Assalamuálaikum Wr. Wb.
Sanak Iwan, salam kenal dari ambo, semoga ALLAH SWT selalu menyertai langkah 
sanak dalam beraktifitas sehari-hari. Amin Ya Rabbilálamin!
 
Tidak hanya itu, semasa krisis sektor UKM ini juga dibangga2kan menjadi 
penyelamat krisis, namun sampai saat ini belum ada program pemerintah yang 
secara serius dan commit membantu. Kalaupun ada alokasi yang digembar-gemborkan 
selama ini, akses memperolehnya pun sangat tidak mudah, ditambah ada Rp 747 
trilyun saat ini ngendon di Bank Indonesia. Sementara itu, untuk sekelompok 
orang yang telah dijadikan konglomerat modal dengkul selama Orde Baru dan 
berkontribusi merusak ekonomi dan krisis, secara berkelanjutan terus dibantu.
Saat ini, ada program PPK dan P2KP (saat ini PNPM Mandiri) yang telah mulai 
sejak Tahun 1998 untuk membantu masyarakat miskin di perdesaan dan perkotaan, 
secara internasional telah diakui keberhasilannya, namun semua program dan 
kegiatannya didanai dari utang ke Bank Dunia. Saya heran rupiah ada, eh malah 
utang...bukankah sebaiknya utang diarahkan bagi kegiatan pembangunan pada 
sektor-sektor ekonomis yang profit centrenya langsung pada negara? Anehnya 
sektor2 ini sekarang didominasi oleh pihak asing....
 
Demikian dulu sanak, semoga kita dapat bersilaturrahmi
 
Wassalam
Defiyan Cori L/41, Pejaten Jaksel,asli Solok

--- On Wed, 1/21/09, iwan piliang <[email protected]> wrote:

From: iwan piliang <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: WAPRES DATANG PKL KEHILANGAN NAFKAH.
To: [email protected]
Date: Wednesday, January 21, 2009, 8:31 PM



Salam,
 
Di saat krisis dunia kini, Indonesia seakan blank dalam pengamatan ekonom 
asing. Sulit ditebak. Salah satu kekuatan ekonomi Indonesia, dari dulu, adalah 
sektor informal yang pantang menyerah. Dan, bukan suatu onani, bila  di 
lapangan, sektor informal yang pantang menyerah itu dominan dilakukan urang 
awak.
 
Pedagang kaki lima, serbuah kekayaan  berdagang, budaya Minang.  Jika di Ranah 
Minang sendiri PKL dibuat macam, maaf, binatang, itulah fakta bahwa bukan 
saja kebudayaan Minangkabau sudah kehilangan roh, tetapi lebih jauh lagi  
peradabannya sudah pah-poh: tidak tahu mana yang aset dan mana yang sampah.
 
Jernihnya, pemimpin  yang tidak pro warga, tidak pro rakyat: INILAH YANG 
SAMPAH,. Bukan sebaliknya. Maaf agak keras, karena kini saatnya bicara jernih 
di tutur maupun  di hati.
 
Ini saya menulis soal Pasar dan Kaki lima, jika berminat dunsanak baca, 
kebetulan menang dalam sebuah lomba blog: 
http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=202
 
Ini juga soal pedagang kaki lima, yang saya temui sedang bercakap di halte bis 
di depan Ratu Plaza, Jakarta: http://presstalk.info/tajuk/detail.php?no=202
 
Jika saja para pemimpin di derah memiliki sudut pandang berbeda, maka jika saya 
ada di level itu, PKL saya jadikan sebagai objek yang harus dilihat oleh 
pemimpin pusat, dihormati pemimpin, karena semangat dan optimismenya. PKL  
ADALAH ASET  ORANG MINANGKABAU SEBAGAI PENYANGGA EKONOMI, penyangga ekonomi  
bangsa di saat ranah lapangan kerja tidak tumbuh dari tahun ke tahun. 
 
Seharusnya pemimpin Sumbar, khususnya, banyak-banyak berkaca diri, tidak latah 
bercermin kepada apa yang jelek dianggap di negeri sebelah.
 
Maaf jika dunsanak ada yang merasa pejabat Sumbar di sini, jangan tersinggung. 
Saya siap memaparkan data, bahwa PKL itu aset  SUIMBAR. Lain tidak! Jadi coba 
gunakan nalar dan kunci-kunci benak.
 
Saatnya menggugat pemerintah berpihak kepada warga.
 
Wassalam, 
iwan piliang
literary citizen reporter, presstalk.info

Muzirman -- <[email protected]> wrote:

Sanak2 Rantau net,
Apakah ini namanyo "lipstick approahes, or window dressing
philosophy", terhdp penyelesaian Pedagang Kaki Lima ini? Dan
tindakan2 spt iko kelihatannya tlh terbiasa dan mendarah daging bg
kita, dan kita tak berusaha mencoba mencari penyelesaian suatu masalah
scr berkelanjtan dan mendasar. Tiap ada penjabat2 Bp Besar datang dr
Jkt, yg namamnya PKL selalu di gusur., gubuk yg akandi lalui di gusur.
Mudah2an anak2 sekolah tidak di liburkan, berpanas2 di sepanjang jalan
menyambur sang Bapak.
Apakah budaya malu Pemda kita terlalu tinggi, dan "rancak di labuah"
yg kita tonjolkan, krn PKL saja ngak becus2 mengurus nya? Apalagi
mengentas kemiskinan?
Apakah kadang2 "rancak di labuah ini juga perlu, spy orang jangan
"look down"/merendahkan kita melihatnya. Antalah sanak??
Atau mungkin ada jawaban yg ampuh, "masalah PKL itu kan masalah
kecil, ada masalah besar/penting lainnya yg sedang kami tuntas kan."
Tp ini masalah kehidupan sanak, utk sumber kehidupan, kalau Pemda
belum siap memnyiapkan lapangan kerja bagi kami, beri lah kami ber PKL
secra teratur.??
Wass. Muzirman Tanjuang.
=====================


http://www.kompas.com/read/xm

Wapres Datang, PKL Kehilangan Nafkah

KOMPAS/ALIF ICHWAN
Jusuf Kalla

Rabu, 21 Januari 2009 | 19:27 WIB
PADANG, RABU - Rencana kedatangan Wapres Jusuf Kalla ke Sumatera Barat
tanggal 24-25 Januari mendatang berdampak pada kehilangan pekerjaan
sejumlah pedagang kaki lima di sekitar Universitas Bung Hatta, Padang.

Pedagang merombak warung-warung mereka karena ada surat perintah dari
Satuan Pamong Praja Padang. Surat yang baru diterima pedagang Rabu
(21/1) pagi, ditindaklanjuti pedagang dengan langsung membongkar
kedai-kedai yang terbuat dari kayu-seng. Pembersihan warung, menurut
surat ini, dilakukan sampai tanggal 26 Januari mendatang.

"Ya, sementara ini, kita turuti saja kemauan pemerintah. Apa boleh
buat, terpaksa kami tak bekerja beberapa waktu. Tapi, setelah pejabat
itu pergi, kami akan tegakkan lagi kedai ini," tutur seorang pedagang.


Agnes Rita Sulistyawaty







      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke