“NOT 8 TO 5,
BUT 8 TO UP TO ME” - PART 2
Saya orang lapangan
dalam bekerja di sector kehutanan dari hulu ke hilir yang “8 to up to me” cara
kerja saya bersama kawan-kawan yang lain jika ibaratkan sebuah permainan bola
kira-kira seperti ini
Saya berposisi
(lebih suka) sebagai gelandang serang sekaligus “play maker” tapi memungkinkan
juga sebagai “second striker” atau istilah lainnya penyerang lubang. Tim kami
dikomandoi oleh seorang pelatih (coach, di Inggris dikenal dengan sebutan Maneger),
pelatih kami instruksinya sederhana saja ciptakan gol secepatnya, usahakan raih kemenangan dalam waktu normal, hindari
perpanjangan waktu apalagi adu penalty.
Sebelum memasuki lapangan kami berdoa sejenak, ketika pluit tanda
dimulainya pertandingan ditiup, 10 menit pertama kami masih membaca kekuatan dan
strategi lawan yang kami hadapi, jika memang kualitas permainannya biasa saja,
maka kami mulai bergerak membangun serangan di segala sisi tanpa harus
lama-lama memainkan bola dari kaki ke kaki. Mungkin kami menerapkan strategi
“Total Footbaal” menguasai setiap
jengkal lapangan, menyerang dan bertahan secara bersama-sama. Ketika kami
mendapat peluang di depan gawang semaksimal mungkin peluang ini harus berbuah
gol. Saat gol terjadi kami mundur untuk mempertahankan gawang kami dari
serangan balasan dari lawan.
Permainan berakhir
dengan kemenangan bagi kami tanpa perpanjangan waktu, kami diberi “bonus” oleh
pelatih untuk recovery mungkin sedikit rekreasi dan menikmati makanan disekitar
stadion (home base) lawan kami.
Seandainya lawan
kami cukup tangguh dan alot saya sebagai play maker harus bersabar membangun
serangan, pressing cukup ketat dilakukan lawan bahkan mereka menerapkan man to
man marking sehingga menyulitkan kami berkreatifitas dilapangan dengan skill
individu yang kami miliki.Saat bola berada dikaki saya ketika di pressure
sangat ketat saya kembali melakukan passing ke belakang. Dari belakang kami kembali menyusun serangan dengan
memanfaatkan lebar lapangan bisa dari sayap kanan atau sayap kiri.
Ketika bola kembali
berada di kaki saya saat ada celah dengan kemampuan individu yang saya miliki,
saya lansung menusuk kotak penalty, dari sudut yang sempit saya memberikan
“assist” yang cantik (lovely ball) buat teman saya yang mempunyai peluang cukup
besar menciptakan gol di depan gawang. Bola emas ini tidak disia-siakan oleh
teman saya yang bertindak sebagai striker murni dengan sebuah tendangan volley
first time teman saya ini merobek gawang lawan.
Setelah kami unggul
karena lawan kami seimbang dan mulai melakukan serangan-serangan yang
membahayakan gawang kami. Atas serangan lawan yang mematikan ini kami terpaksa
menerapkan strategi tradisional Itali yaitu Catenacio atau dikenal juga istilah
grendel, mati-matian kami memperjuangkan agar lawan tidak bisa menciptakan
gol dan kami usahakan sekuat tenaga agar
permainan ini berakhir dengan kemenangn di pihak kami dalam waktu normal.
Seandainya kami
kecolongan dimenit terakhir apa boleh buat terpaksa diadakan perpanjangan
waktu, kami kembali berusaha berjuang untuk kemenangan. Lawan kami memang
tangguh kami kehabisan tenaga dan kecolongan satu gol lagi di babak
tambahanjika perertandingan berakhir dengan kemenangan lawan,.pelatih kami
mencoba mengumpulkan kami dan mengajak berdiskusi untuk mengevaluasi permainan
kami serta bisa jadi sementara menarik pemain-pemain yang tidak efektif dengan
mengganti pemain tua tapi matang pengalaman untuk menghadapi pertarungan ulang
dengan lawan yang sama.
Akhirnya belajar
dari kekalahan dan mengevaluasi kelemahan serta menerapkan strategi baru
ditambah kekuatan moral dan skill individu dari “Old crack” yang matang
pengalaman kami berhasil mengalahkan lawan yang tangguh ini. Kami siap
mnghadapi pertandingan selanjutnya dengan lawan yang berbeda, Bekal pengalaman
bertarung dari kandang ke kandang lawan selama ini membuat kami semakin
berpengalaman, kompak dan tahu apa yang
harus dilakukan baik dalam bertahan maupun dengan menyerang tergantung lawan
yang akan dihadapi.
Semaksimal mungkin
kami bermain bersih, main kotor terpaksa dilakukan karena lawan yang kami
hadapi sangat brutal (maklum masih bermain bola di Indonesia), tapi sekasar
apapun kami bermain diusahakan jangan mendapat kartu merah cukup kartu kuing
saja, sekali lagi kami masih bermain bola di Indonesia yang kadang-kadang
memaksa kami harus “bermain” diluar lapangan untuk mencapai kemenangan tapi semaksimal mungkin
kami menghindari, bukan kami yang menginginkan seperti ini tapi pihak-pihak
yang mendukung lawan kami.
Begitulah cara kami
orang lapangan bekerja “8 to up to us” intinya kami pulang ke “home base” (baca
: kantor) harus selalu memberikan hasil yang terbaik dan itu kemenangan bagi
buat pemilik klub yang bahasanya hanya dua kata yaitu untung rugi.
Sementara kawan
kami yang di “home base” 8 to 5 siap mendukung kami sepenuhnya mulai dari
kostum, sepatu, asupan energi, surat jalan, transportasi, akomodasi dan
dokumen-dokumen resmi yang akan dibawa ke kandang lawan.
Nah how, your
strategy “8 to up to you” and “8 to 5”…selalukan anda kalah atau menang dalam
permainan, tentunya bermain secara professional akan selalu meraih kemenangan.
Pekanbaru, 22 November 2008