Assalamulaikum wr wb.

DI bawah ambo copykan posting dari milis keretapi@ tentang kekahawatiran
penulisnya terhadap "keberlangsungan kesehatan Mak Itam" setelah pulang
kampuang.

Terlepas dari kontroversi yang sebelumnya ini ada, ataupun penuturan yang
agak bertendensi negatif tentang "kemampuan" lingkungan Mak Itam yang
sekarang, saya lihat ada yang perlu dicermati dari tulisan ini, yaitu,
*seberapa
lama pemkot Sawahlunto, atau siapapun, berminat "memelihara kesehatan Mak
Itam" secara kontinyu.*

Tanpa perlu berpolemik dengan dia, mudah2an kita bisa membuktikan bahwa
kekhawatiran dunsanak kita nan di subalah tu ndak ka tajadi do.

Maaf, dengan memforward ini, bukan berarti saya bermaksud mem"blow up"
sesuatu, karena toh sebagian dari awak mungkin juga anggota dari
keretaapi@(yang anggotanya di atas 1000 orang, dan sekitar 1000
posting per hari), dan
di cc kan ke irps@ serta keretapi_sejarah_dan_kenan...@. Jadi, kalau menurut
saya, ini sudah public knowledge lah ...

Wassalam

Riri
Bekasi, L 46



---------- Forwarded message ----------
From: W Widoyoko <[email protected]>
Date: 2008/12/31
Subject: [keretapi] Tinjauan kritis ahir tahun 2008: Kembalinya E10
To: [email protected]
Cc: [email protected], [email protected],
[email protected], [email protected], [email protected],
[email protected], [email protected], [email protected]


     Yth rekans railfan, Assalamualaikum wr wb,



Terbetik kabar bahwa E10 sudah pulang ke Sumbar, bagi saya hal ini merupakan
hal terpenting yang saya cermati tahun 2008: *Kembalinya E10 ke kampung
asalnya*. Sekilas wajar-wajar saja dan memang seharusnya demikian, tetapi
pendapat pribadi saya timingnya saat ini kurang pas, terkesan terburu-buru
dan tanpa persiapan matang.



Awalnya E10 dibawa dari Sumbar ke Ambarawa dalam kondisi rusak, diperbaiki
di Ambarawa serta dirawat dengan teliti sebagaimana mestinya hingga
kondisinya pun semakin baik. Akankah sekembalinya ke Sumbar tetap
demikian? Masih
tanda Tanya besar dan saya pesimis akan hal ini. Saya nilai kembalinya E10
hanya untuk kepentingan sesaat dari orang-orang tertentu saja.



Apakah niatan sebenarnya mengembalikan E10 sekarang ke Sumbar? Terlalu mahal
kalau hanya sekedar untuk nostalgia. Kembalinya E10 kemungkinan besar
diharapkan akan menjadi mesin uang yang diandalkan. Apakah hal ini akan
terwujud seperti "seSumbar"nya orang-orang tertentu yang
menghembus-hembuskan angin surga?



Kalau kita lihat kondisi perekonomian dunia yang sedang resesi dan ramalan
para ahli dalam negeri bahwa perekonomian Indonesia tahun 2009 akan lebih
buruk, maka mimpi di atas sangat sulit terwujud. Malah kemungkinan besar E10
akan banyak nganggurnya daripada mencetak fulus. Dengan melemahnya
perekonomian dunia (lebih lagi Indonesia) maka lalu-lintas kunjungan wisman
dan wisnus pasti akan berkurang drastis, apalagi ada pemilu 2009 yang
membuat situasi politik, ekonomi dan sosial bisa memburuk.



Kalaulah katakan kita optimis kondisi perekonomian Indonesia baik, saya kira
pendapatan E10 pun tidak akan menyamai pendapatannya di Ambarawa. Berapa sih
wisman/wisnus yang berkunjung ke Sumbar dan berapa prediksi wisman wisnus
yang akan mengunjungi museum KA Sumbar? lalu berapa yang akan "nyewa" E10?.

Perlu promosi besar-besaran dengan biaya yang tidak sedikit untuk
mempromosikan museum KA Sumbar agar dikenal orang dan setara dengan museum
KA Ambarawa.



Saya yakin bahwa 10 tahun pertama (atau bahkan lebih dari itu) E10 cuma akan
jadi beban Pemda setempat, karena jalan atau tak jalan loko tsb butuh biaya
pemeliharaan yang tidak sedikit. Katakan pejabat Pemda yang mendukung saat
ini masih mau membiayai pemeliharaan E10, tetapi ya untuk berapa lama? Apa
yang akan terjadi jika nanti terjadi pergantian pejabat? Apakah kebijakan
pejabat lama akan diteruskan lagi?



Kita semua sudah mafhum dan telah menjadi rahasia umum, bahwa kalau ganti
pejabat bisa dipastikan juga ganti kebijakan dan prioritas. Apakah pejabat
baru nanti akan mendukung keberadaan E10 ??? Wallahu'alam. Tak usah
jauh-jauh lah, dilingkungan kecil seperti IRPS saja, pejabat ketua baru juga
merombak tetek bengek organisasi baik kebijakan maupun prioritas yang
sesungguhnya tidak perlu dirubah-rubah.



Kembali ke E10 di masa depan dimana pejabat baru dilantik. Kalau pejabat
baru diberi pilihan apakah dana APBD lebih baik dipakai untuk proyek
kesejahteteraan masyarakat atau untuk merawat E10 (museum KA) apa pilihan
mereka? Saya yakin dan sangat wajar kalau mereka akan memilih untuk
mengalokasikan APBD untuk membiayai program kesra,  mengingat negeri ini
bertahun-tahun (sejak 1997) belum juga keluar dari krisis ekonomi. Tentu
program kesra akan jauh meningkatkan pamor pejabat y.b.s.



Jadi berdasarkan analisa saya sekali lagi pindahnya E10 saat ini tidak tepat
dan akan menjadi beban bagi kas Pemda setempat untuk mensubsidi keberadaan
E10. Hal ini beresiko besar bahwa nantinya kondisi E10 akan menjadi semakin
parah kalau subsidi suatu saat dicabut.



Pernyataan ketua IRPS yang menyamakan / memisalkan pemindahan E10 ke Sumbar
sama seperti pemindahan CC200 ke Surabaya (karena itu patut didukung), Saya
nilai sebagai upaya pembodohan pada angggota IRPS, mengapa? CC200 pindah
dari CN ke Surabaya dan bertambah sehat disana, karena teknisi di Surabaya
memang sudah terlatih memelihara lok diesel, wajar saja kalau CC200 tambah
kinclong. Sedangkan teknisi E10 di Sumbar masih harus banyak belajar dari
crew Ambarawa. Yang namanya belajar, belum tentu sang murid bisa 100%
menyerap pelajaran dalam waktu singkat, bisa menyerap 75% saja sudah bagus.
Berarti kalau para guru sudah kembali ke Ambarawa kemungkinan kualitas
pemeliharaan E10 (kira-kira wajarnya) 75% dari yang dialaminya di Ambarawa.
Tanpa dukungan (subsidi) biaya yang luar biasa, kondisi E10 jelas akan
semakin parah.



Selanjutnya anjuran IRPS agar dimasa depan "siapa saja" yang menginginkan
operasi loko uap agar tidak mencomot loko yang sudah ada (hidup) tetapi
harus menghidupkan loko lain yang mati, dalam pandangan saya ini anjuran
"basa-basi". Kenapa? Karena sudah jauh-jauh hari pengurus pusat IRPS
mengetahui akan rencana pindahnya E10, mengapa anjuran itu tidak dari
dulu-dulu saja digembar-gemborkan? Tetapi malah turut mendukung dan
memuluskan E10 pindah, nah… pasti ada udang dibalik bakwan!.





Kesimpulan dan saran

:

   1. Pemindahan E10 ini sangat riskan, walau didukung oleh pejabat saat ini
   tetapi tidak didukung oleh persiapan yang matang dan dukungan politis jangka
   panjang yang memadai. Niatan kembalinya E10, saya nilai hanya untuk
   mendulang uang. Atau mungkin lebih parah lagi hanya untuk sekedar
   menghabiskan dana anggaran yang akan hangus kalau tidak digunakan tahun ini.

   2. Melihat perkembangan krisis ekonomi di dunia dan Indonesia,
   kemungkinan besar target pendapatan E10 akan meleset jauh dari harapan.
   Bahkan, pemeliharaan E10 bakal menjadi beban APBD karena operasi atau tidak
   beroperasi loko tsb harus dirawat dengan biaya yang tidak sedikit.
   3. Dalam beberapa tahun kedepan, kebijakan pejabat baru belum tentu akan
   mendukung E10, bahkan kran subsidi bisa saja dialihkan untuk hal-hal yang
   lebih urgen seperti proyek kesra yang sangat dibutuhkan masyarakat dijaman
   sengsara. Nah … kalau sudah begini apa jadinya? Toh, kalaupun kita
   teriak-teriak pada mereka pasti pak pejabat baru akan angkat bahu sambil
   berseru (kira-kira) demikian: "Itu kan kebijakan pejabat dahulu, kenapa
   harus saya bertanggung jawab dan kena getahnya"?
   4. Bila ahirnya E10 mangkrak, tidak terurus, dekil, dst, maka kemungkinan
   besar mereka-mereka yang sekarang mendukung E10 pulang kampuang akan CTB
   atau "Cuci Tangan Bersih-bersih". Walhasil, kondisi E10 akan bertambah parah
   dan bisa saja tiba-tiba "menguap" tanpa bekas. Masih segaar dalam ingatan
   saya, sekitar oktober 2003, dimana saat itu pak Budi Sofyan tiba-tiba
   menelpon dan berkata , "pak Wid, C28 hilang dari dipo Jatibarang !!!".
   Selanjutnya …. Hingga detik ini tidak seorang pun yang tahu, kemana pergi
   dan raibnya C28, semua angkat bahu. Padahal belum ada 3 bulan sebelumnya
   kami-kami wanti-wanti agar C28 Jatibarang dimuseumkan saja. Kejadian
   "menguapnya" loko uap ini sangat mungkin akan terulang lagi.
   5. Kalaupun IRPS minta jaminan agar E10 dipelihara dan bla-bla lainnya,
   ini pun sia-sia. Paling surat / proposalnya masuk laci dan yang jelas apa
   pula sangsinya kalo sang pejabat gak mau berjanji atau beri jaminan?
   6. Kalau sekarang E10 sudah terlanjur ada di Sumbar, maka menurut hemat
   saya tindakan tepat bagi para railfan yang peduli pada E10 adalah; Ambil
   ancang-ancang untuk menabung sedikit demi sedikit. Nanti bila ternyata E10
   mangkrak setidaknya sudah ada bekal tabungan untuk membiayai kembalinya E10
   ke Ambarawa secepatnya (jangan ditunggu sampai "menguap"). Silahkan saja,
   siapa saja boleh dari sekarang untuk mulai mengkoordinir nabung rame-rame.
   Bagaimana mas Deddy dkk, pemerhati loko uap sepertinya harus mulai beraksi
   dan unjuk gigi!.



Demikian uneg-unek saya dan mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.



Wassalamualaikum,



Widoyoko




__._,_.___
.

__,_._,___

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke