Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
 
Sambil terus 'berminang-minang', izinkan saya meminta perhatian kita sejenak 
terhadap kejahatan perang Belanda dalam tahun 1947 terhadap penduduk sipil 
kita, di desa Rawagede, Bekasi.
 
Saya bersyukur masih ada sekelompok kaum idealis dan humanis pembela hak asasi 
manusia yang secara gigih membela rakyat kecil ini, tanpa pamrih.
 
Berita terakhir dari KUKB ini menjelaskan bahwa kedutaan Belanda akhirnya 
berlaku berperilaku lebih baik terhadap janda para korban ini, yang dapat 
diperkirakan sebagai respons terhadap kegigihan para pejuang hak asasi manusia 
ini.


Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [email protected];
[email protected]


Upaya (politis?) Menlu Belanda bertemu muka
janda-janda korban tragedi Rawagede 1947
Jakarta, 20 Januari 2009 #  Ref. No.: 001-KUKB/PR/RG/0109.
Oleh : Sekretariat KUKB ([email protected])
 
KUKB-Jakarta,- Menlu Belanda Mr. Maxime Verhagen, beserta jajaran petinggi LN 
Belanda, dalam kunjungan resminya ke Indonesia tanggal 13-17 Januari 2009 
mengagendakan bertatap muka dengan korban dan para janda-2 korban tragedi 
pembantaian ”Agresi Militer” Belanda 9 Des. 1947 di Rawagede. Pembantaian, yang 
menelan 431 korban sipil non kombatan secara keji dan biadab. Pembantaian 
tentara Belanda itu, hanya layak dibandingkan kejadian ”Agresi Militer” zionis 
Israel. Zionis Israel menghabisi nyawa korban sipil sebanyak 400 jiwa dalam 
waktu dibawah 4-5 hari agresinya. Di Rawagede tentara Belanda membantai 431 
jiwa warga sipil tidak bersenjata, hanya dalam kurun waktu setengah hari saja.
 
Pertemuan Menlu Belanda dengan para janda-2 tersebut pada Rabu 14 Januari 2009, 
seharusnya merupakan "peristiwa bersejarah". Pertemuan sebagai realisasi 
pertanyaan sekaligus desakan yang diajukan oleh Mr. Harry van Bommel, anggota 
Parlemen dari Partai Oposisi di Belanda. Desakan inilah yang membuat Menlu 
menjanjikan akan bertemu muka dengan Para Korban saat berkunjung di Indonesia. 
Janji inipun dilaksanakan oleh Menlu Belanda dengan cara menjemput para janda-2 
untuk bertemu muka dengannya di Kedutaan Besar Belanda. Hanya patut 
disayangkan, pertemuan dilaksanakan dengan cara-cara yang tidak pantas dan 
bahkan "memilukan hati" segenap insan yakni pengurus Yayasan Rawagede, Pemda 
dan khususnya pihak KUKB yang telah bertahun-tahun lamanya melakukan perjuangan 
tak henti-hentinya dalam "Membela Martabat Bangsa Indonesia".. 
 
Diawali dengan kedatangan seorang "utusan" dari Kedutaan Besar Belanda menemui 
Bapak Saih (87), selaku "satu-satunya Korban Selamat yang masih hidup". Dari 
penuturan Bapak Saih, "utusan" ini memberitahukan akan adanya rencana pertemuan 
pada hari Rabu 14 Januari 2009 dengan Menteri Luar Negeri Belanda dan agar Pak 
Saih bisa datang ke Jakarta dan menginap di sebuah Hotel yang telah 
dipersiapkan pihak Kedutaan. Utusan Kedutaan meminta kepada Bapak Saih agar 
"rencana pertemuan jangan diberitahukan kepada siapapun", baik kepada pihak 
Yayasan Rawagede, Pemda, KUKB atau siapapun juga. Sikap ini membuat Bapak Saih 
"ketakutan", dikarenakan Bapak Saih teringat kembali sewaktu di jaman 
penjajahan Belanda tahun 1947. Pada saat itu Tentara Belanda sering melakukan 
"penculikan terhadap para Pejuang". Ketika hari berikutnya utusan datang 
kembali ke Rawagede, Bapak Saih tidak bersedia untuk ikut ke Jakarta, tetapi 
meminta agar utusan Kedutaan menemui terlebih dahulu
 pengurus Yayasan Rawagede. Sesudah mendapat lampu hijau dari pengurus Yayasan, 
utusan Kedutaan Belanda menemui kembali para janda-2 korban sambil mengatakan 
besok akan menjemput mereka bertolak ke Jakarta. 
 
Pengurus KUKB selaku Penerima Kuasa para korban Rawagede untuk mewakili dalam 
perundingan dengan Pemerintah Belanda, juga di informasikan oleh pengurus 
Yayasan Rawagede akan adanya pertemuan ini. Informasi yang diperoleh Pihak 
pengurus KUKB, pertemuan semula akan di laksanakan di sebuah Hotel sekitar 
Senayan, pada hari Rabu 14 Januari 2009 sekitar jam 17.00 WIB. 
 
Ternyata benar, Rabu 14 Januari 2009 jam 13.00 WIB, "utusan" Kedutaan Besar 
Belanda datang ke Rawagede menjemput 3 janda-2 korban Tragedi Rawagede, mereka 
adalah Ibu Wanti binti Sariman, Ibu Wanti binti Dodo, dan Wisah binti Silan. 
Para janda-2 ini didampingi pengurus yayasan Rawagede, yaitu Wawan Darmawan 
(Pjs. Ketua), Iwa Sarkiwa (mewakili KUKB), dan Suryadi (Anggota Pengurus 
Yayasan). Sesuai informasi awal dari pengurus yayasan rawagede atas rencana 
pertemuan, maka Pengurus KUKB, Dian Purwanto dan Batara R. Hutagalung menunggu 
di salah satu hotel di Senayan.
 
Sore, jam 16.05 WIB, Tanpa pemberitahuan kepada pengurus KUKB, pertemuan 
ternyata tiba-tiba dirubah. Pengurus Yayasan Rawagede memberi kabar via HP 
kepada Pengurus KUKB bahwa rombongan para janda-2 telah sampai di Kedutaan 
Besar Belanda, Kuningan dan bukan menuju kesebuah hotel disekitar Senayan yang 
direncanakan semula. 
Mendengar kabar itu, ketua KUKB, Dian Purwanto dan pendiri KUKB, Batara R 
Hutagalung segera meluncur secepatnya ke Kedutaan Besar Belanda yang berlokasi 
di Kuningan. 
 
Sesampai di depan Kedutaan Besar Belanda, diperoleh keterangan, bahwa para 
janda-2 dan pengurus Yayasan sedang berada di Erasmushuis. Pada saat itu, 
Handphone seluruh pengurus yayasan tidak bisa dihubungi. Baru kemudian 
diketahui, bahwa handphone pengurus yayasan telah diminta untuk dimatikan oleh 
pihak staf Kedutaan Belanda. Pengurus KUKBpun segera melangkah ke Erasmuis dan 
berupaya mencari para janda, namun ternyata tidak diketemukan. Di Erasmushuis, 
Pengurus KUKB meminta bantuan Bpk. Alex Kofman, Staf Bidang Politik Kedutaan 
Belanda untuk mencari tahu dimana keberadaan para janda berikut permintaan 
pengurus KUKB (selaku Kuasa para janda-2 korban) agar dapat mendampingi para 
janda-2 korban bila bertemu/berunding dengan pihak-pihak dari Belanda.
 
Jam 17.00 WIB, Alex Kofman memberitahukan kepada pengurus KUKB bahwa para janda 
telah berada di Ruang Kerja Duta Besar dan sedang bertemu muka dengan Menlu 
Belanda yang didampingi Dubes Belanda dan untuk permintaan KUKB agar dapat 
mendampingi para janda "di tolak" oleh Menteri Luar Negeri dengan alasan 
keterbatasan waktu. Dian Purwanto, selaku Ketua KUKB segera menunjukkan surat 
Kuasa yang berisi Kuasa untuk mewakili korban dan para janda korban Rawagede 
untuk berunding dengan pemerintah Belanda dan atau yang mewakilinya. Setelah 
surat disampaikan kepada Menteri Luar Negeri, maka disikapi Menteri Luar Negeri 
Belanda dengan mengutus Delegasi Menlu Belanda yang dipimpin oleh Dirjen 
Politik,  Pieter de Goojijer yang  didampingi oleh Mr. Karel Hartogh, Wakil 
Direktur Wilayah Asia dan Oseania, dan Mr. Paul Ymkers, Kepala Bidang Politik 
Kedutaan Belanda, dan seorang Sekretaris Dirjen untuk melakukan pertemuan 
dengan pengurus KUKB.
 
Pada saat bersamaan para janda-janda melakukan tatap muka dengan Menlu Belanda 
dan Duta Besar Belanda, yang hanya didampingi seorang penterjemah bahasa Sunda 
yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh pihak Kedutaan Belanda, yaitu M.Y.D. 
Jonathan-Loppies yang akrab dipanggil Ibu Thea. Dalam pertemuan yang bersejarah 
ini, sangat disayangkan Menteri Luar Negeri hanya sebatas mendengar 
cerita-cerita tragedi pembantaian yang mengakibatkan terbunuhnya suami-suami 
mereka atas Agresi Militer Belanda tahun 1947. Pertemuan berlangsung sekitar 25 
menit kemudian para janda turun menemui Pengurus Yayasan Rawagede yang menurut 
pengakuannya diminta menunggu diruang "dapur" Kedutaan. Didapur Kedutaan ini 
para janda-2 dan pengurus yayasan beristirahat sejenak, diberi hanya makan 
pisang goreng dan minum secangkir kopi sebelum diantar pulang ke Rawagede.   
 
Menurut Ketua KUKB, ”sangat disayangkan, pertemuan bersejarah antara Menlu 
Belanda dengan para janda-2 korban rawagede tersebut, seolah-olah sebatas hanya 
mengikuti keinginan Parlemen Belanda, agar menemui para janda-2 korban. 
Tindakan ini tidak hanya menggunakan cara-cara yang kurang pantas, dengan cara 
menyuruh utusannya untuk "tidak memberitahukan" rencana penjemputan kepada 
siapapun, baik Yayasan, Pemda Karawang ataupun pihak KUKB. Menlu menggunakan 
kesempatan bertemu janda para korban hanya untuk kepentingan politik 
Kementerian Luar Negerinya semata demi untuk memenuhi permintaan Mr. Harry van 
Bommel, anggota Parlemen Belanda, dengan tidak mengindahkan kondisi badan para 
janda-2 yang sudah berumur diatas 80 tahun”.
 
Menurut Ketua KUKB, apakah ini bentuk "mental goedkoop mentaliteit Belanda" dan 
apakah pantas bagi para janda-2 yang sudah berusia diatas 83 tahun, melakukan 
perjalanan pulang dan pergi Jakarta – Rawagede yang harus ditempuh @ 2.5 jam 
atau total hampir 5 jam lamanya pp, hanya dengan suguhan Pisang Goreng dan 
secangkir kopi? Sesudah pertemuan usai dengan Menlu Belanda, merekapun oleh 
"utusan" Kedutaan Belanda, tidak diberi kesempatan untuk bertemu dengan 
Pengurus KUKB guna bersama mencari restoran untuk makan malam, namun langsung 
diminta untuk diantarkan pulang ke Rawagede saja. Saat diperjalanan menuju ke 
Rawagade pun, pengurus KUKB sudah menghubungi HP pengurus Yayasan untuk meminta 
"utusan Kedutaan" agar mobil sewaan Kedutaan berputar kembali bertemu pengurus 
KUKB yang telah selesai melakukan rapat dengan delegasi Menlu Belanda. Namun 
apa daya permintaan inipun tidak disetujui oleh "utusan" didalam mobil sewaan 
Kedutaan, sehingga mobil dengan para
 janda-2 dan pengurus Yayasan Rawagede terus saja meluncur ke Rawagede. Inilah 
puncak bentuk suatu tindakan yang diluar batas kewajaran dan kesopanan.
 
Pertemuan pengurus KUKB berlangsung sejak jam 17.20 s/d. 18.30 atau lebih dari 
1 jam dengan delegasi Menlu Belanda, hanya berisikan perdebatan sengit tentang 
"Surat Terbuka" yang pernah disampaikan pihak KUKB kepada Menlu Belanda melalui 
pihak Kedutaan Belanda.
 
            Informasi yang diperoleh Ketua KUKB dari para janda-2 korban pada 
keesokan harinya, ternyata pertemuan dengan Menlu & Duta Besar Belanda, cuma 
sekedar upaya Menlu Belanda dapat mendengarkan cerita kejadian-2 pembantaian 
pada tahun 1947 di rawagede, dengan diselingi canda tawa, namun ternyata 
berakhiran hampa. Jangankan sebuah ”perhatian” dari sebuah pertemuan dengan 
seorang sekaliber Menlu, dari sejak penjemputan jam 13.00 (siang) di rawagede 
hingga pulang kembali sekitar jam 21.00 (malam) ke rumah para janda-2 korban di 
rawagede, ternyata para janda-2 yang telah berusia uzur diatas 80 tahun ini, 
beserta rombongan pengantar, tidak diberikan jatah (bahkan kesempatan) untuk 
dapat makan siang maupun malam.. Ataupun kemungkinan sekedar uang lelah ala 
kadarnya, alhasil melakukan perjalanan pulang pergi Rawagede-Jakarta (total 5 
jam perjalanan p.p.) yang begitu melelahkan dan membosankan, dan ini demi untuk 
tujuan "politis"
 pihak-pihak Kementerian Luar Negeri Belanda dan para delegasi serta pihak 
terkait Belanda lainnya???
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke