ANAK KU BER HAPE RIA JUGA Sebagai PNS tentu aku harus mampu menahan diri Belanja sesuai keperluan Belanja sesuai kemampuan
Suatu hari anakku Dilla merengek Minta dibelikan HP sesuai seleranya Tidak mau seperti HP yang kami punya Yang hanya bisa nelpon dan SMS waktu itu Dilla minta yang ada kamera Dilla mau yang ada .... Aku tak bergeming dengan rengekannya Terbayang berapa pulsa lagi yang harus kubeli Selama ini pulsa telpon rumah terus membengkak Umumnya dipakai Dilla Mengobrol dengan teman-temannya Kadang membahas PR Kadang bercerita tentang apa saja Baik dikala suka maupun duka Apalagi lagi sendirian di rumah Papanya nggak kuat mendengar rengekan Dilla Akhirnya apa yang di minta Dilla dibelikan juga Seperti yang kuduga sebelumnya Pengeluaran bertambah untuk beli pulsa Beberapa waktu yang lalu HP si Dilla hilang di angkot Entah dicopet entah jatuh Sehingga muncul lagi rengekan baru HP baru yang bisa ... Sama seperti dulu Aku tak bergeming dengan rengekan dan ancamannya " Dilla mau kabur kalau tidak dibelikan HP " Kabur aja, kataku sambil manyun " Dilla tidak mau sekolah kalau tidak pakai HP " " Pa, ini model HP dan ini daftar harganya " Lagi-lagi papanya luruh Ketika menjemputku di kampus Si Dilla juga ikut " Aku mau beli HP " kata Dilla Ku tatap papanya " Biarlah mama, nanti terganggu pula konsentrasinya Kan sebentar lagi mau ujian kelas tiga SMA " Begitu dapat HP baru Bak anak kecil dapat mainan Horreeee HP ku bisa .... Lewat telpon rumah Dia kasih tau teman-temannya HP nya sudah ada Dan sibuklah anakku ber HP ria Ketika sudah dapat nomor temannya Belakangan kulihat Temannya ketemu di dunia maya Anak kedutaan malaysia katanya Selalu menelponnya di jam belajar malam hari Tidak bosan-bosannya berceita Tentang apa saja Kadang bahasa melayu Kadang bahasa Inggris Sampai kesal juga aku jadinya Ku bilang ke papanya Apa tidak berbahaya Kalau teman Dilla Selalu bercerita Dalam waktu yang lama Setiap malamnya ??? Bengkulu, 13 November 2008 Hanifah Damanhuri --- On Wed, 11/12/08, jupardi andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: jupardi andi <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] ANAK KU BER HAPE RIA.....By : Jepe To: "rantaunet rantaunet" <[email protected]> Cc: "erwin mo erwin" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Wednesday, November 12, 2008, 8:55 PM Sanak Sapalanta Diantaro diskusi sanak nan agak angek tantang pakaian baralek (anak daro) BCL nan balah mambalah, ambo posting tulisan ringan ambo sebagai selingan, mungkin ado diantaro sanak nan punya anak sausia anak ambo buliahlah babagi carito baa inyo bah ape ria. Danga2 Pak Datuak Arif punya anak sebaya anak ambo..baa tu caritonya anak tu Pak Datuak jo hapenyo..lah bah hape-hape ria lo inyo ndak. Mat baca semoga berkenan.Oh yo danga-danga si asraf kini sadang mambalah durian mah..makasuiknyo sadang mambuka durian J….JP ------------------------------------------------ ANAK KU BER HAPE RIA By : Jepe Jaman sekarang teknologi komunikasi tanpa kabel atau dikenal dengan telepon seluler dalam bahasa pasaran sehari-hari disebut juga Hape tidak saja telah menyentuh atau dimiliki oleh setiap lapis/strata social, tapi juga rentang umur anak manusia yang hidup dimuka bumi. Mulai dari anak Tk (Umur 5-6 Tahun) sampai dengan kakek nenek memiliki alat komunikasi ini.Begitu juga dengan anak saya yang masih berumur 6 Tahun 9 Bulan yang duduk dibangku SD kelas 1 juga telah memiliki Hape. Sudah tiga bulan kebelakang rengekan anak saya ini agar dibelikan Hape sama ibunya, tapi sang ibu menahan diri.Akhirnya luluh juga hati seorang ibu karena tidak tahan melihat anaknya selalu “merengek dan beriba-iba” agar dibelikan hape, alasan anak saya sederhana saja temen dia sebangku yang sudah menjadi “soul mate” telah mempunyai hape begitu juga dengan temannya yang lain. Saat sebuah layanan seluler (provider) menawarkan hape berbasis CDMA dengan harga “murah gila” sekitar Rp 200.000 plus pulsa Rp 10.000, tanpa pikir panjang istri saya membelikan hape buat anak perempuannya yang bungsu ini. Sebelum serah terima Hape dilakukan istri saya menasehati dan menatar anak kami yang bernama Regita “Regi ini mama belikan Hape, hanya digunakan untuk memberitahu mama jika sudah pulang sekolah atau les dan minta di jemput” Seminggu setelah hape ditangannya intruksi ibunya berjalan lancar, pemakaian pulsa cukup hemat dan nilai bonus pulsa Rp 10.000 masih ada sisanya. Hanya bentuk hape “murah gila” ini yang tidak bertahan, berbagai stiker ditempelin dan mainan lucu-lucu bergelayut di hape tersebut. Regita anak saya ini lepas satu minggu memiliki Hape nampaknya dia menikmati berkomunikasi dengan teman sekelasnya terutama “soul mate” sebangku dia yang bernama Varel.Regita baru bisa memanfaatkan fasilatas buat berbicara melalui Hape sedangkan fasiltas SMS dia belum bisa menggunakannya. Inilah tingkah laku dia selama ber Hape ria yang membuat mamanya “menjerit” karena pemakain pulsa mulai boros, kadang-kadang diisi pada hari ini Rp 10.000 belum terbit dan bersinar mentari esok harinya pulsa hape Regita sudah kandas Sembunyi-sembunyi Regita dikamarnya sambil mengerjakan PR, menelpon teman sebangkunya Varel.Menurut pikiran kita orang tua komunikasi Regita ini sedikit “konyol” tapi menurut alam pikiran anak-anak tentu sebuah kesenangan bagi dia bisa berkomunikasi melai Hape, ini dia beberapa komunikasi yang dilakukan sama temannya “Varel..Varel PR Matematika kita no 3, tambah-tambah itu, 12 tambah 5, 17 ya hasilnya (padahal dia sudah tahu dan telah diisi dibuku PR nya)” “Besok kita pakai baju kurung melayu ya , eh..kita jajan apa besok disekolah…….ehhh aku nggak suka do lontong…mie goreng aja ya (anak-anak Pekanbaru dalam berkomunikasi suka pakai nada Do, tentu beda sama anak-anak Jakarta yang suka pakai nada Si)” Komunikasi semakin seru nampaknya Regita meintruksikan ke temannya Varel agar dia yang menghubunginya, tentunya menurut alam pikiran dia sebagai anak-anak “Duh senangnya ditelpon dan mendengar nada dering saat hape nyambung” Tidak jauh beda mungkin suasana hati Varel diujung sana , penuh semangat berkobar tanpa menunggu lama-lama saat komunikasi diputuskan Regita, hapenya berdering. Secepat kilat Regita memencet tombol sehingga komunikasi terjalin kembali. Pembicaraan masih seputar PR mulai Matematika, Bahasa Indonesia dengan tulisan halus kasar sampai menanyakan “PR kamu sudah ditanda tangani Papa kamu”, bosan bicara pelajaran sedikit melebar “ngerumpi” ala anak SD kelas 1 begini “Varel..Varel..si Farhan tu..suka usil ya..jahat ya” “Kamu besok bawa makanan apa, aku bawa Roti selai coklat” “Ketua Kelas kita galak ya, kalau nggak lurus barisan kita, kakiku ditendang-tendangnya” Semakin lama semakin seru mereka berkomunikasi, yang lucunya lagi eeee..si Varel diujung sana minta Regita yang menghubunginya lagi. “Iya..aku nelpon lagi ya..matikan hape kamu” Bosan anak saya menelpon kawannya Varel, dia menghubungi kawannya yang lainnya, nah ini dia masih sebuah pertanyaan yang “konyol” dan diulang lagi “Fani..Fani PR Matematika kita no 3 tambah-tambah 12 tambah 5, 17 ya…..oh..iya kamu 17 juga ya” Walah anak saya ragu juga jangan-jangan 12 tambah 5 sama kawannya yang lain bisa jadi 16 atau 18, cek and recheck kelihatan anak saya atau memang ingin berbicara saja melalui Hape Nah ini yang lebih “konyol” lagi (menurut alam pikiran kita orang tua, bagi dia tentu sebuah rasa keingin tahuan yang dalam). Ketika Hape saya tergeletak di meja ruang keluarga sementara saya lagi makan malam, Regita mengambil Hape saya tersebut, pelan tapi pasti dia masuk kamar.Tingkahnya ini dari sudut mata saya perhatikan saat makan, saya biarkan dia masuk kamarnya lalu saya coba intip dari pintu yang sedikit terbuka. Regita dengan santai sambil bersandar ditempat tidurnya mulai ber hape ria, kelihatannya dia menghubungi nomor saya, persis Hape saya berdering dengan nada lagu “Ahia Donia dari Ellisa” Hape “Murah Gilanya” menempel ditelinga kanannya sementara hape saya menempel ditelinga kirinya. “Halo..ini Papa ya..ini Regi Pa” Saya tidak mau mengusik rasa ingin tahu dan kesenangannya yang sedang memuncak saat itu ketika ber hape ria di kuping kanan dan kirinya. Saya biarkan saja sambil terus mengintip segala tingkah lakunya berkomunikasi dengan dua hape ditangannya, sebelah kiri hape saya sementara kuping kanan Hape dia hanya satu suara yang keluar masuk dan itu adalah suara Regita. Saya mencoba menterjemahkan alam pikiran Regita tentunya dia ingin tahu “Begini ya suara saya jika didengar di hape” Saya biarkan sampai selesai dia berkomunikasi dengan dua hape yang menempel ditelinganya, saya tidak mau merenggut kenikmatan dia dengan jalan memberikan rasa kaget tiba-tiba dengan berkata “Ayo..lagi ngapain..kok telpon Hape papa sih”. Ini anak-anak, saya pernah anak-anak dan saya ingat sebuah pernyataan yang sangat menyentuh dari pesebakbola terkenal yang saya kagumi siapa lagi Zinadine Zidane. Zidane sangat memahami dunia anak-anak, dia merasakan sekali kebahagian seorang anak-anak ketika bermain bola diwaktu kecil disebuah jalan di gang-gang sempit kota Marseile –Perancis. Ketika dia lagi menikmati dunia anak-anak bermain bola lalu penghuni flat mengusir dia dan kawan-kawan sebayanya, hati mereka iba dan kecewa. Zidane saat ini menaruh perhatian yang sangat besar bagi anak-anak yang tidak mampu dan bermain bola di jalan-jalan dan pinggir kota kaum miskin.Jika mengingat masa kecilnya timbul rasa iba yang menyentuh hatinya paling dalam, Zidane pernah merasakan masa anak-anaknya bermain bola di jalanan pernah direnggut oleh orang dewasa. Ini kira-kira pernyataan Zidane yang menyentuh tersebut ketika diwawancarai untuk sebuah video tentang seorang maestro bola yang pernah lahir dimuka bumi dan memberikan kegairahan di dunia sepak bola “Begitu banyak pujian dan sanjungan atas kemampuan saya bermain bola yang saya dapatkan selama karir saya, tapi hati saya akan selalu bergetar ketika berkunjung dalam kegiatan amal bersama anak-anak miskin yang bermain bola dijalanan dan ditempat yang kumuh, ketika saya bersalaman dengan seorang bocah dia berkata “Kelak saya sudah besar nanti ingin seperti Anda” Regita belum selesai nampaknya bermain dengan dua hape tersebut, kali ini hape saya yang menghubungi hape dia, seperti momen sebelumnya seolah-olah saya yang berbicara kepadanya “Halo ini papa..udah pulang sekolah Regi..udah makan sayang” Rasa ingin tahu dia terpuaskan sudah lalu beranjak dari tempat tidur untuk meletakan hape saya ketempat semula, sementara saya bergerak kemeja makan, saya biarkan seolah-olah saya tidak pernah tahu apa yang dilakukannya, Hape saya diletakan ketempat semula dan dia sepertinya ada sedikit rasa bersalah atas tingkahnya yang memainkan hape saya. Selesai meletakan hape dia menghampiri saya ke meja makan, kami mengobrol sejenak saya mengarahkan pembicaraan bukan membahas masalah hape tapi cerita-cerita tentang sekolah. Ibunya mulai tidak tahan atas tingkah Regita yang ber hape ria, karena pemakaian pulsa mulai boros hampir tiap hari minta diisi ulang pulsa senilai Rp 10.000 dengan harga jual Rp 12.000 di konter-konter seluler.Akhirnya Ibunya memberi peringatan keras Hape setelah pulang sekolah agar diserahkan ke Ibunya, hape kembali diserahkan ketika ke sekolah dan les. Regita tidak bisa berbuat apa-apa karena didalam kelas dilarang guru bermain hape, jika ketahuan hape akan diambil. Hape tersebut disimpannya dalam tas sekolah, saat pulang sekolah atau les Regita baru bisa menggunakannya untuk melapor ke Ibunya minta dijemput.Namanya anak-anak kadang-kadang disaat ibunya menjemput dia, lagi-lagi Regita ber hape ria sama temannya, ini bisa dideteksi oleh Ibunya dari layanan pengecekan pulsa serta nomor panggilan keluar, seperti biasa yang sering dihubunginya adalah seorang gadis cilik sebayanya yang bernama Varel. Jika dengan Varel tidak terlalu masalah dengan pulsa, karena varel menggunakan hape yang sama dengan anak saya dan layanan seluler CDMA juga sama, tentunya tarifnya juga “murah gila”. Saat dirumah ketika hape Regita disita Ibunya, hape akan diserahkan jika ada kawan yang menghubunginya “Regi…nih ada telpon dari Varel” Asyiklah dia berbicara ngalor ngidul sama “soul mate” sekelasnya ini, ketika dia serahkan kembali hape kepada ibunya sepertinya Regita belum puas berbicara dengan Varel. “Udah..selesai ngomong sama Varel” Ibunya menerima kembali Hape yang diserahkan “ngggg…Ma..Ma…Varel minta Regi yang telpon dia lagi” Si Mama..???##!!!???? *** Lagi Day Off, Pku, 12 November 2008 Yahoo! sekarang memiliki alamat Email baru Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. br> Cepat sebelum diambil orang lain --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
