Dear All
ini selingan diakhir pekan saja, disela diskusi sanak-sanak...mat baca semoga berkenen
Wass-Jepe
----------------
YAMAH ASTUTI L2 – JOHNY ENDRITA
By : Jepe
Entah kenapa ketika saya
bersilahturahmi dengan salah seorang sahabat satu alumni SMA namanya Johny
Endrita atau dikenal dengan panggilan yang sangat “bersahabat” ketika itu John
Ayam, dia begitu bersemangat menceritakan tentang seputar kisah sepeda motor Yamaha Astuti (Asembling Tujuh
Tiga) L2 yang dimilikinya ketika di SMA.
Oh ya.ketika kami berjumpa,
sempat dibahas kenapa kawan yang satu ini di panggil John Ayam, tidak ada yang
diantara kami bisa menjelaskan kenapa panggilan ini pakai embel-embel bawa-bawa
nama Ayam. Apakah si John ini kepergok merogoh pantat ayam betina yang sedang
bertelor karena tidak sabaran ingin buat teh telor atau dadar telor ayam,
apakah suka bawa-bawa Ayam jago untuk di adu, apakah mungkin dia seorang
pengamat tulen ayam jago yang suka wira-wiri mengejar ayam betina. Entahlah
baik John dan saya sulit menjelaskannya kenapa namanya pakai Ayam, mungkin
sesulit menjelaskan kenapa embel-embel nama saya pakai King Kong. Ya sudah
begitulah seni ketika masa sekolah jadul, memanggil nama kawan. Jika ada
pepatah Minang Ketek banamo, Gadang Bagala disikapi saja seperti itu.
John dengan suara lantang bercerita
dan memaksakan kehendak jika saya harus mengakui saya belajar sepeda motor yang memakai kopling
dengan Yamaha Astuti L2 dia. Faktanya begitu saya harus menerima kenyataan dan
sepenuhnya mengakui bahwa saya memang belajar mengendarai sepeda motor pakai
kopling dengan L2 nya. Yamaha Astuti si John ini cukup unik bukan saja karena
bentuknya yang sudah “nggak beres” lagi karena dibeberapa bagian sudah
dipreteli dan dimodifikasi , tapi gigi majunya (gigi mundur itu kalau si John
mengatup bibirnya ketika bergaya membawa L2 ini, he..he) empat-empatnya diinjak
ke depan.
Raungan knalpotnya..walah jangan
ditanya, sisa pembakaran di blok mesin
lansung menghujam bumi tanpa di filter, seandainya pelawak favorit saya si
Bolot berada di ujung knalpot L2 si John ini akan membuat dia semakin Budek bin
Pekak. Ibarat kata jika si John mabur dengan motornya dari lapangan upacara
sekolah kita, ketika motornya sampai di lapangan bola depan rektorat UNP (d/h
IKIP Padang), maka raungannya masih tinggal di sekolah kita…..edunnnnn tu bunyi
knalpot..
Tentunya yang paling bersejerah
L2 sobat saya ini adalah ketika dikampung John di Tarusan menjelang Painan lagi
musim durian maka dengan modal nekat kami melarikan L2 ini dijalan yang ketika
itu tidak bersahabat bagi motor yang di assembling tahun tujuh tiga ini (Astuti
!!!), Jalan dibeberapa ruasnya masih berbatu dan tanah liat penuh tanjakan dan
turunan tajam sepanjang pesisir pantai barat yang jalannya berada rata-rata
dipunggung bukit. Modal nekat ini akhirnya berbuah pahit, apalagi kalau bukan
mogok di jalan dan terpaksa mendorong dengan napas ngos-ngosan satu dua untuk
mencari bengkel terdekat atau terpaksa dengan ilmu ala kadar mencoba
memperbaiki, ya nggak jauh-jauh buka pasang busi, lalu karburator dibersihkan
siapa tahu mampet.
Kadang-kadang servis mendadak ini
berbuah manis, L2 kembali melaju walau ditanjakan seperti orang terserang penyakit bengek tahunan, terbatuk-batuk.
Apaboleh buat L2 si John tidak sehebat raungan knalpotnya ketika di pacu. Tapi
kami sangat menikmati perjalanan yang menyengsarakan ini. Satu hal unik juga
dalam menghemat bahan bakar bensin L2 yang boros ini adalah, ketika menurun
yang panjang L2 ini kami matikan mesinnya, lalu melaju sampai motor tidak punya
gaya dorong lagi alias berhenti total, lalu kami hidupkan lagi mesinnya.
Sesampai di Tarusan kampung John
kami balas dendam atas perjalanan yang bikin sengsara ini dengan menikmati
durian jatuh yang nikmat di ladangnya seraya mandi-mandi di sungai yang airnya mengalir bening. Pertanyaan penting
si John ketika itu pada saya “Gimana
nekat kita pulang ke Padang
dengan Astuti ini” saya hanya menjawab istilah ABG sekarang mungkin begini “Siapa Takut Bro, tapi sebaiknya kita
servis dulu yang mantap di Bengkel si pasar Tarusan.
Pulang ke Padang,
wawww betapa gagahnya L2 Johny Endrita melahap setiap tikungan dan tanjakan
(Raungan knalpotnya Bro…bukan larinya ), asyik memang sambil menikmati dan
berhenti disetiap pantai-pantai yang indah dipesisir barat Sumatra
ini. Alhamdulillah perjalanan mulus kami sampai kembali di Padang
tanpa buka servis dadakan di jalan. Hebat juga kiranya sejarah hidup
saya dengan salah seorang sahabat dengan Sepeda Motor Yamaha Astuti L2 yang
dimilikinya.
“Nah John, dari tadi ente
bercerita melulu tentang L2 yang fenomenal tersebut sebelum gua pulang ke Padang, tolong dijawab
sebuah pertanyaan saya yang sangat krusial ini”
“Apaan Ndi” John menatap penuh
Tanya
“Btw (bahasa minang :
Mangecek-ngecek) itu Astuti L2 elu, sekarang dimana”
“Ha..ha..ha…lah Den carah
Ndi..Waden jua ka Tukang Boto”
Salam-Jepe/Pku, 9 Oktober 2008
Cacatan
Carah artinya L2 si John sebelum dijual ke Tukang Boto dalam bentuk
terurai, knalpot, stang, blok mesin, piston, sokbreker, tangki BBM dan
lain-lain sudah pisah ranjang..nggak bersatu lagi, udah cerai berai bo’
Tukang Boto, Nah ini dia jangan mengaku orang Minang jika tidak
tahu dengan profesi ini, ketika saya kanak-kanak pernah berurusan sangat penting
dengan tukang boto ini, sejatinya profesi ini jadul adalah orang yang jual beli
barang bekas., dengan menyandang kiri kanan ketiding yang di dikasih sebilah batang bambu yang
lentur. Lalu Tukang Boto ini masuk kampung keluar kampung sambil berteriak
Botoooooo..Boto !!!.
Lalu urusan penting saya tentu
menjual botol-botol limun, periuk, kuali, jeret emak saya yang sudah tidak
layak pakai baik karena alasan fisik maupun alasan fungsi.ya tabuak..boco..baik boco aluih..maupun boco
kasa..geto. Lumayan dapet uang jajan, tapi jujur lho..bukan saya berdoa
mudah2an periuk, kuali dan jerek emak saya boco mulu..tiap hari……ha..ha..ha..