Selingan sajo sanak, diakhir pekan ambo memang sanang manulis, judulnyo terinspirasi dari istilah Pak Zul..8 to 5 atau urang kantoran yang bakarajo masuak jam 8 pulang jam 5 sore. Disiko ado juo stek travelling dan kuliner hobby ambo, selamat baca, semoga berkenan...JP
-----------------------------------
“NOT 8 TO 5, BUT 8 TO UP TO ME”
By : Jepe
I am a field man, not 8 to 5 but 8 to up to me, artinya
kira-kira begini saya orang lapangan, bukan orang kantoran yang masuk kerja jam
8 pagi dan pulang jam 5 sore, tapi jika saya dilapangan yang namanya masuk jam
8..lebih tegas lagi ya jam 8, tepatnya jam 8 pagi bergerak untuk memulai segala
aktivitas pekerjaan yang harus diselesaikan dilapangan sedangkan pulangnya
terserah saya tergantung situasi dan apa yang dikerjakan.
Seperti orang kantoran yang “8 to 5” tentu saya sebagai
orang lapangan yang “8 to up to me” mempunyai suka duka dalam bekerja sesuai
dengan “karakter” rata-rata orang yang bekerja disektor swasta industri
kehutanan dari hulu ke hilir maksud saya tentu berbeda suka duka orang
lapangan yang bekerja di sector perminyakan atau perkebunan misalnya.Tapi
intinya dimanapun kita bekerja jika kita melakukannya dengan tulus dan senang
hati tentu akan membuat kita merasakan kenyamanan.Bahkan bekerja (apalagi
yang sudah bekeluarga) adalah ibadah jika kita memulai melangkah dengan
mengucapkan Bismillahirmanirrah im lalu dengan niat mengharap Ridho Allah Swt
semata (Abu Zdaki silahkan dipertajam lagi).
Suka saya bekerja dilapangan diantaranya adalah tentunya
saya yang mempunyai ketertarikan seni kuliner bisa menikmati berbagai sajian
masakan khas daerah atau menu-menu pusaka daerah di tanah air dengan sentuhan
tradisional yang sangat kental dan dalam.Sebagai contoh jika saya berangkat jam
10 an dari Pekanbaru menuju Padang Lawas maka makan siang saya usahakan
disebuah rumah makan yang terletak di kota Bangkinang.Selalu “ngangeni” masakan
rumah makan ini dengan sentuhan cita rasa masakan masyarakat Bangkinang atau
orang Kampar.
Salah satu jenis masakan yang membuat saya harus makan
siang disana adalah telur ikan patin.Telur ikan patin ini dihidangkan tiga rasa
atau variasi membuat kita ingin mencicipi ketiga variasi tersebut. Telur ikan
patin ini dikasih bumbu sedemikian rupa khas masakan Kampar ditambahkan sedikit
tepung beras agar menjadi kental dan telur ikan melekat satu sama lain lalu
dibungkus secara utuh dengan selembar daun kunyit utuh dan diikat. Telur ikan
patin yang telah berbumbu dan dibungkus daun kunyit dimasak dengan tiga cara
yaitu di goreng, di gulai dan diasam pedes.
Rasanya, wah membuat lidah bergoyang tak terkendali gurih,
lembut, khas dengan rasa atau oroma daun kunyit yang eksotis. Dijamin setelah
anda mencicipi yang digoreng maka tangan anda dengan reflek akan membuka satu
bungkus lagi atau malah dua-duanya yaitu telur ikan yang di gulai dan yang
diasem pedas.
Suka lainnya, saat ini lagi puncak-puncak musim buah,
dilapangan saat saya dan kawan-kawan mulai beraktivitas jam 8 misalnya ingin
bertemu dengan Bupati disuatu daerah. Tapi karena sesuatu hal Bupati “kaget
mendadak” dipanggil Gubernur dan sesampai di Kantor Bupati kami dijanjikan oleh
stafnya agar bertemu besoknya lagi, ini lahyang dikatakan 8 to up to me (us).
Terserah kami kemana langkah ini akan diarahkan, ada ide kawan ?...cari durian
jatuh dikebun petani bagaimana ?. Ok..Here we go, tanpa membuang waktu lagi
kami menuju ke ladang-ladang petani. Durian jatuh diladang petani rasanya
memang :nggak ada matinya” harganya pun tidak mencekek leher..hekkkk. .hekkk!!! ,
besar sedikit dari kepala tarzan Srimulat bisa didapatkan seharga Rp
15-20 ribu per buah, jika di Pekanbaru harganya bukan mencekek leher lagi tapi
kata orang Minang “aragonyo kanai pakuak dari kuduak…cabiak saku sarawa awak”,
mahal sekitar Rp 30-35 ribu per buah.
Diperjalanan kami juga bisa mencicipi buah-buah local yang
eksotis seperti sejenis rambutan local yang rambutnya kasar dan pendek dengan
kulit yang tebal berwarna merah maron kental, rasanya manis tak tertahankan
memang tidak “ngelotok (minang : mangalokak) cara makannya yang hebat adalah di
“emut-emut “ dimulut layaknya seperti makan permen.Buah lainnya seperti Jambak
(Jambu Bol) yang dijual dipinggir jalan dengan tampilan merah segar, harganya
sangat muirah sekitar Rp 3.000/Kg, rasanya manis berair dan sedkit rasa asam
yang segar.
Itulah suka disisi “Los Lambung” dan yang paling membuat
hati “riang gembira” tentunya semua dibayar perusahaan sesuai dengan jatah uang
saku masing-masing personil yang bertugas ke lapangan, yang paling asyik jika
menjamu “Bapak-bapak dan ibu-ibu berseragam ini “Unlimited” biaya “wisata
kulinernya” alias at cost.
Suka lainnya, kami bisa mandi-mandi disungai yang masih
asri di hutan (camp), memancing, berendam air panas di sebuah kolam pemandian
dekat kantor camp
kami (40 menit perjalanan
dari camp), masuk keluar desa-desa dengan pemandangan khas pedesaan. Tracking
ambil survey kedalam hutan ini adalah cabang olah raga “tradisonal” saya yaitu
berjalan kaki sambil menatap kiri kanan
pohon-pohon di jalur rintisan siapa tahu ada anggrek spesies atau dilantai-lantai
hutan jika ada keladi-keladi eksotik yang tumbuh atau apa saja yang sekiranya
berwarna indah dan bisa dijadikan koleksi tanaman hias.
Dukanya tentu ada juga diantaranya saya berhari-hari
dilapangan, tentu waktu saya bersama anak dan istri banyak hilang dibandingkan orang kantoran yang
“8 to 5” atau duka lainnya kadang-kadang jika memang ada urusan yang cukup a
lot dengan masyarakat saya harus pulang ke hotel atau camp larut malam bahkan
sampai dini hari, belum lagi menghadapi tantangan tindakan anarkis (criminal)
dari oknum-oknum masyarakat yang merasa tidak puas menurut alam pikirannya,
tapi kami telah bertindak sesuai dengan hokum yang berlaku, jikapun tidak
memakai kaca mata hokum tentunya jalan
musyawarah dan mufakat lebih dikedepankan. Musyawarah dan mufakat yang memberikan
“win win solution”, tapi memang selalu saja ada yang tidak puas sebagai akibat
ada kepentingan pribadi yang bermain.
Bagaimanapun anda bekerja, dimanapun posisi anda bekerja
apakah “8 to 5 atau 8 to up to you” pasti ada suka dan dukanya, tinggal bagaimana
anda menyikapi bagaimana menghadapi suka dan bagaimana menghadapi duka secara
proporsional, menurut saya jangan dibanding-bandingka n suka duka tersebut
akibatnya lebih banyak memancarkan
energi negatif . I AM A FIELD MAN, 8 TO UP TO ME”
Pekanbaru, 22
November 2008