Lembaga saya selain bergelut dalam public policy juga sering 
mengadakan survei popularitas kandidat baik Pilkada ataupun 
legislatif. Dari berbagai riset tersebut terbukti bahwa iklan politik 
baik yang dipasang di layar kaca ataupun berupa spanduk sangat 
efektif untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas kandidat 
bersangkutan.  Selain tatap muka tentunya.

Bahkan Caleg yang hanya memasang namanya saja di spanduk2 dengan 
jumlah banyak bisa lebih dikenal daripada caleg yang memajang 
photonya namun dengan jumlah yang lebih sedikit. Kalau sanak jeli 
melihat iklan politik di TV maka sanak pasti tahu bahwa ada salah 
satu kandidat yang paling rajin beriklan dengan wacana dan ide yang 
bagus hingga kita lupa betapa "menakutkannya" beliau dahulunya.

Kesimpulannya: Iklan politik memang manjur untuk meraih popularitas 
sekaligus elektabilitas. 


salam

Ben



--- In [email protected], Riri Chaidir <riri.chai...@...> 
wrote:
>
> Dunsanak
> 
> Iko ulangan dari komentar ambo tentang iklan yang ditulis Jepe bbrp 
hari
> yang lalu.
> 
> Kato urang rumah ambo nan dulu waktu kuliah maambiak maambiak 
pelajaran
> marketing sebagai minor
> subject, ada kecenderungan bahwa Iklan sekarang ini bukan untuk
> diterjemahkan, *Iklan adalah bisnis dari pembuat iklan.*
> Makskudnya?
> 
> Di sepanjang jalan banyak iklan partai atau caleg atau calon2 
lainnya.
> Indak ado lai tiang listrik atau telpon, atau pohon yang bebas dari 
tempelan
> iklan: iklan partai, iklan pilkada, iklan ganti jok, iklan badut-
sulap,
> iklan sedot wc. Semuanya bertumpuk2
> Nah, dengan logika sederhana, saya bisa bertanya, kapan orang bisa 
membaca,
> apalagi memikirkan, dan "memutuskan sesuatu dari" iklan2 tersebut?
> 
> Jadi siapa yang paling mendapatkan manfaat dari iklan? Pemasang 
iklan,
> pembaca iklan, atau? Yang *pasti pembuat iklannya ...*
> Secara umum, pembuat iklan haruslah orang yang luar biasa hebat 
(iya donk,
> kalau ga, orang ga terpengaruh). Saking hebatnya, kita sering tidak 
sadar
> itu sebuah iklan. Atau - seperti pertanyaan saya 2x kemaren di RN 
ini
> tentang nan sadang berlangsung di kampuang awak: "Sebetulnya siapa 
yang
> beriklan, dan siapa yang jadi bintang iklan?"
> 
> He he,
> Riri
> Bekasi, L 46
> 
> 2009/2/2 benni_inayatullah <benni_inayatul...@...>
> 
> >
> > Fenomena ini memang tidak terelakkan bila pesta demokrasi sudah
> > dekat, apalagi masa kampanye pemilu sekarang sangat panjang hingga
> > berbulan-bulan.
> >
> >
> 
> >



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke