Assalamu'alaikum Ww.... Dalam pikiran 'liar' ambo.... sempat tercetus ... apakah keadaan saat ini sudah merupakan ending suatu zaman Minangkabau yang " KATANYA " pernah jaya ?......alur pikiran nya seperti ini :.... dalam sumpah satia beberapa pemangku adat , ada rangkaian kata...." ka ateh indak bapucuak ... ka bawah indak baurek... di tangah di giriak kumbang " ... hal itu akan terjadi jika si pemangku adat tersumpah lalai akan kewajibannya.....
Nah.... apakah kini sudah dalam kondisi ...." ka ateh indak bapucuak ... ka bawah indak baurek... di tangah di giriak kumbang " ? Wallahu alam bissawaab.. Wassalam Z Chaniago - Palai Rinuak Pada tanggal 27/01/09, zul amri <[email protected]> menulis: > > *Sanak Palanta Yth :* > > Saya menemukan sebuah tulisan menarik di Arsip Padangekpres dan barangkali > belum pernah diforwardkan ke palanta Rantaunet , ini adalah sebuah oto > kritik oleh seorang budayawan Minangkabau berkaitan banyak hal dan salah > satunya tentang pemberian gelar sangsako adat yang hangat dibicarakan > dipalanta beberapa waktu yang lalu . > > > Salam : zul amry piliang ( 61 th ) tinggal di bali .. > > > ** > > * > * > > *Minangkabau, dan Masalah Kedirian Yang Menahun * > > > > Minggu, 11 Januari 2009 ( Padangekspres ) > > Oleh : Nelson Alwi, pemerhati budaya, tinggal di Padang > > > > TIPIKAL kebanyakan orang Minang dewasa ini cenderung stagnan dan, mengalami > degradasi. Hal-hal yang di tahun 1930-an dikritik Hamka, seperti > mengagung-agungkan kebesaran zaman baheula serta mengelu-elukan orang kaya > lagi terkenal, tetap berlanjut. > > Di tengah santernya masyarakat dunia mengupayakan kesejahteraan dan > kemajuan kita berkutat merawikan kehebatan serta kemuliaan Iskandar > Zulkarnain (leluhur etnik Minang menurut Tambo). Dan dalam setiap kesempatan > kita pun selalu menyebut kiprah dan keteladanan KH Agus Salim, Tan Malaka, > Rohana Koedoes, Hatta, Sjahrir atau tokoh masa lampau lainnya. > > Kecuali itu, saat berbagai negara ngotot memformulasikan wujud persamaan > dan demokrasi yang ideal kita meninggalkannya, memasuki lingkaran sistem > feodalistik dengan cara, misalnya, habis-habisan menelusuri asal-usul orang. > Kemudian berbesar hatilah kita karena Taufik Kiemas pernah jadi First > Gentleman Republik Indonesia, sementara Wapres Jusuf Kalla adalah orang > semenda awak pula. > > Apalagi —berdasarkan sejarah ekstra panjang ekspedisi Pamalayu kedua tahun > 1292— nenek moyang Sri Sultan Hamengkubuwono X, Dara Petak, bersaudara > dengan Dara Jingga, ibunda raja Minangkabau Adityawarman alias Aji > Montrolot. > > *Ironi* > > Sejumlah intelektual (asal) Minang masa kini, seperti : Sjafri Sairin, > > * > * > > *Saafroedin Bahar( beliau adalah anggota milist rantaunet yang kebetulan > akan menerima dan dianugerahi gelas sangsako adat dari Kerajaan Pagaruyung, > zul )* > > > ** > > , Edi Utama atau Darman Moenir, dalam berbagai forum diskusi/seminar maupun > melalui media massa, juga sering melancarkan (oto)kritik. Mereka > mengisyaratkan bahwa urang awak (baca: orang Minang) sedang mengalami krisis > kedirian dan kebangkrutan (ke)budaya(an). > > Tak pelak, dengan beragam elah kita memang proaktif mengembangbiakkan sikap > mental "asal yang di atas senang". Dengan aneka motivasi kita mengobral > gelar-pusaka-adat "Datuk" ke seantero jagat. Dengan semangat epigonisme kita > berpartisipasi aktif mempopulerkan istilah dan atau tradisi asing. Dengan > tujuan-tujuan tertentu banyak di antara kita yang mengekor kepada sesuatu > yang dianggap "wah", dan latah mengagumi sekaligus membeli sekian macam > titel akademik. > > Lebih dari itu, tidak sedikit pemangku adat dan pemuka agama teperdaya > (atau diberdayakan?) untuk memihak, sehingga terkadang, tak segan-segan > mendukung sesuatu yang belum jelas juntrungannya. Wakil rakyat apalagi para > pejabat yang secara kasat mata begitu khusyuk beribadah di muka umum, > sesampai di kantor… maling sembari beretorika ria. > > Implikasinya, setelah berbusa memprihatinkan mutu pendidikan, mekanisme > rekrutmen tenaga edukatif maupun kepala sekolah dipermainkan. Sehabis memuji > dan berkata wajib menghormati guru, (rapel) gaji dan honor serta insentif > para "pahlawan tanpa tanda jasa" itu dipenggal, kenaikan pangkatnya > dipersulit. > > Selagi beroptimis-optimis dengan program pariwisata dan upaya meningkatkan > pendapatan daerah, dalam birahi malu-malu tapi mau mengutuk pangkal susu > cewek bule yang menyembul dari balik blus atau kutangnya yang > (di)longgar(kan). Terkait ini, dikernyit-kernyitkanlah kening untuk membuat > Perda Antimaksiat yang, sejatinya sudah sejak lama terdapat di lingkungan > masyarakat adat-beragama (di) ranah Minang. Tidak lupa, diteriakkan juga > tema besar "adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah", yang ditengarai > menjadi acuan hidup lahir batin orang Minang, sekalipun belum pernah > ditafsirkan atau dijabarkan secara konkret dan cerdas oleh pemikir maupun > cendekiawan yang berkompeten. > > Dan sekadar berwacana, dirancang sekaligus didengung-dengungkan pula proyek > mercu impian "kembali ke nagari" dan "kembali ke surau". Sejenak orang-orang > boleh bernostalgia, mengenang spontanitas akar rumput dalam melaksanakan dan > menyambut, sebutlah alek nagari. Tidak ada mobilisasi dan politisasi, tidak > dimanipulasi dan, mungkin juga tidak dikorupsi oleh para penguasa. > > Selintas orang-orang pun bisa berfantasi tentang sebuah surau yang sinkron > dengan kekinian: dilengkapi fasilitas modern seperti perpustakaan, sarana > dan prasarana olah raga, peralatan musik, televisi, komputer serta > P(lay)-(S)tation yang game-gamenya bernuansa Islam(i), sehingga anak-anak > maupun remaja betah. > > Dalam pada itu, Ahmad Syafii Maarif ternyata berhasil menyabet Magsaysay > Award 2008. Betapa berbunganya perasaan kita. Dan, bak padi masak jaguang > maupiah, perjuangan panjang kita juga tidak sia-sia. Salah seorang putra > terbaik kita, Moh Natsir, berdasarkan SK Presiden Nomor 041/TK/TH/2008 > tanggal 6 November 2008 dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Bintang > Mahaputera Adiprana. Selain itu, tanggal 19 Desember —hari pencanangan > Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi tahun 1948— > dikukuhkan sebagai Hari Bela Negara. > > Upacara selamatan serta pidato sambutan Presiden SBY menyangkut momen-momen > penting tersebut di atas berulang kali ditayangkan stasiun televisi-stasiun > televisi yang ada di Sumbar. Terdengar bisik, sumbang, wajar kalau urang > awak larut sejenak dalam euphoria > > *Kesejatian Minangkabau * > > Orang Minang dikenal luas sebagai etnik yang menjunjung tinggi paham > egalitarian. Hal mana terpatri dalam pepatah adat duduak samo randah, tagak > samo tinggi. Konon di sinilah kelebihan orang Minang, sebagaimana > dibuktikan, umpamanya, oleh Haji Abdul Karim Amrullah yang konsisten, yang > tidak mau melalukan saikere, sekalipun di muka para petinggi militer(isme) > Jepang. > > Namun kelebihan atau kekuatan orang Minang itu tak bakalan mangkus jika > tidak ditunjang oleh sifatnya yang terbuka menghadapi/menerima realitas dan > perubahan. Pertanyaannya, realitas dan perubahan yang bagaimana? Pandangan > mungkin bisa ditukikkan ke falsafah adat raso dibaok naiak, pareso dibaok > turun. Artinya adalah, yang dihadapi/diterima ditilik dengan mata-hati dan > dicerna dengan nalar, sebaliknya, yang diperbuat perlu dipikir direnungkan > dan disaring dengan nurani. > > Esensi pepatah dan falsafah adat dimaksud menyiratkan fatwa bahwa orang > Minang, seharusnya, memang tak mudah terjerembab atau tenggelam dalam ironi, > pendewaan maupun emosi yang berlebihan. > > Karenanya, kembali kepada rasionalitas serta kebijakbestarian Datuk > Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan, dua filsuf penggagas > dasar-dasar keminangkabauan, tepat sekali kiranya bilamana kita berupaya > merevitalisasi alias memfungsikan kembali unsur-unsur tungku tigo > sajarangan: para pemangku adat, alim-ulama dan cerdik-pandai, yang secara > substansial berperan mutlak lagi sangat menentukan dalam rangka membangun > nagari (baca: bangsa dan negara) serta memecahkan masalah-masalah > sosial-kemasyarakatan di ranah tercinta ini . > > > > > > ------------------------------ > Berselancar lebih cepat dan lebih cerdas dengan Firefox > 3<http://sg.rd.yahoo.com/id/search/firefox/mail/signature/*http://downloads.yahoo.com/id/firefox/> > > > -- Z Chaniago - Palai Rinuak Alam Minangkabau semakin memukau oleh kemilau Danau Maninjau - Menjadikan Adat menjadi rasional . --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
