Dear All, Setuju Bung Ridwan, jangan melupakan sutradara...:) Tapi rasanya enggak kok. KAI sudah mengundang Pak Pujiono dan bbrp teknisi yg menghidupkan kembali Mak Itam ini, plus bbrp Kadiv sblm Pak Husein skrg...:) Malam sebelum penurunan Loko Uap di Muaro Kalaban, Pak Pujiono dan bbrp teknisi dr Ambarawa ngopi2 dg kita, Direktur KAI, Kadiv KAI Sumbar, IRPS dan fotografer West-Sumatra.com di Hotel Pangeran Beach Padang. Undangan hadir ke peresmian ini termasuk salah satu isu yang dibicarakan... Krn mereka kan juga ingin ketemu dan berfoto dg 10 orang artis yang diboyong MPKAS ke Sumbar...:) Ini yg sdh confirmed: Slamet Rahardjo, Christine Hakim, Henidar Amroe, Ratih Sanggar, Tasman Taher, Ira Wibowo, Katon Bagaskara, Olivia Zalianty, Tina Astari dan Jian Batari. Kecuali Slamet dan Olivia yg mendarat Sabtu 21 Feb pagi, yg lain semua Jumat pagi dg Garuda. Mudah-mudahan bisa kita buat penyambutan kecil di Bandara sbg bentuk "kehangatan" kita di Sumbar menyambut tamu. Alhamdulillah, Bung Ridwan Tulus yg sudah berpengalaman Internasional bersedia jd EOnya. Disamping itu, Sumatra & Beyond bersama Sikuai jg akan melakukan aktifitas sosial dg para artis ini sehari sblm peresmian. Silahkan Bung Ridwan Tulus aja yang menyampaikan, krn idenya memang lahir dr ybs. Obyektifnya tetap sama: ikut serta membantu publikasi dan promosi Pariwisata Sumbar...! Setidaknya sebatas yang bisa dan sanggup kita lakukan dg segala keterbatasan waktu dan dana yang kita miliki. Untuk kondisi yg lebih ideal dan bukan bersifat sosial, tentunya ada pihak2 lain yg lebih berhak dan kompeten utk melakukan itu. Insya allah... Thanks atas dukungan semua dunsanak dan simpatisan KA & Pariwisata Sumbar. Semoga jadi amal dan mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Amin Salam, Nofrins
--- On Sat, 2/14/09, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: [West Sumatra Tourism Board] Re: Dokter Mak Itam To: [email protected] Date: Saturday, February 14, 2009, 8:44 AM Thanks uni atas informasi yg sangat penting sekali kadang kita justru melupakan sutradaranya. Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT From: Riri Chaidir Date: Sat, 14 Feb 2009 08:25:02 +0700 To: Rantau Net<[email protected]>; MPKAS<[email protected]>; WSTB<[email protected]> Subject: [West Sumatra Tourism Board] Dokter Mak Itam Dunsanak Sadonyo, Sosok ini ditugaskan memimpin perbaikan (lebih tepatnya "penghidupan kembali) Mak Itam. Ketika Mak Itam sudah di bawah pulang, dan ternyata di sana tidak bisa langsung "jreeeeng jreeeeeng" dia pula yang didatangkan dari Ambarawa. Apakah dia juga tampil di depan pada waktu peresmian Mak Itam Pulang Kampuang waktu itu, atau akan ikut "Back to 30's" dalam persemian kereta wisata minggu depan? Saya tidak tahu "Dia" itu adalah Pudjijono, "Dokter" Lokomotif Tua, seperti yang dituturkan oleh Antony Lee berjudul Pudjijono, di Kompas hari ini. Selengkapnya saya copy kan di bawah ini. Note, dalam artikel ini memang terdapat kesalahan dalam pencantuman nama pabrik, tetapi itu tidak mengganggu penuturan tentang sosok Pudjiono. Kesalahan itu adalah: E1060 itu satu pabrik dengan B 25XX oleh Maschinenfabrik Esslingen, sering disebut dengan Esslingen. Pabrik ini didirikan oleh Emil Kessler Esslingen (Jadi tidak ada pabrik Esslingen Emil Kessler). Selanjutnya, C1218 dibuat oleh Hartmann, pabrik yang berlokasi di Chemnitz (jadi tidak ada pabrik Hartmann Chemnitz); Demikian juga, saya tidak menemukan kereta yang diimport dari Saechs Maschinen Riri, Bekasi, L 46 http://cetak.kompas.com/sosok Pudjijono, "Dokter" Lokomotif Tua Sabtu, 14 Februari 2009 | 01:42 WIB Oleh Antony Lee Hanya di Museum Kereta Api Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, pengunjung bisa menaiki kereta api uap bergigi berusia lebih dari 100 tahun, bahkan di saat pabriknya sudah tutup sejak puluhan tahun silam. Di balik laju lokomotif tua tersebut ternyata tersembunyi tangan dingin "dokter" yang merawat bagian-bagian lokomotif itu. Dan, Pudjijono merupakan "dokter" kepala di museum ini. Menaiki kereta api uap atau kereta api bergigi merupakan daya tarik utama di Museum Kereta Api Ambarawa. Pengunjung yang mencarter kereta api uap ini akan disodori lanskap pegunungan dari Ambarawa menuju Bedono yang berjarak 10 kilometer. Beberapa kilometer menjelang Stasiun Bedono, penumpangnya bisa melihat KA uap ini memanfaatkan "geriginya" yang menjadi poros untuk melaju di jalur menanjak. Untuk menarik kereta itu ada tiga lokomotif yang saat ini kondisinya masih baik. Loko B 2503 dan B 2502, keduanya kereta api bergigi buatan Esslingen Emil Kessler Jerman tahun 1902, serta C 1218 buatan Saechs Maschinen Jerman tahun 1891. Sebetulnya, hingga pertengahan tahun 1990 hanya B 2503 yang beroperasi. Loko B 2502 rusak sejak tahun 1970-an, sedangkan C 1218 baru didatangkan dari Cepu, Blora, dalam kondisi rusak pada tahun 2002. Di Subdepo Traksi Ambarawa, Pudjijono (54) termasuk petugas yang berperan memperbaiki loko tua yang rusak. Selama hampir 14 tahun bertugas di Ambarawa, ia berhasil "menghidupkan" kembali tiga loko tua. Sehari-hari ia bertugas memeriksa kondisi kereta uap. Jika ada kerusakan, dia harus langsung memperbaikinya. Terkadang ia juga turut "memandikan" jago tua ini. Saat KA uap ini beroperasi, Pudjijono beralih tugas sebagai juru rem. Rangkaian kereta yang ditarik loko ini masih menggunakan rem manual sehingga setiap kali berhenti tuas rem di setiap rangkaian harus diputar. Ayah satu anak ini mengawali karier di PT Kereta Api setelah menempuh pendidikan sebagai calon masinis tahun 1975. Saat itu ia baru lulus STM. Setelah tiga bulan menjalani pendidikan, Pudjijono mulai bertugas di bagian pemeliharaan dan perbaikan lokomotif di Stasiun Semarang Poncol. Dua tahun kemudian, ia mendapat lisensi T-62 yang merupakan surat izin menjadi masinis. Pudjijono sempat bertugas mengemudikan lokomotif besar BB 200 yang mampu menarik beban hingga 600 ton. Rute yang dilayaninya mulai dari Semarang-Cirebon, Semarang-Solo, serta Semarang- Yogyakarta. Rute terakhir ini akhirnya ditutup pada tahun 1982 dan 1983. Tahun 1991 dia mulai ditempatkan di bagian perbaikan lokomotif di Stasiun Semarang Poncol. Selama bertugas di sana, Pudjijono biasa menangani loko yang memanfaatkan tekanan udara dan tegangan listrik, seperti BB 200 atau D 300-301. Empat tahun kemudian dia mulai bertugas di Subdepo Traksi Ambarawa. Tugas pertama yang dijalaninya ialah membenahi loko tua B 2502. Bersama tiga rekannya, bagian demi bagian loko tua itu diperiksa. Ternyata pipa api, tutup silinder bagian depan, serta komponen pengatur uap rusak. Dia mengaku tidak terlalu kesulitan mengerjakannya karena proses mekanik loko tua itu pernah menjadi salah satu materi dalam pendidikannya. Mudah dibenahi Menurut dia, dari sisi mekanis, loko tua lebih mudah dibenahi karena lebih sederhana, tetapi masalahnya justru sulitnya suku cadang karena sudah tidak lagi dijual. "Waktu memperbaiki B 2502 kami sempat kesulitan mencari komponen yang rusak karena pabriknya di Jerman tutup sejak tahun 1965. Akhirnya terpaksa mencari suku cadang dengan cara dikanibal dari loko serupa yang sudah tidak bisa diperbaiki, seperti B 2504," kenang Pudjijono seusai membersihkan loko akhir Januari lalu. Jika ada komponen yang tidak ditemukan di loko B 2504, Pudjijono berburu suku cadang ke museum yang berjarak sekitar 500 meter dari subdepo. Ia meneliti satu per satu loko tua yang diparkir di sana. Kalau ada suku cadang yang cocok, komponen itu dilepas dan diganti dengan komponen rusak dari loko uap yang masih beroperasi. Namun, Pudjijono menjadi lebih pusing lagi kalau tak ada komponen yang bisa dikanibal dari loko pajangan itu. Dia harus putar otak. Suatu ketika, blok metal penyangga roda rusak akibat selip terkena air hujan. Dia akhirnya mengakali blok metal ini dengan mencetak sendiri. Besi batangan dileburnya kemudian dicetak menyerupai blok metal asli dengan menggunakan cetakan sederhana yang dibuat sendiri. "Sebetulnya hampir semua komponen masih bisa diakali untuk dicor sendiri kalau kreatif. Loko ini baru betul-betul rusak kalau ketel uapnya retak atau pecah," katanya. Keahlian Pudjijono dalam mengakali pengobatan penyakit "pasien" ini pula yang membuat dia diminta memimpin perbaikan Loko E 1060 buatan Hartmann Chemnitz Jerman tahun 1965, yang dibawa ke Ambarawa dari Sawahlunto, Sumatera Barat, tahun 1997 karena tidak bisa beroperasi. Dengan sentuhan tangan dingin Pudjijono dan tiga rekannya, loko ini kembali bisa beroperasi. Awal Desember 2008, loko ini dikembalikan ke Sawahlunto. Namun, sepekan kemudian dia diminta datang ke Sawahlunto untuk memperbaiki sejumlah kerusakan di bagian pipa uap Loko E 1060. Setahun mendatang dia sudah akan pensiun, tetapi masih ada ganjalan yang membuatnya kurang puas. Dia masih memimpikan bisa menyaksikan jalur dari Stasiun Ambarawa menuju Stasiun Tuntang yang berjarak sekitar 5 kilometer bisa dihidupkan kembali. Di jalur ini kereta api akan melintasi tepian Waduk Rawa Pening. Dengan begitu, selain menyaksikan lanskap pegunungan, penumpang KA uap juga bisa menyaksikan keindahan Rawa Pening. "Tentu wisatawan akan lebih gandrung dengan loko tua ini dan pengunjungnya bertambah banyak," ungkap Pudjijono. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
