[ Rabu, 04 Maret 2009 ] 
Satu Abad (5 Maret 2009) Sutan Sjahrir 
Bapak Sosialisme yang Melampaui Zamannya 

Sutan Sjahrir adalah negarawan, inteligensia, inspirator bangsa, dan pejuang
yang pemikiran dan visinya melampaui zamannya. Sudah terlalu lama Sutan
Sjahrir, yang pernah berjuang bersama Bung Karno dan Bung Hatta, terlupakan
atau dilupakan. 

Sutan Sjahrir genap 100 tahun pada 5 Maret 2009 ini. Ironisnya, dia
dirindukan tapi dilupakan, oleh negara dan bangsanya sendiri, yang
diperjuangkan dan dicintainya sepenuh hati. 

Jika revolusi sering memakan anak-anaknya sendiri, kini justru sejarah yang
melupakan anak kandungnya sendiri. Seakan Sjahrir dilupakan meski
dirindukan.

Sjahrir adalah perdana menteri (PM) pertama Indonesia dengan seabrek
pengalaman dalam diplomasi di masa kemerdekaan, yang sungguh kurang dikenal
generasi muda, pelajar, dan mahasiswa. 

Dengan lirih Siti Rabyah Parvati Sjahrir, putri kedua mendiang Sutan
Sjahrir, dalam konferensi pers "Peringatan 100 Tahun Sjahrir" di Jakarta
Media Center baru-baru ini membisikkan kata-kata: ''Sayangnya, kebanyakan
orang masa kini, generasi muda pada tingkat sekolah dasar hingga mahasiswa,
tokoh sipil ataupun militer, guru sejarah, tidak mengetahui tentang
Sjahrir.'' 

Sungguh, sejarah Sutan Sjahrir adalah sejarah marjinalisasi peran dan
posisinya dalam lintasan politik Indonesia. Sebuah kisah peminggiran dalam
sejarah ''Indonesia modern'', republik di khatulistiwa yang dicintai dan
diperjuangkan semasa hidupnya. 

Sungguh, sebagai pejuang, inteligensia, negarawan, dan inspirator bangsa,
Sutan Sjahrir telah memberikan hidupnya bagi Indonesia. Dan sekarang, tak
ada lagi tokoh sekelas Sjahrir, termasuk para elite politik era reformasi
terkini.

Siti Rabyah Parvati Sjahrir (Upik Sjahrir), putri mendiang Bung Sjahrir,
sering melukiskan ayahnya sebagai pahlawan yang dilupakan oleh rakyatnya
sendiri. Ini paradoks dan ironisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
era reformasi.

Semua itu seakan mengonfirmasikan kebenaran pandangan Ben Anderson dalam
karyanya, Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance 1944-1945
(Cornell University Press, 1972), yang mencatat bahwa Sjahrir dan
pengikutnya adalah kelompok intelektual yang teralienasi dari arus bawah,
sekalipun pada saat-saat tertentu mampu menggunakan pengaruhnya. 

Saya kira pandangan Anderson yang kontroversial itu tidaklah sepenuhnya
benar. Sebab, Sjahrir terlibat revolusi, bahkan sejak usia sangat muda. Pada
usia belasan tahun, dia sudah terlibat dalam gerakan kebangsaan memelopori
Sumpah Pemuda Oktober 1928 dan bertahun-tahun dipenjara oleh Belanda.

Pandangan Anderson ini merupakan revisi atas pandangan sebelumnya dari karya
klasik George McTurnan Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia
(1952). Kahin mengemukakan, Sjahrir adalah tokoh paling berpengaruh dalam
hari-hari menjelang Proklamasi Kemerdekaan. Anderson mencatat sebaliknya,
Sjahrir berada di luar arus utama revolusi kemerdekaan. Ini pun masih
kontroversi.

Sjahrir, dalam persepsi saya, adalah tokoh yang punya pengaruh pada
hari-hari menjelang Proklamasi Kemerdekaan dan sesudahnya, dan fakta sejarah
menyingkapkan bahwa Sjahrir berperan jelas dan tandas dalam arus perubahan
masa kemerdekaan itu. Meskipun dia mungkin bukan sosok ''paling berpengaruh
dan berperan''. Sjahrir tak pernah menuntut pengakuan itu, sama sekali tak
perlu pengakuan itu.

Dia memang berada di bawah bayang-bayang kebesaran Soekarno dan Hatta.
Namun, visi intelektualnya sangat jauh ke depan, mungkin melampaui
Soekarno-Hatta itu sendiri. Seperti cahaya ufuk yang memancar ke arah
kejauhan, menembus rimbun gelap dahan dan pepohonan.

Sjahrir, meminjam bahasa Kahin, adalah arsitek terjadinya pergeseran sistem
pemerintahan pada November 1945 dari sistem presidensial menuju parlementer.
Meskipun Ben Anderson melihat pergeseran sistem itu sebagai ''silent coup''
(kudeta diam-diam) dari kubu Sjahrir. Benarkah demikian? Para sesepuh kita
sering menyingkapkan bahwa Soekarno-Hatta secara sadar memberikan kesempatan
Sjahrir karena pertimbangan kompleksitas keadaan di dalam dan luar negeri
waktu itu, dalam kaitannya dengan kemerdekaan Indonesia, negeri yang
sebelumnya dijajah fasisme Jepang.

Beragam Interpretasi 

Toh yang pasti, di mata John Legge, profesor saya di Monash University,
Australia, pemikiran Sjahrir mempunyai makna dalam beragam interpretasi.
Makna pemikirannya itu bukan terletak pada perannya sebagai sebuah
organisasi politik, melainkan pada fakta bahwa dia merepresentasikan suatu
aliran moral dan politik yang bersumber dari nilai-nilai kehidupan bangsa
kita. Dia memperjuangkan human dignity, martabat manusia dengan segala suka
dukanya.

Dalam momentum 100 tahun Sutan Sjahrir, 5 Maret 2009 (besok), hendaknya
peran dan posisinya dalam perjuangan Indonesia mendapat tempat proporsional.
Banyak kalangan yang tidak mengenal Sjahrir karena minimnya informasi
memadai mengenai Bapak Sosialisme Indonesia itu. Padahal, Sjahrir merupakan
perdana menteri pertama Indonesia dan seorang diplomat ulung pada masanya. 

Seperti diartikulasikan Upik Sjahrir, banyak anak SD, SMP, dan SMA yang
tidak mengenal Sutan Sjahrir. Bahkan, ada yang mengira beliau adalah Sutan
Takdir Alisjahbana. Ini karena informasi yang sangat sedikit mengenai
Sjahrir.

Di masa perang kemerdekaan, Sjahrir menulis dalam salah satu pamflet:
''Pemerintahan harus di-demokratiseer. Sesudah proklamasi dikumandangkan,
pamflet tersebut makin sering ditulis. Menurut Sjahrir, di masa hidupnya
dulu, risalah itu adalah ikhtiar mengupas perkara pokok dalam perjuangan.''

Pamlet Sjahrir berjudul Perjuangan Kita yang mengingatkan bangsa ini untuk
berjuang mengatasi kolonialisme, fasisme, feodalisme, dan totaliterisme,
membuat Sjahrir pasti berseberangan dengan semua pemimpin otoriter di
republik ini. Sjahrir tak menolak persatuan dan kesatuan secara rasional,
namun dia menentang persatuan dan kesatuan secara represif dan otoritarian.
Semoga.

* Herdi Sahrasad, associate director The Freedom Foundation dan Center for
Islam and State Studies (Pusat Studi Islam dan Kenegaraan- PSIK) Universitas
Paramadina di Jakarta

http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail
<http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=55280> &nid=55280

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke