100 Tahun Sutan Sjahrir
Bung Kecil yang Perkasa dalam Diplomasi 

Jakarta - Peringatan 100 tahun mantan Perdana Menteri (PM) Indonesia, Sutan
Sjahrir, yang jatuh pada 5 Maret 2009, diwarnai dengan berbagai kegiatan.
Diskusi, pameran, dan penayangan film dokumenter mengenai Sjahrir, adalah
beberapa kegiatan untuk mengenang tokoh yang semasa hidupnya sering disapa
sebagai Bung Kecil ini. Namun, peringatan 100 tahun itu, bukan sekadar
nostalgia.

Dalam rangka 100 Tahun Sjahrir itu, Sinar Harapan (SH) menggelar diskusi
terbatas yang dihadiri sejumlah tokoh di Kantor Redaksi SH, Kamis (19/2).
Acara itu dihadiri, antara lain, pejuang demokrasi dan hak sipil Rahman
Tolleng, Des Alwi, putri Sutan Sjahrir, Siti Rabyah Parvati (Upik) Sjahrir,
sejarawan Roesdhy Hoesein, wartawan senior Rosihan Anwar, Aristides Katoppo,
Presiden Direktur Sinar Harapan Susanto Sjahir, sejarawan Hukum Tata Negara,
AB Kusuma, Julius Pour, aktivis Pedoman Indonesia Fadjroel Rachman, Ketua
Barnas (ormas) Agustanzil Syahruzah, penerus Partai Murba Hadijoyo
Nitimihardjo, dan mantan Dubes RI untuk Rusia Susanto Pudjomartono.

Acara diskusi itu diawali dengan pemutaran penggalan dokumen film Sutan
Sjahrir, termasuk ketika Sjahrir berpidato di Sidang Dewan Keamanan PBB.

Rencananya, kata Des Alwi, dalam rangka peringatan 100 Tahun Bung Sjahrir
akan diadakan sejumlah kegiatan, seperti diskusi, pameran foto, dan
pemutaran film dokumenter. Acara puncak akan dilaksankan pada 5 Maret 2009,
sesuai dengan tanggal kelahiran Sjahrir.

Menurut Aristides Katoppo, penayangan film dan menguak sisi lain di
kehidupan masa lalu Perdana Menteri Sutan Sjahrir, hanya satu bagian
peringatan 100 Tahun kenangan terhadap Sutan Sjahrir. 

Aristides menambahkan, pertemuan sesaat kemarin bukan sekadar nostalgia atau
mengungkit-ungkit masa lalu. Namun, yang paling penting mengambil bagian
benang merah untuk masa kini, melihat relevansinya saat ini. Sejarah di masa
lalu dalam pergerakan kemerdekaan menunjukkan banyak kelompok yang terbagi
pada pemikiran yang berbeda.

Sejarawan Roesdhy Hoesein sependapat. Menurutnya, sejarah tetap menjadi
peristiwa pada masa lalu dan tidak bisa menarik kesimpulan dari mana pun,
terutama untuk yang berkepentingan. Perjalanan sejarah tidak pernah absolut
karena akan selalu ada bukti dan data baru yang menjadi saksi dalam
peristiwa masa lalu.

Jadi Panutan

Namun, di balik 100 Tahun peringatan Sutan Sjahrir ada cita-cita dasar yang
tidak dapat dilupakan karena hadir dalam satu zaman pada perjalanan bangsa
ini. Banyak orang besar yang telah hadir dalam perjalanan sejarah bangsa
ini. Meskipun terjadi perbedaan pendapat antara Bung Karno maupun Bung Hatta
dan Bung Sjahrir, dalam perjalanan panjang Sutan Sjahrir dan para politikus
masa lalu, ada yang dapat dipetik dan menjadi panutan bagi pemikir saat ini.


"Tidak ada korupsi dan tidak ada pikiran busuk, dan tidak ada kepentingan
sendiri. Mereka orang-orang yang berkarakter. Kalau, toh terjadi perbedaan
paham, jangan dilihat dari satu perspektif. Hanya yang kita lihat adalah
hal-hal yang dilakukan bersatu untuk negara," katanya.

Menurut Rahman Tolleng, Sutan Sjahrir adalah pejuang yang rasional. Dia tahu
sangat sulit mengimbangi kekuatan militer kolonial. Oleh karena itu upaya
lain adalah melalui perundingan. Sjahrir, jelasnya, perkasa dalam diplomasi.


Salah satunya dia perlihatkan dengan langkah mengunjungi New Delhi dan Kairo
sebelum mengikuti sidang Dewan Keamanan PBB di New York. Ini dia lakukan
untuk melobi dukungan India dan Mesir.
Di hadapan sidang DK PBB, seperti telah diceritakan di atas, Dia mematahkan
argumen diplomat Belanda untuk PBB.

"Sjahrir berhasil menunjukkan eksistensi pemerintah Indonesia yang memiliki
pemimpin-pemimpin yang terlegitimasi," ujarnya dalam diskusi yang diakhiri
dengan pembacaan puisi, Redaktur Sinar Harapan Sihar Ramses Simatupang karya
Chairil Anwar, "Kerawang Bekasi".

Meski jasanya besar, di akhir hidupnya Sjahrir tidak mendapat perlakuan
selayaknya pejuang. Hubungan pendiri Partai Sosialis Indonesia (PSI) ini
dengan Presiden Soekarno memburuk. 
Tahun 1962 dia ditangkap tanpa diadili. Tahun 1965 dia menderita stroke dan
diizinkan berobat ke Zurich, Swiss. Pada 9 April 1965 sang Bung Kecil
mengembuskan nafas terakhir. Jenazahnya disemayamkan di Taman Makam Pahlawan
Kalibata. 
(vidi vici/romauli)
        
Copyright C Sinar Harapan 2008 
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0902/20/sh02.html



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke