Sekedar sharing cerita 
oleh : Santi Martin

sebulan yang lalu pada satu kesempatan saya mengikuti Pelatihan 
sholat Khusuk yang diadakan oleh Yayasan Ihsan Nurani Bukittinggi. 
Training yang diadakan seharian penuh itu dimulai pada pukul 8 pagi 
hari.Training diikuti oleh berbagai kalangan masyarakat.. yang 
menurut Ustad Budi yang memberi pelatihan hari itu.. kami yang hadir 
murnilah diundang oleh Allah.. saya berpikir dalam hati.. mungkin 
pernyataan ustad Budi itu benar... beberapa hari sebelum pelatihan 
dimulai saya sibuk mengajak beberapa kerabat dan keluarga dekat 
maupun jauh untuk ikut serta, saya tidak menyebutkan bahwa training 
tersebut dipungut biaya (hanya Rp.50.000,- per orang dan itupun 
untuk konsumsi peserta seharian penuh) karena dalam hati saya sudah 
berniat... bila saudara dan sanak keluarga atau kerabat yang mau 
ikut bergabung dengan saya pada hari itu... konsumsinya saya yang 
akan bayarkan.
Tapi apa yang terjadi... dari lebih 15 orang yang sudah saya ajak... 
tidak satupun berminat.. meskipun saya yang akan membayarkan 
konsumsi mereka. Akhirnya minggu pagi itu saya berangkat dengan 
putra bungsu saya "Habib", semula anak kecil yang berumur 9 tahun 
itu juga terlihat ogah-ogahan untuk ikut.. tapi melihat saya memohon 
agar dia menemani.. maka Habib pun ikut dengan saya.
Palatihan berjalan dengan khusuk.. anakku Habib juga terlihat sangat 
antusias mengikuti apalagi dia selalu ditunjuk oleh Ustad Budi untuk 
kedepan memberi contoh gerakan dan kebetulan dia peserta yang kecil 
waktu itu.
Ketika jam makan siang tiba... setelah melaksanakan sholat zohor 
berjamaah.. semua peserta tak segan-segan menyerbu nasi kotak dari 
Restaurant Sederhana yang telah disiapkan panitia. Aku duduk agak 
kebelakang, ikut bergabung dengan dua orang Ibu disana, salah 
seorang Ibu (menurut perkiraan saya usianya sekitar 40th) tidak ikut 
menyantap makanan yang telah diambil dari Panitia, nasi kotak itu 
terlihat masih utuh terletak disampingnya. Penasaran saya 
bertanya.. "Ibu tidak makan? tidak lapar atau sedang puasa?" 
pertanyaan saya meluncur seperti air.. si Ibu itu hanya tersenyum.. 
menjawab dengan tenang.. "ya lapar sih kan sudah lewat jam 1 siang.. 
tapi nasi ini lebih baik saya bawa pulang.. putra saya sudah lama 
menginginkan nasi ramas restorant sederhana, tapi karena tak sanggup 
membelinya..sampai sekarang belum bisa dikabulkan harapan anak saya 
itu".. saya tertegun... nasi yang sedang berada ditenggorokan saya 
tiba-tiba menjadi terasa berat untuk ditelan.Dalam hati saya 
berpikir... hari gini... ternyata masih ada Ibu yang tak sanggup 
membelikan meskipun sebungkus nasi ramas untuk anaknya?..tapi 
melihat kesungguh2an Ibu itu... saya percaya.." saya kesini diundang 
Ibu Devi dan beliau yang bayarkan" begitu sang ibu menjelaskan 
seperti tahu apa yang ada dalam pikiran saya. Kontan saya ingat 
bahwa saya mempunyai dua nasi kotak, satu jatah putra saya yang 
tidak disentuh sedikitpun oleh dia karena putra saya sampai usia 9 
tahun tidak bisa makan nasi. Saya berikan nasi itu pada sang Ibu. 
Setelah sedikit basa-basi akhirnya sang Ibu besedia makan sama-sama 
dan sekotak nasi lagi bisa dibawa pulang untuk putranya yang sebaya 
juga dengan anakku Habib.
Kejadian ini benar2 membuat hati saya haru pilu dan rindu pada mama 
di rumah.. terbayang oleh saya wajah tua mama...dan terbayang ketika 
saya masih kecil dulu... setiap pulang dari acara rapat di kelurahan 
atau dipertemuan2, mama selalu membawa kue dan nasi jatahnya pulang 
kerumah untuk kami makan bersama-sama... aku baru sadar.. tentulah 
ketika itu mamaku seperti Ibu yang menahan laparnya demi mengingat 
sang anak.. katena kehidupan kami yang juga tak begitu baik ketika 
masa kecilku.. mama.. terima kasih atas cinta yang tak terkira.

Pernah aku mendengar pepatah yang dijadikan lagu
"kasih ibu tiada terkira
kasih ayah sepanjang masa
kasih saudara selagi ada.....dst...

Demikian saja... semoga kisah yang saya alami ini bisa diambil 
hikmahnya bagi kita semua setidaknya mari kita mengingat.. betapa 
Ibu, Mama, Amak, mande atau apapun sebutan pada beliau...mencintai 
anaknya sepanjang masa.(saya iangat mama saya pernah berkata.. 
meskipun alah di karongkongan..kalau anak nan mamintak.. bialah di 
kalua-an baliak, ndak kayu janjang di kapiang)

Bagi kita yang masih punya Ibu...silahkan jumpai mereka pandang 
wajahnya dan berterima kasih atas pengorbanannya dan mohon maaf 
selagi masih bisa. BAgi yang Ibundanya telah tiada senantiasalah 
berkirim doa semoga beliau mendapatkan kebaikan dialam sana.. karena 
kalau saya tidak salah pernah mendapat ajaran bahwa "doa anak yang 
sholeh untuk Ibunya, Insya Allah akan dikabulkan Tuah"

Wassalam untuk semua,

Santi Martin




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke