Ass.wr.wb, seluruh ummat RN diPalanta.

Ada "sobekan koran" nih, dari teman. Isinya, kalau orang Jogja bilang :"jero" 
([menusuk ke] dalam). 
 
Dibaca saja dan, kalau masih pengen anak cucu lebih baik dari kehidupan kita, 
direnungkan, dihayati, diamalkan (weh, malah pidato). Perasaan saya persis sama 
dg yg mau diungkapkan Ben Anderson: kelas menengah-atas Indonesia tidak punya 
"sambungan rasa" dengan masyarakat "asli" Indonesia yg di kampung2 dan desa2. 
Perspektifnya ngga sama. 
 
Saya sendiri? Masih merasa orang elit juga ternyata, alias juga ngga paham 
pemikiran orang2 "kecil". I wish I can (lha mau gimana, dari kecil lingkungan 
pergaulannya kelas menengah terus; but keep hoping and trying).
 
Wassalam,
Muljadi, German

INDONESIA STATISTIK:
SURAT BUAT PARA PEMBACA
Benedict R. O'G. Anderson
"Saya dari dulu tidak setuju, koq...." dari lapisan bawah. "Gue pernah bilang 
ama
Pak Harto lho! . . ." dari lapisan atas. Memang, menjemukan dan menjijikan kalau
keluar dari mulut orang lain, tetapi kalau meluncur dari bibir kita sendiri 
betapa serius
dan meyakinkan. Begitulah, agaknya, isi hati nurani "kelas menengah" Indonesia 
(lebih
tepat Jakarta) yang selama ini banyak diharapkan oleh kaum intelek baik didalam
maupun diluar negeri.
Pada zaman baheula, kelas menengah ini suka disebut sebagai "borjuasi nasional,"
dan dianggap mempunyai misi historis baik sebagai borjuasi maupun sebagai
nasionalis. Anggapan ini pada mulanya bukan ilusi melulu. Kita tahu bahwa 
sebagian
besar dari tokoh pergerakan, yang cukup bernyali untuk masuk bui, diasingkan ke
Tanah Merah, Banda, atawa Flores, dan mengorbankan dompet maupun karir demi
kemerdekaan, muncul dari lapisan menengah dari masyarakat kolonial. Mereka duduk
di ruang tengah antara penguasa bule dan jutaan petani, buruh, lonte, tukang, 
dan
babu. Sampai sekarang nama2 seperti Sutan Sjahrir, Ibrahim Datuk Tan Malaka, Ir.
Sukarno, Natsir, Semaun, Drs. M. Hatta, Soewarsih Djojopoespito, Mr. Raden Mas
Sartono, Alimin, Trimurti, Haji Misbach, Armijn Pane dan sebagainya lumayan 
harum.
Tetapi: tentunya tidak semuanya begitu. Kita ingat tokoh Sastro Kassier dalam
roman Anak Semua Bangsa. Kata Pramoedya: "Tapi jabatan: dia segala dan semua
bagi Pribumi bukan tani dan bukan tukang. Harta-benda boleh punah, keluarga 
boleh
hancur, nama boleh rusak, jabatan harus selamat....Orang berkelahi, berdoa,
bertirakat, memfitnah, membohong, membanting tulang, mencelakakan sesama, demi
sang jabatan. Orang bersedia kehilangan apa saja untuk dia, karena, juga dengan
dialah segalanya bisa ditembus kembali." Pada dasawarsa terakhir zaman Belanda
90% dari birokrasi kolonial, yang jumlahnya 250,000 doang, adalah pribumi.
Anggaplah 225,000 sosok manusia—jauh diatas jumlah orang2 pergerakan pada
Indonesia 69 (April 2000)
174 Benedict R. O'G. Anderson
ketika itu. Lantas Jepang masuk. Apa yang terdengar? "Saya dari dulu tak setuju
dengan Belanda koq..." Dan massa Sastro2 ini bergegas2 pindah menjadi pegawainya
Balatentara Dai Nippon. Sejarah selanjutnya hampir sama. "Saya dari dulu tidak
setuju dengan Jepang yang buas/Demokrasi Barat yang keblinger/Orde Lama yang
kacau/Orde Kropos yang korup, koq!" Jarang ada diantaranya yang minta berhenti
dari jabatannya pada tingkat apapun juga. Lebih jarang lagi yang mengaku 
berdosa,
bersedia bertanggungjawab. ('Kan, yang salah Suharto, Islam fanatik, Sukarno,
Belanda, CIA, Keristen, Komunis, Cina brengsek....) Dan jumblah mereka membubung
terus bagaikan cendawan dalam musim hujan yang tak pernah diganti musim kemarau
yang sehat.
Tapi masalahnya bukan korps pegawai negeri "segala zaman" melulu.
Empatpuluh tahun yang lalu si Mat Hitam yang malang, Frantz Fanon, sudah menulis
bahwa sebagian besar dari pribumi2 yang menjadi doktor, advokat, pedagang,
pengusaha kecil, dan sebagainya, aspirasinya hanya "mengisi sepatunya" tuan2
kolonial pada suatu hari yang menyenangkan. Selanjutnya: "kelas menengah 
nasional
lantas menemukan misi historisnya: menjadi belantik" antara kapitalisme
internasional dan rakyat. Hukumannya Fanon yang terakhir: "Kelas menengah ini
sudah pikun tanpa pernah mengalami masa mudabelia dengan keberanian, kenekadan,
dan semangat perintisnya."
Memang, Van Diemen, Cortes, dan Vasco da Gama adalah bajingan, tetapi mereka
berani menjelajahi setiap samudera mencari penemuan baru pada masa kemungkinan
mati diperjalanan masih tinggi. Orang borjuis bangsanya Galileo, Newton, 
Faraday,
Pasteur, Rousseau dllnya mengubah pikiran manusia secara mendalam atas dasar
penemuannya. Apalagi penulis2, pelukis2, arsiktek2, dan sekian lainnya. Warisan
mereka adalah suatu tantangan: kalau borjuis, silahkan menjadi borjuis yang 
berani,
pingintahu, dan berdarah muda, biarpun sama sekali bukan orang suci. Janganlah
menjadi cuman borjuis penakut, mlempem, dan bermental belantik.
Nasionalismepun muncul didunia seirama dengan perubahan pikiran manusia
secara mendasar tadi, permulaan revolusi industri, dan naiknya "kelas menengah"
kearah puncak kekuasaan atas puingnya rezim2 feodal-absolut. Dan nasionalisme
untuk mereka (juga untuk Sukarno, Hatta cs) adalah panggilan untuk bertindak,
bukanlah sesuatu yang alamiah seperti warna kulit, bentuk mata, dan jenis 
kelamin.
Mereka lihat kedepan, bukan kebelakang. Dan karena itu mereka kreatip. Sama 
sekali
bukan "pikun." Mereka juga merobohkan sistim politik lama berdasarkan kasta
bangsawan macam "trah ing kusuma" yang menjengkelkan, yang merasa diri berhak
berkuasa atas dasar silsilah. Akhir kata, mereka mengerti bahwa si jabangbayi 
bisa
saja dicatat sebagai seorang Mesir, Norwegia atawa Indonesia, tetapi itu cuman 
diatas
kertas. Dalam kasus Indonesia, si kecil baru akan menjadi orang Indonesia kalau
belajar mencintai sesama bangsanya dan berani berkorban untuknya. Dan kalau
"keseleo," dia mungkin akan menjadi "orang Indonesia statistik," yaitu "orang
Indonesia-kalau-perlu-dan-ada-rejekinya."
Masalah sekarang, hampir 55 tahun setelah Indonesia menjadi merdeka, adalah
sampai kemana kelas menengah di Jakarta sudah menjadi "Indonesia-statistik" dan
"Indonesia kalau perlu." Apakah kelas ini masih bisa dilndonesiakan kembali, dan
melepaskan diri dari kepikunan yang sudah sangat parah? Jadi masalahnya mental
dan tekad. Menganggap diri anggota oposisi dengan tetap bicara tentang "Pak" 
Harto,
Indonesia Statistik 175
"Bu" Tien dan "Mbak" Tutut; angguk2 kepala ketika seorang presiden Republik
(Indonesia) seenaknya bergumam tentang lengser ke-prabu-annya; marah karena bule
ribut masalah pelanggaran HAM di bekas TimTim, Aceh, dan Irian Barat (seorang
bekas menteri barusan dengan jengkel mengatakan 'mereka tidak mengerti bahwa di
Jakarta tidak ada orang peduli pada Timtim, Irian, dan Aceh'), dan lebih marah 
lagi
karena "dana" bule keparat koq tidak datang2; merasa tersinggung kalau babunya
tidak menjongkok didepan kakinya; dan lebih takut pada rakyat daripada polisi 
dan
"lalat ijo"—sikap "pikun" macam ini sangat meluas selama Orde Kropos.
Sebaliknya tanda kreativitas mungkin terasa tidak banyak—dibidang politik,
ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Betapa norak roman muka Jakarta, dan betapa
miskin dalam hal2 yang bisa dikagumi. Kelas menengah Jakarta belum mampu
mendirikan suatu "dunia orisinil." Mereka masih sibuk "mengkonsumsikan" apa saja
dari luar biarpun dibumbui sana-sini dengan "kliping2" dari kebudayaan
nenekmoyang masing2. Mungkin masalahnya karena mereka merasa diri "otomatis"
orang Indonesia, seolah2 kalau beli Mercy, Mercy itu dengan demikian menjadi—
simsalabim—barang Indonesia.
Menjadi seorang keturunan Tionghoa di Indonesia bukanlah sesuatu yang
menggembirakan. Kita tahu betul bagaimana selama Orde Kropos, kebudayaan mereka
diinjak dan hak berkesempatan menjadi teknokrat maling, jendral buas, rektor
plinplan, dsbnya ditiadakan. Emangnya karena mereka bukan "otomatis" Indonesia.
Anehnya hal yang menyedihkan ini sekali2 bisa memberi berkah. Ada diantaranya
yang secara sangat sadar mengetahui bahwa mereka harus berbuat untuk menjadi
"Indonesia," malahan "warga negara Indonesia" (seolah2 pribumi tak perlu menjadi
warga negara!). Selama kira2 duapuluh lima tahun belakangan ini, saya biasa 
tanya
pada anak2 muda dari Indonesia yang kebetulan singgah atau menetap di 
Universitas
Cornell: Bung kagum sama siapa saja di Indonesia? Sering mereka kewalahan, tidak
bisa jawab (kalau pembaca yang tercinta masih tidak percaya bahwa Orde Baru itu
kropos, atau kelas menengah di Jakarta tidaklah pikun, inilah barang buktinya!).
Tetapi kalau ada jawaban, sering nongol nama2 orang keturunan Tionghoa: Yap 
Thiam
Hing, advokat ulung yang tak terbeli dan tak bisa dibikin takut; Dede Oetomo, 
yang
berani buka diri sebagai seorang homosex, dan sekaligus berusaha keras untuk
melawan malapetaka AIDS dan membantu sesama gay dan banci, tidak peduli
pribumi atawa keturunan Tionghoa; Arief Budiman, yang sejak awal tahun 70-an
menyusul jejak adiknya Soe Hoe Gie almarhum sebagai pengritik terbuka terhadap
politik dan immoralitasnya "Pak" Harto; atau Riantiarno, yang tanpa genitnya 
Rendra
yang menjemukan itu, berusaha membangun teater borjuis yang orisinil dan tajam
dikota metropolitan.
Mungkin inilah jalan keluar: Sastro Kassier harus belajar menjadi WNI, warga
negara dari suatu Republik yang namanya Republik Indonesia, bukannya seorang
"Indonesia otomatis" yang merangkak dilantainya suatu keprabon yang akhirnya
selalu akan terlengserkan.
Para pembaca Tempo: Hallo???? Hallo???.... Bangun belum???

-- 
NUR NOCH BIS 31.01.! GMX FreeDSL - Telefonanschluss + DSL 
für nur 16,37 EURO/mtl.!* http://dsl.gmx.de/?ac=OM.AD.PD003K11308T4569a

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke