Sanak Palanta Yth :
Saya menemukan sebuah tulisan menarik di Arsip Padangekpres dan barangkali
belum pernah diforwardkan ke palanta Rantaunet , ini adalah sebuah oto kritik
oleh seorang budayawan Minangkabau berkaitan banyak hal dan salah satunya
tentang pemberian gelar sangsako adat yang hangat dibicarakan dipalanta
beberapa waktu yang lalu .
Salam : zul amry piliang ( 61 th ) tinggal di bali ..
Minangkabau, dan
Masalah Kedirian Yang Menahun
Minggu, 11 Januari 2009 ( Padangekspres )
Oleh : Nelson
Alwi, pemerhati budaya, tinggal di Padang
TIPIKAL
kebanyakan orang Minang dewasa ini cenderung stagnan dan, mengalami
degradasi. Hal-hal yang di tahun 1930-an dikritik Hamka, seperti
mengagung-agungkan kebesaran zaman baheula serta mengelu-elukan orang kaya
lagi terkenal, tetap berlanjut.
Di
tengah santernya masyarakat dunia mengupayakan kesejahteraan dan kemajuan
kita berkutat merawikan kehebatan serta kemuliaan Iskandar Zulkarnain
(leluhur etnik Minang menurut Tambo). Dan dalam setiap kesempatan kita pun
selalu menyebut kiprah dan keteladanan KH Agus Salim, Tan Malaka, Rohana
Koedoes, Hatta, Sjahrir atau tokoh masa lampau lainnya.
Kecuali
itu, saat berbagai negara ngotot memformulasikan wujud persamaan dan
demokrasi yang ideal kita meninggalkannya, memasuki lingkaran sistem
feodalistik dengan cara, misalnya, habis-habisan menelusuri asal-usul orang.
Kemudian berbesar hatilah kita karena Taufik Kiemas pernah jadi First
Gentleman Republik Indonesia, sementara Wapres Jusuf Kalla adalah orang
semenda awak pula.
Apalagi
—berdasarkan sejarah ekstra panjang ekspedisi Pamalayu kedua tahun 1292—
nenek moyang Sri Sultan Hamengkubuwono X, Dara Petak, bersaudara dengan Dara
Jingga, ibunda raja Minangkabau Adityawarman alias Aji Montrolot.
Ironi
Sejumlah
intelektual (asal) Minang masa kini, seperti : Sjafri Sairin,
Saafroedin Bahar( beliau adalah anggota milist rantaunet yang
kebetulan akan menerima dan dianugerahi gelas sangsako adat dari Kerajaan
Pagaruyung, zul )
,
Edi Utama atau Darman Moenir, dalam berbagai forum diskusi/seminar maupun
melalui media massa,
juga sering melancarkan (oto)kritik. Mereka mengisyaratkan bahwa urang awak
(baca: orang Minang) sedang mengalami krisis kedirian dan kebangkrutan
(ke)budaya(an).
Tak
pelak, dengan beragam elah kita memang proaktif mengembangbiakkan sikap
mental “asal yang di atas senang”. Dengan aneka motivasi kita mengobral
gelar-pusaka-adat “Datuk” ke seantero jagat. Dengan semangat epigonisme kita
berpartisipasi aktif mempopulerkan istilah dan atau tradisi asing. Dengan
tujuan-tujuan tertentu banyak di antara kita yang mengekor kepada sesuatu
yang dianggap “wah”, dan latah mengagumi sekaligus membeli sekian macam titel
akademik.
Lebih
dari itu, tidak sedikit pemangku adat dan pemuka agama teperdaya (atau
diberdayakan?) untuk memihak, sehingga terkadang, tak segan-segan mendukung
sesuatu yang belum jelas juntrungannya. Wakil rakyat apalagi para pejabat
yang secara kasat mata begitu khusyuk beribadah di muka umum, sesampai di
kantor… maling sembari beretorika ria.
Implikasinya,
setelah berbusa memprihatinkan mutu pendidikan, mekanisme rekrutmen tenaga
edukatif maupun kepala sekolah dipermainkan. Sehabis memuji dan berkata wajib
menghormati guru, (rapel) gaji dan honor serta insentif para “pahlawan tanpa
tanda jasa” itu dipenggal, kenaikan pangkatnya dipersulit.
Selagi
beroptimis-optimis dengan program pariwisata dan upaya meningkatkan
pendapatan daerah, dalam birahi malu-malu tapi mau mengutuk pangkal susu
cewek bule yang menyembul dari balik blus atau kutangnya yang
(di)longgar(kan). Terkait ini,
dikernyit-kernyitkanlah kening untuk membuat Perda Antimaksiat yang,
sejatinya sudah sejak lama terdapat di lingkungan masyarakat adat-beragama
(di) ranah Minang. Tidak lupa, diteriakkan juga tema besar “adat basandi
syarak, syarak basandi kitabullah”, yang ditengarai menjadi acuan hidup lahir
batin orang Minang, sekalipun belum pernah ditafsirkan atau dijabarkan secara
konkret dan cerdas oleh pemikir maupun cendekiawan yang berkompeten.
Dan
sekadar berwacana, dirancang sekaligus didengung-dengungkan pula proyek mercu
impian “kembali ke nagari” dan “kembali ke surau”. Sejenak orang-orang boleh
bernostalgia, mengenang spontanitas akar rumput dalam melaksanakan dan
menyambut, sebutlah alek nagari. Tidak ada mobilisasi dan politisasi, tidak
dimanipulasi dan, mungkin juga tidak dikorupsi oleh para penguasa.
Selintas
orang-orang pun bisa berfantasi tentang sebuah surau yang sinkron dengan
kekinian: dilengkapi fasilitas modern seperti perpustakaan, sarana dan
prasarana olah raga, peralatan musik, televisi, komputer serta
P(lay)-(S)tation yang game-gamenya bernuansa Islam(i), sehingga anak-anak
maupun remaja betah.
Dalam
pada itu, Ahmad Syafii Maarif ternyata berhasil menyabet Magsaysay Award
2008. Betapa berbunganya perasaan kita. Dan, bak padi masak jaguang maupiah,
perjuangan panjang kita juga tidak sia-sia. Salah seorang putra terbaik kita,
Moh Natsir, berdasarkan SK Presiden Nomor 041/TK/TH/2008 tanggal 6 November
2008 dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adiprana.
Selain itu, tanggal 19 Desember —hari pencanangan Pemerintah Darurat Republik
Indonesia (PDRI) di Bukittinggi tahun 1948— dikukuhkan sebagai Hari Bela
Negara.
Upacara
selamatan serta pidato sambutan Presiden SBY menyangkut momen-momen penting
tersebut di atas berulang kali ditayangkan stasiun televisi-stasiun televisi
yang ada di Sumbar. Terdengar bisik, sumbang, wajar kalau urang awak larut
sejenak
dalam euphoria
Kesejatian Minangkabau
Orang
Minang dikenal luas sebagai etnik yang menjunjung tinggi paham egalitarian.
Hal mana terpatri dalam pepatah adat duduak samo randah, tagak samo tinggi.
Konon di sinilah kelebihan orang Minang, sebagaimana dibuktikan, umpamanya,
oleh Haji Abdul Karim Amrullah yang konsisten, yang tidak mau melalukan
saikere, sekalipun di muka para petinggi militer(isme) Jepang.
Namun
kelebihan atau kekuatan orang Minang itu tak bakalan mangkus jika tidak
ditunjang oleh sifatnya yang terbuka menghadapi/menerima realitas dan
perubahan. Pertanyaannya, realitas dan perubahan yang bagaimana? Pandangan
mungkin bisa ditukikkan ke falsafah adat raso dibaok naiak, pareso dibaok
turun. Artinya adalah, yang dihadapi/diterima ditilik dengan mata-hati dan
dicerna dengan nalar, sebaliknya, yang diperbuat perlu dipikir direnungkan
dan disaring dengan nurani.
Esensi
pepatah dan falsafah adat dimaksud menyiratkan fatwa bahwa orang Minang,
seharusnya, memang tak mudah terjerembab atau tenggelam dalam ironi,
pendewaan maupun emosi yang berlebihan.
Karenanya,
kembali kepada rasionalitas serta kebijakbestarian Datuk Perpatih Nan
Sabatang dan Datuk Katumanggungan, dua filsuf penggagas dasar-dasar
keminangkabauan, tepat sekali kiranya bilamana kita berupaya merevitalisasi
alias memfungsikan kembali unsur-unsur tungku tigo sajarangan: para pemangku
adat, alim-ulama dan cerdik-pandai, yang secara substansial berperan mutlak
lagi sangat menentukan dalam rangka membangun nagari (baca: bangsa dan negara)
serta memecahkan masalah-masalah sosial-kemasyarakatan di ranah tercinta ini
.
Selalu bersama teman-teman di Yahoo! Messenger. Tambahkan mereka dari
email atau jaringan sosial Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---