Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
 
Satu lagi artikel bagus dari 'Kompas'. Setelah membaca artikel ini, mari kita 
tanya kepada diri kita masing-masing: kita mau jadi apa ?

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [email protected];
[email protected]

 
Menjadi Manusia Bebas

 
Kompas, Sabtu, 3 Januari 2009 | 00:22 WIB 

 
Oleh Herry Tjahjono
 
Krisis dahsyat menghantam muka Bumi, dan konon, puncaknya akan terjadi di 
sekitar pertengahan tahun yang baru ini. Disadari atau tidak, kekhawatiran dan 
ketakutan melanda umat manusia. Ketakutan kehilangan pekerjaan, nasib usaha, 
yang semuanya bermuara pada ketidakpastian dan ketidakamanan. Kegalauan melanda 
jiwa-jiwa yang tanpa disadari mengganggu produktivitas kerja dan fungsi hidup 
keseharian.
 
Namun, krisis itu tidak bisa dihadapi dan dijalani hanya dengan rasa takut dan 
khawatir. Itu adalah sikap mental pecundang (loser mentality).... Krisis 
dahsyat itu hanya bisa dihadapi dan ditaklukkan dengan sikap mental sebaliknya 
(winner mentality).
 
Ada dua esensi sikap mental pemenang yang diperlukan: Pertama, menjadi ”penyapu 
jalan terbaik”! Martin Luther King Jr pernah mengatakan, ... Seandainya 
seseorang terpanggil menjadi tukang sapu, maka seharusnya ia menyapu 
sebagaimana halnya Michelangelo melukis, atau Beethoven mengomposisi musiknya, 
atau Shakespeare menuliskan puisinya. Ia seharusnya menyapu sedemikian baiknya 
sehingga segenap penghuni surga maupun Bumi berhenti sejenak untuk berkata: ”Di 
sini telah hidup seorang penyapu jalan yang begitu hebat, yang melakukan 
pekerjaannya dengan demikian baik.”
 
Maka, profesi dan pekerjaan apa pun yang dijalani sekarang, lebih dulu perlu 
diterima dengan rasa syukur. Masih banyak saudara lain yang kehilangan 
pekerjaan, belum bekerja, tak tahu harus berbuat apa. Krisis tak berhak 
mengganggu dan menggugat yang ada di tangan kita sekarang. Dari rasa syukur 
akan timbul kesadaran baru bahwa apa yang masih ada itu adalah karunia, 
sekaligus amanah. Harus dijalankan sebaik-baiknya dan yang terbaik.
 
Itulah bentuk mental syukur terpenting dalam kondisi serba krisis dan 
menakutkan seperti sekarang. Menjalankan sebaik-baiknya apa yang ada di tangan 
adalah ”ibadah” paling bernilai (bentuk rasa syukur paling konkret), yang bukan 
hanya berguna bagi kita, tetapi juga bagi manusia lain yang terkait dengan 
kita. Menjalankan segala sesuatunya dibarengi dengan kekhawatiran dan ketakutan 
akan dahsyatnya krisis, apa adanya, seadanya (yang penting masih ada yang 
dikerjakan) sama sekali tak berguna bagi siapa pun dan hanya membuat penghuni 
surga dan Bumi mencibir serta menangis.
 
Manusia budak atau bebas
Kedua, menjadi ”manusia bebas”! Esensi sikap mental pertama tersebut hanya bisa 
dibentuk melalui esensi mental kedua, yakni menjadi ”manusia bebas”, seperti 
dimaksudkan Lao Tzu: ”... Jika engkau hanya mengerjakan segala sesuatu sebatas 
apa yang diharapkan darimu, maka engkau tak ubahnya seorang budak. Namun jika 
engkau mengerjakannya lebih dari yang diharapkan, barulah engkau menjadi 
manusia bebas.”
Kalimat bijak itu sungguh menyiratkan esensi makna yang indah sekaligus 
dahsyat. Jika kita hanya bekerja dan menjalankan tugas kewajiban sebatas yang 
diharapkan, di- standarkan, diminta, maka sesungguhnya kita masih dibatasi dan 
dikurung oleh batasan-batasan eksternal.
Misalnya, karyawan yang bekerja tentu mempunyai target-target atau KPI (key 
performance indicator). Target atau KPI ini tentunya ditetapkan oleh pihak 
eksternal (manajemen, atasan, atau perusahaan). Maka, karyawan yang bekerja 
hanya ”sebatas” memenuhi target dan KPI-nya, secara hakiki, ia dibatasi dan 
dikendalikan oleh pihak eksternal. Itulah yang dimaksud ”budak”. Apalagi jika 
ia bekerja kurang atau di bawah KPI-nya.
 
Bagaimana menjadi manusia bebas? Ya, jika seseorang (sesuai profesinya 
masing-masing), mau memberi dan bekerja lebih dari apa yang diharapkan, lebih 
dari target dan KPI-nya. Artinya, ia telah berani, bersedia, dan mampu 
menetapkan sendiri batasan- batasan kerja dan hidupnya (tidak lagi oleh pihak 
eksternal). Karyawan ”budak” hanya bekerja sebatas KPI-nya. Karyawan ”bebas” 
bekerja melebihi KPI-nya tanpa diminta.
Sikap mental menjadi ”manusia bebas” inilah yang sangat diperlukan di negeri 
ini. Makna kemerdekaan bukan hanya sekadar lepas dari para penjajah bangsa 
asing. Bukan jadi ”bangsa budak”, melainkan bangsa pemenang yang mampu 
mengatasi krisis global sehebat apa pun.
 
Sesaat lagi kita akan memilih para pemimpin bangsa di segenap dimensinya. 
Bangsa ini butuh para ”manusia bebas” yang mampu menjadi ”penyapu jalan 
terbaik” di bidangnya masing-masing.
 
Herry Tjahjono Corporate Culture Therapist & President The XO Way









function fbs_click() 
{u=location.href;t=document.title;window.open('http://www.facebook.com/sharer.php?u='+encodeURIComponent(u)+'&t='+encodeURIComponent(t),'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');return
 false;}

 html .fb_share_link { padding:0px 0 0 20px; margin-top:5px; height:16px; 
background:url(http://static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?2:26981)
 no-repeat top left; font:normal 11px arial; }
Share on Facebook 

 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke