Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu
MEMOTONG DI HARI RAYA KURBAN Ingin pula saya mengetengahkan sedikit pengalaman sekali setahun, memotong hewan kurban di lingkungan mesjid dekat tempat saya tinggal. Mudah-mudahan dapat jadi penyemangat dalam berlomba-lomba berbuat kebaikan. Alhamdulillah, kemarin adalah idul kurban yang ke lima belas saya ikut bekerja sebagai panitia kurban di mesjid, di komplek perumahan kami. Hari dimana kami bekerja bergotong royong bersama-sama. Menanggalkan status sosial masing-masing, bekerja berbaur memotong, mengiris, mencincang hewan kurban, sampai akhirnya membagi-bagi kedalam kantong plastik sebelum dibagikan kepada mereka-mereka yang sudah dipilih untuk menerimanya dari lingkungan di sekitar komplek tempat kami tinggal. Jauh hari sebelumnya kami sudah membentuk sebuah kepanitiaan. Tugas panitia ini disamping untuk mendata para pengurban, mendata orang-orang yang pantas untuk menerima bingkisan kurban, termasuk pula membeli dan mendatangkan hewan kurban sampai ke halaman mesjid. Pengalaman bertahun-tahun melakukan kegiatan yang sama, telah berhasil memperbaiki serba kekurangan dari pengalaman terdahulu, untuk berusaha mendekati yang lebih baik. Dalam setiap kegiatan yang melibatkan pengumpulan uang dari jamaah di mesjid, saya selalu mengingatkan agar panitia bekerja secara amanah dan transparan. Niatkan sejak awal bahwa kita bekerja melakukan ibadah semata-mata hanya karena Allah dan hilangkan segala keinginan menarik keuntungan untuk diri sendiri. Kepanitiaan kami wajibkan membuat laporan keuangan di setiap akhir kegiatan dan laporan itu harus bisa dipertanggung-jawabkan dunia dan akhirat. Saya bersyukur, bahwa ajakan ini mendapat tanggapan positif. Setiap tahun kami pergilirkan ketua panitia di antara jamaah, sedangkan pekerjanya tetap kami segenap jamaah mesjid. Begitu kami lakukan sejak bertahun-tahun. Dan saya adalah bagian dari kepanitiaan itu. Saya ajak bapak-bapak itu pergi mensurvai dan membagi-bagikan kupon kurban ke lingkungan di luar komplek tempat kami tinggal. Ke perkampungan rumah-rumah petak yang dihuni sopir angkot, tukang ojek, tukang becak, pedagang asongan, buruh / tukang bangunan, tukang cukur, bahkan pembantu rumah tangga. Kami datangi mereka. Kami catat data-data mereka dan kami berikan kupon kurban. Pada awal-awal keikut-sertaan saya dulu, tugas ini diserahkan kepada Remaja Mesjid. Remaja-remaja yang ternyata kemudian karena anggota mereka tidak banyak, seringkali menyerahkan saja kupon-kupon itu ke pak RT di masing-masing lingkungan tadi. Segera saja bersua sikap tidak amanah. Kupon-kupon itu dibagi-bagikan hanya ke lingkungan tertentu dan terbatas saja. Hal ini kami ketahui, ketika tukang-tukang, pembantu-pembantu yang bekerja di perumahan komplek bercerita bahwa mereka tidak pernah kebagian kupon kurban. Mula-mula kami konfirmasikan ke para remaja mesjid. Mereka mengakui bahwa kupon-kupon itu dititipkan. Tahun berikutnya saya mengajak bapak-bapak jamaah mesjid melakukan survai dan pendataan. Disanalah ketahuan bahwa memang betul, rumah-rumah petak yang dihuni para pengontrak dari kalangan bawah itu umumnya diabaikan selama ini. Dan sekarang hal itu sudah kami perbaiki. Pada tahun-tahun awal dulu, tugas memotong sapi (terutama) diserahkan kepada ahlinya yang biasa bekerja di rumah potong. Dia dibantu oleh beberapa orang asistennya. Remaja mesjid membantu mencacah dan memotong kecil-kecil. Tukang potong itu diupah. Disamping itu dia juga minta kepala sapi untuknya. Pemotongan sapi (ketika itu) lebih mirip sebuah pertunjukan atau atraksi. Sapi yang belum mati sesudah disembelih, masih meronta-ronta sudah dipotong dan dikuliti. Saya peringatkan para pekerja itu, tetapi mereka tertawa-tawa saja. Sejak hari pertama saya ikut melibatkan diri, saya ikut bekerja keras. Saya jadi tukang potong kambing dan sesudah itu saya bergabung dengan anak-anak muda remaja memotong-motong daging, memasukkan ke kantong plastik . Bapak-bapak, umumnya hanya jadi mandor, jadi tukang perintah-perintah dan jadi tukang bagi kantong berisi daging kurban. Ada pula sebagian daging kurban itu yang dimasak oleh ibu-ibu jadi sate dan jadi gulai (gule) untuk konsumsi. Yang ikut makan lebih banyak dari yang ikut bekerja. Pada kesempatan rapat panitia sebelum pelaksanaan kurban saya soroti hal-hal yang saya anggap keliru dalam pekerjaan tahun sebelumnya. Saya ingatkan agar pemotongan hewan dilakukan dengan cara yang santun, bukan sebagai sebuah pertunjukan. Saya ingatkan bahwa yang kita lakukan ketika menyembelih, memotong dan membagi daging kurban adalah ibadah, jadi kita harus melakukannya dengan sebaik-baiknya. Tahun-tahun berikutnya, satu dua orang bapak-bapak mulai mau ikut bekerja. Yang lain masih seperti biasa. Saya ingatkan anggota panitia untuk tidak memenuhi persyaratan tukang potong menyerahkan kepala sapi atau kulitnya, karena seolah-olah tukang potong itu mengambil bahagian itu sebagai upah. Pada hal yang seperti itu dilarang oleh Rasulullah SAW. Dengan memberikan pengertian yang sama kepada tukang potong itu diapun akhirnya dapat pula memahami dan menerimanya. Saya pertahankan kesibukan yang sama setiap tahun. Saya adalah tukang potong kambing. (Ada satu dua orang yang mencoba ikut memotong tapi setelah itu malu-malu dan menjauh). Dalam proses waktu terjadi pergantian pemain alias pekerja. Remaja-remaja dulu itu sudah tidak remaja lagi dan sekarang malu ikut serta. Sebaliknya rombongan bapak-bapak semakin banyak yang mau ikutan. Mulai dengan malu-malu dan terlihat canggung sampai akhirnya jadi pekerja-pekerja yang sangat bersungguh-sungguh. Saya selalu mengulang-ulang ketika mengajak, bahwa pekerjaan ini adalah ibadah. Semua rangkaian pekerjaan itu adalah ibadah. Dan dalam beribadah kita bersatu dalam jamaah tanpa sekat sosial apapun lagi. Maka kamipun berbaur. Semua berbaur. Bapak-bapak yang ada diantaranya direktur perusahaan bergotong royong, berbaur dengan marbot mesjid, dengan tukang-tukang yang menompang menginap di mesjid dengan para buruh dan pekerja yang tinggal di luar komplek perumahan kami. Perubahan lain yang kami buat adalah dalam hal konsumsi untuk pekerja gotong-royong. Di tahun-tahun awal dulu, sebagian daging kambing dimasak untuk konsumsi para pekerja. Sayangnya sesudah pekerjaan besar itu selesai lalu timbul bisik-bisik. Daging yang dimasak sepertinya sangat banyak, sedangkan yang dihidangkan sepertinya sedikit. Wallahu a'lam. Saya ingatkan pula bahwa bisik-bisik ini adalah fitnah yang harus dihindarkan. Akhirnya kami sepakat bahwa konsumsi tidak lagi akan diambil dari daging hewan kurban. Panitia akan membeli nasi bungkus untuk makan siang para pekerja. Ketika jumlah hewan kurban bertambah (dan memang selalu bertambah), jumlah sapi yang dipotong sudah mencapai enam ekor, ada yang berinisiatif membuat sop buntut untuk pekerja. Jumlah pekerja dari segenap lapisan itu lebih seratus orang, sedangkan hidangan sop buntut sangat terbatas. Maka yang dihadiahi sop buntut hanya rombongan terbatas pula. Hal ini segera pula kami suruh akhiri. Tidak boleh ada perbedaan di antara sesama pekerja gotong-royong itu. Kalau ada yang mendapat hidangan khusus seperti sop buntut, yang lain juga harus mendapatkannya. Lebih seratus orang pekerja? Benar, dan separonya adalah bapak-bapak penghuni komplek. Semua ikut serta sesuai kemampuan masing-masing. Dan hampir semua yang ikut serta, ikut kecipratan darah hewan kurban, paling tidak ketika terlibat dalam pekerjaan mengiris-iris daging. Pernah kami dihadapkan kepada masalah, apa yang harus diperbuat dengan kulit hewan kurban, karena menurut hadits Rasulullah setiap bahagian hewan itu harus dibagi-bagikan, tidak boleh dijual atau dijadikan upah tukang potongnya? Ada yang mengusul agar dijual dan uang penjualannya diserahkan kepada bendahara mesjid. Usul ini tidak disepakati. Siapa yang menjual? Milik siapa kulit itu? Maksudnya siapa yang berhak menjualnya? Lalu ada usul lain agar kulit diserahkan kepada remaja mesjid. Biarlah mereka yang menjual untuk pengisi kas organisasi mereka. Beberapa kali kami coba yang demikian. Sampai ada pula yang protes dan menginginkan agar kulit itupun dipotong-potong dan dibagi-bagi saja. Pernah pula kami lakukan memotong kecil-kecil kulit-kulit itu meski segera pula diprotes. Potongan-potongan kulit itu jelas terbuang mubazir karenanya. Dua tahun terakhir, kulit itu kami jual dan hasil penjualannya diserahkan ke panti asuhan anak yatim. Setiap pekerja mendapat bagian satu kantong daging yang sama seperti yang dibagi-bagikan. Tidak ada yang diistimewakan. Tukang potong sapi hanya menerima upah yang dananya dibebankan kepada peserta kurban. Lalu bagaimana dengan bagian-bagian khusus seperti bagian kepala sapi? Atau kaki sapi, kepala kambing, kaki kambing? Semua yang bisa diiris dan dibagi, kami bagi. Yang tidak bisa diiris seperti kepala kambing, kaki sapi, kaki kambing dibagi-bagikan di antara pekerja yang berminat. Ternyata banyak saja yang berminat. Dalam usaha untuk menetralisirnya, saya adalah orang yang tidak berminat apa-apa. Pernah saya ditawari otak sapi utuh, atau lidah sapi utuh, atau sebuah kaki sapi utuh. Saya tidak mau menerimanya. Saya hanya mau mengambil satu kantong plastik bagian saya saja, seperti bagian pekerja yang lain. Alhamdulilah, dengan ketransparanan dan kesungguh-sungguhan semua fihak, animo bekurban warga komplek ini selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada awal-awal keikut-sertaan saya dulu, jumlah kurban sapi hanya sekitar dua – tiga ekor dan kambing sekitar tiga puluhan ekor. Tahun lalu sapi delapan ekor dan kambing 40an ekor. Tahun ini sapi sebelas ekor dan kambing tiga puluh tiga ekor. Ada juga sebagian diantara sapi dan kambing itu merupakan titipan orang rantau. Kemarin kami mulai memotong sapi dan kambing pertama jam sembilan pagi. Sebelum shalat asar kami sudah selesai membaginya menjadi 1350 tumpuk. Sesudah shalat asar barulah kami masukan setiap tumpukan itu kedalam kantong-kantong plastik. Di luar pagar mesjid para pemegang kupon sudah berdesak-desak. Sekitar jam lima sore semua tumpukan itu sudah terbagi habis. Tinggallah petugas mesjid dibantu beberapa orang yang diupah khusus bekerja keras mencuci dan membersihkan teras mesjid. Waktu shalat maghrib mesjid sudah kembali bersih meski bau anyir darah hewan kurban akan bertahan untuk beberapa hari. ***** --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
