Sanak Sapalanta

Diantaro diskusi sanak nan agak angek tantang pakaian
baralek (anak daro) BCL nan balah mambalah, ambo posting tulisan ringan ambo
sebagai selingan, mungkin ado diantaro sanak nan punya anak sausia anak ambo
buliahlah babagi carito baa inyo bah ape ria. Danga2 Pak Datuak Arif punya anak
sebaya anak ambo..baa tu caritonya anak tu Pak Datuak jo hapenyo..lah bah
hape-hape ria lo inyo ndak. Mat baca semoga berkenan.Oh yo danga-danga si asraf
kini sadang mambalah durian mah..makasuiknyo sadang mambuka durian J….JP

------------------------------------------------

 

ANAK KU  BER HAPE
RIA

By : Jepe 


 

Jaman sekarang teknologi komunikasi tanpa kabel atau
dikenal dengan telepon seluler dalam bahasa pasaran sehari-hari disebut juga
Hape tidak saja telah menyentuh atau dimiliki oleh setiap lapis/strata social,
tapi juga rentang umur anak manusia yang hidup dimuka bumi. Mulai dari anak Tk
(Umur 5-6 Tahun) sampai dengan kakek nenek memiliki alat komunikasi ini.Begitu
juga dengan anak saya yang masih berumur 6 Tahun 9 Bulan yang duduk dibangku SD
kelas 1 juga telah memiliki Hape.

 

Sudah tiga bulan kebelakang rengekan anak saya ini agar
dibelikan Hape sama ibunya, tapi sang ibu menahan diri.Akhirnya luluh juga hati
seorang ibu karena tidak tahan melihat anaknya selalu “merengek dan beriba-iba”
agar dibelikan hape, alasan anak saya sederhana saja temen dia sebangku yang
sudah menjadi “soul mate” telah mempunyai hape begitu juga dengan temannya yang
lain.

 

Saat sebuah layanan seluler (provider) menawarkan hape
berbasis CDMA dengan harga “murah gila” sekitar Rp 200.000 plus pulsa Rp
10.000, tanpa pikir panjang istri saya membelikan hape buat anak perempuannya
yang bungsu ini. Sebelum serah terima Hape dilakukan  istri saya
menasehati dan menatar anak kami yang bernama Regita

 

“Regi ini mama belikan Hape, hanya digunakan untuk
memberitahu mama jika sudah pulang sekolah atau les dan minta di jemput”

 

Seminggu setelah hape ditangannya intruksi ibunya berjalan
lancar, pemakaian pulsa cukup hemat dan nilai bonus pulsa Rp 10.000 masih ada
sisanya. Hanya bentuk hape “murah gila” ini yang tidak bertahan, berbagai
stiker ditempelin dan mainan lucu-lucu bergelayut di hape tersebut.

 

Regita anak saya ini lepas satu minggu memiliki Hape
nampaknya dia menikmati berkomunikasi dengan teman sekelasnya terutama “soul
mate” sebangku dia yang bernama Varel.Regita  baru bisa memanfaatkan
fasilatas buat berbicara melalui Hape sedangkan fasiltas SMS dia belum bisa
menggunakannya. Inilah tingkah laku dia selama ber Hape ria yang membuat
mamanya “menjerit” karena pemakain pulsa mulai boros, kadang-kadang diisi pada
hari ini Rp 10.000 belum terbit dan bersinar mentari esok harinya pulsa hape
Regita sudah kandas

 

Sembunyi-sembunyi Regita dikamarnya sambil mengerjakan PR,
menelpon teman sebangkunya Varel.Menurut pikiran kita orang tua komunikasi
Regita ini sedikit “konyol” tapi menurut alam pikiran anak-anak tentu sebuah
kesenangan bagi dia bisa berkomunikasi melai Hape, ini dia beberapa komunikasi
yang dilakukan sama temannya

 

“Varel..Varel PR Matematika kita no 3, tambah-tambah itu,
12 tambah 5, 17 ya hasilnya (padahal dia sudah tahu dan telah diisi dibuku PR
nya)”

 

“Besok kita pakai baju kurung melayu ya , eh..kita jajan
apa besok disekolah…….ehhh aku nggak suka do lontong…mie goreng aja ya
(anak-anak Pekanbaru dalam berkomunikasi suka pakai nada Do, tentu beda sama
anak-anak Jakarta
yang suka pakai nada Si)”

 

 

Komunikasi semakin seru  nampaknya Regita
meintruksikan ke temannya Varel agar dia yang menghubunginya, tentunya menurut
alam pikiran dia sebagai anak-anak “Duh senangnya ditelpon dan mendengar nada
dering saat hape nyambung” Tidak jauh beda mungkin suasana hati Varel diujung 
sana , penuh semangat
berkobar tanpa menunggu lama-lama saat komunikasi diputuskan Regita, hapenya
berdering. Secepat kilat Regita memencet tombol sehingga komunikasi terjalin
kembali.

 

Pembicaraan masih seputar PR mulai Matematika, Bahasa
Indonesia dengan tulisan halus kasar sampai menanyakan “PR kamu sudah ditanda
tangani Papa kamu”, bosan bicara pelajaran sedikit melebar “ngerumpi” ala anak
SD kelas 1 begini

 

“Varel..Varel..si Farhan tu..suka usil ya..jahat ya”

“Kamu besok bawa makanan apa, aku bawa Roti selai coklat”

“Ketua Kelas kita galak ya, kalau nggak lurus barisan kita,
kakiku ditendang-tendangnya”

 

Semakin lama semakin seru mereka berkomunikasi, yang
lucunya lagi eeee..si Varel diujung sana
minta Regita yang menghubunginya lagi. 

 

“Iya..aku nelpon lagi ya..matikan hape kamu”

 

Bosan anak saya menelpon kawannya Varel, dia menghubungi
kawannya yang lainnya, nah ini dia masih sebuah pertanyaan yang “konyol” dan
diulang lagi

 

“Fani..Fani PR Matematika kita no 3 tambah-tambah 12 tambah
5,  17 ya…..oh..iya kamu 17 juga ya”

 

Walah anak saya ragu juga jangan-jangan 12 tambah 5 sama
kawannya yang lain bisa jadi 16 atau 18,  cek and recheck kelihatan anak
saya atau memang ingin berbicara saja melalui Hape

 

 

Nah ini yang lebih “konyol” lagi (menurut alam pikiran kita
orang tua, bagi dia tentu sebuah rasa keingin tahuan yang dalam). Ketika Hape
saya tergeletak di meja ruang keluarga sementara saya lagi makan malam, Regita
mengambil Hape saya tersebut, pelan tapi pasti dia masuk kamar.Tingkahnya ini
dari sudut mata saya perhatikan saat makan, saya biarkan dia masuk kamarnya
lalu saya coba intip dari pintu yang sedikit terbuka.

 

Regita dengan santai sambil bersandar ditempat tidurnya
mulai ber hape ria, kelihatannya dia menghubungi nomor saya, persis Hape saya
berdering dengan nada lagu “Ahia Donia dari Ellisa” Hape “Murah Gilanya”
menempel ditelinga kanannya sementara hape saya menempel ditelinga kirinya.

 

“Halo..ini Papa ya..ini Regi Pa”

 

Saya tidak mau mengusik  rasa ingin tahu dan
kesenangannya yang sedang memuncak saat itu ketika ber hape ria di kuping kanan
dan kirinya. Saya biarkan saja sambil terus mengintip segala tingkah lakunya
berkomunikasi dengan dua hape ditangannya,  sebelah kiri hape saya
sementara kuping kanan Hape dia hanya satu suara yang keluar masuk dan itu
adalah suara Regita. Saya mencoba menterjemahkan alam pikiran Regita tentunya
dia ingin tahu “Begini ya suara saya jika didengar di hape”

 

Saya biarkan sampai selesai dia berkomunikasi dengan dua
hape yang menempel ditelinganya, saya tidak mau merenggut kenikmatan dia dengan
jalan memberikan rasa kaget tiba-tiba dengan berkata “Ayo..lagi ngapain..kok
telpon Hape papa sih”. Ini anak-anak, saya pernah anak-anak dan saya ingat
sebuah pernyataan yang sangat menyentuh dari pesebakbola terkenal yang saya
kagumi siapa lagi Zinadine Zidane.

 

Zidane sangat memahami dunia anak-anak, dia merasakan
sekali kebahagian seorang anak-anak ketika bermain bola diwaktu kecil disebuah
jalan di gang-gang sempit kota
Marseile –Perancis. Ketika dia lagi menikmati dunia anak-anak bermain bola lalu
penghuni flat mengusir dia dan kawan-kawan sebayanya,  hati mereka iba dan
kecewa.

 

Zidane saat ini menaruh perhatian yang sangat besar bagi
anak-anak yang tidak mampu dan bermain bola di jalan-jalan dan pinggir kota
kaum miskin.Jika mengingat masa kecilnya timbul rasa iba yang menyentuh hatinya
 paling dalam, Zidane pernah merasakan masa anak-anaknya bermain bola di
jalanan pernah direnggut oleh orang dewasa.

 

Ini kira-kira pernyataan Zidane yang menyentuh tersebut
ketika diwawancarai untuk sebuah video tentang seorang maestro bola yang pernah
lahir dimuka bumi dan memberikan kegairahan di dunia sepak bola

 

“Begitu banyak pujian dan sanjungan atas kemampuan saya
bermain bola yang saya dapatkan selama karir saya, tapi hati saya akan selalu
bergetar ketika berkunjung dalam kegiatan amal bersama anak-anak miskin yang
bermain bola dijalanan dan ditempat yang kumuh, ketika saya bersalaman dengan
seorang bocah dia berkata “Kelak saya sudah besar nanti ingin seperti Anda”

 

Regita belum selesai nampaknya bermain dengan dua hape
tersebut, kali ini hape saya yang menghubungi hape dia, seperti momen
sebelumnya seolah-olah saya yang berbicara kepadanya “Halo  ini
papa..udah  pulang sekolah Regi..udah makan sayang”

 

 

Rasa ingin tahu dia terpuaskan sudah lalu beranjak dari
tempat tidur untuk meletakan hape saya ketempat semula, sementara saya bergerak
kemeja makan, saya biarkan seolah-olah saya tidak pernah tahu apa yang
dilakukannya, Hape saya diletakan ketempat semula dan dia sepertinya ada
sedikit rasa bersalah atas tingkahnya yang memainkan hape saya. Selesai
meletakan hape dia menghampiri saya ke meja makan, kami mengobrol sejenak saya
mengarahkan pembicaraan bukan membahas masalah hape tapi cerita-cerita tentang
sekolah.

 

Ibunya mulai tidak tahan atas tingkah Regita yang ber hape
ria, karena pemakaian pulsa mulai boros hampir tiap hari minta diisi ulang
pulsa senilai Rp 10.000 dengan harga jual Rp 12.000 di konter-konter
seluler.Akhirnya Ibunya memberi peringatan keras Hape setelah pulang sekolah
agar diserahkan ke Ibunya, hape kembali diserahkan ketika ke sekolah dan les.
Regita tidak bisa berbuat apa-apa karena didalam kelas dilarang guru bermain
hape, jika ketahuan hape akan diambil.

 

Hape tersebut disimpannya dalam tas sekolah, saat pulang
sekolah atau les Regita baru bisa menggunakannya untuk melapor ke Ibunya minta
dijemput.Namanya anak-anak kadang-kadang disaat ibunya menjemput dia, lagi-lagi
Regita ber hape ria sama temannya, ini bisa dideteksi oleh Ibunya dari layanan
pengecekan pulsa serta nomor panggilan keluar, seperti biasa yang sering
dihubunginya adalah seorang gadis cilik sebayanya yang bernama Varel.

 

Jika dengan Varel tidak terlalu masalah dengan pulsa,
karena varel menggunakan hape yang sama dengan anak saya dan layanan seluler
CDMA juga sama, tentunya tarifnya juga “murah gila”. Saat dirumah ketika hape
Regita disita Ibunya, hape akan diserahkan jika ada kawan yang menghubunginya

 

“Regi…nih ada telpon dari Varel”

 

Asyiklah dia berbicara ngalor ngidul sama “soul mate”
sekelasnya ini, ketika dia serahkan kembali hape kepada ibunya sepertinya
Regita belum puas berbicara dengan Varel.

 

“Udah..selesai ngomong sama Varel” Ibunya menerima kembali
Hape yang diserahkan

 

“ngggg…Ma..Ma…Varel minta Regi yang telpon dia lagi”

 

Si Mama..???##!!!????

 

***  

 

Lagi Day Off, Pku, 12 November 2008

 




      
___________________________________________________________________________
Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru.
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke