Assalamualaikum w.w, para sanak sa palanta,
 
Dua bulan lagi akan ada Pemilihan Umum, untuk memilih anggota DPR dan DPD dan 
setelah itu untuk memilih Presiden/Wakil Presiden.
 
Di hadapan kita telah tampil para caleg dan capres, baik didampingi cawapres 
maupun tidak. Masing-masingnya berusaha untuk memperoleh dukungan kita dengan 
bermacam-macam cara dan gaya.
 
Yang belum jelas adalah : siapa mereka ini, bagaimana rekam jejaknya, dan apa 
yang mampu mereka lakukan sekali duduk dalam jabatan tersebut ?
 
Secara pribadi saya terheran-heran dengan berita bahwa dari 550 orang  anggota 
DPR RI, hanya 116 orang yang aktif mengikuti sidang-sidang. Sisanya entah 
kemana. Lebih dari itu mereka tidak mampu menyelesaikan rancangan undang-undang 
yang sudah tercantum dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas).. Dan di 
antara undang-undang yang sudah mereka selaikan, selain lumayan banyak yang 
diuji-materilkan ke Mahkamah Konstitusi juga tidak kurang banyaknya yang tidak 
konsisten dan merugikan rakyat, termasuk tentang masalah agraria dan hak 
masyarakat hukum adat yang sedang saya tekuni sekarang.
 
Seluruhnya itu terjadi bersamaan dengan selera tinggi mereka untuk menaikkan 
gaji dan tunjangan serta untuk 'studi banding' ke luar negeri.
 
Sudah barang tentu -- sebagai pemegang kedaulatan di negara ini -- sebagai 
bagian dari Rakyat kita layak untuk mengritisi DPR dan DPD serta Presiden dan 
Wakil Presiden, yang bekerja atas mandat kita.
 
Di bawah ini saya kutipkan salah satu artikel di harian Kompas, sekedar sebagai 
bahan renungan, agar kita dapat memilih secara sadar dan kritis.
 
Semoga bermanfaat.


Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo)
Alternate e-mail address: [email protected];
[email protected]


Teknokrasi Politik
 

Kompas, Kamis, 5 Februari 2009 | 00:43 WIB 

Masdar Hilmy - 
 
Struktur kelembagaan negara harus ditempatkan sebagai bagian dari skema 
penyelesaian berbagai persoalan bangsa, bukan justru menambah masalah.
Pesan moral ini seharusnya ditangkap oleh mereka yang (kembali) ”mengadu nasib” 
di atas panggung politik-kekuasaan seiring dengan riuh-rendahnya pencalonan 
politisi menjelang Pemilu 2009. Sayang spanduk, baliho, dan iklan politik yang 
bertebaran di mana-mana tidak menunjukkan apa-apa tentang kapasitas dan 
komitmen calon politisi, kecuali politik pencitraan.
 
Selain itu, grafik kinerja lembaga legislatif amat memprihatinkan. Hal ini 
terlihat dari rendahnya tingkat produktivitas dan partisipasi anggota Dewan 
dalam serangkaian aktivitas legislasi. Terbukti, dari 550 anggota Dewan, hanya 
116 yang aktif dalam lima kali rapat paripurna (Kompas, 10/1/2009). 
Pertanyaannya, ke mana anggota Dewan yang lain? Apa saja kerja mereka?
 
Politik petualang
Dengan demikian, rasanya sulit menampik kenyataan, struktur kelembagaan negara 
dijejali para medioker pejabat-politisi bermental petualang (political 
entrepreneurs) yang hanya berpikir tiga hal: keuntungan, keuntungan, dan 
keuntungan. Jauh dari mentalitas seorang teknokrat, pejabat-politisi dengan 
mentalitas semacam ini niscaya tidak punya skema yang rinci, terstruktur, dan 
terukur tentang, misalnya, bagaimana masalah kelangkaan pupuk, banjir, 
kemacetan lalu lintas, serta distribusi BBM bisa diurai dan diatasi.
 
Bagi pejabat-politisi bermental petualang, mobilitas vertikal jauh lebih 
menarik ketimbang isu-isu wong cilik seperti kemiskinan, kebodohan, 
pengangguran dan semacamnya. Isu-isu itu bukan diselesaikan, tetapi justru 
dikelola menjadi komoditas politik yang bernilai jual tinggi. Logikanya, jika 
setiap orang sudah makmur dan sejahtera, jualan apa lagi yang bisa ditawarkan? 
Alih-alih, kemiskinan adalah semacam ”kotak Pandora” yang jika dibuka (baca: 
dihapus) akan mengancam comfort zone mereka. Menutup ”kotak Pandora” adalah 
cara eksistensial para pejabat-politisi bermental petualang untuk ”ada” (the 
way to exist).
 
Oleh karena itu, berharap kemiskinan terhapus dari bumi Pertiwi ibarat berharap 
Matahari terbit dari timur.(mungkin dimaksud "terbit dari Barat", SB)  Isu-isu 
deprivasi dan kemalangan sosial adalah ”bantalan” di atas mana sebagian orang 
bisa bermobilisasi secara vertikal menuju puncak piramida kekuasaan dengan 
”tumbal” wong cilik. Sejujurnya, politisi bermental petualang tidak akan rela 
jika tiap orang sejahtera. Tangan-tangan kotor politik- kekuasaan masih ingin 
menggadaikan kesejahteraan warga, kecuali jika ditebus dengan biaya 
ekonomi-politik tidak murah.
 
Dalam kondisi semacam itu, paradigma politik teknokratik mendesak digemakan 
kembali. Berbagai persoalan yang melilit bangsa tidak akan selesai dengan 
mengandalkan politik pencitraan, lobi-lobi politik, atau kapital- finansial, 
sebuah modalitas yang selama ini menjadi ”menu andalan” pejabat-politisi 
petualang untuk meraih kekuasaan.
Jika soft skills semacam ini tetap diandalkan, jangan harap berbagai persoalan 
bangsa akan selesai. Dalam konteks inilah, sinyalemen bakal membeludaknya 
gelombang golput pada Pemilu 2009 menjadi beralasan.
 
Rezim meritokrasi
Sebenarnya, emosi masyarakat tidak akan tersulut jika para pejabat-politisi 
publik tidak mudah menuntut kenaikan gaji dan atau fasilitas negara. Memang 
sudah seharusnya para pejabat-politisi digaji tinggi untuk kerja yang tidak 
ringan. Namun, para pejabat-politisi itu seyogianya menunjukkan kinerjanya 
melalui program-program sosial-ekonomi yang nyata untuk menyejahterakan setiap 
warga negara.
 
Muara yang hendak dicapai dari sistem politik teknokrasi adalah sebuah rezim 
meritokrasi, di mana produktivitas kinerja setiap individu atau lembaga menjadi 
tolok ukur keberhasilan program yang ditetapkan. Dalam rezim semacam ini, ada 
proses jual-beli nyata antara pejabat-politisi sebagai penyedia kemampuan dan 
keterampilan know- how di satu sisi dan masyarakat sebagai pembeli atau 
pengguna di sisi lain. Sistem politik meritokrasi mengandaikan proses 
penjaminan mutu layanan di segala bidang dan fasilitas publik oleh negara 
kepada setiap warganya.
 
Dalam konteks ini, tidak ada lagi istilah jabatan/departemen basah maupun 
kering, sebuah kosakata klasik untuk menggambarkan perebutan sumber 
ekonomi-politik di institusi pemerintahan. Juga tidak ada lagi dikotomi pejabat 
karier versus pejabat politik. Seorang pejabat— terlepas dari latar belakang 
politik-ideologinya—harus mengedepankan kompetensi ketimbang kalkulasi 
untung-rugi.
 
Di sejumlah negara maju, struktur kelembagaan negara berfungsi sebagai jejaring 
penyedia (networking provider) layanan publik yang prima kepada setiap warga 
negara di segala lini kehidupan. Jika struktur kelembagaan itu terbukti 
mengingkari kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai penjamin kenyamanan, rakyat 
bisa mengambil tindakan tegas. Konsekuensinya, seorang warga bisa menuntut 
ganti rugi kepada negara jika hak-hak mereka tercederai, seperti kecelakaan 
akibat kegagalan negara menyediakan infrastruktur publik yang aman dan nyaman.
 
Lain ceritanya jika isu kemiskinan dan kesejahteraan masih menjadi dua sisi 
dari satu mata uang politik-kekuasaan. Nalar politik terlalu dominan dalam 
setiap upaya mereduksi kemiskinan dan pengangguran, meningkatkan kesejahteraan, 
program pendidikan dan kesehatan gratis, mengurai kemacetan, banjir dan bencana 
alam, dan lain-lain.
 
Akibatnya, muncullah fenomena komodifikasi dan politisasi kemiskinan, dagang 
sapi posisi dan jabatan, jual-beli perkara, dan semacamnya. Teknokrasi politik 
adalah kata kunci untuk menceraikan nalar politik dari berbagai persoalan 
dimaksud.
 
Masdar Hilmy Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke