Waalaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh, Pak Tuo Saafroedin Bahar, Memang terkadang memilukan kisah2 rakyat badarai ini ya Pak Tuo. Sewaktu masih kecil ketika nenek saya masih hidup, sering kali bercerita tentang menantunya yang dibawa kabur oleh Tentara Soekarno, sewaktu perang PRRI Sekitar tahun 1960 suami beliau ini harus melapor ke kantor Kodim di Bukittinggi yang dulunya bernama Batalyon Lapangan Kantin BUkittinggi. Nah, ketika hari itu harus melapor, suami beliau ini lagi sakit jadi digantikan oleh beliau untuk melapor ke Kantor Batalyon ini. Nenek saya mengantarkan berdiri menunggu di luar kantor, namun sampai siang belum juga menantunya ini keluar2 dari kantor tersebut. Ditanya2 ke tentara yang ada disitu, mereka bilang Ibuk Mardiana (nama beliau) sudah keluar dari tadi, padahal nenek tak beranjak dari pintu masuk kantor sebab takut terjadi apa2 sama menantunya itu. Nenek terus bertanya tanya ke semua tentara yang ada di depan kantor itu, mereka bilang si Ibuk yang melapor sudah pergi. Padahal anaknya yang masih balita masih dipangkuan nenek. Akhirnya nenek pulang dengan hati remuk dan mengabarkan ke semua sanak famili. Beberapa waktu setelah itu, keluarga tetap melakukan pengecekan dan pencarian namun sampai tentara Soekarno pergi dari Bukittinggi dan bahkan sampai sekarang Ibu Mardiana ini tidak diketemukan lagi. Anak beliau satu2nya sekarang ini bekerja jadi perawat di Rumah sakit Payakumbuh. Menurut perkiraan saya, jika betul2 di selidiki dan dilacak, barangkali InsyaALLAH bisa diketemukan, namun rakyat badarai yang ketakutan.. apalah daya... Menurut cerita nenek, Ibuk Mardiana ini adalah yang paling manis di kampung kami dan cerita ini saya dapatkan juga dari beberapa orang tua dikampung kecil kami di Tilatang Kamang desa Kaluang Tapi Bukittinggi sana. JIka masih hidup umur beliau sekarang sama dengan Pak Tuo Saaf.
Wassalam Rina,32, batam ________________________________ Dari: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> Kepada: Rantau NET <[email protected]> Cc: Komite Utang Kehormatan Belanda <[email protected]>; Ifdhal KASIM <[email protected]>; Ridha Saleh <[email protected]>; Hesti AMARWULAN <[email protected]> Terkirim: Kamis, 22 Januari, 2009 03:51:02 Topik: [...@ntau-net] SERI NAN DI LUA TAMPURUANG 43: KEJAHATAN PERANG BELANDA DI RAWAGEDE, BEKASI, 1947 Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta, Sambil terus 'berminang-minang', izinkan saya meminta perhatian kita sejenak terhadap kejahatan perang Belanda dalam tahun 1947 terhadap penduduk sipil kita, di desa Rawagede, Bekasi. Saya bersyukur masih ada sekelompok kaum idealis dan humanis pembela hak asasi manusia yang secara gigih membela rakyat kecil ini, tanpa pamrih. Berita terakhir dari KUKB ini menjelaskan bahwa kedutaan Belanda akhirnya berlaku berperilaku lebih baik terhadap janda para korban ini, yang dapat diperkirakan sebagai respons terhadap kegigihan para pejuang hak asasi manusia ini. Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta) Alternate e-mail address: [email protected]; [email protected] Upaya (politis?) Menlu Belanda bertemu muka janda-janda korban tragedi Rawagede 1947 Jakarta, 20 Januari 2009 # Ref. No.: 001-KUKB/PR/RG/0109. Oleh : Sekretariat KUKB ([email protected]) KUKB-Jakarta,- Menlu Belanda Mr. Maxime Verhagen, beserta jajaran petinggi LN Belanda, dalam kunjungan resminya ke Indonesia tanggal 13-17 Januari 2009 mengagendakan bertatap muka dengan korban dan para janda-2 korban tragedi pembantaian ”Agresi Militer” Belanda 9 Des. 1947 di Rawagede. Pembantaian, yang menelan 431 korban sipil non kombatan secara keji dan biadab. Pembantaian tentara Belanda itu, hanya layak dibandingkan kejadian ”Agresi Militer” zionis Israel. Zionis Israel menghabisi nyawa korban sipil sebanyak 400 jiwa dalam waktu dibawah 4-5 hari agresinya. Di Rawagede tentara Belanda membantai 431 jiwa warga sipil tidak bersenjata, hanya dalam kurun waktu setengah hari saja. Pertemuan Menlu Belanda dengan para janda-2 tersebut pada Rabu 14 Januari 2009, seharusnya merupakan "peristiwa bersejarah". Pertemuan sebagai realisasi pertanyaan sekaligus desakan yang diajukan oleh Mr. Harry van Bommel, anggota Parlemen dari Partai Oposisi di Belanda. Desakan inilah yang membuat Menlu menjanjikan akan bertemu muka dengan Para Korban saat berkunjung di Indonesia. Janji inipun dilaksanakan oleh Menlu Belanda dengan cara menjemput para janda-2 untuk bertemu muka dengannya di Kedutaan Besar Belanda. Hanya patut disayangkan, pertemuan dilaksanakan dengan cara-cara yang tidak pantas dan bahkan "memilukan hati" segenap insan yakni pengurus Yayasan Rawagede, Pemda dan khususnya pihak KUKB yang telah bertahun-tahun lamanya melakukan perjuangan tak henti-hentinya dalam "Membela Martabat Bangsa Indonesia". - Firefox 3: Lebih Cepat, Lebih Aman, Dapat Disesuaikan dan Gratis.http://downloads.yahoo.com/id/firefox --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
