Politik 02/03/2009 - 21:43 Kala Senandung Sjahrir Terdengar Lirih 100 Tahun Sutan Sjahrir Herdi Sahrasad <http://inilah.com/data/berita/foto/87657.jpg> Sutan Sjahrir (istimewa)
INILAH.COM, Jakarta - Sejarah Sutan Sjahrir adalah sejarah marjinalisasi peran dan posisinya dalam lintasan politik Indonesia. Sebuah kisah peminggiran dalam sejarah Indonesia modern, republik yang dicintai dan diperjuangkan semasa hidupnya. Sungguh, sebagai pejuang, inteligensia, negarawan, dan inspirator bangsa, Sutan Sjahrir telah memberikan hidupnya bagi Indonesia. Dan sekarang, tak ada lagi tokoh sekelas Sjahrir, termasuk para elite politik era reformasi terkini. Siti Rabyah Parvati Sjahrir (Upik Sjahrir), putri mendiang Bung Sjahrir, sering melukiskan ayahnya sebagai pahlawan yang hampir dilupakan oleh rakyatnya sendiri. Sungguh, ini pradoks dan ironisme. Dalam momentum 100 tahun Sutan Sjahrir yang jatuh 5 Maret 2009 ini, hendaknya peran dan posisinya dalam perjuangan Indonesia mendapat tempat yang proporsional. Ini karena banyak kalangan yang tidak mengenal Sjahrir karena minimnya informasi memadai mengenai Bapak Sosialisme Indonesia itu. Padahal, Sjahrir merupakan perdana menteri pertama Indonesia dan seorang diplomat ulung pada masanya. "Banyak anak SD, SMP, dan SMA yang tidak mengenal Sutan Sjahrir. Bahkan, ada yang mengira beliau adalah Sutan Takdir Alisjahbana. Ini karena informasi yang sangat sedikit mengenai Sjahrir," tutur istri Erwin Saksono ini. Menurutnya, sudah terlalu lama Sutan Sjahrir, yang pernah berjuang bersama Bung Karno dan Bung Hatta, terlupakan atau dilupakan. "Entah apalah istilahnya," kata Upik. Yang pasti tidak pernah ada ulasan dan analisis, informasi yang lebih mendalam mengenai Sutan Sjahrir. Tidak pernah ada dalam buku-buku sejarah. Kalaupun ada, itu pun sangat sedikit. "Dan menurut saya, alangkah sayangnya kalau pemikiran-pemikiran itu hanya dikenal dan diketahui oleh sedikit kalangan saja," ujar ibu dari Shahrina Tiara Wardhani (20), Harwindra Syahriar (15), dan Shahneza Tiara Anindita (14) ini. Sjahrir menekankan sikap kerakyatan, yang percaya bahwa rakyat itu memiliki kebijakan dan ketahanan. Bahwa kebijakan dan ketahanan bukan monopoli dari tokoh politik. Kesederhanaannya, tidak pakai kecongkakan dan sok jagoan. Tak seperti sekarang ini dimana banyak kecenderungan terjadinya penyalahgunaan jabatan dan memperkaya diri. Sjahrir punya etos sebagai seorang pemimpin. Dan, Sjahrir selalu menempatkan Indonesia dalam percaturan sosial dunia, bahwa kita ini tidak hidup sendirian. Selalu ada kekuatan besar yang menentukan politik Indonesia. Pemikiran Sjahrir melampaui zamannya. Debat politik era Sjahrir, Hatta, Soekarno, Tan Malaka dan para Bapak Bangsa tahun 1940-1950-an, amatlah cerdas dan bernas. Ini berbeda dengan kondisi perdebatan politik terkini yang dangkal dan banal. "Coba, apa yang bisa kita ambil dari bahasa 'tebar pesona', 'main yoyo', atau 'undur-undur' dari para capres dibandingkan ungkapan Sjahrir era 1950-an yang kaya dengan nuansa literer, dengan kandungan gagasan dan ideologis," kata dosen filsafat UI Rocky Gerung dalam diskusi bertajuk 'Relevansi Pemikiran Sjahrir' di Jakarta, Senin (2/3). Turut hadir sejumlah panelis seperti Fadjroel Rachman, Rosihan Anwar, pakar filsafat STF Driyarkara Herry Priyono PhD, Jakob Utama, Sabam Siagian, mantan peneliti senior LP3ES Dr Daniel Dhakidae, dan A. Rahman Tolleng. Para panelis itu mengakui, perdebatan politik era demokrasi parlementer 1950-an sangat bermutu dibandingkan debat politik era dewasa ini. Munculnya Sjahrir sebagai salah satu anggota 'tiga serangkai' bersama Soekarno-Hatta, tak lepas dari kualitas masyarakat dan anak zaman. "Saat Sjahrir menang sebagai Perdana Menteri, komentar politik Soekarno ketika itu adalah: seperti rotan, saya hanya melengkung, tapi tidak patah," kata Rocky mengutip ucapan presiden pertama Indonesia tersebut. Sedangkan Fadjroel Rachman, Herry Priyono dan Daniel Dhakidae menyebut Sjahrir mengalami marginalisasi dalam arus sejarah Indonesia modern. "Sjahrir memang kalah populer dibandingkan Soekarno dan Hatta. Sjahrir mengalami marginalisasi. Padahal, perannya sangat nyata bagi bangsa ini," ujar Fadjroel. Di masa perang kemerdekaan, Sjahrir menulis dalam salah satu pamflet: Pemerintahan harus di-demokratiseer. Sesudah Proklamasi dikumandangkan, pamflet tersebut makin sering ditulis. Menurut Sjahrir, di masa hidupnya dulu, risalah itu adalah ikhtiar mengupas perkara pokok dalam perjuangan. Pamlet 'Perjuangan Kita' yang mengingatkan bangsa ini untuk berjuang mengatasi kolonialisme, fasisme, feodalisme, dan totaliterisme, membuat Sjahrir tampak berseberangan dengan Soekarno, yang terobsesi pada persatuan dan kesatuan. Sjahrir justru menulis, "Tiap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa hanya menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan." Maka, 100 tahun Sjahrir adalah perayaan untuk mengurangi, jika tak bisa menghilangkan, marginalisasinya dalam sejarah Indonesia modern. [I4] http://inilah.com/berita/politik/2009/03/02/87657/mari-sejenak-mengenang-sja hrir/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
<<inline: 87657.jpg>>
