 AM Sanak Mantari Sutan. Maaf ambo comment, walaupun ambo bukan Uda Zul. Kalau saya, masalahnya bukan "tidak terima dengan BCL dan ibunya yang berbaju rendah". Sama sekali bukan. Tadi saya - dengan bantuan mak google - juga sudah ketemu banyak sites yang menunjukkan bahwa, kalau untuk BCL, pakaian pengantin MInang nya ini belum ada apa-apanya dibandinngkan beberapa foto dia yang lain. Tapi saya anggap itu sama sekali bukan urusan saya. Concern saya adalah, ketika itu dikaitkan dengan pakaian pengantin Minang. Saya merasa anaeh, karena belum pernah melihat anak daro pakai baju seperti itu sebelumnya. Dan saya rasa, concern beberapa orang di palanta lain (seperti kaskus) ya itu juga. Tentang "kita bisa apa?" He he, normatif sekali memang. Memang kita tidak bisa apa2, karena kita - at least saya - tidak punya kapasitas untuk menuntuu. Tetapi bukankah di RN ini kita sangat sangat sering mendiskusikan berbagai hal yang - secara hukum - "kita bisa apa" ? Atau kalau ada yang melontarkan isu2 yang "kita bisa apa" langsung threadnya buru2 ditutup. he he Riri Bekasi, L 46 2008/11/12 Mantari Sutan <[EMAIL PROTECTED]> Uda Zul nan ambo hormati, Anggaplah semua kita orang minang tidak terima dengan BCL dan ibunya yang berbaju belah rendah. Dan menganggap mereka melanggar value yang kita punya. Juga menganggap kita dipermalukan secara etnis. Lalu kita bisa apa? Mungkinkah kita menuntut mereka ke pengadilan. Kalau pun kita menuntut, berapa kans kita untuk menang. Kalau kita berpatokan pada sistem alua jo patuik, dan menjatuhkan sanksi moral pada keluarga mereka. Mereka sudah memberikan value yang berbeda dengan nilai kita melihat alua jo patuik. Kalaupun kita sepakat membuang mereka secara adat. Dideklarasikan mereka bukan lagi orang minang, mungkin mereka juga tidak akan apa-apa. Jadi kita bisa apa?? Zulidamel wrote: > Dunsanak di palanta !... > Zaman boleh berubah, Katuju silahkan pakai, ndak katuju tinggakan namun > jangan ada unsur pelecehan warisan leluhur etnis sendiri. Kalau sarupo iko > mengaku dara Minang dan menggunakan adat Minang namun nayatonyo lain yo > paralu kito tanyo sia mamaknyo sanak!... kan baitu caro awak. Lain > masalahnyo kalau kelurgako mangatokan ndak pakai adat mano juo, sasuko > atinyo lah, salamo ndak basingguangan jo masalah hukum. > Dalam hal iko, boleh ada yang bilang keluargako ndak salah, boleh jadi > sistem value mereka menganggap adat hanyalah sebuah estetika belaka tapi > bersinggungan dengan nama baik etnis Minang. Disini ada yang merasa > dipermalukan. Ada tindakan perusakan terhadap adat istiadat yang dibanggakan > oleh etnis Minang, apa ini bukan kesalah besar. Setiap kesalahan tidak boleh > dibiarkan. Setiap kesalahan pasti ada sangsinya. Yang ndak sengaja saja > harus minta ma'af apalagi ini benar-benar suatu kesengajaan. > Kalau memang keluarga ini tidak mengandalkan niniak mamak, karena mereka > secara value memang mapan, kenapa harus bilang menggunakan adat Minang. > Urang Minang barajo ka mamak sanak!... jadi ndak mungkin mamaknyo ndak tau > soal iko. > Sekarang tanyalah nurani masing-masing. Apakah anda merasa dipermalukan > karena karena ulah BCL anda do ceme 'e dek kawan-kawan. anda jadi > perolok-olokan, anda direndahkan dan bukan hanya anda tapi etnis minang ?... > Apakah anda masih enjoi dengan apa yang anda banggakan ternyata di obrak > abrik oleh seseorang ?... Ternyata seseorang itu juga mengaku berasal dsari > etnis anda sendiri?... Nyatanya saya sendiri yang sering berkata banyak > kesalahan dalam adat minang merasa sangat kecewa dengan hal ini, bagaimana > dengan sanak nan begitu membanggakan adat minang itu!... > Apakah adat Minang akan menjadi masa lalu?... siapa yang akan mencegah hal > itu ?... Percuma sanak bicara soal adat, percuma sanak bangga dengan > ABS-SBK, bila berhadapan dengan seseorang seperti BCL melakukan pelecehan > terhadap apa yang anda banggakan ternyata anda melakukan pembenaran terhadap > pelecehan tersebut. > Yang saya tau, tak satupun pakaian adat Minang yang mengumbar sahwat. > Sekarang ada sesorang yang berpakaian mengumbar sahwat mengatakan bahwa itu > adalah pakaian adat minang, apakah itu dapat dibenarkan ?.... apakah itu > boleh digolongkan kepada modernisasi?... Kalau itu dapat dibenarkan untuk > apa ABS-SBK?...... > wassalam, > Zulidamel (46) > Jakarta > ----- Original Message ----- > From: "Mantari Sutan" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[EMAIL PROTECTED]> > Cc: <[email protected]> > Sent: Wednesday, November 12, 2008 9:31 AM > Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: MANA KONTROL DARI NINIAK MAMAK DAN ALIM ULAMA > MINANG ???? > Bundo Hifni yang ambo hormati, > Bahwa bukan niniak mamak dan alim ulama yang salah. Zaman sudah berubah, > adat menjadi sesuatu yang arbitrer. Ia akan menjadi estetika belaka, > pelengkap sebuah pesta. Kalau katuju silakan pakai, ndak katuju tinggalkan. > Katuju sabagian, ambillah yang sebagian itu. > Kalau zaman dulu memang. Lenggek suntiang saja diatur oleh karapatan adat. > Di beberapa tempat dikaitkan dengan besarnya alek, mambantai kambing kah > atau kerbau. Ada juga didasar pada status sosial adat dan riwayat > berkampungnya keluarga besar mereka. Saat ini, mau berlenggek berapa, > terserah kita. Apalagi di kota-kota besar. Pesta adat memang sudah sangat > disesuaikan dengan situasi metropolitan. Berapa orang diantara kita yang > masih duduk berjamba (at least berkursi lah) di 5 undangan terakahir > perkawinan berpelaminan minang? > Adat memang sudah menjadi estetika. Tak ada konsekuensi logis dari setiap > yang melewati pakemnya. BCL tak salah, ayah dan ibunya juga.karena system > value mereka terhadap adat sebatas estetika. > MS/29 > HIFNI HFD wrote: >> Salam Engku Riri, >> >> Kok sarupo iko modenyo.. katiko ambo mancaliek indak cukuik jo ucapan >> asytagfirullah al adziim.. indak cukuik jo geleng geleng kapalo... >> Akhirnyo ambo bisa menyimpulkan : >> a. Indak ado hubungan antaro alim ulama minang - untuak masalah ko... >> b. Kok nan lai.... adolah ... keluarga tuh... indak mangandalkan ninik >> mamaknyo lai... dek inyo alah bakamampuan tagak surang... Mungkin nan ado >> hanyolah peran urang Sumando Gadang Malendo... Ka baa juo lai..... >> c. Samentaro itu... anak daro indak bisa dipasalahkan do... karano inyo >> membanggakan bahwa rancangan baju nyo adolah rancangan sang Bunda... >> >> Sebagai ~ padusi ~ minang, saya betul betul malu.... dengan komentar >> teman teman dikantor : " Bu hifni.... ayo dipostingkan tuh di blognya - >> sebagai pakaian minang modern. >> Panas hatiku rasanya dan spontan saya menjawab : " Wah ndak lah yao... >> itu bukan pakaian orang minang....!!!! >> Panjang lebar saya menjelaskan bahwa baju pengantin etnis minang dan >> pelaminan, selalu bernuansa merah, kuning, hitam dan hijau.... karena >> mengandung makna atas pemilihan warna itu... >> >> Sekali lagi saya merenung dan geleng-geleng kepal ktika melihat website >> yang Sanak tunjukkan. Nauzubillahh.... >> >> Wassalam >> >> 3vy Nizhamul --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
