Ass.Wr.Wb. Ibu Rina, Bapak Heri Tanjuang , Bapak Eri Baheram, Bapak Taufiq Rasyid, Bapak Benni Inayatullah sarato ummaik RN diPalanta.
Pertama, terima kasih atas echo yang saya terima dari Ibu dan para Bapak2 ditempat masing2. Dengan sangat sengaja, saya mengeluarkan thema Export Gambir ini, dan seingat saya, ini adalah kali kedua.(rasanya tahun lalu sewaktu saya baru ikut milis, pernah saya senggol thema Gambir sedikit). Seperti yang telah dituliskan oleh Bapak Heri Tanjuang, tentang, kopi, teh coklat, beras atupun hasil bumi yang lainnya, plus trade fair etc. Terimaksih atas infonya Pak Heri Tanjuang. Memang agak mengiurkan, tapi ingat..., contoh… pesaing kopi , beras sudah bertambah didunia yaitu Vietnam, dengan BANTUAN Bank Dunia, merambah hutan tropis monokultur, penduduk lokal asli terusir. Akhirnya didunia exportir peringkat kedua setelah Brazil. So ... ujung2nya, jumlah kopi didunia bertambah, sudah tentu harga kopi jatuh. Kopi, Kapas, sejak tahun 95, hingga sekarang harganya saya rasa sudah separuh lebih. Coklat juga kena epidemi, jatuh harga, sejak 97 sudah separoh harganya sekarang. Karena terlalu banyak produksi, Pantaigading, Ghana, Nigeria dan Kamerun pernah menghancurkan coklat yang surplus sebanyak 250. 000 ton, walaupun begitu hanya sanggup menahan laju keturunan harga yang lebih lanjut. Diduga kesalahan analyst, negara penghasil masing2. Trade fair itu, menurut pendapat saya, bagaikan menggarami laut. Dari pado indak, ya tentu mendingan2, apa memang tulus meraka mau membantu rakyat kita supaya makmur??? Saya bukan politikus, hanya membaca data2 yang ada, logika, serta intuitiv, dikombinasikan, dengan analysa fikir. Cotoh, karet, sudah banyak negara2 yang produksi, pembelinya, lihat saja Baron2 karet didunia ber oligarchie (hitung saja Fabrik ban mobil di Dunia) Sawit, gonta ganti saja dengan karet, tebang, tanam, panen, jatuh harga, tebang, ganti……… tetap kalah setahap (co maheto kain saruang sen). Minyak, palm, udang dll. dll. ngak beda jauh. Tetapi, Gambir, minyak nilam, sepanjang pengetahuan saya, terbesar didunia hanya di Indonesia. Gambir kemungkinan terbesar di SumBar dan Riau. Minyak nilam (inti untuk parfum ), mungkin Aceh/ Dairi. (Tolong koreksi saya kebenarannya.) Kenapa kasarnya, kita penghasil terbesar didunia, mungkin saja satu2nya yang terkuat didunia dalam jumlah hasil monopolist, tetapi malah didikte bangsa lain. Jangan ikut2 latah, mengikut saja, tanam kopi, tanammmmmmmm. Apa ibu2 dan bapak2 percaya apa German benar2 mau mendidik orang indonesia untuk sukses membuat Mercedes. Contoh sudah ada, Pak Dr.-Ing. Habibie orang pintar sudah membuat pesawat terbang, malahan diBandung kota industri atau kota kembang, merangkak bahan baku dari Priok mendaki keBandung, baru bisa produksi, setelah itu terbang?? Seingat saya, kota industri (berat) diseluruh dunia, ditepi laut/sungai yang ada pelabuhannya. Anehnya dimana perlu kita tidak meniru………., kenapa ya? Dimana rasa harga diri, maaf, mending kaya tapi disogok, apa tidak hina?????? Makanya bersatulah, jangan pula mau diutangin sama Bank Dunia, kalau hanya didikte/dibodohin saja. Memang kita diciptakan Allah bukan untuk semua jadi kepala, semua itu musti team, kalau semua jadi boss siapa yang kerja. Sebaliknya yang kerja juga musti berpengahasilan yang mencukupi, jangan ditindas. Kwalitas musti dijaga, dan jangan mau sampai di sabotage, berfikirlah jarak jauh. Satu lagi, yang sering saya dengar cerita, sesudah dikenalkan dengan calon pembeli di Eropa, lalu main belakang. Selanjutnya malah kwalitas barang tidak dijaga, malahan kata yang dimufakati tidak ditepati. Itu mau menang sekali saja…….., mendingan sedikit tetani rutin, lalu setelah berjalan stabil baru diperbagus. Adalagi kalimat2 yang saya sering dengar, yang intinya:" Bawalah calon pembelinya kesini, nanti bereslah dsb. dsb." Bagaimana mau berdagang kalau kutur/selera pembeli tidak tahu? Kultur bangsa walaupun seEropa itu berbeda, kalau German ini tepat waktu, sekali bohong, mereka bakal 10 kali ngak percaya lagi. Beda dengan bangsa lainnya, begitu juga dgn Belanda dll.. Anehnya biarpun agama mereka disini mayoritas non Islam, tetapi mereka UMUMNYA berkata jujur, serta menurut aturan permainan. Saya bukan memberi angin sorga……., seandainya ada permintaan yang menarik, bakal saya kabarkan. Maaf, seandainya, kata2 yang kurang menyenangkan. Wassalam, Muljadi,German. -------- Original-Nachricht -------- > Datum: Tue, 3 Feb 2009 10:00:33 +0000 (GMT) > Von: Tanjuang Heri <[email protected]> > An: [email protected] > Betreff: Re: Bls: [...@ntau-net] Export Gambiar > Ambo sapandapek jo sanak Eri Baheram. Memang salamo ko soal gambia ko > dimonopoli dek urang India. > > Namun dalam hal gambia ko, iyo minim bana pengetahuan ambo. Ciek lai, > urang India tu nyo olah dulu jadi bahan setengah jadi sabalun diekspor ka > Eropa. Samo halnyo jo minyak atsiri (minyak nilam and so on) > > Soal ndak ado kekompakan di petani pedagang awak, bukanlah rahasia. Cuman > kalau bisa, iyo kito cubolah maubah "mindset" tu. Dulu ado KUD, tp ndak > jalan. > > Kalau sajo petani gambia kito basatu, dan bisa manantuan harago sasuai jo > biaya produksi, tantunyo si India mungkin akan manuruik. Ujung² nyo inyo > ka mamproduksi gambia surang. > > Itulah sababnyo kini di Eropa ado gerakan "Fair Trade". Yg tujuannyo > membantu petani, produsen dalam pembelian hasil taninyo jo harago pantas, > tanpa > perantara. Hal iko alah ado di Jawa jo Bali utk kopi. Produk hasil "Fair > Trade" nan kini alah beredar di supermarket di Perancis adolah, kopi, teh, > coklat, produk kerajinan, beras, dll. > > Peningkatan SDM paralu supayo indak dikicuah taruih se dek tengkulak. > > Sakitu se komentar ambo > > Salam > > Heri Tanjuang (45) > Rang Tabiang > Paris, Perancis > HP : +33614397758 (baru diganti) pls dlt nan lamo > Fax :+33140598958 > HP Indo : 0811885627 (hanyo utk SMS) > > --- En date de : Mar 3.2.09, Eri Baheram <[email protected]> a > écrit : > > De: Eri Baheram <[email protected]> > Objet: Re: Bls: [...@ntau-net] Export Gambiar > À: [email protected] > Date: Mardi 3 Février 2009, 9h37 > > > > > > > assww. > ambo urang biaso, terperanjat saya membaca artikel ekspor gambir, > sebaiknya tak perlu kita permasalahkan orang india, mulai dari kitonyo, ambo > tidak > ahli dalam gambir, jadi kita bersamo2 cari solusi yaitu kumpulkan para ahli > gambir, jika memang mau kita membangun pabrik dan cari pasar dan bentuk > secara bersama. mulai dari bawah dulu. karena penjualan di luar nagari sudah > ada mafianya. segala macam apapun usaha dengan luar nagari sudah ada > aturan mainnya. karena tidak ada kekompak sasamo kitonya jadi bangsa lain > yang memegang peranan. demikian yang dapat saya sampaikan jika sudah ada > terbentuk suatu usaha bersama saya pribadi ikut pertisapasi untuk meningkatkan > dalam dunia usaha. > hormat saya > eri baheram. 47th > stockholm > > > > > > From: benni_inayatullah <[email protected]> > To: [email protected] > Sent: Tuesday, February 3, 2009 8:40:52 AM > Subject: Re: Bls: [...@ntau-net] Export Gambiar > > > Kendala petani gambia ko ado duo > > 1. Pabrik pengolahan(teknologi sarato skill) > 2. Pasar > > kalau ado Sanak nan dilua nagari punyo channel untuak iko bisa > dibantu lah...dari pado India juo nan kayo dek maolah gambia dari 50 > Kota ko > > salam > > Ben -- Psssst! Schon vom neuen GMX MultiMessenger gehört? Der kann`s mit allen: http://www.gmx.net/de/go/multimessenger01 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
