Uda Suryadi yang ambo hormati. itulah yang sesalkan, kenapa Poeze tidak 
digiring ke Unand atau UNP. 

Saya baru tahu Tour Poeze kali ini tidak ke Padang setelah diberitahu oleh 
teman-teman UGM yang sempat "mengiring" Poeze ke sekretariat Balairung (media 
mahasiswa UGM). selain medan (ini terkait Tan Malaka pernah bekerja di Deli, 
ternyata Kota Serang Banten (sebagaimana tertulis dalam sejarah, Tan Malaka 
pernah berdiam di Banten) jg akan dikunjungi Poeze. Jogja dikunjungi karena 
teman-teman kiri memang luar biasa banyak di sini. Kata teman saya yang sempat 
berdialog dengan Poeze sekitar 2 jam, kenapa tidak diselenggarakan di Padang, 
mungkin orang Padang sudah kenal dengan Poeze dan Tan Malaka. Saya tak tahu 
apakah ini pertanyaan retoris atau tidak adanya informasi kedatangan Poeze, 
sehingga ilmuan dan intelektual di Padang tidak mendatangkan Poeze dengan 
peluncuran buku yang konon diterbitkan dalam 6 jilid ini.

Satu usulan yang saya dapatkan dari seorang teman adalah bagaimana menggiring 
para mahasiswa baik s1,s2 dan s3 untuk membuat skripsi, tesis, disertasi yang 
mengupas atau mengungkap hal-hal yang berkaitan dengan Minang.teman saya itu 
mengatakan, sangat disayangkan sejawan sekaliber Mestika Zed malahan membuat 
"Sejarah Kota Palembang" tidak tentang sejarah Kota-kota di Sumbar. Tapi tiap 
orang tentu punya otonomi untuk memilih apa yang mau diteliti. namun, tentu 
lebih baik, mengungkap sejarah negeri sendiri, sehingga kita bisa melahirkan 
ilmuan dan karya sekaliber/melebihi apa yang telah dilakukan Poeze...

Segitu dulu dari saya

ttd
anggun gunawan
24M - Jogja

--- Pada Sel, 18/11/08, Lies Suryadi <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: Lies Suryadi <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: [EMAIL PROTECTED] Buku Harry Poeze tentang Tan Malaka diluncurkan di 
Medan (kecek ambo di UNAND atau UNP).
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 18 November, 2008, 4:28 AM

Home / Sumatera Bagian Utara /      Tan Malaka Pejuang  Sejarah Sebelum 
Kemerdekaan Perlu Diluruskan                       KOMPAS/ANDY RIZA HIDAYAT / 
Kompas Images 
Direktur KITLV Harry A Poeze (kanan) memberikan penjelasan tentang peran Tan 
Malaka yang ditulis dalam bukunya berjudul Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan 
Revolusi Indonesia, Senin (17/11) di Universitas Negeri Medan (Unimed). Buku 
ini tidak hanya bercerita tentang kehidupan Tan Malaka, tetapi juga tentang 
perjuangannya dalam revolusi Indonesia. Kompas, Selasa, 18 November 2008 | 
03:00 WIB     Medan, Kompas - Pahlawan nasional Indonesia yang terlupakan, Tan 
Malaka, bagian dari kelompok kiri. Dia memilih jalannya sendiri selama 
perjuangan. Dia kerap berseberangan dengan tokoh nasional saat itu. Sebagian 
orang menilai sepak terjangnya di dunia politik cenderung menjauhi kekuasaan 
politik.  ”Dia datang ke Indonesia dengan nama samaran setelah 20 tahun 
mengembara. Awalnya
 Tan Malaka berjuang sembunyi-sembunyi. Kemudian dia tampil di depan umum 
sebagai pemimpin gerakan radikal,” kata Direktur KITLV Harry A Poeze, Senin 
(17/11) di Universitas Negeri Medan saat peluncuran buku berjudul Tan Malaka, 
Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia.  Harry menceritakan, peran Tan Malaka 
kerap berseberangan dengan tokoh nasional seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, dan 
Amir Sjafroeddin. Dalam bukunya, Harry menulis, sepak terjang Datoek Tan Malaka 
di dunia politik dilakukan di Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Republik 
Indonesia (Pari) yang didirikan di Bangkok, dan Partai Murba yang didirikan 
pada tahun 1948.  Peran Tan Malaka di balik layar salah satunya ada pada rapat 
akbar Ikada di Jakarta. Harry menemukan foto yang merekam gambar Tan Malaka ada 
di belakang Soekarno.  Harry menulis buku ini melalui riset sejarah selama 10 
tahun. Sebagian sumber sejarah ini berasal dari karya Tan Malaka sendiri. Pria 
kelahiran 1894 di
 Pandan Gadang, Sumatera Barat, ini baru kembali ke Indonesia dengan nama 
samaran, di antaranya Hussein dan Bayah, pada 1942.  Buku rencananya terbit 
dalam enam jilid dengan penerbitan dua jilid dalam setahun. Buku ini aslinya 
memang terlalu panjang setebal 2.000 halaman lebih.  Pengamat politik USU, 
Ridwan Rangkuti, mengatakan, sosok Tan Malaka merupakan pejuang ideolog terbaik 
Indonesia. Bahkan karyanya berjudul Madilog (materialisme, dialektika, logika) 
dia nilai sejajar dengan karya penulis hebat seperti Karl Max dan Georg Wilhelm 
Friedrich Hegel.  ”Dia orang ketiga di dunia yang bisa menguraikan konsep 
sosialisme dengan baik,” katanya. Selain Madilog, salah satu karya Tan Malaka 
yang dinilai fenomenal adalah Massa Aksi.  Karya dan sepak terjang Tan Malaka 
seakan satu garis. Ide pergerakan dia praktikkan saat memobilisasi kaum buruh 
di Sumatera Timur. Kejadian ini, katanya, memaksa Pemerintah Hindia Belanda 
menyetujui
 sebagian tuntutan buruh pada 1920. Perannya di Sumatera Timur jejaknya masih 
terlihat hingga kini saat dia menjadi guru di kawasan perkebunan.  Korupsi 
sejarah  Buku ini juga mengulas pergulatan Tan Malaka dengan PKI. Peristiwa 
penting yang selanjutnya menjadi stigma negatif partai ini adalah pemberontakan 
Madiun 1948. Meski Tan Malaka tidak terlibat, stigma ini selama puluhan tahun 
menjadi alat politik penguasa menyingkirkan kaum kiri.  Kepala Pusat Studi 
Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Unimed Ichwan Azhari mengatakan, peranan 
komunis sebelum dan sesudah 1945 sangat berbeda. Menurut dia, komunis sebagai 
ideologi pergerakan memberikan kontribusi positif terhadap proses kemerdekaan 
Indonesia. Pemerintah, katanya, perlu meluruskan sejarah tentang hal ini.  
”Studi tentang hal ini sebelum era kemerdekaan belum banyak. Yang banyak 
ditonjolkan pemerintah adalah sepak terjang mereka setelah kemerdekaan 1945,”
 katanya.  Ini membuat opini masyarakat tentang komunis menjadi versi 
pemerintah. Pendapat serupa disampaikan antropolog Unimed, Usman Pelly. ”Hanya 
separuh dari fakta sejarah Indonesia yang benar. Selebihnya tidak jelas. Banyak 
fakta sejarah yang dikorupsi oleh penguasa,” katanya.  Buku Harry merupakan 
sepenggal bukti sejarah nasional yang berharga. Bukan saja mengenai gambaran 
pejuang kiri, melainkan juga peristiwa yang melingkupinya selama perjuangan 
revolusi kemerdekaan. (NDY) 
        Dapatkan nama yang Anda sukai!  

Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com







      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke