Sanak Palanta Yth : 

Ambo forward kan sabuah carito pendek dari Damhuri Muhammad yang dimuat koran 
Jawa Pos hari ini . Cerpenis D.Muhammad sering menulis cerpen diberbagai media 
dan pada umumnya acapkali bernuansa Minang .

Zul amry piliang di denpasar bali 

[ Minggu, 04 Januari 2009 ]Jawa Pos 


Bayang-Bayang Tujuh 
Dalam sekali helaan napas, riuh sorak-sorai para petaruh yang berdiri
di sekeliling lingkar arena sabung ayam di lereng Bukit Limbuku
tiba-tiba terhenyak dalam hening. Orang-orang seperti dihadang
kegamangan. Tiada hirau lagi para petaruh itu pada kibasan dan kelebat
kaki-kaki bertaji dalam tarung Jalak Itam dan Kurik Bulu yang tengah
berlaga begitu sengit hingga jambul kedua jago turunan Bangkok itu
bergelimang darah. Semua mata seolah terisap ke dalam pancaran mata
bengis Langkisau yang sedang mengamuk. Ia baru saja menghajar lelaki
tanggung yang tampaknya orang baru di kalangan para petaruh. 

Melihat
raut mukanya yang begitu teduh, hampir bisa dipastikan ia bukan
penggila judi sabung yang tengah menunggu kokok kemenangan Jalak Itam
dan keok kekalahan Kurik Bulu, atau sebaliknya. Menurut penuturan
seorang pejudi, ia guru ngaji yang sedang memantau kalau-kalau ada di
antara murid-muridnya yang ikut-ikutan menonton permainan itu. Bila ada
murid yang tertangkap tangan sedang berada di arena judi sabung, guru
muda itu akan menyeretnya turun. Di surau ia akan beroleh hukuman
sepadan. Biasanya, telapak tangan si murid dicambuk dengan rotan,
berkali-kali, tak henti-henti, dari selepas Magrib hingga tiba waktu
Isya. 

Begitu menginjak tanah lereng Bukit Limbuku, ia berjalan
mengendap-endap di sela-sela kerumunan para petaruh yang sedang
berdebar-debar, cemas kalau-kalau jagoan mereka tumbang, dan segepok
uang taruhan tentu bakal melayang. Pada saat yang sama, Langkisau
sedang sibuk mengumpulkan taruhan. Tanpa disengaja, guru muda itu
melangkahi bayang-bayang tubuh Langkisau. Telapak kakinya menginjak
bayangan kepala Langkisau. Perlu ditegaskan, ia tidak melangkahi kepala
Langkisau, hanya melangkahi bayang-bayangnya. Tapi, itu sudah melanggar
pantangan. Langkisau menyeringai, menyerungut, serupa anjing yang
hendak menerkam buruan. Dari arah depan, dua kali tendangan gasingnya
mendarat di ulu hati lelaki itu. Aliran napasnya seolah disumbat oleh
hantaman kaki Langkisau. Ia sempoyongan. Badannnya oleng. Pandangannya
kabur.

''Mampus kau!''

''Melangkahi bayang-bayang kepalaku sama dengan menginjak kepalaku.''

''Belum tahu siapa Langkisau kau rupanya?''

''Huaaap...'' 

Tiada
ampun, guru muda tumbang, kepalanya mencukik ke dalam comberan tempat
membasuh luka-luka di jambul ayam jago selepas berlaga. Buruk benar
cara jatuhnya. Menelungkup dengan muka berkubang lumpur. Sementara itu,
para petaruh makin ketakutan kalau-kalau anak muda itu tidak bangun
lagi, apalagi kalau ia mati terkulai di tangan Langkisau. Kalau benar
ia salah satu guru ngaji, keributan kecil itu tiada bakal berhenti
sampai di sini. Para tetua Surau Tuo tak akan tinggal diam. Bukan
Langkisau saja yang akan terancam, semua petaruh di lereng bukit itu
akan tahu akibatnya. 

''Cukup Langkisau!'' 

Begitu
teriak Inyik Centang, kaki-tangan Langkisau. Ia muncul tiba-tiba,
menghadang Langkisau yang hendak mencatukkan lading di kuduk lelaki
tanggung yang sudah tak berkutik itu.

''Belum puas aku kalau orang ini masih hidup,'' bentak Langkisau, ''kukirim 
sekalian ke liang lahat.'' 

''Sekali lagi, cukup! Dia orang Surau Tuo. Bisa jadi orang suruhan Engku 21.''

''Nah, itu yang kutunggu sejak dulu. Sudah lama aku ingin menjajal kehebatan 
tuan-tuan Engku 21 itu.''

''Jangan takabur! Mereka sukar dikalahkan. Lebih-lebih si Gelang-Gelang Kawat. 
Ilmu Bayang-Bayang Tujuh matang di tangannya.'' 

''Keparat! Kau pikir aku takut? Akan kucincang si Bayang-Bayang Tujuh itu.''

''Cincang? Saat kau hendak menggoroknya, tubuh kasarnya hilang. Kau hanya bisa 
mendengar suaranya.'' 

***

Cerita
Inyik Centang benar. Jauh sebelum lereng Bukit Limbuku penuh sesak oleh
para penyabung, Gelang-Gelang Kawat menebang Betung di lahan itu. Ia
beroleh upah dari seorang cukong yang konon telah memborong semua
rumpun aur di lereng bukit itu. Suatu ketika, di musim kemarau, terjadi
kebakaran karena ulah para penebang yang abai mematikan puntung rokok
sebelum dibuang ke semak-semak. Celakanya, Gelang-Gelang Kawat tertuduh
sebagai perokok yang buang puntung sembarangan itu hingga seperempat
lereng bukit gosong dilalap api. Maka, ia harus berurusan dengan aparat.

''Benar
Saudara yang menyebabkan Bukit Limbuku terbakar?'' bentak seorang
petugas dengan memasang tampang sangar agar Gelang-Gelang Kawat lekas
mengaku. 

''Bukan saya, tapi tangan saya!'' balasnya. Tegas. 

Pada
saat Gelang-Gelang Kawat mengucapkan kata-kata itu, polisi yang
memeriksanya hanya bisa mendengar suara paraunya, tidak bisa melihat
wujud si tertuduh. Tubuhnya bagai menguap, bagai mengelayap entah ke
mana, lenyap seketika. Lutut petugas itu gemetar karena takut. Bulu
kuduknya meremang. Seumur-umur ia mengurus kasus kebakaran hutan, baru
kali itu ia ketemu orang yang tak bertubuh kasar. Ia merasa tidak lagi
berhadapan dengan tersangka, tapi dengan hantu penunggu lereng Bukit
Limbuku.

Sejak peristiwa itu, Gelang-Gelang Kawat jarang ke
lereng Bukit Limbuku. Pohon-pohon betung yang biasa ditebangnya sudah
jadi abu. Ia mencurahkan perhatian untuk mengajar anak-anak mengaji di
Surau Tuo. Lebih-lebih, sejak ia dipercaya menjadi salah satu Engku
dari dua puluh satu Engku di surau itu. Sejak lama, masing-masing suku
mengutus tiga orang Engku guna menyemarakkan surau usang itu; satu
bilal, satu imam, satu khatib. Lantaran ada tujuh suku di kampung itu,
maka azan-iqamah, salat berjamaah, belajar ngaji, wirid mingguan, dan
khatib Jumat diurus oleh dua puluh satu Engku. Itu sebabnya mereka
disebut Engku 21. 

''Kalaulah tidak karena permintaan
Engku-Engku, sudah kupatahkan pinggangnya,'' kata lelaki muda itu,
sesekali ia meringis kesakitan saat Gelang-Gelang Kawat mengobati
tulang belikatnya yang memar akibat tendangan gasing Langkisau. 

''Makanya jangan lengah, masa' kau langkahi kepalanya? Ha ha ha...''

''Bukan kepalanya, hanya bayang-bayang kepalanya...''

''Di situ letak kelemahan Langkisau. Ada enam bagian lagi dari tubuhnya yang 
harus kau langkahi.'' 

''Tapi, kenapa aku tidak boleh mengelak? Jangankan melawan, mengelak pun 
pantang,'' 

''Kau ingin mengalahkan Langkisau bukan?'' sela Gelang-Gelang Kawat. 

***

Kepulangan
Langkisau ke kampung ini barangkali kepulangan paling celaka bagi
setiap perantau. Setelah mengadu untung selama puluhan tahun dan
beranak-pinak di negeri seberang, ia pulang dengan gairah hidup yang
hampir redup. Tubuh jangkungnya kian ceking, namun perutnya
buncit-padat lantaran berhari-hari ia tak bisa berak. Kabarnya, waktu
itu, seseorang dengan kemampuan guna-guna tingkat tinggi menahan semua
unsur yang berjenis racun untuk tetap bersarang di tubuh Langkisau,
hingga tiba saatnya racun-racun itu menjadi penyakit yang bakal
menyudahi riwayat si raja copet itu.

Sehebat-hebatnya Langkisau,
tetap saja ada yang lebih hebat. Selihai-lihai tupai melompat, sekali
waktu jatuh-terpelanting juga. Padahal, bila tidak terlalu kemaruk,
Langkisau tak bakal ketemu lawan bersengat seperti itu. Anak buahnya
banyak, wilayah kuasanya luas, ia disegani lantaran ilmu Bayang-Bayang
Tujuh sempurna dikuasainya. Betapa tidak? Langkisau bisa menguras uang
dari tujuh saku korban sekaligus, itu hanya dengan sekali gerak.
Tubuhnya membelah jadi tujuh, tiada yang tahu mana jasad aslinya. Yang
pasti, tujuh bayangan itu tidak pernah pulang percuma. Tapi, Langkisau
tidak pernah puas. Masih saja ia menyabot wilayah orang lain. Ingin
menjadi satu-satunya raja copet ia rupanya, ingin semua pencopet kota
itu tunduk, bertekuk lutut di hadapannya. Langkisau lupa, di atas
langit ada langit. Akibatnya, ia harus pulang sebagai pecundang. Dengan
kekuatan guna-guna, ia ditumbangkan. 

Untunglah, saudara
seperguruannya, Gelang-Gelang Kawat, tidak tinggal diam. Meski
Langkisau sudah menempuh jalan berbeda, Gelang-Gelang Kawat tetap
mengerahkan segenap kesaktiannya guna menyelamatkan Langkisau yang
sudah di ambang kematian. Tak lama Gelang-Gelang Kawat bekerja,
sejawatnya sesama pewaris ilmu Bayang-Bayang Tujuh itu sembuh dan
gairah jawaranya kembali menyala. ''Menyelamatkan nyawa Langkisau sama
dengan membangunkan harimau tidur,'' kata orang-orang yang menginginkan
kematian Langkisau.

''Biarkan saja keparat itu mati busuk!''

''Tak ingin jadi nomor satu? Bila Langkisau masih hidup, kau tetap nomor dua." 

***

Lereng
Bukit Limbuku yang lapang selepas terbakar disulap Langkisau menjadi
arena sabung ayam. Diundangnya para penyabung dari mana-mana hingga
setiap hari lereng bukit itu seperti pasar. Bila di rantau Langkisau
raja copet, di sini, di kampung ini, ia raja judi. Tak ada yang berani
menghadangnya, tidak pula para tetua kampung yang diam-diam ternyata
sudah menjadi kacung-kacung Langkisau. Tak jelas lagi, siapa kawan
siapa lawan, sejak Langkisau kembali bertaji. Kalaupun ada yang dapat
mengimbangi kesaktiannya, itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang
Engku 21, utamanya Gelang-Gelang Kawat.

''Menurut Engku, aku
sanggup menumbangkannya?'' tanya murid terbaik Gelang-Gelang Kawat yang
tulang belikatnya sudah enam kali jadi sasaran tendangan gasing
Langkisau.

''Bayang-bayang Langkisau bagian mana lagi yang harus aku langkahi?''

''Jangan gegabah! Tinggal satu lagi.''

''Cepat katakan!'' 

''Langkahi
bayang-bayang daerah gelang-gelang*) Langkisau! Itu pantangan ilmu
Gelang-Gelang Kawat. Langkisaulah Gelang-gelang Kawat sebenarnya.'' 

Lelaki
itu mulai bimbang. Jangan-jangan Langkisau dan Gelang-Gelang Kawat
hanyalah dua kepingan dari satu jasad yang telah membelah. Bukankah
keduanya sama-sama menempuh tarekat Bayang-Bayang Tujuh? Mungkin
Langkisau telah membelah diri menjadi Gelang-Gelang Kawat atau
Gelang-gelang Kawat yang membiak jadi Langkisau. Lalu, siapa wujud
aslinya, di mana lima bayangan yang lain? Ah.

''Apa yang kau tunggu?'' desak Gelang-Gelang Kawat.

Lekas
ia beranjak. Tapi, langkahnya bagai ditahan. Apa mungkin Engku Guru
membunuh bayangan sendiri? Ia membatin. Sejurus kemudian, ia merasa
telah menjadi orang lain. Kadang-kadang merasa sebagai Gelang-Gelang
Kawat, tapi sesekali menggebu hendak jadi jawara seperti Langkisau.

*) Usus besar 

Jakarta, 2008  

Cerpen DAMHURI MUHAMMAD


      Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat 
tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke