Assalamu'alaikum, Bung Riri dan dunsanak sa palanta, Saya tertarik dengan diskusi beberapa hari yang lalu tentang nama "Andam Dewi" untuk sebuah panti rehabilitasi PSK di Sukarame. Tertarik untuk mengetahui dimana ujungnya atau kesimpulannya masalah kebijaksanaan pemberian nama ini. Ternyata diskusi sudah terhenti dalam pengertian tidak ada lagi (sementara) yang menanggapi. Karena penamaan "Andam Dewi" menurut saya hanyalah akibat dari suatu sebab, maka saya ingin mengetahui pendapat dunsanak yang lain mengenai budaya pemberian nama di ranah Minangkabau secara umum. Sejauh yang saya ketahui, urang awak sangat kreatif dalam pemberian nama untuk tempat-tempat tertentu yang berfungsi sebagai "landmark" atau "benchmark", yang memang sangat efektif dalam penggunaannya. Ada janjang ampek puluah, kelok ampek-ampek, kelok sambilan, sitinjau lauik, singgalang kariang, dan kalau lebih detailnya dulu di jalan Bukittinggi-Pakanbaru ada kelok nona, kelok marekan, atau jalan Bukittinggi-Matur ada pula kelok mercedes, dll, dll. Ada juga pemberian nama yang berupa merek dagang atau "brand" seperti pical si Kai, bika si Mariana, sate Mak Syukur, sate Mak Adjaik, dll, dll.
Seingat saya, urang awak yang yang berpola pikir rasional dan islami jarang memberi nama pada benda-benda atau tempat dalam kaitannya dengan "tenaga supranatural", kekeramatan, keangkeran, pemujaan, mengharapkan tuah, dan lain sejenisnya yang sering dilakukan oleh saudara-saudara kita dari Jawa umpamanya. Di Yogya dan Solo sebagaimana kita ketahui bersama mulai dari kereta raja, gamelan, keris, tombak, sampai-sampai kerbau bule kerajaan banyak yang diberi nama Kiai ini dan itu.Kebiasaan ini kemudian berkembang sampai pada pemberian nama gedung, ruangan, pesawat terbang, kereta api, dan lain-lain. Secara terbatas di Minangkabau ada juga penamaan yang berkaitan dengan kekeramatan ini pada kisah Cindua Mato, dimana ada juga binatang- binatang yang punya tenaga supra natural ini diberi nama seperti si Binuang dan Gumarang, Pengaruh budaya Jawa ini kelihatannya ada juga pengaruhnya pada orang kita, terutama sewaktu mereka memegang tampuk kekuasaan. Di zaman Orde Baru umpamanya kitapun mulai dengan upacara-upacara pemberian gelar adat yang sedikit "wah", dan beberapa pejabat kita yang urang awakpun kalau berbicara sudah pula melafazkan akhiran "kan" dengan "ken" pak Harto yang terkenal itu. Pengaruh pemberian nama yang lebih bernuansa cara orang Jawa inilah yang menurut pengamatan saya juga berpengaruh ke ranah Minang. Gedung diberi nama, ruangan diberi nama, patung diberi nama, gerbong kereta api diberi nama, lok uap diberi nama, dan panti di Sukaramipun diberi nama pula. Kalau bung Riri merasa gerah dengan nama "Andam Dewi", bulan-bulan yang lalu ada pula wacana menarik tentang pemberian nama "Dang Tuanku" untuk kereta api yang dapat dibaca di koran Sumbar. Sebagai orang Minang, saya pribadi lebih mendambakan kita untuk kembali ke jati diri kita sebagai orang Minang. Kreativitas dan inovasi orang dulu dalam pemberian nama tidak pernah menjadi sesuatu yang kontroversial. Kelok ampek-ampek, kelok Nona, kelok Marekan, sitinjau lauik, pical si Kai, terasa lebih berminang-minang dalam pengertian APA yang perlu diberi nama, bukan pada "kehebatan" nama itu sendiri. Bagi orang Minang, benda adalah benda. Kita tidak berpikir tentang kekeramatan, aura, kekuatan magis atau apalah namanya dari suatu benda atau tempat. (Yang acok disabuik karamaik dek urang awak biasonyo kalakuan). Jadi, menurut saya marilah kita kembali ke budaya kita sendiri. Yang "banamo" dan "bagala" kan hanya "orang" menurut tuntunan adat ? Maaf dan wassalam, Epy Buchari (L,65-Ciputat Timur) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
