Walaupun ini program yang cukup terlambat, tidak apa-apa. Air Manis memang
seharusnya digarap dengan serius sebagai salah satu objek wisata yang
potensial. Orang yang belum pernah tahu tempat ini, apakah orang Minang
ataupun orang luar, akan tergiur melihat potensinya. Hanya saja dari dulu
selalu ada gab antara potensi dan pemanfaatan atau pengembangan.
Selain memiliki batu yang menjadi cerita legenda, kelebihan lain dari tempat
ini adalah ombaknya yang berlapis-lapis beriringan seperti di Kuta, Bali.
Sementara, pemandangan ketika menuruni Bukit Rasak dari arai Mata Air menuju
pantai Air Manih bukan main indahnya.

Namun, tetapi saja penting bagi saya untuk meninggatkan kepada Pemda
Provinsi dan Pemkot Padang bahwa tantangan yang harus dijawab dalam
mengembangkan dan menfaatkan potensi ini tidak cukup hanya dengan membangun
infrastruktur fisik dan prasarana fisik lalu diiringi dengan pendekatan
represif untuk pengamanannya. Perencana Proyek Pengembangan Pariwisata Air
Manis (tentu di bawah tanggung jawab Pemdaprov dan Pemkot) jangan
mengabaikan pendekatan perencanaan dan pembangunan sosialnya. Mengabaikan
aspek ini lagi-lagi kita akan menambah "monumen kegagalan" di persada
nusantara ini. Artinya,bangunan fisik yang telah menelan biaya miliaran itu
nanti produktifitasnya bisa tidak sebanding dengan biaya yang telah
dikeluarkan dan peluang potensial yang tersedia.

Awal Januari kemarin saya telah menyempatkan diri mengintip proyek ini dan
mengamati lingkungan sekitar secara keseluruhan. Apa potensi akan terjadi
segregasi (pengelompokan) dua sublokasi wisata di daerah ini, yakni lokasi
yang digarap melalui proyek ini dengan biaya khusus dan lokasi yang akan
tetap dikuasai oleh anak-anak muda dan warga kampung Air manis. Yang
pertama, tentu nanti akan menggunakan pendekatan formal sesuai manajemen
bisnis (karcil, penjagaan keamanan, pengenaan pajak, dan sebagainya). Yang
kedua, seperti yang berlangsung selama ini, dikenakan pungutan dua kali
dengan sistem preman (tanpa karcis, tanpa pemeliharaan kebersihan, tanpa
petugas keamanan, pada dengan sektor informal yang berkeliaran, dsb).
Perlu juga diingat, penguatan pada sistem informal dan "premanisme" di
sublokasi di luar proyek pada akhirnya bisa juga menimbulkan gangguan
terhadap usaha pariwisata di lokasi formal yang dikembangkan dengan proyek
miliaran tadi. Dari sinilah sumber kegagalan yang sudah berulang terjadi
pada proyek seperti ini. Salah satu contoh nyata adalah lokasi Pondok
Caroline di Bungus yang sekarang seperti "hidup segan manti tak mau".
Saran dan himbauan saya adalah, perencanaan proyek seperti ini tidak cukup
hanya menggunakan metode perencanaan ilmu planologi tradisional yang hanya
berorientasi fisik dan mengabaikan perencanaan sosial dan budaya. Isi
perencanan sosial dan budaya itu, antara lain, tentu membina masyarakat
lokal untuk hidup dengan nilai-nilai baru tanpa menenggelamkan nilai-nilai
budaya lama yang positif.
Silahkan disimpan catatan saya ini supaya setelah sepuluh tahun nanti saya
bisa ditertawakan kalau ternyata perkiraan saya ini salah.
Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan.

Salam,


Andrinof A.Chaniago, L 46+ di Depok.

2009/2/20 Nofiardi <[email protected]>

>  Batu Malin Kundang Akan Direhabilitasi
>
>
>
> *Padang**Kini.com* | Jumat, 20/2/2009, 12:54 WIB
>
>
>
> *PADANG*--Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang akan merehabilitasi
> batu Malin Kundang agar terlihat lebih tertata dan menarik.
>
> "Saat ini kondisi batu Malin Kundang sudah kurang menarik, beberapa bagian
> ada yang rusak, wisatawan yang datang tidak bisa lagi melihat obyek wisata
> legendaris itu dengan jelas," kata Edi Hasymi, Kepala Dinas Kebudayaan dan
> Pariwisata Kota Padang, Jumat (20/2).
>
> Untuk merehabilitasi batu Malin Kundang, DKP kini tengah mencari konsultan
> sehingga proses rehabilitasi tidak merusak obyek wisata tersebut.
>
> Pantai Air Manis Padang yang memiliki obyek legendaris berupa batu Malin
> Kundang berwujud manusia yang sedang bersujud di kaki ibunya, sementara di
> sekeliling terdapat replika kapal, namun sudah mulai rusak disana-sini.
>
> Malin Kundang merupakan legenda Minangkabau dimana seorang anak bernama
> Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu karena durhaka pada ibunya.
>
> Selain rehabilitasi batu Malin Kundang, di kawasan tersebut kini juga
> tengah dibangun perkampungan wisata seluas enam hektar. Kini proyek tersebut
> tengah memasuki pengerjaan tahap dua. (*berman/o*)
>
> Pembangunan Kampung Wisata Air Manis Tahap Dua Telan Biaya Rp1,3 Miliar
>
>
>
> *Padang**Kini.com* | Jumat, 20/2/2009, 12:14 WIB
>
>
>
> *PADANG*--Pembangunan kampung wisata di Pantai Air Manis Kota Padang tahap
> pertama sudah rampung dan dilanjutkan tahap kedua tahun ini dengan anggaran
> Rp1,3 miliar.
>
> Pada tahap pertama, di kampung wisata seluas enam hektar tersebut dibangun
> medan nan bapaneh (panggung pertunjukan), kantor pengelola, gazebo, toilet
> umum, pagar dan sebagian galeri seni dengan anggaran dari APBD Padang
> sebesar Rp1,8 miliar.
>
> Untuk tahap dua, akan dilanjutkan penyempurnaan galeri seni, taman, lampu
> penerangan, penambahan gazebo.
>
> "Di galeri seni yang belum selesai itu akan ada tempat koleksi benda seni,
> tempat pameran serta galeri kelautan," kata Edi Hasymi, Kepala Dinas
> Kebudayaan dan pariwisata Kota Padang, Jumat (20/2).
>
> Edi memperkirakan pembangunan kampung wisata di kawasan yang terkenal
> dengan cerita legendaris Malin Kundang ini akan selesai akhir 2009.
>
> Diharapkan dengan adanya kampung wisata, obyek Pantai Air Manis makin ramai
> dikunjungi karena lokasinya yang lebih tertata, fasilitas lengkap dan
> nyaman. (*berman/o*)
>
>
> The above message is for the intended recipient only and may contain
> confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you
> are not the intended recipient, you are hereby notified that any
> dissemination, distribution, or copying of this message, or any attachment,
> is strictly prohibited. If it has reached you in error please inform us
> immediately by reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary.
> Please delete the message and the reply (if it contains the original
> message) thereafter. Thank you.
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke