Assalamu’alaikum WrWb,

Saya mengikut diskusi-diskusi di RN (juga WS.com), dan mengenal pak
Saaf  melalui posting dan komentar-komentar beliau secara agak
intensif baru 2 bulan belakangan ini.
Walau tidak mengenal beliau secara pribadi, saya respek dengan
pemikiran dan kiprah langsung bapak  dalam sejumlah aktivitas yang
terkait dengan upaya untuk memajukan Sumbar. Latar belakang kehidupan,
karier, karakter dan network yang bapak miliki, menurut saya sangat
sesuai sekurang-kurangnya untuk menjembatani generation gap  antara
generasi tua Minang dan generasi muda yang sebagian besar hidup dan
besar di rantau.
Dengan kesimpulan sementara seperti itu, recana pak Saaf untuk lebih
memilih Riau dari pada Sumbar cukup mengagetkan juga, walau
penyebabnya dapat difahami.

Kalau bung Riri mengatakan bagaimana mau sepakat kalau “masalah” nya
saja kita belum sepakat.
Saya berpendapat lebih jauh lagi, bagaimana sesuatu itu dapat kita
sepakati untuk terkategorikan sebagai “masalah” kalau tidak ada tolok
ukur yang dapat digunakan untuk itu ?
Menyangkut pengembangan pariwisata Sumbar, yang diperlukan sebagai
tolok adalah keberadaan suatu Rencana Strategis yang akan menjadi
acuan dari berbagai program yang akan dilakukan nantinya. Semua
stakeholder mau tidak mau harus mengacu pada Rencana Strategis ini.
Melihat sangat ekstrimnya perbedaan pendapat antara berbagai kelompok
masyarakat di Sumatera Barat, DPRD harus berperan aktif dalam
menampung berbagai aspirasi menyangkut pengembangan pariwisata ini.
“Insiden” kesalahpahaman yang terjadi minggu lalu menyangkut  gagasan
intelektual muda Minangkabau tentang pariwisata yang  terkait dengan
bencana kematian massal ikan Maninjau, yang dibantah pula oleh  opini
seorang intelektual sepuh Minang yang mutlak tidak setuju dengan
gagasan tersebut dan mengatakan “…wisatawan paralu diajai tentang
budaya adapt masyarakat salingka danau sabalun menikmati keindahan
Maninjau…”.
Sangat disayangkan diskusi ini terhenti oleh kesalahpahaman lain yang
alhamdulillah telah bisa diatasi. Kalau diskusi dilanjutkan, mungkin
bisa ditangkap sumber dari keresahan pak Saaf menyangkut perbedaan
pendapat antar kita sendiri yang dalam banyak hal sangat tajam.

Saya rasa tidak ada perbedaan pendapat tentang “Opportunity” yang kita
miliki menyangkut pengembangan pariwisata seperti, asset keindahan
alam, budaya, keamanan yang kondusif, dan infrastruktur transportasi
yang mendukung. Tapi, bagaimana kalau kita bicara tentang sisi
lainnya : “Constraint” ?
Di sisini akan ditemui perbedaan yang tajam, terutama menurut saya
menyangkut ketegasan akan status tanah ulayat, dan kekhawatiran
sejumlah anggota masyarakat tentang potensi tergerusnya adat oleh
dampak buruk pariwisata.
Menurut saya ini merupakan handicap pertama yang harus dihadapi,
karena keterkaitannya dengan  investasi di bidang pariwisata yang kita
sepakati bersama adalah  merupakan sebuah industri besar.
Pemerintah menyangkut pengembangan pariwisata ini berfungsi selaku
regulator dan fasilitator yang menetapkan aturan-aturan main pokok,
dan menyediakan sejumlah infrasruktur utama.
Berbagai bentuk investasi kemudian  akan menjadi tanggung jawab pihak
swasta/investor/entrepreneur/saudagar. Bagi mereka yang penting  3
hal; yang pertama pitih, yang kedua pitih, dan yang ketiga pitih.
Investasi secara pragmatis  bagi mereka harus profitable.
Mereka rewel dengan lamanya waktu untuk mengurus perizinan, pembebasan
tanah, resistensi masyarakat setempat, dan lain-lain hal yang
menyangkut keamanan, ketenangan, dan kesinambungan usaha dalam jangka
panjang. Tidak terjamin atau mereka nilai  berisiko ? Mereka dengan
enteng akan memilih tempat lain yang tidak seribet ini tentunya.
Di tempat lain yang ada hanya aturan Negara. Tentunya kalau ada aturan
adat atau aturan berdasarkan interpretasi agama yang ketat, maka
secara ilmu fisika/sunatullah  fluida atau  arus listrik akan lebih
suka meliwati tempat dengan hambatan yang lebih rendah.
Memang akan sangat sulit untuk menerapkan aturan lokal yang dirancang
ratusan tahun yang lalu dengan situasi & kondisi global saat ini.
Kalau Konstitusi Amerika sudah diamandemen sekian kali, begitu juga
dengan UUD 45 yang keramat itu, bagaimana dengan kita ?

Mana investor yang sudah mampir sampai saat ini ? Mana investor
Malaysia yang sebenarnya punya budaya yang mirip dengan kita ?
Bagaimana nasib Gebu Minang, Tuah Sakato, dan mungkin pula nanti
Saudagar Minang ?
Bagian manakah dari ranah Minang yang kondusif untuk investasi ? Untuk
daerah rural : Pasaman dan Darmasraya, karena adat sudah agak longgar
di sana  dengan masyarakat yang sudah agak heterogen. Atau daerah
daerah urban, dimana jual beli tanah sudah dapat dilakukan dengan
masyarakat yang sudah jauh lebih terbuka.

Menyangkut pemimpin daerah atau Dinas yang terlihat kurang tanggap,
kemungkinan juga terkait dengan Rencana Strategis diatas. Mungkin
sudah ada, tapi mungkin masih ada yang tidak/belum sepakat, atau
nyelonong  menjalankan program yang tidak sinkron dan terintegrasi
dengan Rencana tersebut.
Kalau memang pemimpin teringgi daerah atau DPRD yang tidak aspiratif,
ini juga salah kita karena kitalah yang telah sukarela memilih mereka.
Kalau begitu marilah kedepan kita super hati-hati dengan pemilihan
ini, dan hanya memilih  putera terbaik Minang yang visioner dan punya
kemampuan dan network  yang memadai untuk mendukung visinya itu.
Teriring salam hormat untuk pak Saaf dan dunsanak lainnya.

Maaf dan Wassalam,

Epy Buchari (L,65-Ciputat Timur)
http://kadaikopi.carpediem123.com

On 2 Feb, 16:25, "Dr.Saafroedin BAHAR" <[email protected]> wrote:
> Batua sakali Riri, ambo satuju pandapek Riri . Baa kabamufakat kalau apo nan 
> dinamokan 'masalah' sajo indak ado kasapakatan ?
>  
> Titiak tulak ambo dalam pariwisata ko adolah kajian makro ekonomi tantang 
> Sumbar, nan lahan pertaniannyo sampik, sumber daya alamnyo tabateh, 
> panganggurannyo banyak, tapi kaindahan alamnyo lua biaso dan makanannyo bukan 
> main lamaknyo.
>  
> Dari kajian tu diambiaklah kasimpulan dan kabijakan bahaso pariwisata adolah 
> jalan kalua nan tapek untuak mandorong kamajuan ekonomi di Sumbar. Dalam 
> karangko pikia ko pulo pak Nofrins dan kawan-kawan dari MPKAS  jo pak 
> Walikota Sawahlunto sarato PT KAI 'tunggang tunggik' mamulangkan MakItam ka 
> Ranah, sabagai daya tariknyo nan khusus. Kini alah siap baoperasi.
>  
> Ambo mandukuang usaho pak Nofrins dkk, karano manuruik paretongan bapotensi 
> bisa mamajukan pariwisata Sumbar dan mambantu manambah pancarian anak nagari, 
> walau tantu sajo indak dalam minggu ko, bulan iko, atau tahun iko juo. 
> Investasi pariwisata kan jangka panjang.
>  
> Karano tu, ambo sabana sadiah mambaco komentar sabagian netters RN ko, nan 
> sampai hati  'manubo' usaho habis-habisan ko, tanpa apresiasi saketek juo.
>  
> Dek karano tu, sarupo nan ambo sampaikan tadaulu, kini ambo parambunkan sajo 
> dulu soal pariwisata ko, sampai sadonyo takana bana, bahaso memang ado 
> 'masalah'.
>  
> Kok indak juo manggarik, ka baa juo.
>  
> Sapanjang ambo sandiri, ambo masih ado kagiatan lain, yaitu manaruihkan 
> inventarisasi masyarakat hukum adat dalam rangka Seknas MHA, nan bapusat di 
> Pakanbaru, Riau, dibantu dek bung Jepe, nan sabana basumangaik..Kok susah 
> bana mamajukan Ranah, yo kito majukan Riau. Kan banyak juo urang awak di situ.
>  
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo)
> Alternate e-mail address: [email protected];
> [email protected]
>
> --- On Mon, 2/2/09, Riri Chaidir <[email protected]> wrote:
>
> From: Riri Chaidir <[email protected]>
> Subject: [...@ntau-net] Re: Apo Sabananyo nan Salah di Kito ?
> To: [email protected]
> Date: Monday, February 2, 2009, 9:58 AM
>
> Pak Saaf dan dunsanak sadonyo,
>  
> Statement pak Saaf tentang "sulitnya mencari kesepakatan diantaro awak 
> tentang masalah pariwisata" justru ambo anggap "pertanyaan kunci".
>  
> Tantu nan pak Saaf mukasuik adalah mencari kesepakatan untuak "mengatasi 
> masalah".  Kalau ambo malah batanyo, apakah memang sudah ada "kesepakatan" 
> bahwa itu adalah "suatu masalah"?
>  
> Jangan2, cuma satu pihak yang menganggap sesuatu itu masalah, pihak lainnya 
> tidak. Kalau demikian, tidak akan timbul kesepakatan dalam mengatasi 
> "masalah" itu.
>  
> Kalau memang pihak yang menganggap itu suatu masalah, pertama kali pihak yang 
> satu lagi itu harus "diajak" dulu untuk menggunakan asumsi dasar yang sama - 
> bahwa itu masalah.  
>  
> Tentang pariwisata yang pak sebutkan, saya rasa merupakan contoh kasus yang 
> bagus. Dari dulu saya mengikuti diskusi di milis RN, di MAPPAS, di MPKAS, 
> tampak jelas usaha luar biasa dari pak Saaf dan dunsanak lainnya untuk 
> memajukan pariwisata di ranah Minang. Tapi dari diskusi2 itu saya juga 
> menangkap kekecewaan, bahwa ternyata stakeholders yang di kampuang awak tu 
> sepertinya "tenang2 saja", bahkan tidak sedikit kasus yang diangkat di milis 
> bahwa banyak tindakan dari pejabat dan masyarakat yang tidak menunjang 
> pariwisata ini. Pak Kepala DInas tetap saja tidak memenuhi harapan parlemen 
> RN, motto 4 ..., 5 lamak bana (maaf, lupa persisnya) tetap saja tidak 
> "dihayati", apalagi "diamalkan".
>  
> Dari dulu pertanyaan saya adalah, apakah sebenarnya para stakeholders itu 
> juga mempunyai asumsi yang sama dengan kita bahwa pariwisata merupakan 
> sesuatu yang penting yang bisa mendatangkan mafaat ... dst dst?
>  
> Saya khawatir, cuma kita yang berpikir begitu. Karena RPJM menyatakan begitu 
> juga? Maaf, kita sama2 tahu lah bagaimana penyusunan perencanaan ...
>  
> Kalau kekhawatiran saya benar, ya tidak akan mungkin pak Saaf bisa mendorong 
> "basuonyo segala fihak nan takaik jo pariwisata di Sumbar" (mungkin kalau iko 
> dilakukan jaman pak Saaf masih tentara aktif dulu, dan di jaman orba, mungkin 
> bisa, maaf pak, ambo bagarah).
>  
> Jadi, pak Saaf, kalau kesimpulan ambo, kita bisa berharap ada kesepakatan 
> untuk mengatasi masalah, kalau kita memang sebelumnya sepakat dulu bahwa 
> memang ada masalah.
>  
> Kalau untuk pariwisata, promosi keluar itu tentunya penting, tapi yang lebih 
> penting, promosikan dulu ke dalam Sumbar bahwa pariwisata itu, bahwa itu 
> bermanfaat buat Sumbar. Yakinkan dulu bahwa kita punya potensi, tapi 
> masalahnya potensi kita belum dimanage dengan baik. Jadi yakinkan dulu bahwa 
> di sini ada "masalah".
>  
> Untuk INS vs Taman Siswa misalnya. Sebelum kita mencari kesepakatan untuk 
> memecahkan masalahnya, sebelum kita mencari apa penyebab masalah itu, kita 
> sepakati dulu dengan stakeholders bahwa "lagging behind"nya INS itu suatu 
> masalah.
>  
> Itu pendapat saya, Pak
>  
> Wassalam,
>  
> Riri
> Bekasi, L 46
>  
>  
>  
>  
>
> 2009/2/2 Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>
>
> Batua bana, pak Darul. Sulik bana mancari kasapakatan di antaro urang awak 
> ko. Kini ambo mangalami sandiri -- sakali lai --  dalam mandorong basuonya 
> sagalo fihak nan tataik jo pariwisata di Sumbar.
>  
> Karano tu ambo parambunkan sajo dulu, sampai nanti takana bana dek para 
> dunsanak kito tu.
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo)
> Alternate e-mail address: [email protected];
> [email protected]
>
>  
>  
>
>  
>
>  
>
>  
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke