Menurut rencana  lokomotif uap ( Mak Itam )  akan dioperasionalkan sebagai 
penunjang
kegiatan pariwisata Sawahlunto . Wisatawan mancanegara dan domestik akan
menikmati perjalanan cukup unik dan langka dari Sawahlunto ke Muaro Kelaban .
Wisatawan akan dapat menikmati dan menyaksikan “lubang kalam sepanjang 800
meter, yang indah dan penuh dengan ukiran-ukiran menarik,” . 


Berita yang dimuat
Padangekspres tersebut diatas  mengingatkan saya akan suatu pengalaman yang
terjadi 45 tahun yang lalu dan tak pernah terlupakan sampai kini dimana saya
pernah berjalan kaki melewati lubang  kalam sepanjang 800 meter tersebut 
bersama tiga orang kawan lainnya .

Awal mulanya begini , pada
tahun  1963 saya masih dudu di SMP Negeri
I Solok kelas 2 , kebetulan hari itu semua murid bebas belajar karena ada
pertemuan orang tua murid dan guru  (POMG ) . Saya dan dua orang kawan namanya
Zul Ikhram (terakhir sebagai Kepala Mesium ABRI  tepi Ngarai Bukit Tinggi dan 
pensiun th 2006) dan satu lagi Musbar (saat
ini sebagai wiraswasta tinggal di Natar Bandar Lampung ) membuat rencana untuk
jalan – jalan ke Sawah Lunto naik kereta api dari Stasiun Solok . Saat itu
adalah kali kedua saya pergi ke Sawah Lunto , kunjungan pertama kali disaat SMP
I Solok melaksanakan kunjungan muhibah dan mangadakan pertandingan persahabatan
beberapa cabang olah raga dengan SMP Negeri  Sawah Lunto setahun sebelumnya . 
Tujuan kunjungan ke Sawah Lunto kali ini
adalah untuk melihat proses bongkar muat dan pembersihan batu bara yang
diturunkan dari Lori di kawasan jalan menuju arah Talawi . Saking asyiknya
menyaksikan proses bongkar muat kami lupa waktu dan hari sudah berangkat sore .
Kami buru-buru  kembali ke stasiun untuk
mengejar kereta api terakhir yang akan membawa kembali ke Solok . Namun sayang
ternyata kereta api yang akan kami tumpangi sudah berangkat dan menurut petugas
stasiun sudah tak ada lagi kereta api yang akan ke Solok , sedangkan kami
bertiga harus kembali ke Solok karena tidak punya persediaan uang kalau sampai
bermalam di Sawah Lunto . Dicapailah kesepakatan biar bagimanapun kami harus
pulang walau harus berjalan kaki .
Rute yang paling dekat adalah
menyusuri jalan kereta api dan mesti  melawati lubang kalam (terowongan ) . 
Dengan langkah gontai kami
bertiga berjalan kearah mulut terowongan dari sisi Sawah Lunto .Sesampai
didepan terowongna hati kami menjadi ciut , karena lubang kalam yang akan kami
lewati kelihatan sangat menyeramkan( gelap ) dan pada bagian lain kelihatan
ujung lubang kalam membiaskan sinar laksana bulan sabit . Hal yang paling kami 
takutkan
adalah kalau – kalau didalam terowongan tersebut terdapat binatang berbisa
seperti ular , kala jengking maupun sipasan . Lama kami tercenung didepan mulut
lubang kalam sambil berharap dan berdoa , mudah-mudahan ada orang yang akan
lewat untuk teman sama menyeberang ke ujung lubang kalam sana . Ditengah 
kebingungan kami ,
Alhamdulillah ada seseorang yang pulang dari pasar Sawah Lunto , ditangannya
memegang  sebuah pusung ( lampu minyak
terbuat dari bambu dan ujungnya diberi sumbu )  dan orang tersebut dengan 
senang hati mengajak kami bertiga untuk sama –
sama masuk lubang kalam . Dengan penerangan lampu pusung saya dapat menyaksikan
kondisi dalam lubang kalam yang sebenarnya . ternyata pada jarak 10 sampai 15
meter dikedua sisi lubang kalam itu ada semacam tempat untuk menghindar ( 
mengamankan
diri ) apabila kereta api lewat . Kondisi  didalam lubang kalam terasa lembab , 
sering terdengar
gemericik air yang keluar dari dinding bebatuan didalam terowongn . Selain itu
pada langit – langit terdapat warna hitam pekat akibat asap yang dikelurkan loko
dengan bahan bakar batubara . Betapa senangnya  saya dan kawan kawan disaat 
sampai diujung  terowongan dan tak lupa mengucapkan terima
kasih banyak pada orang yang telah membantu dan menemani kami . Perjalanan ke
Muaro Kalaban dan Stasiun Silungkang kami lakukan dengan tetap menyusuri rel
kereta api . Sesampai di Stasiun Silungkang belok kiri menyeberang jembatan
kearah pasar Silungkang dan selanjutnya perjalanan dilanjutkan melewati jalan
raya melewati Pianggu , Sungai Lasi , Guguak Manyambah , Guguak Sarai dan 
berakhir
di nagari  saya Saok Laweh . Perjalanan
sejauh 28 KM ditempuh dalam waktu 6 jam lebih .
 
zul amry piliang ( 61 th ) ,
di jimbaran bali .


      Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik. Tambah lebih banyak teman 
ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke