Uda Riri nan ambo hormati,
Saya melihat bukan dari sisi buka tutupnya Jam Gadang, akan tetapi apa dampaknya terhadap pariwisata dan dikatakannya Pariwisata dapat menimbulkan maksiat. Itu nan ambo indak satuju bana doh. Jadi bukan berarti kalau memang sejak setahun yang lalu diumumkan berarti masyarkat harus kehilangan hak pendapat atau hak berwisata untuk melihat Jam Gadang dikala pergantian tahun dan diwajibkan setuju dengan ide tersebut, nanti dulu. Jangan kita salahkwan wisatawan. Mereka berkunjung ke Ranah Minang karena promosi kita dan mereka cinta dengan kita. Seharusnya kita layani mereka. Saya cuma sedih saja, kenapa Pariwisata yang dipersalahkan. Jika moral anak kemanakan kita yang rusak (atau dianggap begitu), bukankah mamaknya atau orang tuanya atau pemerintahnya yang salah memberikan pendidikan ? Kemana saja para tokoh-tokoh kita jika bicara masalah keberhasilan / kegagalan mereka dalam mendidik moral dan keimanan? Tapi jika ada yang harus dipersalahkan dan untuk menarik simpati rakyat….wah..”jan lupo yo’ pasang namo dan gambar ambo dihalaman satu”. Rekan-rekan media juga sayangnya selama ini kebanyakan “senang” dengan berita kasus. Si Anu…tertangkap di hotel…X, Si Badu ditangkap Satpol PP sedang berkencan…dst. Dipasang dihalaman satu dengan maksud agar ybs malu dan yanglain menjadi takut, dan yang terlebih adalah supaya korannya laku terjual. Tetapi pernahkah ada sebuah liputan khusus atau berita mengenai wajah pendidikan moral dan agama yang dibahasa secara cerdas dan komprehensif ? Lengkap dengan keberhasilan dan kegagalan pemerintah dan para Tokoh-Tokoh tersebut. ? Sadarkah kita bahwa SDM di Minangkabau saat ini semakin merosot nilainya ? Padahal dasar dan kunci keberhasilan suatu daerah adalah SDM nya. Mungkin saya terlalu ekspresif, namun itulah yang ada di fikiran saya ttg sikap pemerintah kita yang mendua. Disalah satu sisi mereka bicara ayo promosikan pariwisata, namun disisilain banyak sikap dan komitmen mereka yang perlu dipertanyakan. Bahkan dalam sebuah contoh kasus lain, sekedar untuk mengucapkan “Terima Kasih” saja tidak. Sebenarnya masih asyik untuk menulis tetapi karena sudah terdengar adzan Maghrib saya harus stop dahulu. Maaf terlebih terkurang, salam Aim Zein 43 tahun – Padang · Ketua Dewan Penasehat PHRI (Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia) Sumbar · Wk.Ketua Umum Kadin Sumbar – Investasi, Pariwisata, Telekomunisi, Media Informasi · Ketua Asosiasi Kapal Pesiar Selancar Sumbar · Ketua Radio Antar Penduduk Indonesia Sumbar www.pronewsfm.com www.akssb.org www.wstb.info private email: [email protected] From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Riri Chaidir Sent: Friday, December 19, 2008 1:38 AM To: [email protected] Subject: [...@ntau-net] Re: [West Sumatra Tourism Board] Re: Tidak Ada Perayaan Tahun Baru di Jam Gadang - Brilliant Idea...! Sanak Aimzein Terlepas dari pro-kontra nya, rencana penutupan jam gadang ini kan sudah lama diumumkan. Dibahas panjang lebar di RN, dan - seperti kata da Nofrins - di West Sumatra.com bulan Pebruari yll. Dari dulu kan Walikota nya sudah tegas mau melaksanakan itu, sekarang itu cuma eksekusinya aja kan? Jadi kalau masih ada "Wisatawan Asing dan Lokal yang sudah sejak lama merencanakan liburan tahun baru ..." seperti yang sanak sebutkan, ya ...gimana yah. Kalau dia wisatawan yang "jalan sendiri", ya apa boleh buat, mungkin dia bukan pembaca koran sumbar atau anggota palanta RN. Tapi kalau ada kelompok wisatawan yang menggunakan jasa travel agent dsb ...., ya kebangetan Riri Bekasi, L 46 aimzein <[email protected]> wrote: 1. Wisatawan Asing dan Lokal yang sudah sejak lama merencanakan liburan tahun baru bersama keluarga di Bukittinggi akan merasa dirugikan dan kapok serta tidak akan kembali lagi. Sulit untuk membangun kembali pencitraan ini. Parahnya mereka akan merekomendasikan ke teman-teman atau keluarganya untuk jangan berwisata ke Sumatera Barat. 2. Devisa yang seharusnya masuk untuk membantu sektor ekonomi dalam situasi sulit krisis seperti sekarang akan lari dan sulit untuk kembali lagi 3. Menjadi pencitraan yang kontradiktif. Dengan menutup Jam Gadang, malahan membuat kesan masyarakat kota Bukittinggi sudah dikhawatirkan moral dan imannya. No virus found in this incoming message. Checked by AVG - http://www.avg.com Version: 8.0.176 / Virus Database: 270.9.19/1856 - Release Date: 12/18/2008 8:06 PM --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
