Assalamualaikum w.w
Cita Cita,
Semua orang punya cita cita, bahkan sejak kanak kanak orang tua sudah bertanya
pada anaknya nanti kalau sudah besar mau jadi apa?
Ada yang beruntung hidupnya sesuai cita citanya dari kecil, adapula yang
bertolak belakang dengan cita citanya. Ada lagi tak siap dengan cita cita atau
tak punya cita cita baku, Itulah Aku, cita citaku selalu berubah sesuai
dengan apa yang aku lakukan saat aku ditanya tentang cita citaku.
Pada saat aku jadi Supir taksi, cita citaku ingin jadi montir agar bisa
memerbaiki mobilku sendiri, hasilnya mobil tua yang kujadikan taksi gelap di
stasiun senen berantakan akibat kubongkar pasang sendiri hanya dengan hasil
membaca buku buku loakan yang kubeli di emperan toko perapatan senen. Dua mobil
fiat keluaran th 62 berakhir di tukang besi tua poncol. Ilmu turun naik mesin
ini akhirnya bermanfaat ketika aku mulai membeli mobil tua juga di Lhokseumawe
hingga gonta ganti dengan yang tua tua juga sampai di Jakarta. Bila tiba hari
libur sabtu minggu habis kupakai memperbaiki mobil buntutku, Saat pertama kali
punya mobil fresh dari showroom, aku seperti orang linglung, apa lagi yang mau
diotak atik semua system electronic dan bergaransi.
Kembali ke sang cita cita, sebelum aku memulai perjalan ke luar negeri untuk
jadi pelaut. Aku bekerja sebagai awak kapal kayu route Sunda kelapa – Tanjung
pandan. Dari tg Pandan kami membawa kaolin sedang dari jakarta beraneka ragam
muatan sang kapal. Pekerjaan ini kumulai hanya karena sering ke pelabuhan
sunda kelapa ketempat Ibu ku berkantor disana. Teringat hari pertama jadi
oiler di KM Setia Budi. jam sepuluh malam aku dan ada satu senior serta sang
kepala kamar mesin, istilah mereka “Bas”. Si bas berdiri disamping tabung
angin dan tiba tiba terdengar deru suara angin lepas dan berbunyilah si mesin
kapal. Penerangan di kamar mesin seperti hidup segan mati tak mau. Mesin kapal
bertenaga disel tersebut dibiarkan tanpa tutup kap selidernya, suara katup
turun naik dan oli muncrat muncrat jelas kelihatan. Setelah suara mesin stabil
si Bas naik tinggalah aku berdua dengan si seniorku. Ini adalah malam pertama
pelayaranku aku melihat si senior
memegang tuas gas sambil mendengar dering semacam lonceng, aku menyebutnya
lonceng kesepakatan antara si Kapten diatas dengan kami yang dibawah. Aba aba
sang Kapten maju – maju sedikit- stop- atau maju penuh…ditranslate dengan nada
dering, satudering dua dering dan seterusnya.
Setelah kapal bergerak keluar dari pelabuhan sunda kelapa, si senior
memberitahu bahwa aku mulai jaga malam ini, empat jam pertama dan lanjut besok
siang empat jam lagi.
Lihat temperatur, kalau bisa sebenarnya diraba saja pakai tangan zul nya
katanya . Itu pompa air dilihat biasanya di intakenya bnyak kotoran yang
membuat dia tersumbat dan selau diperiksa dan dibersihkan. Dan macam macamlagi
tugas yang yang harus kulakukan seperti mencatat di log book kumal yang diatas
meja besi yang dilas lengket kedinding.
Dimalam sepi dingin sambil membersihkan sampah yang nyangkut di mulut hisap
pompa air tangan ku meraba raba terpegang bangkai tikus diantara sampah sampah.
Wah susah cari duit. Malam itu aku bercita cita inngin seperti si Bas, setelah
mesin hidup langsung naik masuk kekamar dan tidur dan dibayar besar. Anak
tamatan SMA IPS mau jadi kepala kamar mesin apakah mungkin kalau aku bersekolah
si STM mungkin masih masuk akal. Tapi aku harus punya cita cita Dalam
kesendirian di temani raungan mesin kapal dan mata yang terkantuk kantuk aku
mulai berhayal…. Sayangnya baru tiga kali kami mundar mandir tg pandan – Sunda
kelapa si senior berselisih paham dengan si Bas aku terkena imbas karena aku
terlalu dekat dekat seniorku maklum lagi menimba ilmunya. Sang senior keluar
akupun ikut dikeluarkan entah apa salah ku.
Hari itu keluar besoknya aku pindah ke Kapal Maju Jaya namanya masih kapal kayu
route yang sama cuma tidak sebagai oiler lagi tapi sebagai juru mudi walau
pengalaman minin baru beberapa kali aku memegang kemudi kayu bulat mati itu ,
itupun karena volunter ingin belajar si KM Setia budi. Yang aku tahu adalah
lihat itu jarum kompas dengar aba aba di second atau si chief dan ulangi setiap
perintahnya dengan jelas.
Muatan KM Maju Jaya ini sama saja dengan kapal tempatku berkerja terdahulu.
Orang baru selalu kebagian yang parah parah. Setelah satu jaman kapal keluar
dari pelabuhan sunda kelapa, gilliranku memegang kayu bulat mati yang memutar
kemudi kapal lewat rantai besi yang suaranya gesekannya seperti irama lagu rap.
Empat jam malam dan empat jam siang. Berdiri dan tak boleh duduk. Yang membuat
aku keletihan kalau teman aplusanku tak bisa menggatikanku karena mabuk
apalagi di bulan december . Ombak besar membuat kapal kayu ini seperti sabut
terombang ambing. Aku masih ingat saat aku memberikan kemudi pada temanku jam
12 malam kami baru saja melihat lampu mercu suar. Jam enam pagi lampu mercu
suar tersebut masih kelihatan. Oh yai yai kita jalan dtempatnya kayakya ini.
Adalagi satu peristiwa yang selalu kuingat sepanjang hidupku. Jadwal ku adalah
jam delapan malam sampai 12 tengah malam dan siang diwaktu yang sama delapan
pagi sampai jam 12 siang. Pada saat
aku memegang kemudi sang Kapten nyeletuk, “Zul ada ular besar dibelakang” .
Aku tak mengeti dan tak paham maksudnya kupikir memang benar benar ular. Orang
orang pada ketawa. Coba gantikan si Zul itu kamu katanya sambil menujuk pada
serorang rekanku, coba bawa s zul melihat ular besar.
Aku terbahak bahak setelah melihat ular besar, rupanya yang dimaksud sang
kapten adalah jalannya kapal meliuk liuk seperti ular jelas terlihat dari bekas
yang ditingalkan kapal di laut .
La iyalah orang aku memmutar kemudi dengan hanya berpatokan pada jarum kompas,
pada saat jarum bergeser kekiri aku putar kekanan padahal anjungan kapal sudah
duluan bergeser dan respon putaran kemudiku yang super manual ini juga tidak
cepat. Harusnya aku selalu melihat ke Anjungan , sebelum dia berayun kekiri
atau kekanan kemudi sudah kuputar disamping itu carilah target patokan awan
dan bintang pun bisa.... Cita cita baruku muncul lagi disini ingin jadi Kapten
kapal, mulailah aku mencari informasi dimana bisa mendaftar untuk ikut ambil
MPT atau mualim pelayaran terbatas kata orang. Sang kapten yang sudah agak
berumur memberiku nasihat kalau ingin jadi pelaut pergilah keluar negeri, lihat
itu kapal kapal sebesar gajah itu sambil menujuk sebuah kapal cargo besar
melintas disamping kami. Disitu bekerja kalau disini habis umurmu katanya.
Inilah awal perjalananku sampai keluar negeri dengan cita cita baru jadi
pelaut dan gagal total, tapi aku tak pernah habis dengan perbendaharan cita
cita yang beraneka ragam tergantung dimana bumi dipijak dan apa yang sedang
kulakukan disitu ada cita cita baru… , Kalau boleh meminjam pematah minang ,
Dima bumi dipijak disinanlah Langik di junjuang. Setiap detik bersiaplah
dengan shorterm goal, karena long term goal kita adalah sama semua ingin “
Masuk Surga”… Amin
Wassalam
Zulkarnain Kahar - Houston TX
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---