Sejarah Sawahlunto Berantai
<http://sawahluntoberantai.blogspot.com/2009/01/sejarah-sawahlunto-beran
tai.html>  

Batu bara di Sawahlunto terpendam jauh di bawah tanah. Dahulu, pada awal
penambangan dibuat terowongan besar di kaki bukit untuk pekerja dan lori
pembawa batu bara keluar-masuk.

Di bagian dalam terowongan, penggalian bersimpang siur kiri-kanan dan
atas-bawah. Supaya tidak runtuh, terowongan itu disangga dengan balok
kayu. Ada kalanya terowongan itu runtuh juga hingga ada pekerja yang
mati karena terkurung atau tertimbun reruntuhan.

Bekerja di tambang itu sangat berat dan berbahaya, tapi gajinya sangat
kecil. Akibatnya penduduk sekitarnya tidak mau bekerja di sana. Mana
yang bekerja dalam waktu sehari dua hari mereka sudah lari.

Supaya pekerja tambang itu tidak bisa lari lagi, diambillah orang dari
pulau seberang dengan paksa. Pada umumnya, mereka itu berasal dari Pulau
Jawa.

Sekitar 20 tahun kemudian kerja paksa itu diganti dengan cara kerja
kontrakan, yaitu pekerja itu membuat perjanjian bekerja selama beberapa
tahun.

Siapa yang minggat sebelum kontraknya habis dikenakan hukuman penjara.
Pada masa penjajahan Belanda pekerja tambang itu disebut kuli kontrak.

Di samping kuli kontrak, tambang itu menggunakan pula orang yang hukuman
penjara lebih dari 10 tahun. Mereka dihukum karena merampok atau
membunuh. Semuanya berasal dari pulau lain. Supaya tidak melarikan diri,
kaki mereka diikat dengan rantai. Mereka itu disebut orang rantai.

Entah bagaimana caranya ada juga orang rantai itu yang dapat meloloskan
diri. Maka gemparlah seluruh penduduk oleh ketakutan. Ketakutan karena
diceritakan bahwa orang rantai itu adalah orang jahat yang suka
mengamuk.

Banyak ibu-ibu menakut-nakuti anaknya yang nakal dengan mengatakan,
"Naik ke rumah. Ada orang rantai kabur". Hampir semua orang rantai yang
lari itu tertangkap lagi karena tidak tahu mau pergi ke mana setelah
dapat lari. Salah seorang yang tidak pernah dapat ditangkap adalah
Karta.

Karta berasal dari Banten. Dia dihukum seumur hidup karena tuduhan
membunuh tentara. Sebenarnya dia adalah seorang santri muda yang punya
ilmu kedukunan berbagai penyakit. Maka dia sangat terkenal sebagai orang
sakti.

Pada akhir abad ke-19, seluruh daerah Banten tidak aman. Di mana-mana
rakyat menentang Belanda. Karta dicurigai sebagai penghasut rakyat
melawan pemerintah.

Pada waktu tentara menangkap Karta, terjadilah perkelahian ramai antara
tentara dan rakyat. Banyak orang yang mati. Seorang tentara terbunuh.
Karta ditangkap dan dipenjarakan seumur hidup. Lalu diangkut ke
Sawahlunto. Kedua kakinya dirantai supaya tidak melarikan diri.

Setiap pagi, kuli kontrak dengan orang rantai digiring ke dalam
terowongan untuk menambang batu bara. Sore mereka digiring kembali ke
tempat masing-masing. Kuli kontrak ke barak, orang rantai ke penjara.

Setiap rombongan dikawal oleh mandor yang umumnya berkumis panjang dan
bercemeti di tangannya. Mereka itu orang yang bengis. Mandor untuk orang
rantai juga membawa senjata api. Cemeti mereka mudah saja hinggap pada
punggung orang-orang yang malas bekerja.

Semua pekerja tambang ingin melarikan diri agar bebas dari bekerja berat
dan siksaan camnbuk atau makian kasar. Demikian pula dengan Karta. Dia
selalu berpikir dan mencari kesempatan untuk lari. Siasat atau cara
berpikir dan mencari kesempatan untuk lari.

Siasat atau cara yang dilakukannya ialah dengan berlaku baik, patuh dan
rajin. Maksudnya supaya para pengawal mempercayainya dan tidak banyak
lagi mengawasinya.

Beruntung pula Karta punya ilmu kedukunan. Banyaklah orang rantai atau
kuli kontrak yang sakit dapat disembuhkannya. Kemanjuran pengobatannya
terkenal sampai ke luar daerah tambang.

Lebih-lebih ketika ia berhasil menyembuhkan patah kaki seorang pimpinan
penjara karena jatuh di lereng bukit. Sejak itu dia banyak mendapat
keleluasaan bergerak.

Pada suatu subuh, seperti tiba-tiba petugas penjara tidak menemuinya
lagi. Berita orang rantai lari segera saja menggemparkan penduduk
sekitar Sawahlunto.

Berita itu cepat tersebar ke seluruh Minangkabau. Polisi dan tentara
dikerahkan mencari Karta, tapi tidak berhasil. Konon Karta sempat
menghirup udara kemerdekaan Republik Indonesia beberapa tahun lamanya.

Begini kisahnya dari mulut ke mulut penduduk Sawahlunto tentang pelarian
Karta itu. Ibarat dongeng yang tak kunjung dari ingatan orang-orang tua
di masa itu. Berminggu-minggu lamanya, Karta bersembunyi di hutan
perbukitan sekitar Sawahlunto.

Menurut dongeng itu, pada malam ke-40 muncullah seorang tua berjubah
serba putih, berjenggot panjang sampai ke lutut. Dia mengaku sebagai
nenek moyang Karta yang sengaja datang dari Banten untuk membuka rantai
pada kaki cucunya. "Orang biadab yang merantai manusia seperi anjing",
katanya. Setelah itu raiblah dia sambil membawa Karta entah ke mana.

Kisah yang sebenarnya adalah demikian. Setelah itu Karta lolos dari
penjara dia menghilir Batang Ombilin.

Ketika tiba pada anak sungai kelima, ia mudiki anak sungai itu. Pada
hari ketiga, sampailah Karta ke sebuah pondok yang letaknya di tepi
sungai. Di sana ada seorang laki-laki tua dengan seorang anak gadis yang
usianya menjelang remaja. Laki-laki itu Kakek Pado dipanggil orang.

Anak gadis itu bernama Upik. Tampaknya Upik sakit. Badannya panas. Dua
hari yang lalu dia disengat kalajengking ketika baru saja sampai di
pondok itu mengantarkan makanan untuk kakeknya.

Demi melihat Karta yang kumal dan kakinya berantai, kedua penghuni
pondok itu bukan kepalang takutnya.

"Jangan takut. Aku bukan orang jahat", kata Karta dengan wajah yang
tersenyum ramah.

Demi melihat Upik sakit, Karta langsung mendekat. Dipegangnya ubun-ubun
kepala Upik. Dibacanya mantera. Selanjutnya ditekannya bekas sengatan
kalajengking pada kaki Upik yang telah sembab. Dibacanya lagi mantera.
Setelah itu, disemburnya dengan ludahnya. Air ludah itu dibarut-barutnya
sambil terus membaca mantera. Beberapa saat kemudian, Upik merasa
sakitnya hilang.

Berita tentang orang rantai pandai mendukun cepat tersebar. Banyaklah
orang datang minta diobati. Dalam pada itu, rantai di kaki Karta telah
dibuka orang. Berita itu sampai juga ke polisi di Sawahlunto. Akan
tetapi, setiap polisi datang, Karta disembunyikan penduduk. Semua orang
sayang padanya karena selain pandai mendukun, Karta pun pandai mengaji.

Katanya selalu kepada orang-orang yang datang berguru atau berobat
kepadanya, "Kalau kita berbuat baik, Tuhan akan membalasnya dengan
kebaikan. Balasan Tuhan itu baru kita ketahui ketika kita menghadapi
kesulitan, Tuhan datang menolong kita.

Kepada yang lain Karta mengatakan, "Perbuatan baik akan lebih berfaedah
kalau kita punya ilmu. Kebaikan tanpa ilmu, ibarat nasi tanpa gulai".

Sejak itu, penduduk tidak lagi percaya bahwa semua orang rantai di
Sawahlunto adalah orang jahat. Yang tidak jahat itu pastilah karena
salah tangkap oleh fitnah. Entah karena kebetulan kemudian cara merantai
orang hukuman yang bekerja di tambang dihapuskan. 

Diposkan oleh Mr. Andra di 06:45
<http://sawahluntoberantai.blogspot.com/2009/01/sejarah-sawahlunto-beran
tai.html>  

 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Lies Suryadi
Sent: Tuesday, February 24, 2009 3:49 PM
To: [email protected]
Subject: Bls: [...@ntau-net] Re: Urang Rantai

 

 

 


The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

              • ... asfarinal, asfarinal, asfarinal, asfarinal nanang, nanang, nanang, nanang
              • ... Lies Suryadi
              • ... hambociek
              • ... Masoed Abidin
              • ... asfarinal, asfarinal, asfarinal, asfarinal nanang, nanang, nanang, nanang
              • ... Lies Suryadi
              • ... Rasyid, Taufiq (taufiqr)
              • ... irsad irsad
              • ... Rasyid, Taufiq (taufiqr)
              • ... Lies Suryadi
              • ... Nofiardi
              • ... Kurnia Chalik
  • ... Muljadi Ali Basjah

Kirim email ke