Sanak Adrinof

Sebuah pemikiran yang perlu juga di renungkan..."konflik sektoral"..yang
nota bena tidak saling mendukung satu sama lain yaitu antara maninjau
sebagai tujuan wisata..dan pemanfaatan Danau sebagai Budi Daya Ikan,
kalau menurut saya memang lebih cendrung ke Parawisata danau tersebut
difokuskan tapi dicarikan solusi buat petani/nelayan tambak jaring
apung. misalnya dipetakan dulu kawasan danau (bikin zona-zona) sesuai
dengan karakter atau tipologi dari Danau dan daerah aliran sungainya.
Mana kawasan yang betul2 bebas dari budi daya ikan yang diperuntukan
bagi kawasan wisata dan mana kiranya daerah terbatas di danau tersebut
dijadikan untuk budi daya ikan keramba apung, jadi tidak seperti
sekarang budi daya ikan apung tanpa memperhatikan perencanaan ruang
danau Maninjau...dimana suka..berhimpitan satu sama lain.

 

Setelah ditata peruntukan kawasan danau tersebut oleh semua pihak dan
disepekati maka perlu dilindungi dengan payung hukum, sehingga dalam
pelaksanaannya nanti bisa lebih mudah diawasi kasarnya ada alas an hukum
yang kuat jika budi daya keramba jaring apung ini bukan pada tempatnya
di bongkar atau dilarang sebelum dibuat.Tentunya sebelumnya perlu duduk
dengan masyarakat, tokoh masyarakat, ninik mamak, alim ulama dengan
pihak pemerintah atau dinas/instansi terkait dalam menata kembali
peruntukan kawasan danau maninjau dan sekitarnya.

 

Keramba jaring apung bisa saja arah ke hilir atau dengan melihat
kontur/topograpi lahan (Tinggi ke rendah) maka dibuat kanal-kanal
permanent untuk memindahkan air danau tersebut dan mengalir nah
disanalah kiranya paling tepat membuat keramba, air mengalir tidak
terlalu deras tentunya kebutuhan oksigen terpenuhi sepanjang hari, jika
pun ada unsure belerang di dasar danau karena gempa yang mengakibatkan
naiknya zat2 beracun yang mengakibatkan kematian ikan saya pikir bisa
juga dibuat alat deteksi dini dengan melihat segala karakteristik danau
Mainjau, tentunya memang dibutuhkan teknologi terkini sebagaimana halnya
alat deteksi gempa yang berakibat tsunami yang memberikan kesempatan
penduduk menyelamatkan diri sekitar 30 menit menjelang Tsunami
menghempas daratan.

 

Setelah kejadian ini, mungkin kedepan lebih mudah lagi mengaturnya
sementara colling down dan recovery dulu sambil mencoba mensosialisaikan
ke para nelayan dengan segala alasan-alasan untung rugi dan manfaat yang
akan diperoleh jika di coba lagi tata ulang kawasan Maninjau

 

Mungkin itu tambahan pendapat saya, lebih dan kurang mohon maaf

 

Wass-Jepe

 

indak dikuduang bia nyambuang nan dibawah jo diateh..kan da baa do urang
dapua..indak mambaok gambar nan gadang filenyo.

 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Andrinof A Chaniago
Sent: Thursday, January 08, 2009 2:01 PM
To: [email protected]
Subject: [...@ntau-net] Re: racun belerang di maninjau

 

Saya sempat dapat pengetahuan sedikit dari seorang teman tentang endapan
racun di dasar danau ini, ketika kami bekerja melakukan studi untuk
penyusunan Rencana Pengembangan Ekosistem Danau Toba (Sumut). Menurut
dia, di dalam setiap danau vulkanik selalu terjadi proses mengendap
racun yang suatu saat melepaskan gas beracunnya ke permukaan. Kalau ini
benar, mungkin masa pematangan tumpukan racun ini yang perlu diteliti
oleh ahlinya. Pelepasan racun ke permukaan danau itu, juga kata bekas
teman satu tim saya itu, bisa dipicu oleh guncangan vulkanik di dasar
danau.

Untuk solusi masalah yang dihadapi peternak ikan keramba ini, saya punya
pikiran lain. Saya sudah lama berpikir usaha keramba ini digantikan
dengan usaha lain yang terkait dengan jasa pariwisata, seperti rekreasi
air, rumah makan, hotel atau penginapan khas, dan sebagainya. Dengan
merebaknya usaha ternak ikan keramba selama ini, ada beberapa masalah
yang muncul. Pertama, pengembangan ekonomi Salingka Manijau terkendala
oleh konflik sektoral antara usaha ternak keramba dan pengembangan
pariwisata. Merebaknya usaha keramba sampai puluhan meter ke tangah
danau dan berjejer rapat ddari arah Pasir Panjang hingga ke koto Kaciak
(bahkan ke dekat Muko-muko), membuat pantai Danau Maninjau tidak lagi
indah dan kawasan rekreasi air tidak bisa dikembangkan. Padahal, menurut
pengamatan saya, Danau Maninjau adalah salah satu dari sedikit danau
terindah di dunia. (Kalau di Indonesia, sudah pasti yang terindah!). 
Saya yakin, kalau perekonomian Salingka Maninjau diarahkan (difokuskan)
ke Pariwisata, masih tersedia pasar pengunjung yang cukup besar walaupun
kita batasi dengan ketentuan yang ketat agar tidak menampung wisatawan
porno aksi. Sebab, potensi wisatawan rombingan dari Asia Timur (Jepang,
Korea, Taiwan, Hongkong), apakah itu pekerja aktif maupun para
pensiunan, masih cukup besar. Maninjau dan Sumbar bisa kita buat berbeda
dengan Bali, yang pengunjung terbesarnya adalah para ABG dari Australia
yang menyukai tempat-tempat dugem dan bebas. Belum lagi kita bicara
potensi wisatawan domestik.
Selagi model perekonomian Salingka Maninjau dicirikan oleh konflik
sektoral, saya yakin ekonomi lokal di sini tidak akan berkembang.
apalagi, kalau benar peternak ikan keramba akan selalu menghadapi siklus
keluarnya gas beracun dari dasar danau.
Salam,

Andrinof A Chaniago



2009/1/7 Zulkarnain Kahar <[email protected]>

Tarimo kasih atas penjelasannya Z,

 

Jauh sebelum ada karamba semua masyarakat maninjau sudah tahu adanya
hari "tubo" ini dimana banyak ikan ikan yang mati akibat belerang yang
keluar dari danau yang tercipta oleh gunung api ini. Termasuk saya
dulupun pernah berlomba menjaring ikan ikan ynag setengah hidup ini
dengan mudah.

 

Masyarakat  yang berkaramba PASTI SUDAH TAHU akan konsekuensi ini.
Jangan sampai sudah tahu bertanya pula dan mengadu pula ke Presiden malu
rasanya badan ini. Kalau berani membuat rumah ditepi pantai kenapa takut
dikunjungi tsunami.

 

Akhirnya apapun kegiatan kita ada konsekuensinya.

 

Wassalam

Zulkarnain Kahar  50+ 

Houston Texas


--- On Wed, 1/7/09, Z Chaniago <[email protected]> wrote:

        From: Z Chaniago <[email protected]>
        Subject: [...@ntau-net] Re: racun belerang di maninjau
        To: [email protected]
        Date: Wednesday, January 7, 2009, 1:54 AM

         

        Assalamu'alaikum Ww

         

        ...Mamak rumah IJP...., aha kampuang si Z ko mah...

         

        iko babarapo tambahan dari ambo :

         

        a. Sabalun usao karamba mulai marak di sakuliliang danau
Maninjau (medio 90-an), nan namonyo tubo pacah balerang itu marupokan
kejadian nan 'biasa-nya' akan terjadi pado musim angin darek...., dan
biasonyo ampia tiok tahun ado musin angin tsb. Dan jikok lah musim angin
dan mulai mengaduk permukaan aia danau , maka 'belerang' yang ada di
dasar danau akan teraduk dan naiak ka permukaan danau sahinggo akan
mambuek ikan-ikan 'nonoy' dan bahkan mati.

         

 

 





--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke