Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,

Akhirnya bisul itu pecah juga: JK akhirnya bersedia dicalonkan oleh Partai 
Golkar sebagai capres, dan SBY siap menghadapinya. Hebatnya, keduanya secara 
resmi menyatakan akan tetap memelihara kerjasama sampai akhir masa jabatan, 
Oktober 2009 yang akan datang. Seperti kita ketahui, selama ini JK mengirim 
sinyal tetap bersedia  mendampingi SBY sebagai cawapres, namun  secara menyolok 
diabaikan atau tidak pernah ditanggapi oleh SBY, suatu hal yang jelas sangat 
menyakitkan.

Rasanya keputusan JK untuk menerima pencalonan oleh Partai Golkar itu tersengat 
oleh sentilan bung Mubarok dari Partai Demokrat, yang melecehkan Partai Golkar

Sudah barang tentu kita bisa membayangkan suasana pemerintahan selama delapan 
bulan lagi: keduanya akan tetap senyum di depan umum, tetapi di belakang pasti 
memasang kuda-kuda, baik untuk memenangkan diri sendiri 
maupun untuk menjatuhkan yang lain, karena jabatan presiden itu hanya satu. 
Salah satu kan harus kalah.

Jika kita renungkan baik-baik, sesungguhnya pasangan SBY-JK tidaklah dirancang 
untuk melaksanakan suatu sistem pemerintahan presidensial yang ideal, tetapi 
sekedar sebagai suatu koalisi taktis dari dua tokoh yang memberi kesan dizalimi 
oleh Presiden Megawati. Setelah keduanya terpilih dari Presiden dan Wapres JK 
melakukan ofensif 'ambil alih' jabatan ketua Partai Golkar, mungkin 
dengan persetujuan penuh SBY untuk menjamin dukungan suara di DPR RI. 

Akibatnya sungguh lucu: Presiden dan Wapresnya bukan hanya sekedar berbeda 
partai, tetapi juga menjadi pucuk pimpinan dari dua partai, yang lazimnya akan 
mencalonkan capresnya sendiri-sendiri. Pasti selama menjabat ada semacam 
'perang dingin' secara diam-diam antara keduanya, yang akan menjadi 'perang 
panas' pada saatnya.

Sama lucunya dengan kiat SBY dalam merekrut menterinya dari berbagai partai, 
diikuti semacam 'fit and proper test' secara pribadi, yang mengingatkan kita 
pada proses pembentukan kabinet parlementer. Kita sudah tahu, bahwa sebagai 
pimpinan partai para menteri yang diangkat inipun akan bercabang pikirannya 
dalam mendukung pemerintahan mengenai masalah-masalah yang kontroversial.

Saya jadi ingat dengan proses pemilihan presiden di Amerika Serikat bulan 
November 2008 yang lalu, yang berlangsung begitu mulus dan sederhana: dimulai 
dengan konvensi masing-masing partai -- Republik dan Demokrat -- untuk memilih 
satu calon presiden yang terbaik; disusul dengan rekrutmen satu cawapres yang 
kompatible dengan capres dari partai yang sama, dilanjutkan dengan  
kampanye pasangan calon masing-masing partai ke seluruh negara bagian, untuk 
memperoleh dukungan suara dari 'The Electoral College', semacam MPR khusus 
untuk pilpres, dan berlanjut dengan pemilihan umum. 

Setelah suara dihitung, yang kalah secara spontan langsung mengucapkan selamat 
dan mendukung. Hebatnya, yang menang bukan saja mengangkat mantan rivalnya 
separtai yang memang mempunyai kualitas kenegarawanan yang andal, untuk 
menjadi menteri luar negeri, suatu jabatan yang amat prestisius setelah jabatan 
presiden sendiri, tetapi juga merekrut menteri-menteri lainnya dari partai 
lawannya. Pertimbangannya adalah kemampuan profesional dan integritas pribadi 
sang calon.

Ada masa transisi selama tiga bulan bagi sang presiden terpilih untuk menyusun 
kabinet serta untuk mengisi jabatan-jabatan politik lainnya.

Terlalu menyolok bedanya dengan kita disini. Bukan saja tak ada -- atau tak 
lagi ada--  konvensi partai, tetapi juga harus ada koalisi partai untuk dapat 
mencalonkan seorang capres, sehubungan dengan adanya ketentuan tentang batas 
minimum jumlah kursi di parlemen yang harus dipenuhi. Bukan mustahil nanti 
setelah Pilpres berlangsung akan ada protes hasil Pilpres tersebut ke MK, 
disusul dengan pengerahan massa untuk melakukan tekanan. Contohnya sudah ada 
pada tingkat lokal, terakhir di Jawa Timur.

Rasanya layak kita bertanya: siapa tuh di MPR RI dulu yang menjadi konseptor 
dan merancang sistem pemerintahan presidensial yang teramat lucu ini ?

Apa tak perlu kelucuan ini diakhiri, dengan mengamandemen ladi UUD 1945 yang 
sudah empat kali diamandemen itu ? Wallahualambissawab.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo)
"Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak".
Alternate e-mail address: [email protected];
[email protected]


Detik.com.Sabtu, 21/02/2009 22:47 WIB 

Hormati JK Nyapres SBY Siap Bersaing dengan JK 

Anwar Khumaini - detikPemilu



Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghormati sikap Wakil 
Presiden Jusuf Kalla (JK) yang akan maju sebagai capers dalam Pilpres 2009. 
Menurut SBY, hal serupa juga terjadi saat Megawati Soekarnoputri dan Hamzah Haz 
sama-sama maju pada pemilihan presiden 2004.

Hal tersebut diucapkan SBY saat melakukan wawancara eksklusif dengan Metro TV 
di kediaman pribadinya di Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (21/2/2009).

Seperti detikcom kutip dari metrotvnews.com, SBY percaya pencalonan JK tidak 
akan mengganggu hubungan di antara keduanya dalam menjalankan roda pemerintahan 
yang tinggal beberapa bulan lagi. 

SBY pun siap berkompetisi dengan Jusuf Kalla jika memang kondisi politik 
mengharuskan bersaing dengan wakil presidennya saat ini. 

Apalagi, hal seperti ini bukan hal yang baru. Pada periode sebelumnya, menurut 
SBY, juga pernah terjadi saat Megawati Soekarnoputri dan Hamzah Haz sama-sama 
maju pada Pilpres 2004.Wawancara dengan SBY tersebut dipandu oleh presenter 
Metro TV, Najwa Shihab dan ditayangkan malam ini pukul 19.00 WIB.    ( anw / 
anw ) 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke