Home / Sumatera Bagian Utara /
  
  
  Tan Malaka Pejuang
  Sejarah Sebelum Kemerdekaan Perlu Diluruskan
      function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function 
Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }                     
KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYAT / Kompas Images 
Direktur KITLV Harry A Poeze (kanan) memberikan penjelasan tentang peran Tan 
Malaka yang ditulis dalam bukunya berjudul Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan 
Revolusi Indonesia, Senin (17/11) di Universitas Negeri Medan (Unimed). Buku 
ini tidak hanya bercerita tentang kehidupan Tan Malaka, tetapi juga tentang 
perjuangannya dalam revolusi Indonesia. 

Kompas, Selasa, 18 November 2008 | 03:00 WIB     Medan, Kompas - Pahlawan 
nasional Indonesia yang terlupakan, Tan Malaka, bagian dari kelompok kiri. Dia 
memilih jalannya sendiri selama perjuangan. Dia kerap berseberangan dengan 
tokoh nasional saat itu. Sebagian orang menilai sepak terjangnya di dunia 
politik cenderung menjauhi kekuasaan politik.
  ”Dia datang ke Indonesia dengan nama samaran setelah 20 tahun mengembara. 
Awalnya Tan Malaka berjuang sembunyi-sembunyi. Kemudian dia tampil di depan 
umum sebagai pemimpin gerakan radikal,” kata Direktur KITLV Harry A Poeze, 
Senin (17/11) di Universitas Negeri Medan saat peluncuran buku berjudul Tan 
Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia.
  Harry menceritakan, peran Tan Malaka kerap berseberangan dengan tokoh 
nasional seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, dan Amir Sjafroeddin. Dalam bukunya, 
Harry menulis, sepak terjang Datoek Tan Malaka di dunia politik dilakukan di 
Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Republik Indonesia (Pari) yang didirikan 
di Bangkok, dan Partai Murba yang didirikan pada tahun 1948.
  Peran Tan Malaka di balik layar salah satunya ada pada rapat akbar Ikada di 
Jakarta. Harry menemukan foto yang merekam gambar Tan Malaka ada di belakang 
Soekarno.
  Harry menulis buku ini melalui riset sejarah selama 10 tahun. Sebagian sumber 
sejarah ini berasal dari karya Tan Malaka sendiri. Pria kelahiran 1894 di 
Pandan Gadang, Sumatera Barat, ini baru kembali ke Indonesia dengan nama 
samaran, di antaranya Hussein dan Bayah, pada 1942.
  Buku rencananya terbit dalam enam jilid dengan penerbitan dua jilid dalam 
setahun. Buku ini aslinya memang terlalu panjang setebal 2.000 halaman lebih.
  Pengamat politik USU, Ridwan Rangkuti, mengatakan, sosok Tan Malaka merupakan 
pejuang ideolog terbaik Indonesia. Bahkan karyanya berjudul Madilog 
(materialisme, dialektika, logika) dia nilai sejajar dengan karya penulis hebat 
seperti Karl Max dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel.
  ”Dia orang ketiga di dunia yang bisa menguraikan konsep sosialisme dengan 
baik,” katanya. Selain Madilog, salah satu karya Tan Malaka yang dinilai 
fenomenal adalah Massa Aksi.
  Karya dan sepak terjang Tan Malaka seakan satu garis. Ide pergerakan dia 
praktikkan saat memobilisasi kaum buruh di Sumatera Timur. Kejadian ini, 
katanya, memaksa Pemerintah Hindia Belanda menyetujui sebagian tuntutan buruh 
pada 1920. Perannya di Sumatera Timur jejaknya masih terlihat hingga kini saat 
dia menjadi guru di kawasan perkebunan.
  Korupsi sejarah
  Buku ini juga mengulas pergulatan Tan Malaka dengan PKI. Peristiwa penting 
yang selanjutnya menjadi stigma negatif partai ini adalah pemberontakan Madiun 
1948. Meski Tan Malaka tidak terlibat, stigma ini selama puluhan tahun menjadi 
alat politik penguasa menyingkirkan kaum kiri.
  Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Unimed Ichwan Azhari 
mengatakan, peranan komunis sebelum dan sesudah 1945 sangat berbeda. Menurut 
dia, komunis sebagai ideologi pergerakan memberikan kontribusi positif terhadap 
proses kemerdekaan Indonesia. Pemerintah, katanya, perlu meluruskan sejarah 
tentang hal ini.
  ”Studi tentang hal ini sebelum era kemerdekaan belum banyak. Yang banyak 
ditonjolkan pemerintah adalah sepak terjang mereka setelah kemerdekaan 1945,” 
katanya.
  Ini membuat opini masyarakat tentang komunis menjadi versi pemerintah. 
Pendapat serupa disampaikan antropolog Unimed, Usman Pelly. ”Hanya separuh dari 
fakta sejarah Indonesia yang benar. Selebihnya tidak jelas. Banyak fakta 
sejarah yang dikorupsi oleh penguasa,” katanya.
  Buku Harry merupakan sepenggal bukti sejarah nasional yang berharga. Bukan 
saja mengenai gambaran pejuang kiri, melainkan juga peristiwa yang 
melingkupinya selama perjuangan revolusi kemerdekaan. (NDY)



       
---------------------------------
  Dapatkan nama yang Anda sukai!  
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke