Interesting butir-butirnya:

"... kampanye pasang-tampang ..."

"... terpampang dengan muka lurus ke depan, dengan tatapan tanpa
emosi, seperti foto ijazah kursus montir."

"... bukanlah wajah calon anggota DPR wilayah saya, melainkan tampang
yang lain dari yang lain: tampang dalam iklan kartu telepon XLâ€"muka
monyet."

"Muka yang pada dasarnya menyerah tertempel, tanpa pesona."

"Demokrasi perlu dirindukan lagi sebagai tempat suara berseru dengan
gema yang kuat, dengan keberanian berbedaâ€"bukan konformisme yang
menyerahkan apa yang berharga dalam pribadi ke dalam sebuah pasfoto.
Potret itu tak bicara apa-apa." 

Salam,
--MakNhah

--- In [email protected], Lies Suryadi <niadil...@...> wrote:
> 
>  
> POTRET
> (Goenawan Mohamad)
>    
> SEMOGA Tuhan menyelamatkan kita dari potret. Semoga Tuhan
menyelamatkan pepohonan Indonesia, tiang listrik Indonesia, pagar desa
dan tembok kota Indonesia, dan segala hal yang berdiri dengan sabar di
Indonesia, dari gambar manusia.
>  
> Bukan karena membuat gambar manusia itu dikutuk Allah. Tapi….
>  
> Sebaiknya lebih dulu perlu saya terangkan, terutama bagi para
pembaca yang sedang tak di negeri ini, atau yang selama lima bulan
belum keluar rumah: adapun gambar manusia itu adalah potret wajah
para †ca-leg†. Atau †ca-bup†. Atau †ca-wali†. Atau
†ca-gub†. Atau †ca-pres†. Demokrasi telah marak di Indonesia,
para pembaca yang budiman, juga kelatahan.
> Kelatahan, mungkin juga konformisme. Kini hampir tiap orang yang
mencalonkan diri untuk dipilih siap maju buat bersaingâ€"sebuah tekad
yang bagus sebetulnya. Tapi rupanya mekanisme persaingan politik kini
mengandung sebuah paradoks.
>  
> Di satu pihak, siapa yang ingin menang harus lebih menonjol
ketimbang yang lain. Tapi, di lain pihak, sebagaimana tampak dalam
potret-potret yang menempel atau bergelantungan di sepanjang tepi
jalan itu, tak seorang pun tampak ingin berbeda dari yang lain.
>  
> Saya lihat potret M. Tongtongsot dari Partai Bulan Pecah terpasang
berdampingan dengan gambar G. Gundulpringis dari Partai Bintang Bujel.
Kedua-keduanya tampil berpeci, mengenakan jas dan dasi. Kedua-duanya
memasang sederet huruf, maksudnya singkatan, di dekat nama mereka,
dimaksudkan sebagai gelar yang diharapkan membuat diri gagah: †H†,
atau †Drs†, atau †MA†, atau †MSc†. Kedua-duanya terpampang
dengan muka lurus ke depan, dengan tatapan tanpa emosi, seperti foto
ijazah kursus montir.
>  
> Dengan kata lain, orang-orang itu memasarkan diri bukan sebagai
pribadi, dengan watak yang tersendiri. Yang tampak di sana hanyalah
sebuah tipe. Tipe itu menyatukan entah berapa banyak potret yang
berderet-deret, hampir tanpa jarak, dengan nama-nama yang tak akan
kita tangkap dengan jelas, apalagi kita ingat, ketika kita lewat di
atas motor atau bus. Seorang kawan yang berpengalaman memilih foto
wajah buat sampul majalah menyatakan penilaiannya kepada saya: †92%
dari deretan wajah itu tak menarik.† Ia mengatakannya dengan
yakin: †Saya telah berjalan dari ujung Jawa Timur sampai Banten
untuk mengamati potret kampanye.†
>  
> Apa gerangan yang hendak didapat para pemasang gambar? Jawabnya
jelas: mereka ingin dipilih di antara ratusan orang lain. Potret
mereka ingin direkam dalam ingatan orang pada menit-menit yang sunyi
di depan kotak suara pada hari pemilihan nanti. Nama mereka ingin
dihafal. Mereka keluarkan dana berjuta-juta untuk mencapai semua itu
dengan memanfaatkan dan mengotori pohon, tembok, dan tiang listrik.
Tapi belum saya dengar mereka pernah meneliti sejauh mana kampanye
pasang-tampang itu tak sia-sia.
>  
> †Tapi saya tak mau ketinggalan,† agaknya demikianlah alasan
mereka untuk memakai teknik kampanye ini. Tentu, alasan itu bisa
diterima. Namun yang terjadi, yang bisa disebut sebagai kelatahan,
justru akan menyebabkan mereka ketinggalan: mereka akan terpaku di
tempat, sebagai repetisi, ketika waktu berjalan dan orang-orang jadi
jenuh.
> Memang ada yang mengatakan, menirukan keyakinan juru propaganda
Partai Nazi, bahwa repetisi akan punya hasil positif; bahkan dusta
yang terus-menerus diulang akan jadi kebenaran. Partai yang sering
memasang iklan di televisi memang tercatatâ€"oleh juru jajak
pendapatâ€"mulai menuai hasil: dikenal, dan kadang-kadang dikenal
tanpa orang bilang, †ah, tidak†.
>  
> Tapi yang berlangsung kini bukan cuma repetisi. Yang kita saksikan
penyeragaman: perlombaan untuk memperlihatkan diri tapi ada saat yang
sama takut tampak †lain†. Maka yang akhirnya saya ingat dari
deretan gambar di tepi jalan itu bukanlah wajah calon anggota DPR
wilayah saya, melainkan tampang yang lain dari yang lain: tampang
dalam iklan kartu telepon XLâ€"muka monyet.
>  
> Sebab yang berulang-ulang datang kini bukanlah semboyan yang
menggugah, dari retorika yang menggetarkan. Repetisi dalam politik
hari ini adalah muka orang yang terpampang di bidang datar. Muka dua
dimensi. Muka yang dengan gampang menyesuaikan diri dengan pola umum,
ukuran yang lazim, dan bentuk persegi tertentu. Muka yang pada
dasarnya menyerah tertempel, tanpa pesona.
>  
> Saya kira pada mulanya adalah sebuah salah paham. Serbuan yang
visual ke dunia pancaindra kita punya akar di sebuah premis tua
bahwa †melihat† sama dengan †mengetahui†.
>  
> Kesalahpahaman oculocentric ini sudah ada sejak Plato di Yunani Kuno
memakai perumpamaan orang yang hidup dalam gua, yang dari kegelapan
melihat terang. Tapi tak berhenti di situ. Orang Jawa abad ke-21 tetap
memakai kata weruh (melihat) sebagai akar kata kawruh (pengetahuan
atau ilmu). Kini televisi merupakan sumber †pengetahuan† yang tak
tertandingi. Kita pun menonton iklan di layar itu, atau melihat
(biarpun dengan sekilas) potret-potret di pohon itu, seraya hampir
lupa bahwa, seperti pernah ditulis oleh seorang buta, †indra
penglihatan adalah indra berjarak†. Indra lainâ€"penghidu,
pendengar, peraba, misalnyaâ€"berangkat untuk sesuatu yang dekat,
bahkan akrab. Jauh sebelum Plato, dalam bahasa Aramaik, orang buta
disebut sagi nahor, atau †penglihatan yang hebat†.
>  
> Hari-hari ini saya pun ingin bersikap sebagai sagi nahor. Saya ingin
berdoa: semoga mata orang Indonesia tak akan membuat Indonesia
tersesat. Demokrasi perlu dirindukan lagi sebagai tempat suara berseru
dengan gema yang kuat, dengan keberanian berbedaâ€"bukan konformisme
yang menyerahkan apa yang berharga dalam pribadi ke dalam sebuah
pasfoto. Potret itu tak bicara apa-apa.
>  
>
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/02/02/CTP/mbm.20090202.CTP129420.id.html



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke