Dunsanak Sadonyo,

Sosok ini ditugaskan memimpin perbaikan (lebih tepatnya "penghidupan
kembali) Mak Itam.
Ketika Mak Itam sudah di bawah pulang, dan ternyata di sana tidak bisa
langsung "jreeeeng jreeeeeng" dia pula yang didatangkan dari Ambarawa.

Apakah dia juga tampil di depan pada waktu peresmian Mak Itam Pulang
Kampuang waktu itu, atau akan ikut "Back to 30's" dalam persemian kereta
wisata minggu depan? Saya tidak tahu

"Dia" itu adalah Pudjijono, "Dokter" Lokomotif Tua, seperti yang dituturkan
oleh *Antony Lee* berjudul Pudjijono, di Kompas hari ini. Selengkapnya saya
copy kan di bawah ini.



*Note, dalam artikel ini memang terdapat kesalahan dalam pencantuman nama
pabrik, tetapi itu tidak mengganggu penuturan tentang sosok Pudjiono.
Kesalahan itu adalah: E1060 itu satu pabrik dengan B 25XX oleh
Maschinenfabrik Esslingen, sering disebut dengan Esslingen. Pabrik ini
didirikan oleh Emil Kessler Esslingen (Jadi tidak ada pabrik Esslingen
Emil Kessler).*
*Selanjutnya, C1218 dibuat oleh **Hartmann, pabrik yang berlokasi di
Chemnitz (jadi tidak ada pabrik Hartmann Chemnitz); Demikian juga, saya
tidak menemukan kereta yang diimport dari **Saechs Maschinen*


Riri, Bekasi, L 46


http://cetak.kompas.com/sosok
Pudjijono, "Dokter" Lokomotif Tua


  Sabtu, 14 Februari 2009 | 01:42 WIB

Oleh* Antony Lee*

Hanya di Museum Kereta Api Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah,
pengunjung bisa menaiki kereta api uap bergigi berusia lebih dari 100 tahun,
bahkan di saat pabriknya sudah tutup sejak puluhan tahun silam.

Di balik laju lokomotif tua tersebut ternyata tersembunyi tangan dingin
"dokter" yang merawat bagian-bagian lokomotif itu. Dan, Pudjijono merupakan
"dokter" kepala di museum ini.

Menaiki kereta api uap atau kereta api bergigi merupakan daya tarik utama di
Museum Kereta Api Ambarawa. Pengunjung yang mencarter kereta api uap ini
akan disodori lanskap pegunungan dari Ambarawa menuju Bedono yang berjarak
10 kilometer. Beberapa kilometer menjelang Stasiun Bedono, penumpangnya bisa
melihat KA uap ini memanfaatkan "geriginya" yang menjadi poros untuk melaju
di jalur menanjak.

Untuk menarik kereta itu ada tiga lokomotif yang saat ini kondisinya masih
baik. Loko B 2503 dan B 2502, keduanya kereta api bergigi buatan Esslingen
Emil Kessler Jerman tahun 1902, serta C 1218 buatan Saechs Maschinen Jerman
tahun 1891. Sebetulnya, hingga pertengahan tahun 1990 hanya B 2503 yang
beroperasi. Loko B 2502 rusak sejak tahun 1970-an, sedangkan C 1218 baru
didatangkan dari Cepu, Blora, dalam kondisi rusak pada tahun 2002.

Di Subdepo Traksi Ambarawa, Pudjijono (54) termasuk petugas yang berperan
memperbaiki loko tua yang rusak. Selama hampir 14 tahun bertugas di
Ambarawa, ia berhasil "menghidupkan" kembali tiga loko tua. Sehari-hari ia
bertugas memeriksa kondisi kereta uap. Jika ada kerusakan, dia harus
langsung memperbaikinya. Terkadang ia juga turut "memandikan" jago tua ini.

Saat KA uap ini beroperasi, Pudjijono beralih tugas sebagai juru rem.
Rangkaian kereta yang ditarik loko ini masih menggunakan rem manual sehingga
setiap kali berhenti tuas rem di setiap rangkaian harus diputar.

Ayah satu anak ini mengawali karier di PT Kereta Api setelah menempuh
pendidikan sebagai calon masinis tahun 1975. Saat itu ia baru lulus STM.
Setelah tiga bulan menjalani pendidikan, Pudjijono mulai bertugas di bagian
pemeliharaan dan perbaikan lokomotif di Stasiun Semarang Poncol. Dua tahun
kemudian, ia mendapat lisensi T-62 yang merupakan surat izin menjadi
masinis.

Pudjijono sempat bertugas mengemudikan lokomotif besar BB 200 yang mampu
menarik beban hingga 600 ton. Rute yang dilayaninya mulai dari
Semarang-Cirebon, Semarang-Solo, serta Semarang- Yogyakarta. Rute terakhir
ini akhirnya ditutup pada tahun 1982 dan 1983. Tahun 1991 dia mulai
ditempatkan di bagian perbaikan lokomotif di Stasiun Semarang Poncol.

Selama bertugas di sana, Pudjijono biasa menangani loko yang memanfaatkan
tekanan udara dan tegangan listrik, seperti BB 200 atau D 300-301. Empat
tahun kemudian dia mulai bertugas di Subdepo Traksi Ambarawa.

Tugas pertama yang dijalaninya ialah membenahi loko tua B 2502. Bersama tiga
rekannya, bagian demi bagian loko tua itu diperiksa. Ternyata pipa api,
tutup silinder bagian depan, serta komponen pengatur uap rusak.

Dia mengaku tidak terlalu kesulitan mengerjakannya karena proses mekanik
loko tua itu pernah menjadi salah satu materi dalam pendidikannya.

*Mudah dibenahi*

Menurut dia, dari sisi mekanis, loko tua lebih mudah dibenahi karena lebih
sederhana, tetapi masalahnya justru sulitnya suku cadang karena sudah tidak
lagi dijual.

"Waktu memperbaiki B 2502 kami sempat kesulitan mencari komponen yang rusak
karena pabriknya di Jerman tutup sejak tahun 1965. Akhirnya terpaksa mencari
suku cadang dengan cara dikanibal dari loko serupa yang sudah tidak bisa
diperbaiki, seperti B 2504," kenang Pudjijono seusai membersihkan loko akhir
Januari lalu.

Jika ada komponen yang tidak ditemukan di loko B 2504, Pudjijono berburu
suku cadang ke museum yang berjarak sekitar 500 meter dari subdepo. Ia
meneliti satu per satu loko tua yang diparkir di sana. Kalau ada suku cadang
yang cocok, komponen itu dilepas dan diganti dengan komponen rusak dari loko
uap yang masih beroperasi.

Namun, Pudjijono menjadi lebih pusing lagi kalau tak ada komponen yang bisa
dikanibal dari loko pajangan itu. Dia harus putar otak. Suatu ketika, blok
metal penyangga roda rusak akibat selip terkena air hujan. Dia akhirnya
mengakali blok metal ini dengan mencetak sendiri. Besi batangan dileburnya
kemudian dicetak menyerupai blok metal asli dengan menggunakan cetakan
sederhana yang dibuat sendiri.

"Sebetulnya hampir semua komponen masih bisa diakali untuk dicor sendiri
kalau kreatif. Loko ini baru betul-betul rusak kalau ketel uapnya retak atau
pecah," katanya.

Keahlian Pudjijono dalam mengakali pengobatan penyakit "pasien" ini pula
yang membuat dia diminta memimpin perbaikan Loko E 1060 buatan Hartmann
Chemnitz Jerman tahun 1965, yang dibawa ke Ambarawa dari Sawahlunto,
Sumatera Barat, tahun 1997 karena tidak bisa beroperasi.

Dengan sentuhan tangan dingin Pudjijono dan tiga rekannya, loko ini kembali
bisa beroperasi. Awal Desember 2008, loko ini dikembalikan ke Sawahlunto.
Namun, sepekan kemudian dia diminta datang ke Sawahlunto untuk memperbaiki
sejumlah kerusakan di bagian pipa uap Loko E 1060.

Setahun mendatang dia sudah akan pensiun, tetapi masih ada ganjalan yang
membuatnya kurang puas. Dia masih memimpikan bisa menyaksikan jalur dari
Stasiun Ambarawa menuju Stasiun Tuntang yang berjarak sekitar 5 kilometer
bisa dihidupkan kembali. Di jalur ini kereta api akan melintasi tepian Waduk
Rawa Pening. Dengan begitu, selain menyaksikan lanskap pegunungan, penumpang
KA uap juga bisa menyaksikan keindahan Rawa Pening.

"Tentu wisatawan akan lebih gandrung dengan loko tua ini dan pengunjungnya
bertambah banyak," ungkap Pudjijono.
   
<http://ads.kompas.com/www/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=483__zoneid=23__cb=eb1292ebb0__maxdest=http://epaper.kompas.com/>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke