Prof Gusti, saya forward wacana mengenai Pagaruyung di RantauNet. Mudah-mudahan ada manfaatnya dalam penyusunan buku Sejarah Minangkabau yang kita rencanakan. Kelihatannya Sejarah Minangkabau perlu kita susun dalam dua tataran, yaitu tataran nagari sebagai infrastruktur yang tumbuh dari dalam, dan tataran kerajaan-kerajaan sebagai suprastruktur yang datang dari luar. Uniknya, hubungan antara kedua tataran ini tidak demikian jelas, sampai sekarang.
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta) Alternate e-mail address: [email protected]; [email protected] --- On Sat, 1/17/09, arman bahar <[email protected]> wrote: From: arman bahar <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Info Silsilah kerajaan Sumatera Barat - sebuah opini To: [email protected] Date: Saturday, January 17, 2009, 11:34 AM Assalamualaikum ww Setuju tuak DEP Adityawarman kembali pulkam di era Tribhuana Tungga Dewi Awalnya beliau memang bukan lari karena kejaran Mojopahit namun kemudian setelah dia mendeklarasikan diri sebagai Maharaja Diraja Kerajaan Melayu dipedalaman pulau Sumatera jadilah dia sebagai "Wanted" Kita mundur kezaman tewasnya raja Singosari Prabu Kertanegara dikudeta Jayakatwang hingga Raden Wijaya yang kemenakan sekaligus menantu Kertanegara ngungsi ke Madura setelah situasi pulih sejalan kedatangan pasukan Mongol Khubilai Khan, Raden Wijaya mendirikan kerajaan Mojopahit disusul kembalinya Panglima Ekspedisi Pamalayu Mahesa Kebo Anabrang yang membawa 2 orang putri Melayu dari Kerajaan Melayu Damarsraya Dara Petak dan Dara Jingga yang kedua putri ini bersama 3 putri Kertanegara lain-nya diperistri Raden Wijaya Dari 4 putri Kartanegara Raden Wijaya memperoleh anak putri semua yang salah satunya Tribhuana Tungga Dewi raja Mojopahit ke 3 sementara dari Dara Petak seorang anak laki2 Raden Kala Gemet kemudian dikenal sebagai Prabu Jayanegara raja Mojopahit ke 2 dan dari Dara Jingga seorang anak laki2 Raden Klebet alias Raden Aji Mantrolot yang kelak dikenal sebagai Adhityawarman Menjelang suksesi terjadi persaingan ketat sesama kelompok pendukung ibu suri yang dimenangkan oleh kelompok Dara Petak yang berhasil mengantarkan anaknya Raden Kala Gemet sebagai putra mahkota sementara ibu suri lain memendam kesumat cemburu dan harus puas diposisi kelas 2 dilingkungan istana sedangkan Dara Jingga yang kelak dalam tambo kita kenal sebagai "Bundo Kanduang" lebih memilih pulkam ke Damarsraya menggantikan posisi sang ayahanda yang memilih bersepi diri diruang khusus hingga akhir hayatnya Adhityawarman muda melejit kepuncak karirnya bersama Gajah Mada yang mulanya hanya komandan pasukan kawal istana, bersama2 mereka memadamkan pembrontakan demi pembrontakan dan ekspansi kewilayah lainnya Setelah Tribhuana Tungga Dewi naik tahta menggantikan Jayanegara, Adhityawarman mulai merasa dikucilkan dilingkungan istana dan ranah politik selanjutnya mengalihkan perhatian kekampung halaman dipedalaman Sumatera setelah mendapat restu "Bundo Kanduang Dara Jingga" di Damarsraya, Adhityawarman naik nobat sebagai Maharaja Diraja Kerajaan Melayu dan memilih Saruaso sebagai pusat pemerintahannya Pemerintah pusat Mojopahit menganggap Adhityawarman telah melakukan pembrontakan namun semua serangan tentara pusat dapat dipatahkan, pertempuran terbesar terjadi dimasa anak beliau Anaggawarman tepatnya di Padang Sibusuak Jadi suai ambo jo datuak DEP bahwa Adhityawarman kembali ke Tanah Melayu di era Tribhuana Tungga Dewi yang sebenarnya adalah juga kakak perempuan beliau se-ayah berlain ibu Berawal dari rasa risih melihat kehidupan beragama anak negeri, aktifis da'wah kaum puritan terpanggil untuk meluruskan kembali hanya saja dalam proses selanjutnya sebanyak yang siap menerima perobahan sebanyak itu pula status quo bahkan ketika dunia sekelilingnya telah banyak berubah sebagian mereka yang tersisa betah bertahan bahkan hingga titik darah terakhir ketika perubahan itu sendiri melindas dan melumat mereka Jadi benar mak datuak DEP sulit memastikan pertelegahan itu apa lawan apa kecuali yang terlihat adanya suatu proses menuju sebuah perubahan dan prahara Istano Basa Pagaruyuang hanya dampak yang timbul dari perubahan itu sendiri Wasalam armansamudra 2009/1/16, Datuk Endang <[email protected]>: Sanak Arman Bahar yth. Saya mendahului Ibu Hifny untuk ingin menyampaikan sedikit tanggapan terhadap opini sanak sbb: --- On Fri, 1/16/09, arman bahar <[email protected]> wrote: Assalamualaikum ww Setuju dengan sanak Hifni Minangkabau bisa juga kita lihat sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum adat bahkan lebih luas lagi bahwa Minangkabau itu adalah nama dari sebuah etnis yang ada di Indonesia dengan budaya, bahasa, kawasan dan nama suku bangsa dengan sebutan yang sama juga yaitu Minangkabau Orang Minang menamakan negerinya Alam Minangkabau yang pada awalnya difahami lebih luas dari propinsi Sumatera Barat sekarang namun pada beberapa kasus tertentu pemahaman ini semakin menciut karena Alam Minangkabau itu telah difahami oleh generasi terkini sebagai wilayah Sumatera Barat saja padahal jika ingin lebih net lagi Kepulauan Mentawai tidak termasuk didalamnya Sejak telah dimekarkannya Propinsi Sumatera Tengah 1959 menjadi propinsi Sumbar, Jambi dan Riau semakin mempertegas pemahaman ini bahwa kita telah dipaksa menciutkan Alam Minangkabau dengan melepaskan "Rantau Pasisia Laweh" Riau daratan dan sebagian lagi berada di Jambi dan Bengkulu Dengan bergulirnya Otonomi Daerah, melalui intervensi tangan2 tertentu lewat jalur pemda, rakyat ex Alam Minangkabau di Sebagian besar Riau Daratan tidak lagi memahami diri sebagai orang Minang tetapi dengan identitas baru sebagai "Orang Melayu Riau" bahkan lebih detil lagi ada yang menamakan diri sebagai Orang Melayu Luhak Tambusai, Melayu Kuantan dan Melayu Kampar Topografi kawasan Minangkabau dilintasi Bukit Barisan memanjang dari utara ke selatan pulau Sumatera dan jalur dataran rendah yang sempit menghadap ke Samudra Hindia serta dataran rendah yang luas tempat bermuaranya sungai2 besar di propinsi Riau dan Jambi yang berhulu dari dataran tinggi Sumatera Barat Setuju dengan sanak Hifni bahwa sebagai sebuah kerajaan harus jelas ada batas teritorial, ini terlihat dengan menempatkan kerabat bertali darah Rajo Alam Pagaruyuang didaerah Rantau Minangkabau yang saat ini bekas2nya masih bisa kita kunjungi seperti Istano Rajo Gunung Sahilan di Kampar Kiri Kabupaten Kampar Riau dan Istano Rajo Rokan Ampek Koto di Rokan Tinggi Kabupaten Rokan Hulu Riau serta Istano Rajo Tuan Gadih di Kabupaten Kuantan Singingi Riau Masih banyak lagi Istano Rajo sebagai wakil Rajo Alam Pagaruyuang di Riau bahkan banyak diantaranya yang perlu direhabilitasi dan dilestrikan namun karena ketiadaan dana terpaksa dibiarkan apa adanya, kan tidak mungkin menunggu kucuran dana dari pusatnya Istano Basa Pagaruyuang apatah lagi dari Pemda Sumbar Ada memang untuk beberapa istana mendapat bantuan pemda yang kadang hasil renovasi itu tentu disesuaikan dengan selera pemberi dana sehingga tidak jarang identitas ke-Minangkabau-an dihilangkan bahkan diganti dengan yang lain Adanya power atau kekuatan untuk melawan hegemoni asing tentu juga terlihat seiring dengan siklus turun naik sebuah kerajaan dari dekade ke dakade, lihat saja ketika pasukan Minangkabau dizaman pemerintahan Adityawarman dan anaknya Ananggawarman sering terlibat pertempuran sengit melawan pasukan Mojopahit yang dikuasai Tribhuana Tungga Dewi saudara se-ayah Adityawarman Adityawarman hengkangnya dari Mojopahit ke Pedalaman Sumatera setelah saudara se-ayahnya Raden Kala Gemet Prabu Jayanegara mangkat, lalu mendirikan kerajaan Melayu di Saruaso setelah mendapat restu ibunya Dara Jingga yang bersemayam di Istana Damarsraya Sijunjuang =DEP Sepengetahuan saya Adityawarman kembali ke Melayu pada era Tribhuana Tungga Dewi. Beliau baru menyelesaikan Ekspedisi Pabali (sekitar 1346), dan jabatannya pada masa itu adalah Panglima Tertinggi Majapahit. Perpindahan ke Saruaso bukan karena lari dari kejaran Majapahit, tapi petunjuk ilham dan ekspektasi kehidupan. Sebuah posting pernah saya sampaikan dulu. Penyerangan Majapahit ke Minangkabau baru terjadi pada era anak Adityawarman. Termasuk menjawab tentang posisi Minang-Siak-Johor-Aceh, dan tambahan. Mendirikan Kerajaan Melayu di Saruaso dianggap sebagai sebuah pembrontakan yang mesti diperangi, berikutnya Padang Sibusuak di kabupaten Sawah Lunto Sijunjuang sebagai saksi sejarah betapa dahsat pertempuran disitu hingga begitu banyak prajurit kedua belah fihak yang gugur tanpa ada yang mengurus sehingga daerah tersebut berbulan2 berbau busuk sehingga negeri ini dinamakan Padang Sibusuak Begitu juga ketika pasukan Aceh menduduki Pesisir Timur Sumatera, bekerjasama dengan sang besan raja kerajaan Johor pasukan Pagaruyuang berhasil menghalau tentara pendudukan Aceh sehingga pesisir ini bebas dari hegemoni asing dan selanjutnya Rajo Alam Pagaruyuang menempatkan Raja Kecil (Rajo Kociak) sebagai raja Siak Sri Indrapura pertama selanjutnya lalu lintas orang Minang dari Pagaruyuang – ke Semenajung Tanah Melayu terutama ke Negeri Sembilan lancar kembali Sebelumya Raja Kecil yang berbapa Raja Johor beribu putri Istano Pagaruyuang seharusnya menggantikan tahta ayahnya, dikudeta sang paman yang tidak rela tahta Raja Johor jatuh ketangan Rajo Kociak yang itung2nya masih kerabat Pagaruyuang, Raja Kecil ngungsi ke Istana Pulau Penyengat Tanjung Pinang Riau Kepulauan terakhir di Istana Melayu Lingga sebelum dijemput Datuak nan barampek untuk ditahtakan di Siak Ada hal menarik ketika sebagian besar pasukan Pagaruyuang kembali ke pusat terdapat sebagian dari mereka yang memilih tetap berada Siak, mereka yang tinggal ini kemudian diberi wilayah bermukim yang sekarang anak keturunan-nya tersebar disekitar Kabupaten Siak dan Bengkalis Riau yang disebut sebagai Suku Sakai (wallahulam perlu penelitian lebih lanjut) Jadi syarat minimal Minangkabau sebagai sebuah kerajaan sudah terpenuhi, dan perlu kita ingat bahwa Kerajaan Melayu Minangkabau ini adalah kerajaan terbesar, pertama dan terakhir serta satu2nya yang pernah ada di Sumatera bagian tengah walau kemudian ada beberapa kerajaan kecil disekitarnya seperti kerajaan Siak, Gasib, Tambusai etc namun pengaruhnya tidak sampai kepedalaman Sumatera hanya dekat situ saja sebaliknya Kerajaan Melayu Pagaruyuang ini pengaruhnya melintasi selat Malaka di Negeri Sembilan Dengan semakin melemahnya kontrol Pagaruyuang terhadap daerah rantaunya terlebih semakin menguatnya pengaruh Aceh dipesisir barat beberapa raja2 rantau tersebut mejalani untuang surang2 nasib baik ada yang berkembang sebagai Bandar pelabuhan seperti kerajaan Tiku, Pariaman dengan rajanya yang terkenal sebagai Nan Tongga Magek Jabang dan Indopuro dipesisir selatan Baik Kerajaan2 kecil seperti Siak Sri Indrapura dipesisir timur, Tambusai maupun Indropuro dipesisir barat dan kerajaan2 kecil lain-nya semua orang tahu bagaimana hubungan vertikalnya ke Pagaruyuang Kerajaan Melayu Pagaruyuang semakin ciut terlebih setelah masuknya penjajah asing, raja2 di rantau lepas kendali dari pusat dan hidup mengurus diri masing2 namun hubungan batali darah dengan pagaruyuang tetap sebagai kebanggaan Akhirnya kerajaan ini lenyap setelah huru hara berdarah dan terbakarnya istana ketika terlibat pertelegahan sesama saudara sendiri yang puritan dan reformis berfaham Wahabi yang risau melihat kehidupan beragama anak negeri, kaum adat dan kaum feodal jauh dari semestinya DEP: Point ini harusnya dinilai dengan mereka-reka posisi pada masa itu, apa lawan apa : Ulama (Paderi) vs Kerajaan dan Kaum Adat , atau Paderi vs Kerajaan vs Adat, atau Kerajaan vs Paderi dan Adat ? Mudah-mudahan dapat ditemukan polanya. Wasalam Armansamudra Wassalam, -datuk endang --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
