Kamis, 11 Desember 2008         

Sebuah Jeep Vitara seri terbaru meluncur membelah kesibukan jalan raya Kota
Mekkah menuju komplek perumahan elit di timur sudut kota itu. Saya dan
teman, Usmar Marlen, Hendri dan dua orang ibu-ibu disambut hangat oleh
seorang lelaki tua yang tadinya menyuruh sopirnya menjemput kami dari maktab
haji di Tan’im. “Bilo tibo lai sihaik-sihaik sajo salamo di siko? (Bila
tiba, ada sehat-sehat saja selama di sini)”, sapanya di depan pintu
rumahnya. Bahasa Minangnya sangat lancar dengan dialek Kurai, Bukittinggi
yang kental. Ambo lah 75 tahun di Mekkah (Saya sudah 75 tahun di Mekkah)”,
kata Syamsuddin laki-laki yang sudah berusia 85 tahun itu. Dia sangat
menikmati bicara dalam bahasa Minang dengan kami, nyaris tidak ada yang
salah atau terpengaruh oleh bahasa Arab, bahasa Minang-nya betul-betul
lancar bagai air mengalir.

Laki-laki ini salah satu perantau Minang yang hampir sepanjang hidupnya
dilalui di tanah suci Mekkah. Dia antusias sekali menceritakan tentang kisah
hidupnya sehingga kini dengan berstatus warganegara Arab Saudi.

Walaupun sudah menjadi warga Kota Mekkah, namun dia tidak pernah mengaku
sebagai orang Arab, status kewarganegaraan boleh-boleh saja berubah, 

“Ambo tatap jadi urang awak, rumah di Aua Kuniang Bukiktinggi, dunsanak
masih banyak di sinan kami lai ado rencana ka pulang, (Saya etap orang awak,
rumah di Aua Kuniang Bukittinggi. Keluarga masih banyak di situ, ada rencana
hendak pulang),” katanya mantap. 

Yang mengesankan dia fasih bicara bahasa Minang sungguhpun belum tentu dia
bisa lakukan sekali dalam setahun, sebab lawan bicaranya (urang awak) jarang
bertemu, paling-paling di musim haji. Sehari-hari di rumah mereka berbahasa
Arab dan tak satupun anak dan cucunya bisa berbaha Minang.

Ibarat pepatah “Setinggi-tinggi terbang bangau, akan kembali ke kubangan”.
Ini selalu diibaratkan kepada pemuda perantau minang kemana pun dia pergi
suatu saat kelak akan kembali ke kampung halaman di Ranah Minang. Falsafah
merantau biasanya akan lahir ketika seorang bujang (pemuda) merasa dirinya
belum berguna di kampung.

Walau hanya dengan bermodal motivasi dan semangat, tujuan ke rantau adalah
sebuah harapan dan tentu motivasi untuk mengbah corak sosial ekonomi, bahkan
status diri dan keluarga. 

Tapi bagi H. Syamsuddin, asal Bukittinggi ini, merantau baginya justeru
tanpa rencana, apalagi motivasi sebuah tekad dan harapan, karena ketika
meninggalkan kampung halaman, usianya masih sangat muda, bahkan terbilang
kanak-kanak 10 tahun.

Dia meninggalkan Aur Kuning ketika masih asyik dalam dunia bermain. Masuk
sawah mengirik padi, main layangan. Tapi, suatu hari eteknya mengajaka untuk
menemani naik haji ke Mekkah. Syamsuddin kecil jelas tak menolak, yang
terpikir waktu itu adalah indahnya perjalanan dan Mekkah, kelak jika pulang
pengalaman ini akan diceritakan kepada teman sepermainan.

Pelayaran dengan kapal api uap dari Telukbayur ke Jeddah hampir sebulan
lamanya. Ternyata itu adalah awal nasib dan jalan hidupnya berubah.
Ironisnya dia tidak lagi dapat pulang ke kampung halaman nun jauh di
seberang benua. Peristiwanya bermula ketika di tanah suci dia yang belum
tahu apa-apa, kecuali merengek kepada etek (tante). Rupanya Allah SWT
memberikan cobaan paling berat, orang yang dicintainya itu meninggal dunia
dalam menunaikan ibadah haji.

Hidup adalah misteri, tidak tahu mau kemana arah kehidupan masa datang.
Syamsudin selain belum punya pengetahuan dan ketrampilan, sulitnya lagi
kemampuan berkomunikasi dengan berbahasa asing seperti bahasa Arab tidak
diketahuinya.

Ketika semua orang sudah meninggalkan Mekkah untuk kembali ke tanah air, dia
bingung mau ke mana. Akhirnya dia berfikir untuk tidak pulang, bergelandang
di sekitar Masjidil Haram, sekadar untuk makan tidak jadi masalah karena
banyak juga orang yang kasihan dan memperhatikannya. 

Akhirnya sampai pada suatu ketika dia bekerja serabutan membantu seorang
saudagar mengemasi barang jualannya. “Gaji paling banyak 2 Riyal sa-hari,”
kenangnya.

Ketika mulai remaja, seorang pengusaha asal Bugis mengajaknya untuk bekerja
di dapur yang menyiapkan makanan untuk tamu di istana raja Arab Saudi. Hanya
kesungguhan yang membuatnya harus menggali potensi dirinya. Hidup adalah
pengalaman belajar untuk mencari skill, learn by experiences. Mulai meraut
bawang sampai menggiling bumbu dikerjakannya sendiri. Itulah modal awal
hidupnnya.

Ketika musim haji datang silih berganti, dia mencari jemaah asal Minang.
“Ambo tanyoan baa caro mambuek randang, asam padeh, kalio bantai ka
amai-amai nan datang naik haji (Saya tanyakan bagaimana cara membuat
rendang, asam peas, gulai daging kepada ibu-ibu yang datang naik haji),”
ceritanya. 

Pengalaman dengan uji coba resep itu kemudian disuguhkan untuk tamu-tamu
raja di istana. “Semua meuji. Enak!”. Menurutnya masakan Minang ternyata
diakui dunia cita rasanya.

Sejak itulah Syamsudin terkenal sebagai juru masak di Mekkah. Dia diangkat
oleh seorang tauke catering untuk memasak kebutuhan jemaah haji, terutama
dari Indonesia. Dan, dia pun berkenalan dengan seorang janda juga asal
Bukittinggi yang bertemu di Mekkah, mereka sepakat menikah.

Dari pernikahannya itu dikarunia anak dan dan kini sudah bemenantu, semua
orang asing. Ada dari Palestina, Malaysia dan Arab. Rumahnya yang ditempati
sekarang adalah hasil jerih payah selama di rantau. Dia sudah beberapa kali
pulang ke kampung, pernah suatu kali dibawanya pulang anak, menantu dan 14
orang cucu.

Pada usia senjanya dia masih ingin menjenguk tanah kelahirannya, sayangnya
tiket pesawat susah mendapatkannyapada masa sekarang ini. Ia ingin berbagi
pengalaman dengan sanak saudaranya di kampung. Tiga orang anak laki-laki
Syamsudin kini sudah punya kedudukaan di perusahaan asing, bank dan
wiraswasta sukses di Mekkah. 

“Saya sudah pensiun. Uang masih ada, anak-anak memberi uang pula,” katanya. 

Dengan tongkat di tangan, bersama menantunya asal Palestina dan Kelantan
Malaysia dia mengantar kami sampai ke halaman rumah Palestina. Tatapan
matanya haru jauh menerawang ke ujung dunia sana Ranah Minang nan permai. o*

http://www.hariansinggalang.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=
4086&Itemid=287

No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG. 
Version: 7.5.552 / Virus Database: 270.9.16/1842 - Release Date: 10-Des-2008
18:53
 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke