Aira,

Tambahan catatan dari ambo.

Memang tahun 80an masih ada 62 lokomotif di Sumbar. Tetapi, yang ada foto2
itu nyaris tidak ada lagi. Tapi bukan berarti mereka ada di Ambarawa dll
seperti yang Aira sebutkan.

Kalau yang BB mungkn ada belasan (11 atau 12, kata da Nofrins) ada di Padang
(status nya ada yang work, tapi kebanyakan shield). Tapi yang E10XX tinggal
yang satu E1060 yang di Sawahlunto itu.

Yang di luar Sumbar juga yang jelas cuma E1016 dan F1015 di TMII. Dan
mungkin juga F1002. Tapi saya rasa, mereka sudah mendapat "tempat yang
layak" di TMII kok, jadi biarlah mereka di sana.

Jadi mungkin keinginan untuk "membawa saudara Mak Itam kembali ke Sumbar"
ini terpaksa dilupakan saja.



Riri
Bekasi, L 46




2009/3/15 Aira <[email protected]>

>
> Yth Dunsanak Palanta,
>
> ini sedikit pikiran yang mengganjal hati ambo,
>
> Ternyata pada tahun1980 an di Sumatera Barat, jumlah Locomotive uap
> seperti jenis Mak itam lumayan banyak, tapi sebagian kondisinya
> terbengkalai, tidak terawat dan sebagian menjadi bangkai besi tua saja
> seperti cerita di link dibawah ini
>
> http://searail.mymalaya.com/PJKA1985WS/PJKA1985WS.htm
>
> Sebagian Locomotive uap ini masih berada di Indonesia yang tersebar di
> Taman Mini dan Ambarawa.
> Dunsanak dapat melihat pada link di bawah ini
>
> http://www.internationalsteam.co.uk/ambarawa/pnkapres.htm
>
> Kisah ini merupakan saksi bagaimana majunya kereta api di Sumbar pada
> masa dahulu.
> Tapi sekarang kita bisa melihat seperti rel kereta api yang di bangun
> dengan biaya yang sangat mahal pada jaman Belanda tidak di manfaatkan,
> malah seperti di Bukittinggi jalur kereta apinya malah di timbun oleh
> Tugu Adipura sungguh saya sangat miris melihatnya. Apakah tidak ada
> kesadaran untuk berpikir jauh kedepan bahwa rel kereta api ini adalah
> salah satu investasi yang sangat mahal sekali dan sangat berguna untuk
> transportasi masal, untuk sekarang setidaknya dapat mengatasi problem
> kemacetan  di Bukittinggi.
>
> Saya sebagai anak Minang yang baru lahir di era 80 an, hanya ingin
> bertanya kenapa aset locomotive kita yang dulunya begitu banyak
> dibiarkan saja?
>
> Apakah aset yang jelas merupakan hasil dari ekplorasi dari bangsa
> penjajah terhadap nenek moyang kita harus kita relakan diberikan ke
> daerah lain?
>
> Bisakah saudara Mak Itam ini kembali ke Sumbar lagi?  walaupun
> saudaranya Mak itam ini tidak bisa beroperasi lagi, setidaknya inilah
> penghargaan kita terhadap masa lalu Sumatra Barat.
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke