Dek ado nan batannyo pakaro/carito Cindua Mato nan di tanggapi dek Kanda
Suryadi, sampai tasasek pulo ambo ka rumah si Edri (ES. ITO), Dan Brownnya
Indonesia/Minangkabau dengan karya Negara Kelima sama Rahasia Meede.

Tasalek ka sebuah Karya ITO nan bajudul "Cindua Mato dan Shakespeare-isme
Orang Minangkabau" seperti nan ambo kopi dibawah ko, bagus... 
Ambo lewaik iko juo, dan mungkin si Sutan Mangkudun nan dimakasuik duduak di
Palanta.

Apo iyo pa Darah Tinggi Sutan?? Kurangilah makan dagiang, apolai dagiang
kambiang...

Heheheheee..

Nofend
Ayahnyo "Dara Jingga"
================

by e.s. ito ~ January 17th, 2009

Ini bukanlah tulisan serius yang bisa dijadikan acuan karya tulis ilmiah.
Jangan pula berharap tulisan ini bisa dijadikan acuan data pemilih oleh
lembaga survei politik yang serakah. Ini hanyalah tulisan yang berawal dari
kegundahan adik sumando saya Sutan Mangkudun pada saat mempersiapkan nama
untuk calon bayi yang masih bersembunyi di kelambu perut ibunya. Seandainya
sang bayi lahir dengan belalai kecil di antara dua kaki maka dia tidak akan
begitu pusing, sebab dia telah menyiapkan satu nama untuk anak laki-laki
(mungkin: Bona, gajah kecil berbelalai panjang). Celakanya Sutan Mangkudun
kita yang bersemangat menyongsong anak pertama ini nyaris lupa bahwasanya
masih ada kemungkinan yang satu lagi, dia akan mendapat anugerah anak
perempuan (kecuali dia mau kasih nama Rongrong, sahabatnya Bona, tentu tidak
akan ada masalah lagi).

Rupanya bagi Sutan Mangkudun, masalah nama anak perempuan ini benar-benar
membuat dia pusing sehingga perlu kiranya dia menjemput saya, calon mamak
dari anaknya itu untuk berembug. Dalam pertemuan penting yang juga dihadiri
pejabat dari rektorat UI dan seorang mahasiswa pasca dari NUS Singapura itu
saya katakan kepada Sutan Mangkudun untuk "mambangkik batang tarandam" yang
maksudnya adalah agar Sutan Mangkudun dan Istrinya kembali menggunakan
nama-nama klasik Minangkabau pada masa gunung Marapi masih sebesar telur
ayam. Sudah terlalu lama nama-nama klasik itu terbenam oleh nama-nama berbau
Arab, Melayu, Jawa, Barat dan Neo-Arab. Lalu nama apa yang mesti diberi,
Sutan Mangkudun tentu trauma dengan nama-nama seperti : Tak Udih, Upiak
Banun, Upiak Ijok atau mungkin ada juga Upiak Lenyai. Ah, tunggu dulu
nama-nama Minang tidak se-lenyai itu.

Setiap kali orang bertanya tentang nama klasik Minangkabau, pikiran saya
selalu tertuju pada sebuah buku kumal berwarna kuning yang dulu waktu kecil
sering saya baca berulangkali, Cerita Cindua Mato. Di dalam buku yang banyak
bercerita tentang kecerdikan Cindua Mato dalam menghadapi Rajo Imbang Jayo
yang telah melarikan istri Dang Tuanku, -raja Minangkabau pada saat itu-
saya menemukan banyak sekali nama-nama Minang yang enak di dengar dan tentu
saja perlu diingat. Saya tidak ingat semua nama-nama itu tetapi kita mulai
saja dari nama Cinduo Mato yang memiliki ibu bernama Kambang Bandahari dan
bapaknya bernama Salamat Panjang Gombak. Dang Tuanku yang beribukan Bundo
Kanduang dan beristrikan Puti Bungsu. Khusus untuk nama Dang Tuanku telah
saya sumbangkan kata depannya untuk nama anak kedua Uda IJP. Lalu ada pula
nama Puti Ranit Jintan, sayangnya saya lupa, apakah dia adik Puti Bungsu
atau adik dari Rajo Imbang Jayo. Di arena adu ayam ada nama jagoan bernama
Juaro Medan Labiah. Nah yang tidak kalah menarik adalah nama-nama hewan
peliharaan pada masa itu; Dang Tuanku memiliki kuda bernama Gumarang
sedangkan Cindua Mato punya kuda bernama Balang Kandi. Satu lagi, saya
pernah usulkan pada Sutan Mangkudun untuk memberi anaknya dengan nama
Sibinuang. Dia sudah nyaris setuju, tetapi untunglah dia lebih dahulu
bertanya, siapakah Sibinuang itu? Dengan sedikit senyum jumawa saya
jelaskan; Sibinuang itu kerbau sakti milik Cindua Mato yang di dalam
telinganya bersarang lebah ganas. Sutan Mangkudun, dengan melupakan
kenyataan saya adalah calon mamak anaknya, memaki saya habis-habisan. Di
akhir pertemuan saya punya dua usulan serius untuk calon anak perempuan
Sutan Mangkudun; Puti Ranit Jintan atau Kambang Bandahari. Syukur
Alhamdulillah, kedua nama itu telah ditolak oleh adik sapasukuan saya,
istrinya Sutan Mangkudun.

Sejauh pengamatan saya yang terbatas ini, dari dulu hingga saya beranjak
dewasa, orang Minang tidak pernah menganggap serius arti sebuah nama. Kami
adalah jenis masyarakat yang berwaham Shakespeare-isme yang mempertanyakan,
"apalah arti sebuah nama?". Itu sebabnya banyak orang Minang yang tidak bisa
menjelaskan arti nama yang diberikan oleh orang tuanya karena sikap
Shaesperare-isme nya. Itu sebabnya kadangkala di Minangkabau, tren nama
bergantung pada angin politik yang kuat. Pada masa Paderi berhasil
menancapkan Islam ala Wahabi maka nama Arab berseliweran hingga masa
kelahiran tokoh-tokoh nasional seperti Mohammad Attar (Bung Hatta), Abdul
Malik Karim Amarullah (Buya Hamka), Ibrahim (Tan Malaka), Masyudul Haq (Haji
Agus Salim) dan Mohammad Natsir. Lantas muncul pula masanya nama-nama aneh
berbau Melayu dengan akhiran "zal" untuk laki-laki dan akhiran "niar" dan
"diar" untuk perempuan. Nah, pada saat tentara pusat dari Jawa mengganyang
PRRI, datang pula angin baru, orang Minang buru-buru membubuhi huruf "o" di
belakang nama anaknya biar terdengar seperti nama Jawa. Tren Jawa selesai
mulailah tren ala perang dingin, muncullah nama John Kennedy, Jimmy Carter,
Eduard (Sevanatse), Yuki Andropof dan nama lainnya mengikuti perdebatan
pengamat politik amatir di meja domino lapau. Dan beberapa tahun belakangan
ini muncul kembali lah nama-nama Arab dengan pengucapan yang lebih ribet
seperti Salsabila, Daffa, Raisya dan masih banyak lagi. Inilah nama-nama
neo-Arab.

Pertanyaan yang sering muncul, kenapa masyarakat Minangkabau seolah tidak
memiliki identitas kultural di dalam sebuah nama. Menurut saya jawabannya
mudah, karena kami, orang Minangkabau tidak pernah menganggap penting arti
sebuah nama. Ini tidak lepas dari filosofi kultural yang terwakili dalam
sebuah ungkapan, "Ketek banamo, gadang bagala" (kecil bernama, besar
bergelar). Nama sebagai pemberian orang tua pada anaknya tidaklah lebih
penting daripada gelar sebagai pemberian adat dan kaum yang akan diterima
anak laki-laki pada saat dia menikah nanti. Nama bagi anak laki-laki
Minangkabau hanyalah sebutan pada masa transisi sebelum ia menikah dan
diberi gelar. Jadi seorang yang bernama Eduard Sevanatse begitu kawin diberi
gelarSutan Batuah; maka seumur hidup orang akan memanggilnya Sutan Batuah
dan hilang tidak berbekas lah nama Mantan Menlu Soviet itu kecuali pada KTP
dan surat resmi. Bagaimana dengan kaum perempuan? Sama saja, nama apapun
tidak akan begitu penting sebab dalam keseharian bagian nama yang digunakan
hanyalah sepenggal satu suku kata di depan nama. Perempuan yang bernama
Deswita misalnya, hanya akan dikenal sebagai Si Deh (kalau di kota dia akan
sediki beruntung dipanggil Des)

Pemberian nama di Minangkabau pada masa lalu hanyalah demi alasan
kepraktisan sebab nama-nama nan rancak tidak akan begitu banyak berguna.
Lagipula lidah latah orang Minang sebenarnya selalu kelelahan melafalkan
nama-nama yang aneh. Nama-nama Arab membuat lidah kami terkilir menyebutnya,
nama Jawa membuat hidung kami tersumbat melafalkannya, nama Barat membuat
mulut kami keseleo mengucapkannya. Nah begitu pula dengan nama-nama neo-Arab
nan gagah sekarang ini, lidah kami tidak saja terkilir meyebutnya tetapi
dahak ikut keluar melafalkananya. Sungguh mulut kami orang Minang susah
kompromi dengan keindahan nama. Nah, demi alasan kepraktisan itu pula lah
dahulunya, nama-nama yang bagus itu dimodifikasi dalam pemanggilanya
sehari-hari misalnya mengganti akhiran "s" dengan "h", seperti des menjadi
Deh, atau Ros menjadi Roh. Atau mengganti akhiran "t" dan "d" menjadi
akhiran "k" sehingga makhluk istimewa bernama "Ed" akan dipanggil "To'Ek" .
Atau ada pula modifikasi ektrem ala pergaulan kampung, nama bagus seperti
John bisa berubah jadi Kojon, Nofri jadi Konok, Hendri jadi Pendi, Irwan
jadi Jawan, Desrizal jadi Kuri, Zetri jadi Kojek dan lain sebagainya.
Kutukan nama itu hanya bisa diakhiri cowok-cowok Minangkabau dengan cara
secepatnya menikah sehingga gelar adat bisa didapatkan. Bagi kami orang
Minang, semua masalah bisa diselesaikan secara praktis.

Tetapi semua hal di atas tadi tampaknya hanyalah masa lalu. Seiring dengan
meredupnya pamor gelar adat nan adiluhung yang ditandai dengan semakin
sedikitnya laki-laki Minangkabau memakainya di belakang nama setelah
menikah, maka orang-orang Minang mulai serius memberi nama anaknya. Tentu
yang sedang ngetren sekarang adalah nama-nama neo-Arab yang bila lidah
Minang ini mengucapkannya akan terkilir dan memancing dahak keluar karena
begitu tebalnya huruf dan kuatnya tekanan Qalqolah. Dalam rangka persaingan
sehat dengan nama-nama Neo-Arab itulah saya sekarang rajin sekali memberikan
sumbang saran kepada kawan-kawan saya untuk memberikan nama-nama Minang
klasik kepada anaknya. Sebab saya takut, belasan tahun ke depan gelar-gelar
nan indah seperti Sutan Majo Indo, Sutan Sati, Sutan Makudun, Katik Batuah,
Katik Endah, Marajo Basa, Rangkayo Basa, Sutan Juaro, Malin Sati dan puluhan
gelar lainnya akan tenggelam begitu saja.

Aih, saya baru ingat, bukankah kepada Sutan Mangkudun saya masih bisa
sumbang saran setelah penolakan usulan dua nama dari istrinya. Saya teringat
nama putri Minangkabau yang dipinang Raja Majapahit, Dara Petak dan Dara
Jingga. Nah khusus untuk anak Sutan Mangkudun, saya usulkan saja nama
Dara(h) Tinggi. Bukankah itu sesuai tabiat bapaknya???

http://esito.web.id/2009/01/cindua-mato-dan-shakespeare-isme-orang-minangkab
au/


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke