[image: Print] Print <javascript:window.print()> Sanak se balairung,
Apa yg di katakan sanak kita Benny, mungkin ada benarnya, diperlukan caleg yg telah mapan, baik ekonomi atau integritas, utk menjadi caleg. Sebaliknya kita juga memahami adanya manusia yg merasa aman kalau sdh ada simpanan utk tujuh keuturunan.Ada hadist : "manusaia yg sdh punya dua lurah berisi emas, dan mau satu lurah lagi.(?).Ya begitu lah hakekatnya oknum sebghn manusia. Apakah ini menjadi kewajiban bg yg sdh mapan, baik sbg dedikasi/kontribusi terhadap bangsa dan negara, cari nama baik atau ber amal atau melindungi sanak2 kita yg lemah,,,dllnya. Krn susahnya mengontrok "prilaku manusia" maka diperlukan aturan main yg ber imbang./berkeadilan. Saya tetap mengedepankan ada nya aturan main yg berimbang antara DPR/D dan executive dgn konstituennya: Siapa yg membuatnya?? 1. Pemilihan lansung yg berdasarkan district, tiap kecamatan ada perwakilannya.Rakyat pemilih tahu suduk dapurnya caleg tsb. 2. Hak rakyat utk meng recall legislativ/executive melalui petisi, stlah melalui pembelaan diri ybs. 3. UU Transparancy bg semua kegiatan Legislati/executive, sehigga kitya tahu ada nay anggota DPR/D yg bolos dll. Masalahnya , ini juga perjuangan nya akan memekan waktu dan susah sekali, spt kita lihat belaknagan ini. Ini lah yg kita namakan "Pertarungan ini akan terus berlansung sampai akhir jaman-kiamat". Antalah sanak, "ano urang awak tp aka no pacilluih". Wass. Muzirman Tanjung; ----------------------------------------------------------------- http://www.mediaindonesia.com/read/2009/03/03/63574/70/13/ Mengganti DPR yang tak Kunjung Kapok Kamis, 05 Maret 2009 00:01 WIB 1291 Dibaca | 54 Komentar <http://www.mediaindonesia.com/printing/1/1/1/63574#komentar> INTEGRITAS lembaga perwakilan rakyat benar-benar kian hancur. Skandal demi skandal, mulai dari pelecehan seksual hingga korupsi terus dilakukan anggota dewan terhormat yang tidak terhormat itu. Dan tiada mengenal jera. Wajah DPR yang sudah kotor itu kini bertambah tercoreng. Seorang anggota Fraksi Partai Amanat Nasional, Abdul Hadi Djamal, ditangkap basah oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di kawasan Karet, Jakarta Selatan, Senin (2/3). Abdul Hadi Djamal diduga menerima suap Rp1 miliar. Saat penangkapan, KPK menemukan barang bukti US$90 ribu dan Rp54,5 juta. Pemberian uang itu diduga terkait dengan posisi Abdul Hadi Djamal sebagai anggota Komisi V DPR yang antara lain membidangi sektor perhubungan. Dalam pemeriksaan sementara, dana itu diduga untuk memperlancar proyek program lanjutan pembangunan fasilitas laut dan bandara di kawasan Indonesia timur senilai Rp100 miliar. Terulangnya kasus suap yang melibatkan anggota dewan itu kian membuktikan kegagalan partai dan juga Badan Kehormatan DPR mengawasi perilaku mereka yang menyandang status terhormat sebagai wakil rakyat. Yang paling ironis dan memalukan, penangkapan Abdul Hadi Djamal itu terjadi hanya lima hari setelah partai politik mendeklarasikan gerakan antikorupsi di Gedung KPK, Rabu (25/2). Ketika itu, 38 partai politik meneguhkan komitmen mereka dalam gerakan antikorupsi. Namun, komitmen gerakan antikorupsi dari partai politik itu tentu saja menjadi hambar dan cenderung menjadi hipokrisi. Partai terbukti gagal mengawasi perilaku anggotanya dan membangun moral bahwa suap dan korupsi adalah sebuah kejahatan yang bisa menghancurkan negara. Tertangkapnya lagi anggota dewan itu juga semakin mempertegas kenyataan bahwa DPR adalah lembaga paling korup di Tanah Air. Juga paling tidak mengenal kapok. Sebab, kasus serupa sebelumnya telah ada. Anggota dewan dari Partai Bintang Reformasi, Bulyan Royan, ditangkap basah di Plaza Senayan, Jakarta, dengan barang bukti US$60 ribu dan 10 ribu euro pada 30 Juni 2008. Publik juga belum melupakan kasus penangkapan anggota DPR dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Al Amin Nasution, di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, pada 9 April 2008. Al Amin juga ditangkap basah menerima Rp71 juta dan S$33 ribu dari Sekda Kabupaten Bintan. Selain itu, ada Yusuf Emir Faishal dari PKB dan Sarjan Tahir dari Partai Demokrat yang terlibat kasus alih fungsi lahan dalam proyek Pelabuhan Tanjung Api-api di Kabupaten Banyuasin, Sumsel. Lalu, ada juga Hamka Yandhu dan Antony Zeidra Abidin dari Partai Golkar yang terlibat kasus aliran dana Bank Indonesia; Saleh Djasit dari Partai Golkar yang terkait dengan kasus pengadaan mobil pemadam kebakaran; dan Noor Adenan Razak dari Fraksi Reformasi yang terlibat kasus korupsi pengadaan tanah Pusdiklat Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Sebagian anggota dewan itu telah divonis bersalah oleh pengadilan dan sebagian lagi masih menjalani persidangan. Pertanyaannya, mengapa anggota DPR tak kunjung jera? Mengapa mereka tak takut korupsi? Salah satu jawabannya adalah ringannya hukuman. Untuk membuat jera para penjarah uang negara itu, sepantasnya hukuman bagi mereka diperberat, kalau perlu dengan hukuman mati. Tak hanya itu. Partai yang anggotanya terlibat korupsi pun perlu dikenai sanksi. Misalnya, dengan memotong dana subsidi negara bagi mereka. Yang paling berat tentu saja sanksi sosial, yaitu ditinggalkan rakyat. DPR yang sekarang citranya memang buruk. Dan tidak boleh dibiarkan buruk berkepanjangan. Pemilu legislatif 9 April ini adalah kesempatan semua pihak untuk menggunakan haknya guna memulihkan integritas dan mengganti wajah DPR yang busuk itu. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
