Sanak Suryadi, memang alah ado nan manyasakkan ka ambo untuak manulih memoir tu, antaro lain Bu Wiwiek Prasodjo jo Bu Nuraini Prapdanu. Ambo sasungguahnyo agak kabaratan, karano indak ado nan cemerlang dari riwayat iduik ambo. Ambo wakatu ketek kan maantakan lamang, godok, jo onde-onde dari rumah urang gaek ambo Pasa Urang ka babarapo kadai Pasa Baru [Kalau malam manunggu kasampatan masuak manonton sacaro perai tu.] Lagi pulo kan maha biayanyo mambuek buku tu. Tapi ibu-ibu nan baduo ko sabana gigih. Akhirnyo ambo satuju, tapi pakai syarat, yaitu nan labiah ditampilkan adolah wawasan jo kiprah ambo tantang Minangkabau jo bangso Indonesia. Baliau-baliau satuju, dan akhirnyo ambo juo satuju jo usul judul nan disarankan ibu-ibu tu, yaitu Membangun Minang Membangun Bangsa. Memang itulah jiwa, semangat, jo karajo ambo salamo ko. Kini Bu Wiwiek jo tim baliau -- ado limo urang panulih -- alah mulai bagarak. Tolong jo doa. Kok ado para sanak nan ka manyumbang bahan nan ka ditulihkan ek tim panulih silakan manghubungi Ibu Nuraini jo Ibu Wiwiek. Kan indak sadonyo kalakuan ambo takana dek ambo. Alamat email baliau-baliau ado di ateh. Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta) Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
________________________________ From: Lies Suryadi <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, November 25, 2008 5:37:27 PM Subject: [EMAIL PROTECTED] Balasan: [EMAIL PROTECTED] Re: NONTON BIOSKOP DI PADANG TEMPO DOELOE (Artikel Suryadi) Pak Saaf yang baik, Terima kasih atas infonya. Sebenarnya menarik jika Pak Saaf mulai maansua-ansua manulih memoar. Pengalaman Pak Saaf yang banyak dan kaya itu mesti dituliskan. Pasti amat berguna untuk generasi yang akan datang. Saya betul salut dngan Buya Hamka yang menulis apapun yang ia alami. Ingatan beliau luar biasa sekali kuatnya. Salam, Suryadi --- "Dr.Saafroedin BAHAR" <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > Sanak Suryadi, rumah orang tua saya di Pasar Usang > Padang Panjang terletak persis di sebelah bioskop > Rex, yang kemudian berganti nama jadi bioskop > Globe. Jangan-jangan bioskop itu dulu 'langganan' > Buya Hamka. Waktu kecil dulu, sudah barang tentu > saya mengenal penjaga pintu bioskop itu, dan ia > mengenal saya yang tinggal di samping bioskop. Kalau > saya mau menonton, saya menunggu film main dulu, > kalau sudah gelap biasanya penjaga pintu mengizinkan > saya masuk tanpa bayar, karena saya menunggu dekat > pintu masuk sambil memasang muka memelas, he > he. Maklum, mana ada uang untuk beli karcis. > Wassalam, > Saafroedin Bahar > (L, masuk 72 th, Jakarta) > Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]; > [EMAIL PROTECTED] > > > > > > > ________________________________ > From: Jupardi <[EMAIL PROTECTED]> > To: [EMAIL PROTECTED] > Cc: [email protected] > Sent: Tuesday, November 25, 2008 5:09:31 PM > Subject: [EMAIL PROTECTED] NONTON BIOSKOP DI PADANG TEMPO > DOELOE (Artikel Suryadi) > > > > NONTON BIOSKOP DI PADANG TEMPO DOELOE > > OlehSuryadi > > Padangadalah kota di Sumatera yang paling duluan > maju. Mendekati akhir abad ke-19 budaya perkotaan > ‘modern’ sudah mulai berkembang di Padang. > Kota‘modern’ tentu memerlukan berbagai sarana, > termasuk sarana hiburan bagi warga kotanya.. > > Media-media hiburan ‘modern’ hasil teknologi > Barat segera pula dikenal di Padang. Biasanya kalau > media itu sudah dikenal di Batavia, tak lama > kemudian akan diperkenalkan juga di Padang. > Phonograf (mesin bicara), misalnya, pertama kali > diperkenalkan di Padang tahun 1898, setelah > teknologi ini dibawa dari Eropa ke Jawa beberapa > tahun sebelumnya (Suryadi 2006). Lalu diperkenalkan > juga teknologi fotografi. Menyusul kemudian film > yang pada 1900 mulai diperkenalkan di Batavia. > > Pada dekade awal abad ke-20 warga kota Padang sudah > menikmati film bioskop (dari kata Belanda: > bioscoop). Fantastis ya! RoyalExcelsior Bioscope, > Biograph Bioscope, Scala-Bio[scope] dan Cinema > Theatre adalah empat bioskop pertama yang didirikan > di Padang. Memasuki tahun 1920-an bioskop juga > dibangun di Padang Panjang, Fort de Kock > (Bukittinggi), dan Payakumbuh. > > Nonton bioskop pada zaman itu unik. Orang nonton > film pakai sarung dan peci. Perempuan pakai kebaya > (tapi belakangan mulai tampil modern dengan rok dan > blus). Jadi, pakaian ke surau dan ke bioskop pada > waktu itu nggak beda-beda amat; susah membedakan apa > orang mau pergi nonton atau pergi mengaji. > > Antara kaum pribumi dan orang Eropa (Belanda) dan > orang Cina kaya dibedakan tempat duduknya dalam > panggung bioskop. Orang Eropa duduk di kelas Loge; > Cina kaya di Kelas I; Pribumidi Kelas II dan Kelas > III. Jadi, segregasi ras dan kelas sosial jelas > banget dalam gedung bioskop pada masa itu. > > Pertunjukan film—yang disebut “gambar > hidoep”—biasanya diadakan dua atau tiga kali > semalam. Filmnya masih sangat sederhana dan > kebanyakan film bisu (film bersuara baru > diperkenalkan sejak tahun 1927) dengan rol film yang > pendek-pendek dan oleh karenanya harus sering > bersambung Bahkan sering juga bioskop hanya memutar > pantulan foto-foto dari ekspedisi ilmiah ke > pedalaman Afrika dan Amerika kalau kebetulan tak ada > film. > > Pada zaman itu bioskop, yang bangunannya sering > berbentuk panggung (makanya terkenal istilah > ‘panggung bioskop’), bersifat multifungsi. > Tempo-tempo, kalau tidak ada film, bioskop bisa > difungsikan jadi panggung sandiwara (toneel) atau > pertunjukan musik. Kali lainnya bisa jadi tempat > pertemuan atau rapat (vergadering). > > Para pemilik (eigenaar) bioskop—biasanya orang > Eropa dan orang Cina kaya—saling mengiklankan film > yang akan diputar di bioskop mereka di surat > kabar-surat kabar (persis kayak sekarang), disertai > dengan kalimat gembar-gembor yang berupaya menarik > perhatian pembaca (lihat ilustrasi: dari Pertja > Barat, Selasa, 6/6/1911). > > Nonton ke bioskop segera menjadi tren di kalangan > masyarakat. Banyak karya sastra pada zaman itu yang > menggambarkan anak muda atau pasangan yang lagi > saling naksir pergi ke bioskop. (Nonton) bioskop > segera menjadi salah satu identitas kemodernan pada > zaman itu (juga koran; baca koran berarti intelek). > Bacalah misalnya roman-roman seperti Melati van > Agam, Roos van Pajacomboe, Njai Sida: Roos van Sawah > Loento, Orang Rantai dari Siloengkang, > Hantjoer-leboernja Padang Pandjang, Zender Nirom, > dan lain-lain. Di dalamnya sering ditemukan narasi > mengenai tokoh-tokoh utamanya yang bergaya pergi > nonton bareng ke bioskop. > > Bagaimana dengan harga karcis bioskop pada zaman > itu? Sebagai gambaran: tahun 1911 harga karcis kelas > Loge berharga ƒ 1 (gulden); kelas II ƒ 0,50; kelas > III ƒ 0,25; dan kelas IV ƒ 0,10. Cukup mahal lho > untuk ukuran pada waktu itu. “Anak2 dibawah oemoer > 10 taheon bajar separo” alias dapat korting, > sedangkan “militair dibawah titel onder Officier > bajar toeroet tarief di atas” alias tak dapat > korting (lihat ilustrasi) (Beda dengan Zaman Orde > Baru, ya, dimana tentara sering gratis naik bus). > > Banyak hal yang aneh-aneh terjadi di dalam dan di > luar panggung bioskop pada zaman itu. Saya sering > ketawa sendiri kalau lagi membaca koran-koran kuno: > soalnya banyak kejadian lucu yang diberitakan. Ada > yang ketakutan dalam gedung bioskop karena film yang > memperlihatkan kereta api berlari kencang menuju > arah bangku penonton: takut ketabrak ceritanya. > Kadang-kadang terjadi juga keributan di luar gedung > bioskop karena berdesak-desakan beli karcis. > > Beberapa bintang film mulai jadi idola, seperti > bintang koboi terkenal, Tom Mix (tewas dalam > kecelakaan mobil di Arizona 12 Oktober 1940), > bintang lucu Charlie Chaplin, dll. Di koran Sinar > Sumatra saya pernah baca seorang anak yang > ‘nakal’ ngerjain seorang penjual minyak tanah > keliling pakai gerobak di Padang sehingga minyak > terbuang sepanjang jalan karena si anak meniru > tindakan Tom Mix dalam salah satu filmnya. > > Di antara para intelektual Minang, mungkin hanya > Hamka yang sangat rapi mencatat pengalaman masa > kecilnya ketika teknologi film masuk ke Sumatera > Barat. Saat bersekolah di Padang Panjang tahun 1917, > Hamka kecil (lahir 1908) sering nonton film gratis. > Dari rumah Hamka bilang kepada orang tuanya mau ke > surau, tapi ternyata dia dan kawan-kawanya ngacir ke > panggung bioskop. Mereka “pergi mengintip film > yang main, sebab wang penjewa tidak ada. > > Di bawah panggung itu, karena kenakalan anak-anak > itu, telah mereka tembus sengaja dan mengintip dari > sana dengan sepuas-puas hati. Rupanya kelakuan > djahat ini ketahuan oleh pendjaga panggung, sehingga > pendjaga panggung, melumar lobang-lobang intipan itu > dengan ‘tahi ajam’. > > Alangkah lutjunya seketika segumpal tahi ajam > melekat dihidung kawan kita. Dengan berbisik-bisik > karena kebusukannja, diadjaknja kawan-kawannja itu > ‘mengundurkan diri’ dari sana. Ada jang kena > badjunja, ada jang kena hidungnja, dan ada pula jang > kenal kain sarung sembahjangnya. > > Pendjaga panggung terdengar tertawa > terbahak-bahak!”, demikian tulis Hamka dalam > bukunya, Kenang-kenangan Hidup (Jakarta: Gapura, > 1951: I, 32-3). > > Demikianlah sekelumit cerita mengenai perbioskopan > di Padang (Sumatera Barat) tempo doeloe, yang tentu > menarik untuk diteliti lebih lanjut dalam perspektif > sejarah budaya (cultural history). Mahasiswa dan > dosen yang cerdas dari perguruan tinggi di Sumatera > Barat pasti akan melakukannya. Yakin saya! > > Suryadi, alumnus Jurusan Sastra Daerah Fakultas > Sastra Universitas Andalas, dosen > dan peneliti di > Universitas Leiden, Belanda > > > Dimuat di harian Padang Ekspres, Minggu, 23 November > 2008 > > > > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "RantauNet" Google Groups. Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected] Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/RantauNet?hl=id -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
