Wa'alaikumsalam Wr. Wb.
Mak Dave dan dusanak sapalanta,
Nampak no ampia sado awak nan dirantau ko tiok ari rayo kurban ko punyo 
kegiatan nan samo, ambo pun baitu juo, lah bara taun ko salalu ditugasi oleh 
pengurus masjid Nurul Ikhlas di Komp. AURI Curug Indah untuak mangkordinasikan 
ritual korban ko, dan  nan bajalankan ampia samo bana jo caro di musajik Mak 
Dave
Taun lalu dek lah jadi tukang dabiah juo dari mudo ambo mandabiah 5 jawi jo 60 
kambiang, kapatang Alhamdulillah jumlah kurban naiak jadi 7 jawi jo 72 
kambiang, tataok sado no indak pakai proffesional, jo maajak anak2 mudo dan 
apak2 nan amuah jam 15.00 kami lah siap mangantongi dagiang sabanyak 940 
kantong dagiang jawi dan 625 kantong dagiang kambiang dan jam 16.00 lah janiah 
sado no tingga mambarasiahkan musajik dan sakaliliang no. Badan panek tapi ati 
sabana pueh.
Kalau tukang dabiah dapek kapalo antah baralah banyak kapalo jawi nan dapek di 
awak, tapi nan baambiak cukuk jatah sebagai peserta kurban sen.
Pagi ko bia badan masih rangkik2 kapanek an,dek karajo banyak di kantua jam 8 
lah tibo pulo. Karajo sosial jalan dan karajo nan pokok pun harus tataok jalan.

Wassalam
Tan Ameh (50+)
  ----- Original Message ----- 
  From: Muhammad Dafiq Saib 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, December 09, 2008 8:06 AM
  Subject: [EMAIL PROTECTED] MEMOTONG DI HARI RAYA KURBAN




  Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu



  MEMOTONG DI HARI RAYA KURBAN



  Ingin pula saya mengetengahkan sedikit pengalaman sekali setahun, memotong 
hewan kurban di lingkungan mesjid dekat tempat saya tinggal. Mudah-mudahan 
dapat jadi penyemangat dalam berlomba-lomba berbuat kebaikan.



  Alhamdulillah, kemarin adalah idul kurban yang ke lima belas saya ikut 
bekerja sebagai panitia kurban di mesjid, di komplek perumahan kami. Hari 
dimana kami bekerja bergotong royong bersama-sama. Menanggalkan status sosial 
masing-masing, bekerja berbaur memotong, mengiris, mencincang hewan kurban, 
sampai akhirnya membagi-bagi kedalam kantong plastik sebelum dibagikan kepada 
mereka-mereka yang sudah dipilih untuk menerimanya dari lingkungan di sekitar 
komplek tempat kami tinggal. Jauh hari sebelumnya kami sudah membentuk sebuah 
kepanitiaan. Tugas panitia ini disamping untuk mendata para pengurban,  mendata 
orang-orang yang pantas untuk menerima bingkisan kurban, termasuk pula membeli 
dan mendatangkan hewan kurban sampai ke halaman mesjid. Pengalaman 
bertahun-tahun melakukan kegiatan yang sama, telah berhasil memperbaiki serba 
kekurangan dari pengalaman terdahulu, untuk berusaha mendekati yang lebih baik.



  Dalam setiap kegiatan yang melibatkan pengumpulan uang dari jamaah di mesjid, 
saya selalu mengingatkan agar panitia bekerja secara amanah dan transparan. 
Niatkan sejak awal bahwa kita bekerja melakukan ibadah semata-mata hanya karena 
Allah dan hilangkan segala keinginan menarik keuntungan untuk diri sendiri. 
Kepanitiaan kami wajibkan membuat laporan keuangan di setiap akhir kegiatan dan 
laporan itu harus bisa dipertanggung-jawabkan dunia dan akhirat.



  Saya bersyukur, bahwa ajakan ini mendapat tanggapan positif. Setiap tahun 
kami pergilirkan ketua panitia di antara jamaah, sedangkan pekerjanya tetap 
kami segenap jamaah mesjid. Begitu kami lakukan sejak bertahun-tahun.



  Dan saya adalah bagian dari kepanitiaan itu. Saya ajak bapak-bapak itu pergi 
mensurvai dan membagi-bagikan kupon kurban ke lingkungan di luar komplek tempat 
kami tinggal. Ke perkampungan rumah-rumah petak yang dihuni sopir angkot, 
tukang ojek, tukang becak, pedagang asongan, buruh / tukang bangunan, tukang 
cukur, bahkan pembantu rumah tangga. Kami datangi mereka. Kami catat data-data 
mereka dan kami berikan kupon kurban. Pada awal-awal keikut-sertaan saya dulu, 
tugas ini diserahkan kepada Remaja Mesjid. Remaja-remaja yang ternyata kemudian 
karena anggota mereka tidak banyak, seringkali menyerahkan saja kupon-kupon itu 
ke pak RT di masing-masing lingkungan tadi. 



  Segera saja bersua sikap tidak amanah. Kupon-kupon itu dibagi-bagikan hanya 
ke lingkungan tertentu dan terbatas saja. Hal ini kami ketahui, ketika 
tukang-tukang, pembantu-pembantu yang bekerja di perumahan komplek bercerita 
bahwa mereka tidak pernah kebagian kupon kurban. Mula-mula kami konfirmasikan 
ke para remaja mesjid. Mereka mengakui bahwa kupon-kupon itu dititipkan. Tahun 
berikutnya saya mengajak bapak-bapak jamaah mesjid melakukan survai dan 
pendataan. Disanalah ketahuan bahwa memang betul, rumah-rumah petak yang dihuni 
para pengontrak dari kalangan bawah itu umumnya diabaikan selama ini. Dan 
sekarang hal itu sudah kami perbaiki.



  Pada tahun-tahun awal dulu, tugas memotong sapi (terutama) diserahkan kepada 
ahlinya yang biasa bekerja di rumah potong. Dia dibantu oleh beberapa orang 
asistennya. Remaja mesjid membantu mencacah dan memotong kecil-kecil. Tukang 
potong itu diupah. Disamping itu dia juga minta kepala sapi untuknya. 
Pemotongan sapi (ketika itu) lebih mirip sebuah pertunjukan atau atraksi. Sapi 
yang belum mati sesudah disembelih, masih meronta-ronta sudah dipotong dan 
dikuliti. Saya peringatkan para pekerja itu, tetapi mereka tertawa-tawa saja. 



  Sejak hari pertama saya ikut melibatkan diri, saya ikut bekerja keras. Saya 
jadi tukang potong kambing dan sesudah itu saya bergabung dengan anak-anak muda 
remaja memotong-motong daging, memasukkan ke kantong plastik . Bapak-bapak, 
umumnya hanya jadi mandor, jadi tukang perintah-perintah dan jadi tukang bagi 
kantong berisi daging kurban. Ada pula sebagian daging kurban itu yang dimasak 
oleh ibu-ibu jadi sate dan jadi gulai (gule) untuk konsumsi. Yang ikut makan 
lebih banyak dari yang ikut bekerja.



  Pada kesempatan rapat panitia sebelum pelaksanaan kurban saya soroti hal-hal 
yang saya anggap keliru dalam pekerjaan tahun sebelumnya. Saya ingatkan agar 
pemotongan hewan dilakukan dengan cara yang santun, bukan sebagai sebuah 
pertunjukan. Saya ingatkan bahwa yang kita lakukan ketika menyembelih, memotong 
dan membagi daging kurban adalah ibadah, jadi kita harus melakukannya dengan 
sebaik-baiknya. 



  Tahun-tahun berikutnya, satu dua orang bapak-bapak mulai mau ikut bekerja. 
Yang lain masih seperti biasa. Saya ingatkan anggota panitia untuk tidak 
memenuhi persyaratan tukang potong menyerahkan kepala sapi atau kulitnya, 
karena seolah-olah tukang potong itu mengambil bahagian itu sebagai upah. Pada 
hal yang seperti itu dilarang oleh Rasulullah SAW.  Dengan memberikan 
pengertian yang sama kepada tukang potong itu diapun akhirnya dapat pula 
memahami dan menerimanya.



  Saya pertahankan kesibukan yang sama setiap tahun. Saya adalah tukang potong 
kambing. (Ada satu dua orang yang mencoba ikut memotong tapi setelah itu 
malu-malu dan menjauh). Dalam proses waktu terjadi pergantian pemain alias 
pekerja. Remaja-remaja dulu itu sudah tidak remaja lagi dan sekarang malu ikut 
serta. Sebaliknya rombongan bapak-bapak semakin banyak yang mau ikutan. Mulai 
dengan malu-malu dan terlihat canggung sampai akhirnya jadi pekerja-pekerja 
yang sangat bersungguh-sungguh. Saya selalu mengulang-ulang ketika mengajak, 
bahwa pekerjaan ini adalah ibadah. Semua rangkaian pekerjaan itu adalah ibadah. 
Dan dalam beribadah kita bersatu dalam jamaah tanpa sekat sosial apapun lagi. 
Maka kamipun berbaur. Semua berbaur. Bapak-bapak yang ada diantaranya direktur 
perusahaan bergotong royong, berbaur dengan marbot mesjid, dengan tukang-tukang 
yang menompang menginap di mesjid dengan para buruh dan pekerja yang tinggal di 
luar komplek perumahan kami.



  Perubahan lain yang kami buat adalah dalam hal konsumsi untuk pekerja 
gotong-royong. Di tahun-tahun awal dulu, sebagian daging kambing dimasak untuk 
konsumsi para pekerja. Sayangnya sesudah pekerjaan besar itu selesai lalu 
timbul bisik-bisik. Daging yang dimasak sepertinya sangat banyak, sedangkan 
yang dihidangkan sepertinya sedikit. Wallahu a'lam. Saya ingatkan pula bahwa 
bisik-bisik ini adalah fitnah yang harus dihindarkan. Akhirnya kami sepakat 
bahwa konsumsi tidak lagi akan diambil dari daging hewan kurban. Panitia akan 
membeli nasi bungkus untuk makan siang para pekerja.



  Ketika jumlah hewan kurban bertambah (dan memang selalu bertambah), jumlah 
sapi yang dipotong sudah mencapai enam ekor, ada yang berinisiatif membuat sop 
buntut untuk pekerja.  Jumlah pekerja dari segenap lapisan itu lebih seratus 
orang, sedangkan hidangan sop buntut sangat terbatas. Maka yang dihadiahi sop 
buntut hanya rombongan terbatas pula. Hal ini segera pula kami suruh akhiri. 
Tidak boleh ada perbedaan di antara sesama pekerja gotong-royong itu. Kalau ada 
yang mendapat hidangan khusus seperti sop buntut, yang lain juga harus 
mendapatkannya.



  Lebih seratus orang pekerja? Benar, dan separonya adalah bapak-bapak penghuni 
komplek. Semua ikut serta sesuai kemampuan masing-masing. Dan hampir semua yang 
ikut serta, ikut kecipratan darah hewan kurban, paling tidak ketika terlibat 
dalam pekerjaan mengiris-iris daging.



  Pernah kami dihadapkan kepada masalah, apa yang harus diperbuat dengan kulit 
hewan kurban, karena menurut hadits Rasulullah setiap bahagian hewan itu harus 
dibagi-bagikan, tidak boleh dijual atau dijadikan upah tukang potongnya? Ada 
yang mengusul agar dijual dan uang penjualannya diserahkan kepada bendahara 
mesjid. Usul ini tidak disepakati. Siapa yang menjual? Milik siapa kulit itu? 
Maksudnya siapa yang berhak menjualnya? Lalu ada usul lain agar kulit 
diserahkan kepada remaja mesjid. Biarlah mereka yang menjual untuk pengisi kas 
organisasi mereka. Beberapa kali kami coba yang demikian. Sampai ada pula yang 
protes dan menginginkan agar kulit itupun dipotong-potong dan dibagi-bagi saja. 
Pernah pula kami lakukan memotong kecil-kecil kulit-kulit itu meski segera pula 
diprotes. Potongan-potongan kulit itu jelas terbuang mubazir karenanya. Dua 
tahun terakhir, kulit itu kami jual dan hasil penjualannya diserahkan ke panti 
asuhan anak yatim.



  Setiap pekerja mendapat bagian satu kantong daging yang sama seperti yang 
dibagi-bagikan. Tidak ada yang diistimewakan. Tukang potong sapi hanya menerima 
upah yang dananya dibebankan kepada peserta kurban. Lalu bagaimana dengan 
bagian-bagian khusus seperti bagian kepala sapi? Atau kaki sapi, kepala 
kambing, kaki kambing? Semua yang bisa diiris dan dibagi, kami bagi. Yang tidak 
bisa diiris seperti kepala kambing, kaki sapi, kaki kambing dibagi-bagikan di 
antara pekerja yang berminat. Ternyata banyak saja yang berminat. Dalam usaha 
untuk menetralisirnya, saya adalah orang yang tidak berminat apa-apa.  Pernah 
saya ditawari otak sapi utuh, atau lidah sapi utuh, atau sebuah kaki sapi utuh. 
Saya tidak mau menerimanya. Saya hanya mau mengambil satu kantong plastik 
bagian saya saja, seperti bagian pekerja yang lain. 



  Alhamdulilah, dengan ketransparanan dan kesungguh-sungguhan semua fihak, 
animo bekurban warga komplek ini selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada 
awal-awal keikut-sertaan saya dulu, jumlah kurban sapi hanya sekitar dua – tiga 
ekor dan kambing sekitar tiga puluhan ekor. Tahun lalu sapi delapan ekor dan 
kambing 40an ekor. Tahun ini sapi sebelas ekor dan kambing tiga puluh tiga 
ekor. Ada juga sebagian diantara sapi dan kambing itu merupakan titipan orang 
rantau.



  Kemarin kami mulai memotong sapi dan kambing pertama jam sembilan pagi. 
Sebelum shalat asar kami sudah selesai membaginya menjadi 1350 tumpuk. Sesudah 
shalat asar barulah kami masukan setiap tumpukan itu kedalam kantong-kantong 
plastik. Di luar pagar mesjid para pemegang kupon sudah berdesak-desak.  
Sekitar jam lima sore semua tumpukan itu sudah terbagi habis. Tinggallah 
petugas mesjid dibantu beberapa orang yang diupah khusus bekerja keras mencuci 
dan membersihkan teras mesjid. Waktu shalat maghrib mesjid sudah kembali bersih 
meski bau anyir darah hewan kurban akan bertahan untuk beberapa hari.





                                                                                
      *****



  

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke