Assalamu'alaikumWrWb.

Gagasan Kereta Api Wisata menurut saya adalah sebuah gagasan
pengembangan wisata Sumbar yang kreatif dan inovatif. Para
penggagaspun disamping sudah membentuk organisasi (MPKAS), juga sudah
menunjukkan prestasinya, yang bersama PT KAI telah mampu memboyong Mak
Itam dari Ambarawa ke Sawahlunto.
Ternyata lebih jauh PT KAI juga telah menuntaskan  sejumlah pekerjaan
yang bersifat teknis seperti perbaikan sarana & prasarana, yang
kemudian sudah memungkinkan kereta wisata yang ditarik Mak Itam untuk
segera dapat dioperasikan melayani trayek wisata yang direncanakan.
Tampak jelas disini bahwa PT KAI sebagai sebuah perusahaan BUMN yang
sangat profesional dalam bidangnya telah mampu menterjemahkan konsep
wisata kereta api ke dalam suatu Rencana Kerja, Rencana Biaya, Time
Schedule, dll yang memungkinkan mereka untuk mengimplementasikan
rencananya tersebut secara baik : mereka sekarang menyatakan sudah
siap untuk beroperasi.
Tapi tampaknya pihak-pihak terkait lainnya belum mampu menyelaraskan
rencana kerjanya dengan pihak PT KAI ini. Penyebabnya sudah bisa
ditebak : pihak PT KAI adalah profesional yang bekerja penuh waktu
(full time) dan mana pula  kali ini diback up oleh dana yang memadai.
Pihak-pihak lain mungkin masih bekerja paruh waktu disela sela
kesibukan lain, dan ada pula yang masih "wait and see" dulu sebelum
berancang ancang berinvestasi dalam "proyek" yang terkategorikan
inovatif ini (inovatif = banyak uncertainitiesnya).
Walau bagaimana, menurut saya PT KAI, ASITA, PHRI, dan lain sejenisnya
berstatus sebagai Operator.
Siapa Regulatornya ? Yang bertindak selaku Regulator seharusnya  Dinas
Pariwisata Sumbar yang seyogianya mampu untuk mengkoordinir,
menyelaraskan, dan mengintegrasikan bagian-bagian pekerjaan masing-
masing pihak menjadi satu program pelaksanaan Wisata Kereta Api yang
utuh.
Yang terlebih penting lagi menurut saya adalah belum tampaknya
keterkaitan program kereta wisata ini dengan upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat yang berdomisili di
"daerah pengaruh" (influence area), atau koridor lintasan kereta
wisata ini.
"Pengelola Profesional" yang dimaksud PT KAI saya kira adalah
pengusaha/businessman/saudagar. Mereka berfikir sangat pragmatis.
Siapa dalam pemetaan pariwisata Sumbar ini yang secara idealis dan
terkonsep  memikirkan kepentingan masyarakat yang namanya selalu tidak
pernah lupa dicantumkan dalam setiap penyebutan tujuan pariwisata
ini ?
Okelah, mereka nanti oleh "pengelola profesional" akan diberi peluang
berjualan di stasiun/halte tertentu, grup kesenian diatur bisa
menunjukkan kebolehannya dimuka wisatawan, dstnya.
Siapa yang menyampaikan "peluang usaha" ini kepada mereka, membimbing
mereka memilih jenis-jenis usaha yang memungkinkan , mencarikan akses
permodalan, membimbing mereka dalam mengembangkan usahanya, menghimpun
mereka dalam suatu kelompok guna memudahkan monitoring & pengembangan
usaha mereka, dll, dll.
Atau lebih kerennya lagi bagaimana mengimplementasikan konsep
"community based tourism", katakanlah untuk case study kereta wisata
ini ?
Tampaknya sudah diperlukan keberadaan suatu LSM baru semacam MPKAS dan
MAPPAS, yang khusus dibentuk untuk memperjuangkan kepentingan
masyarakat dalam pelbagai upaya  pengembangan pariwisata Sumbar ini.

Maaf & Wassalam.



On 24 Jan, 16:07, zul amri <[email protected]> wrote:
>                                         Jumat, 23 Januari 2009                
>           
>
> Husein: Domestik Rp25 juta, Mancanegara Rp40 juta
>

>                                  
>
>       Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, 
> Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah 
> sekarang!http://id.messenger.yahoo.com/invite/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke