Da Sa'af,
Kalau jawek nan jujur raso no indak ado manfaat pemilu ko untuak rakyat nan 
nampak doh, malah pitih nan seharus no untuak pembangunan abih untuak demokrasi 
caro Indonesia ko.
Salah satu contoh Pilkada Jawa Timur lah ma abih kan pitih pemerintah satu 
trilyun (alun nan abih dek calon2 tu lai) dan asia no masih basitingkarah juo.
Kalau di etong pitih sa triliun tu lah bisa mambangun labiah dari saratuh 
sakola, manaiak kan gaji guru dll.
Kalau seluruh Indonesia bara lah tu abih pitih untuak Pilkada jo Pemilu dalam 
kurun 5 taun ko, samantaro hasil no kan samo nampak juo di awak.
Iko pamikiran ambo sen kalau nan lain antah lah

Wassalam
Tan Ameh (50+)
  ----- Original Message ----- 
  From: Dr.Saafroedin BAHAR 
  To: Rantau Net 
  Sent: Thursday, February 05, 2009 9:37 AM
  Subject: [...@ntau-net] SERI NAN DI LUA TAMPURUANG 46: APA MANFAAT PEMILU 
DALAM RAKYAT?


        Assalamualaikum w.w, para sanak sa palanta,

        Dua bulan lagi akan ada Pemilihan Umum, untuk memilih anggota DPR dan 
DPD dan setelah itu untuk memilih Presiden/Wakil Presiden.

        Di hadapan kita telah tampil para caleg dan capres, baik didampingi 
cawapres maupun tidak. Masing-masingnya berusaha untuk memperoleh dukungan kita 
dengan bermacam-macam cara dan gaya.

        Yang belum jelas adalah : siapa mereka ini, bagaimana rekam jejaknya, 
dan apa yang mampu mereka lakukan sekali duduk dalam jabatan tersebut ?

        Secara pribadi saya terheran-heran dengan berita bahwa dari 550 orang  
anggota DPR RI, hanya 116 orang yang aktif mengikuti sidang-sidang. Sisanya 
entah kemana. Lebih dari itu mereka tidak mampu menyelesaikan rancangan 
undang-undang yang sudah tercantum dalam Program Legislasi Nasional 
(Prolegnas). Dan di antara undang-undang yang sudah mereka selaikan, selain 
lumayan banyak yang diuji-materilkan ke Mahkamah Konstitusi juga tidak kurang 
banyaknya yang tidak konsisten dan merugikan rakyat, termasuk tentang masalah 
agraria dan hak masyarakat hukum adat yang sedang saya tekuni sekarang.

        Seluruhnya itu terjadi bersamaan dengan selera tinggi mereka untuk 
menaikkan gaji dan tunjangan serta untuk 'studi banding' ke luar negeri.

        Sudah barang tentu -- sebagai pemegang kedaulatan di negara ini -- 
sebagai bagian dari Rakyat kita layak untuk mengritisi DPR dan DPD serta 
Presiden dan Wakil Presiden, yang bekerja atas mandat kita.

        Di bawah ini saya kutipkan salah satu artikel di harian Kompas, sekedar 
sebagai bahan renungan, agar kita dapat memilih secara sadar dan kritis.

        Semoga bermanfaat.


        Wassalam,
        Saafroedin Bahar
        (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo)
        Alternate e-mail address: [email protected];
        [email protected]



        Teknokrasi Politik

        Kompas, Kamis, 5 Februari 2009 | 00:43 WIB 
        Masdar Hilmy - 

        Struktur kelembagaan negara harus ditempatkan sebagai bagian dari skema 
penyelesaian berbagai persoalan bangsa, bukan justru menambah masalah.
        Pesan moral ini seharusnya ditangkap oleh mereka yang (kembali) 
”mengadu nasib” di atas panggung politik-kekuasaan seiring dengan 
riuh-rendahnya pencalonan politisi menjelang Pemilu 2009. Sayang spanduk, 
baliho, dan iklan politik yang bertebaran di mana-mana tidak menunjukkan 
apa-apa tentang kapasitas dan komitmen calon politisi, kecuali politik 
pencitraan.

        Selain itu, grafik kinerja lembaga legislatif amat memprihatinkan. Hal 
ini terlihat dari rendahnya tingkat produktivitas dan partisipasi anggota Dewan 
dalam serangkaian aktivitas legislasi. Terbukti, dari 550 anggota Dewan, hanya 
116 yang aktif dalam lima kali rapat paripurna (Kompas, 10/1/2009). 
Pertanyaannya, ke mana anggota Dewan yang lain? Apa saja kerja mereka?

        Politik petualang
        Dengan demikian, rasanya sulit menampik kenyataan, struktur kelembagaan 
negara dijejali para medioker pejabat-politisi bermental petualang (political 
entrepreneurs) yang hanya berpikir tiga hal: keuntungan, keuntungan, dan 
keuntungan. Jauh dari mentalitas seorang teknokrat, pejabat-politisi dengan 
mentalitas semacam ini niscaya tidak punya skema yang rinci, terstruktur, dan 
terukur tentang, misalnya, bagaimana masalah kelangkaan pupuk, banjir, 
kemacetan lalu lintas, serta distribusi BBM bisa diurai dan diatasi.

        Bagi pejabat-politisi bermental petualang, mobilitas vertikal jauh 
lebih menarik ketimbang isu-isu wong cilik seperti kemiskinan, kebodohan, 
pengangguran dan semacamnya. Isu-isu itu bukan diselesaikan, tetapi justru 
dikelola menjadi komoditas politik yang bernilai jual tinggi. Logikanya, jika 
setiap orang sudah makmur dan sejahtera, jualan apa lagi yang bisa ditawarkan? 
Alih-alih, kemiskinan adalah semacam ”kotak Pandora” yang jika dibuka (baca: 
dihapus) akan mengancam comfort zone mereka. Menutup ”kotak Pandora” adalah 
cara eksistensial para pejabat-politisi bermental petualang untuk ”ada” (the 
way to exist).

        Oleh karena itu, berharap kemiskinan terhapus dari bumi Pertiwi ibarat 
berharap Matahari terbit dari timur.(mungkin dimaksud "terbit dari Barat", SB)  
Isu-isu deprivasi dan kemalangan sosial adalah ”bantalan” di atas mana sebagian 
orang bisa bermobilisasi secara vertikal menuju puncak piramida kekuasaan 
dengan ”tumbal” wong cilik. Sejujurnya, politisi bermental petualang tidak akan 
rela jika tiap orang sejahtera. Tangan-tangan kotor politik- kekuasaan masih 
ingin menggadaikan kesejahteraan warga, kecuali jika ditebus dengan biaya 
ekonomi-politik tidak murah.

        Dalam kondisi semacam itu, paradigma politik teknokratik mendesak 
digemakan kembali. Berbagai persoalan yang melilit bangsa tidak akan selesai 
dengan mengandalkan politik pencitraan, lobi-lobi politik, atau kapital- 
finansial, sebuah modalitas yang selama ini menjadi ”menu andalan” 
pejabat-politisi petualang untuk meraih kekuasaan.
        Jika soft skills semacam ini tetap diandalkan, jangan harap berbagai 
persoalan bangsa akan selesai. Dalam konteks inilah, sinyalemen bakal 
membeludaknya gelombang golput pada Pemilu 2009 menjadi beralasan.

        Rezim meritokrasi
        Sebenarnya, emosi masyarakat tidak akan tersulut jika para 
pejabat-politisi publik tidak mudah menuntut kenaikan gaji dan atau fasilitas 
negara. Memang sudah seharusnya para pejabat-politisi digaji tinggi untuk kerja 
yang tidak ringan. Namun, para pejabat-politisi itu seyogianya menunjukkan 
kinerjanya melalui program-program sosial-ekonomi yang nyata untuk 
menyejahterakan setiap warga negara.

        Muara yang hendak dicapai dari sistem politik teknokrasi adalah sebuah 
rezim meritokrasi, di mana produktivitas kinerja setiap individu atau lembaga 
menjadi tolok ukur keberhasilan program yang ditetapkan. Dalam rezim semacam 
ini, ada proses jual-beli nyata antara pejabat-politisi sebagai penyedia 
kemampuan dan keterampilan know- how di satu sisi dan masyarakat sebagai 
pembeli atau pengguna di sisi lain. Sistem politik meritokrasi mengandaikan 
proses penjaminan mutu layanan di segala bidang dan fasilitas publik oleh 
negara kepada setiap warganya.

        Dalam konteks ini, tidak ada lagi istilah jabatan/departemen basah 
maupun kering, sebuah kosakata klasik untuk menggambarkan perebutan sumber 
ekonomi-politik di institusi pemerintahan. Juga tidak ada lagi dikotomi pejabat 
karier versus pejabat politik. Seorang pejabat— terlepas dari latar belakang 
politik-ideologinya—harus mengedepankan kompetensi ketimbang kalkulasi 
untung-rugi.

        Di sejumlah negara maju, struktur kelembagaan negara berfungsi sebagai 
jejaring penyedia (networking provider) layanan publik yang prima kepada setiap 
warga negara di segala lini kehidupan. Jika struktur kelembagaan itu terbukti 
mengingkari kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai penjamin kenyamanan, rakyat 
bisa mengambil tindakan tegas. Konsekuensinya, seorang warga bisa menuntut 
ganti rugi kepada negara jika hak-hak mereka tercederai, seperti kecelakaan 
akibat kegagalan negara menyediakan infrastruktur publik yang aman dan nyaman.

        Lain ceritanya jika isu kemiskinan dan kesejahteraan masih menjadi dua 
sisi dari satu mata uang politik-kekuasaan. Nalar politik terlalu dominan dalam 
setiap upaya mereduksi kemiskinan dan pengangguran, meningkatkan kesejahteraan, 
program pendidikan dan kesehatan gratis, mengurai kemacetan, banjir dan bencana 
alam, dan lain-lain.

        Akibatnya, muncullah fenomena komodifikasi dan politisasi kemiskinan, 
dagang sapi posisi dan jabatan, jual-beli perkara, dan semacamnya. Teknokrasi 
politik adalah kata kunci untuk menceraikan nalar politik dari berbagai 
persoalan dimaksud.

        Masdar Hilmy Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya 
    
     
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke