Bapak/Ibu/dunsanak Palanta YTH: Berikuik ado profil  dan wawancara Uda Andrinof 
Chaniago, anggota palanta RantauNet dan Ketua Persepi,  di Majalah Forum edisi 
terbaru. Digelari 'profesor' survei, padahal doktornya di bidang 
filsafat..hehe..Mantapp...Gd luck Da An..

Wasalam.

Israr Iskandar/35  

---------

MBM FORUM Keadilan/No. 41/09-15 Februari 2009


 


Andrinof A. Chaniago


Ketua Umum Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (PERSEPI)


 


Dari Penjaja Kue Ke "Profesor" Survei


 


Ketekunannya dalam mendefenisi kerangka kalimat dan angka, telah
mengubah segalanya. Satu riset yang ia tekuni telah mengubah tradisi
konglomerasi yang dikendalikan kepentingan pemodal dan birokrat
penadah. Sebuah missi yang belum tuntas.


 

Kawasan yang di keliling Gunung Merapi, Singgalang dan Tandikat itu
selalu menjadi bahan sastra Indonesia. Itulah Padang Panjang, kota
kecil di Sumatera Barat, menjadi inspirasi sastrawan kondang yang lahir
di tanah itu.


 

Tanah ini telah lama anti kolonial, lagi tempat pemikir pembaharuan
keagamaan. Tak kurang karya Tenggelamnya Kapal van der Wijck (Buya
Hamka), Bertanya Kerbau pada Pedati (A.A Navis), atau Marah Roesli
dalam Siti Nurbaya: merekam semua itu.


 

Andrinof A. Chaniago terngiang tanah kelahirannya itu saat dia
memberi komentar untuk thriller sejarah “Rahasia Meede� (Hikmah,
2007) yang ditulis oleh ES Ito.


 

Disampul cover dalam novel—yang menurut Dr. Harry Poeze (Direktur
KITLV Press, Leiden) sebagai aliran sastra baru itu— Andrinof
menulis:


 

“Ini karya langka yang memadukan imajinasi cerdas dengan falsafah
hidup, ilmu pengetahuan, heroisme, kecerdasan, idealisme dan realitas
politik yang tersembunyi. Dengan riset yang tekun, nyaris menjadikan
karya E.S. ITO ini sempurna. Ia bisa membangunkan generasi sekarang
yang terlanjur mengabaikan sejarah (28 Januari 2008)�.


 

Saban di tengah sorotan lampu kamera dalam dialog di televisi,
Andrinof mengulang lagi frase ‘realitas politik yang tersembunyi’.
Gaya dia bicara tak meledak-ledak tapi cukup menohok otak bawah sadar
kita menyingkap realitas apa yang terselip.


 

Satu kata kunci yang sering Andrinof lontar, realitas itu masalah
postur pembangunan Indonesia yang tak seimbang. Novel Rahasia Meede
dengan lead ‘Misteri Harta Karun VOC’ itu, sekan-akan merekam
pembangunan kita lari ke segelintir kelompok kepentingan pemodal dan
penadah kekayaan. Dan itu persis lari ke satu daerah, sementara mesin
keuntungan disimpan di negeri orang. 


 

Kalau soal menyingkap realitas ‘Rahasia Meede’ (novel),
Andrinof memang mengerahkan peneliti CIRUS—lembaga riset yang dia
pimpim—membantu ES Ito memecah kode ke mana harta karun kita yang
terpendam dan dipendam.


 

Namun kalau soal realitas sosial, Andrinof bersama Dr.Ahmad Erani
Yustika (Direktur Eksekutif INDEF), meluncurkan Visi Indonesia 2033.
Dibantu oleh tim asistensi, Visi Indonesia 2033 menawarkan pendekatan
lintas wilayah, lintas kelompok sosial, dan lintas waktu: menuju masa
depan indahnya Indonesia.


 

Satu diantara rekomendasi penting dalam Visi ini, Andrinof kampanye
memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan. Ini bukan isu baru.
Dulu Soekarno membuka wacana memindahkan ibukota ke Palangkaraya. Di
masa Soeharto, merapat sedikit ke wilayah Jonggol di Bogor. 

Ya, ke Kalimantan. Ini bukan pikiran nakal, tapi justru menurut
Andrinof sebagai pilihan masuk akal. Dari sisi geografis, Kalimantan
tidak terlalu ke Barat dan Timur.



Dari metode pembangunan, menurut pakar ekonomi-politik Universitas
Indonesia (UI) ini, metode akumulasi modal tak akan menjawab masalah.
Pertumbuhan ekonomi dengan mengandalkan akumulasi modal tidak akan
pernah berlangsung lama karena metode itu mengeluarkan biaya sosial dan
ekologis.


 

Bahkan menurutnya, beberapa program yang menelan triliunan dari
APBN, seperti transmigrasi dan percepatan pembangunan daerah
tertinggal, bisa sia-sia. “Sebab dalam jangka panjang tujuan program
itu akan lenyap justru akibat persoalan akut ketimpangan
antar-wilayah,� paparnya.



Andrinof bersama tim asistensi coba menghitung-hitung. Perkiaraan
biaya memindahkan ibu kota mencapai Rp 50 triliun untuk masa 4 tahun.
Pihak yang menilai angka itu terlalu tinggi, mereka itu kata Andrinof
orang yang menyederhanakan masalah.



Nilai Rp 50 triliun tidak ada artinya dibanding potensi biaya yang
hilang akibat kemacetan di Jakarta. Tiap tahun mencapai Rp 43 triliun!
Angka ini menguap akibat akumulasi kemacetan. Mulai dari asumsi
pemborosan bahan bakar, produktivitas SDM yang terjebak akibat macet,
dan masalah spare part kendaraan.



Tak berhenti sampai di situ. Pemindahan ibu kota bukan berarti
mentolerir model pembangunan di Pulau Jawa berlanjut seperti sekarang.
Intinya, paradigma pembangunan kota di Indonesia harus diubah.


 

“Model konglomerasi yang dikendalikan oleh kepentingan pemodal
dan birokrat penadah uang harus dihentikan dan digantikan dengan model
pembangunan yang mengutamakan keserasian antarfungsi ruang, antar
kelompok sosial dan antara daya dukung lingkungan, serta beban
penduduk,â€� paparnya lagi. 


 

Setali tiga uang, dalam realitas politik, Andrinof juga melihat
polarisasi dukungan masyarakat dan tampilnya tokoh yang masih
berhubungan dengan karakter sosial tertentu.


 

Singkat kata, sampai hari ini masih ada kecendrungan Sipil
–Militer (pengusaha), Jawa-non Jawa, dan Nasionalis-Relegius (Islam).
Polarisasi warisan sejarah ini malah menjadi code tersendiri yang
menentukan kemenangan pucuk pimpinan nasional dalam hajat pemilu pasca
1998.


 

Ini satu soal. Hal lain, jika mutu terdekat kepemimpinan diukur
dengan hasil pemilu,  maka politik pencitraan kandidat yang etik
nampaknya juga bergantung di pundak Andrinof.


 

Di luar gelanggang penyelenggaraan pemilu, anggota Tim Penilai
Makalah Peserta Seleksi Calon Pimpinan KPK ini punya PR besar
merumuskan kode etik semua lembaga survei di Indonesia.


 

Awal Februari 2009 lalu, ia dipilih secara aklamasi sebagai Ketua
Umum Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (PERSEPI). Embrio
assosiasi profesi lembaga survei ini lahir justru di tengah gaduh hasil
survei yang menghangat selama setahun terakhir.


 

Tanggal 1-2 Desember 2008, Lembaga Survei Indonesia (LSI) pimpinan
Saiful Mujani bekerja sama dengan Friedrich Naumann Stiftung (lembaga
funding asal Jerman) menggelar pertemuan lembaga polling se-Indonesia.


 

Acara yang diikuti 80 peserta lembaga polling dan di gelar di Hotel
Santika (Jakarta) itu membentuk kelompok kerja (Pokja) Forum Peneliti
Opini Publik. Dari Pokja inilah PERSEPI lahir.


 

Awalnya, yang dijagokan adalah Saiful Mujani. “Tapi justru Cak
Ipul (panggilan akrab Saiful Mujani) memilih saya,� aku Andrinof saat
ditemui FORUM, Rabu pekan lalu.


 

Bila ditimbang, suami Ir. Yultifani ini tak ingin hanyut berkubang
di dunia survei. Ia ingin waktunya juga bisa tercurah untuk
pengembangan ilmu dari hasil riset kualitatif. Riset itu digarap oleh
Center for Indonesia Regional and Organ Studies (CIRUS) yang Andrinof
dirikan pada 1999. Bidang riset yang CIRUS bedah adalah masalah otonomi
daerah, kebijakan publik, dan pelayanan publik perkotaan.


 

Inilah yang jadi dasar mengapa Andrinof menolak tawaran Denny JA
menjadi Direktur Riset di masa awal LSI berdiri. Sebelum Pemilu 1999
datang, Andrinof diajak oleh peneliti energi dari LP3S, Pri Agung
Rakhmanto, membuat modul pengetahuan dasar empiris untuk peneliti
lembaga survei.


 

Posisi itu lalu dialihkan ke M. Qodari (kini mendirikan Indo
Barometer). Saiful Mujani, menurut Andrinof, saat itu masih menempuh
studi di Ohio University (AS), tetapi telah berhubungan dengan Denny JA
dalam merumuskan LSI. 


 

Di masa awal LSI berdiri, kata Andrinof, Saiful Mujani yang memang
ahli survei merangkul Lembaga Pengembangan Penelitian Ilmu Sosial
(LPPIS) UI. “Selain saya, di LPPIS ini ada Eep Saefulloh Fatah dan
Valina Singka,� ceritanya.


 


Maka, kalau untuk lembaga survei, Andrinof memastikan akar geneologis itu 
datang dari LP3S dan LPPIS UI.


 


***


 

Andrinof A. Chaniago lahir di Padang, 3 November 1962. Di masa SD,
anak kedua dari empat saudara ini punya pengalaman yang sulit dilupa.
Saat itu Andrinof bersama dua rekannya terpilih jadi siswa terbaik,
tapi tidak diterima di rayon SMP berkelas.


 

“Di masa itu meritokrasi (prestasi) diukur dengan kelas. Yang
masuk di rayon itu anak-anak orang kaya meskipun kurang cerdas,�
sindirnya.


 

Andrinof lalu masuk Tsnawiyah di Padang Pariyaman. Menjelang naik
kelas dua ia sudah ancar-ancar pergi ke Jakarta. Yang dituju adalah
rumah bibinya. Niat itu terkabul. Pas kelas dua, Andrinof masuk di SMP
di bilangan Grogol, Jakarta Barat.


 

Anggota Badan Penasehat Asosiasi Ilmu Politik Indonesia ini
blak-blakan mengaku, yang membiayai ia sekolah ialah keluarga sang
bibi. Sejak usia 11 tahun, Andrinof telah menjadi anak yatim. Ibunya
banting tulang menjadi penjual kue. “Saya menjaja kue buatan ibu ke
para tetangga,� imbuhnya.


 

Yang mengesankan, begitu tiba Jakarta, bakat menulis Andrinof sejak
kecil tersalurkan. Di masa SMP, ia terbiasa nulis puisi yang di muat di
harian Komas dan Sinar Harapan. Hasilnya, SMP Grogol yang diwakili
Andrinof tampil sebagai juara menulis.


 

Babak persentuhan Andrinof di dunia riset berawal saat dia duduk di
semester pertama jurusan Ilmu Politik UI. Saat itu ia tinggal di asrama
Rawamangun Jakarta Timur. Bea siswa tak berpihak untuk Andrinof.
Makanya untuk menutup biaya kuliah, peluang menjadi peneliti polling di
Litbang Harian Kompas ia ambil.


 

Pengalaman ini rupanya memantik gairah riset Andrinof. Ia bergabung
di labotarium penelitian Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
UI.  Di lembaga ini, Andrinof menjadi koordinator untuk survei.


 

Diantara survei yang ia pimpin adalah survei “Yang Muda Yang
Konservatif�, bekerjsama dengan Majalah Tempo (1993). Populasi dan
sampelnya saat itu anggota DPR. Rupanya hasil survei itu bergulir
selama sepekan.


 

“Yang saya ingat, hasil survei itu dianggap Tempo layak sebagai
cover story. Hasil riset itu menunjukkan, justru anggota DPR yang muda
yang takut dengan perubahan saat itu,� kenang Panelis Uji Publik
Seleksi Calon Anggota Bawaslu 2008-2012 ini.


 

Pertengahan masa kuliah, Andrinof mengaku mulai ngiler soal isu-isu
ekonomi politik. Tugas akhir yang dia geber adalah studi kasus PT
Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).


 

Tak berapa lama setelah wisuda, skripsinya yang berjudul “Masalah
Pengalihan Teknologi untuk Pengembangan Industri Strategis� itu malah
menghantarkan Andrinof terbang ke Singapura


 

Insitute of South East Asian Studies (ISEAS) yang berkantor di
negeri singa itu memberi jatah buat Andrinof sebagai Research Fellow.
Yang patut dibangga, bila peneliti yang diundang ISEAS semuanya
mahasiswa master dan doktor, justru hanya Andrinof sendiri yang
bertitel S-1.


 

Di masa awal tamat kuliah, masalah industri properti rupanya yang
menjadi magnet Andronif lekat dengan isu-isu perkotaan. “Ada yang
aneh dari bisnis properti,� gumam ayah Auzi Amazia Domasti (13) ini
yang saat itu bergeliat di LPPIS UI.


 

Di LPPIS UI, itu hanya berlangsung kurang lebih tiga tahun. Setelah
itu dia benar-benar tergoda bekerja di Majalah Ummat. Hingga 1996,
Andrinof menjadi Koordinator Riset dan Dokumentasi di majalah itu.


 

Selepas dari Ummat, mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa FISIP UI ini
berkutat  di Harian Ekonomi Neraca menjadi Kepala Kompartemen Riset
dan Bank Data. Menjadi komandan riset di media malah membuatnya gundah.


 

Ia mengaku miskin waktu dalam menelusur data-data agar dapat
dijahit menjadi sebuah kerangka. Maka disinilah awal pertapaan Andrinof
dalam riset kualitatif secara serius. Ia pamit dari Neraca hanya untuk
menulis buku “Gagalnya Pembangunan� (LP3ES: 2001).


 

Dalam hal riset, Andrinof sendiri mengaku masyarakat kita masih
belum akrab. Mana itu polling dan mana survei, bagaimana metodenya:
semua itu masih belum familiar.


 

Maka dalam PERSEPI yang dia pimpin,  survei itu sendiri perlu
dikampanye lebih keras lagi. Sehingga, kata Andrinof, publik tak
menyalahkan dulu lembaga survei sebelum menelusur rimba survei itu
sendiri.


 

Satu hal yang pernah menyulut Saiful Mujani jadi berang saat publik
ribut soal hasil survei sepanjang tahun lalu. Metode yang dipakai sama,
sampelnya sama, analisisnya sama, klaimnya juga sama. Tak kurang waktu
penelitian dan data base-nya juga sama. Tapi mengapa hasilnya berbeda?


 


Hingga Saiful Mujani sampai pada satu kesimpulan. Bicara soal hasil berpulang 
pada kredibilitas lembaga survei itu sendiri.


 

Dalam amatan Andrinof, setiap tahapan berpotensi munculnya hasil
survei yang tak akurat. Mulai dari tahap penyusunan rencana survei,
hingga quisioner yang kabur dan tidak tegas turut mempengaruhi
pembuatan tabulasi yang multi-interpretasi.


 

Bila ada nara sumber yang tidak siap di wawancara,  respondennya
harus diganti dengan teknik pengacakan lagi. Selanjutnya, di tahap
pengolahan data, interpretasi bisa terjadi bias bila tak hati-hati
dalam mentabulasi total jawaban yang dijawab dan yang tidak oleh
responden.


 

Dunia survei bukanlah bangunan penafsiran, tapi justru patuh pada
kiadah kalimat dan angka. Saat terjun ke lapangan, terkadang kegiatan
suveri melewati aral-rintang yang mendenyut jantung.


 

Di pelosok-pelosok kampung, para peneliti menyeberangi sungai dan
menembus hutan.�Terkadang begitu rumah yang dituju berhasil ditemui,
malah tuan rumahnya tak siap. Bahkan tak memberi jawaban apa-apa,�
cetus Andrinof soal suka-duka yang ia alami.


 


ALFI RAHMADI


 


BIO DATA


 


Nama                   : Andrinof A. Chaniago


Tempat & tanggal lahir : Padang, 3 November 1962


Agama                  : Islam


Isteri                 : Ir.Yultifani


Anak                   : Auzi Amazia Domasti (13)


 


Pekerjaan 




Dosen S1/S2 FISIP UI (Ekonomi-Politik, Politik Perkotaan, Isu-isu Politik 
Kebijakan Publik, dan Kebijakan Publik).


Research Fellow The Habibie Center.


Direktur Eksekutif CIRUS Surveyors Group.


 


Pekerjaan Paruh Waktu 


 


Anggota Tim Juri Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia LIPI-Depdiknas 2008.


Anggota Tim Seleksi Calon Anggota KPUD Depok 2009-2014.


Panelis Uji Publik Seleksi Calon Anggota Bawaslu 2008-2012.


Anggota Tim Penilai Makalah Peserta Seleksi Calon Piminan KPK.


Anggota Tim Seleksi Calon Anggota Panwas Pilkada DKI Jakarta 2007.


Anggota Tim Seleksi Calon Anggota Panwas Pilkada Kota Bekasi 2007.


 


Pendidikan 


 


S-1 Jurusan Ilmua Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas 
Indonesia (Februari 1990).


S-2 Program Magister  Perencanaan dan Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi, 
Universitas Indonesia (Maret 2004).


Diploma, The National Development Courses  dari Fu Hsing Kang College, Taipei, 
Taiwan (2004)


 


Short Courses 


 


Economic Globalization, di Wuhan, China (2007)


Taiwan Economic Development and Planning, organized by Taiwan ICDF (12 – 24 
April 2006), di Taipei, Taiwan (12-24 April 2006)


Sustainable Urban Development di Touyuan City, Taiwan (12 – 25 September 2004)


Conflict Mediation, di Oslo dan Troms O, Norwegia (31 Mei  - 26 Juni 2003).


 


Organisasi 




Ketua Umum Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (PERSEPI)


Anggota Badan Penasehat Asosiasi Ilmu Politik Indonesia.


Anggota Dewan Redaksi Jurnal Galang, jurnal pemikiran filantrofi.


Ketua III Pengurus Pusat Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (2005-2008) 


Ketua Umum Senat Mahasiswa FISIP UI (1987-1988)


Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa FISIP UI (1986-1987)






      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke